Dibalik Senyuman Indah

Dibalik Senyuman Indah
Dibantu wali kelas


__ADS_3

Tiap hari dengar cerita ria dan lisa yang suka memanasi. Saya yang sudah udah putus dengan uzin selalu diceritakan kisahnya dekat dengan wanita lain.


Saya rasa lisa sama saja kurang menyukai saya, terpengaruh ria juga ditambah saya jarang masuk sekolah karena dipulangkan. Saya tetap mendekati nya lisa dengan baik, tapi agak jaga jarak pertemanan.


Kalau dengan ria dari dulu saya jaga jarak karena kurang menampik saya.


Saya pun mencoba mencari pacar lagi, tapi tak tau siapa, saya cari acak lewat ponsel siapa tau ada orang terdekat daerah saya, agar biaa bertemu. Dan saya gak mau kalah punya status pacar juga dari Riri, ria, dan Lisa.


Tetapi nasib saya kurang beruntung, pacaran beda agama. Dia sampai berani bersumpah mau masuk agama saya, agar saya kasih keperawanan.


Saya bingung, secara memasukkan dia ke agama kami. Saya dapat pahala besar, tetapi saya dapat dosa besar dari mengasih keperawanan.


Saya pun tak mau, sampai hanya bertahan tiga bulan pacaran, putus komunikasi.


Nomor nya sudah tak aktif lagi.


Saya rasa saya sudah suka dengan nya benar- benar cinta. Kata orang sih cinta monyet. Karena dia mencoba merayu saya untuk tak meninggalkan saya dan ingin menikahi saya ingin dia pindah agama. Tetapi tetap tidak saya kasih keperawanan. Saya jadi jatuh hati karena janjinya mau menikahi setelah lulus Ma.


Saya tak ada komunikasi tanpa ada kata putus. Saya sakit hati, saya menangis dan melamun. Tak berapa lama hp ayah saya rusak. Tambah saya sedih tak ada teman komunikasi.


Saya tak mau lagi turun sekolah, karena sudah muak dengan semua nya. Muak dengan pertemanan, pacar tak mau dihubungi lagi, hp ayah rusak, ortu sering bertengkar dan Kaka selalu marah-marah, peraturan sekolah yang sangat ketat.


Saya lelah dan cape, menunggu kak hesty dan ka Ihsan pulang malam-malam.


Pulang sendiri kerumah, takut sendirian dirumah. Tetapi semenjak saya mengurung diri di rumah jadi berani tinggal sendiri di rumah.


Saya selama satu minggu tak masuk sekolah tanpa kejelasan di sekolah. Ayah mulai turun tangan lalu memukul saya tanpa ampun. Saya merasakan sakit seluruh badan. Saya bilang ke ibu, saya malu masuk sekolah karena sudah lama tidak ke sekolah.


Saya cape sama peraturan di sekolah terlalu ketat, saya meminta ibu untuk masukkan saya ke pondok di luar kota.


"Ibu, boleh gak saya masuk pondok aja, saya  agar disiplin disana, makan pun di sediakan bersama-sama" pinta saya


"Apa kamu ren, kamu masuk pondok ngulang lagi dari awal, ibu gak punya uang buat kamu masuk pondok, coba kamu bicara ke Kaka mu sana" ucap ibu bentak


"Aku malu Bu, kak hesty pasti gak maulah" ucap saya


" Makanya kamu besok mulai sekolah" ucap ibu


"Saya malu Bu, saya bingung alasan apa?" Tanya saya


" Kamu bilang sakit aja, nanti ibu bicarakan" ucap ibu


Tak berapa lama, bapak wali kelas datang kerumah. Saya suruh ibu keluar, saya malu untuk bicara dan berhadapan. Syukur bapak datang saat ibu belum berangkat ke warung.


Tok tok tok


"Iya ada apa" ucap ibu.


"Renna ada Bu? Saya wali kelas renna, begini renna kan tak masuk sekolah satu minggu, renna masih ada kesempatan untuk sekolah nya, kalau dia mau turun besok sekolah, tetapi kalau tak turun juga mohon ada keterangan nya Bu, karena apa dia tak masuk sekolah?"


" Maaf pak, saya selaku ibunya banyak banyak minta maaf, renna cerita dia sering terlambat sekolah, sering di pulang kan. Renna sudah saya bangunkan pagi hari, seperti nya dia kecapean bangun pagi, bangun sebentar dia tertidur lagi. Saya coba biarkan saja. Tetapi dia tak pernah bilang di pulangkan dari sekolah, saya tanya dia pergi menghabiskan waktu ke warnet. Silahkan masuk kedalam pak, kita mengobrol lebih santai sambil duduk"


Bapak masuk rumah dan duduk bersama ibu di kursi ruang tamu.


"Emm iya iya gak apa-apa Bu, namanya juga dia masih labil, mungkin dia ingin masuk sekolah  di pulangkan itu tergantung guru yang mengawas gerbang sekolah. Tetapi tiap hari beda-beda pengawasnya. Kebetulan dia dapat guru pengawas yang sangat disiplin" ucap bapak

__ADS_1


"Jadi saya panggil renna, biar dia mau mendengarkan saran bapak dan saya" ucap ibu


"Iya silahkan Bu" ucap bapak


"Renna, ayo datangi bapak wali kelas kamu, beliau ingin kamu besok turun sekolah" ucap ibu Pelan


Saya keluar dari kamar, mendatangi bapak wali kelas langsung salaman. Saya meminta maaf dengan bapak untuk rencana berhenti sekolah karena sudah cape.


" Renna kamu kalau mau bapak selamat kan nilai dan kehadiran mu, mulai besok kamu masuk sekolah saja, nanti bapak mulai bicara kan ke guru lainnya, agar kamu mau sekolah lagi" ucap bapak


"Jujur Renna malu, sama teman-teman dan guru lainnya pak, renna sebenarnya mau masuk sekolah" ucap renna


" Ya nanti bapak bicarakan keguru untuk menyampaikan ke murid lain agar kamu tak di ejek mereka, bapak sebenarnya jarang masuk kelas, karena ada urusan di luar juga" ucap bapak wali kelas


"Bukan masalah di ejek atau tidak pak, tapi saya rasa malu itu Lo pak, kalau mereka ejek saya terima saja pak" ucap saya


" Kamu harus berani dan pede saja, kamu pantas masuk sekolah lagi, kamu pantas berjuang untuk lanjut sekolah ren, mumpung alpa mu tak banyak" ucap bapak


Ibu menangis dan berterimakasih kepada bapak wali kelas, ibu gak menyangka dapat wali kelas masih peduli dengan renna.


Saya ingin menangis juga, tapi saya malu dan saya tak bisa dibendung air mata, jadi ikut keluar.


"Renna, perhatikan bapak kamu, masih beri keringanan di kamu, jangan kamu sia-siakan kebaikan nya" ucap ibu


" Iya Bu, pak seandainya saya tak naik, saya tak masalah pak, karena kesalahan saya merepotkan bapak dan ibu" ucap saya


" Insha Allah kamu naik kelas, asal kamu bisa mengejar nilai kamu yah, sambil bapak bantu" ucap bapak


"Terimakasih banyak pak, atas perhatian nya"  ucap saya


"Terimakasih banyak yah pak" ucap ibu.


"Saya pamit dulu karena ada urusan juga,


Assalamualaikum yah Bu" ucap bapak


Waalaikumsaalam, sahut kami.


Air mata ibu masih berjatuhan dari tadi, antara terharu dan sedih. Mungkin malu atas sikap saya atau bapak wali kelas saya masih memberi keringanan.


-------


Keesokan harinya saya harus tampil pede dan berani kan diri. Walau rasa malu-malu masih ada.


Saya masuk perlahan, dengan muka datar lalu mereka memandangi saya penuh aneh dan seperti ingin bertanya. Tapi mereka tepuk tangan lalu hanya diam saja tak bersuara.


Saya bingung, dan langsung duduk di bangku kelas.


Selama menjalani sekolah saya berhasil melanjutkan dan naik kelas.


Hanya karena iba bapak wali kelas, bukan saya atau ibu meminta belas kasihan ke bapak wali kelas.


Pasti teman-teman berubah drastis ke saya, sikap nya sebagian ada yang tambah baik, sebagian ada yang tambah cuek.


Tetapi bersyukur mereka sebagian mengerti, hidup ini keras tak seindah bayangan mereka tentang saya.

__ADS_1


Tetapi karena kebaikan beliau mau membantu murid bermasalah.


Sekarang tahun 2020 baru denger Khabar beliau meninggal, semoga Husnul khatimah.


-------


Kejadian  ini membuat saya malu, tetapi susah berubah untuk disiplin. Ayah dari kecil suka memarahin ibu hal sepele, akhirnya ibu lawan dengan mengungkit.


Saya yang butuh perhatian untuk di manja oleh ibu minta jagain saya waktu sekolah tetapi ibu sibuk mengurus warung.


Saya malu di sekolah karena tak mempunyai teman waktu sd makanya rada malas sekolah. Sampai perilaku kurang disiplin sampai dewasa.


Ayah marah saya tak mau masuk sekolah lagi SD dulu, pernah angkat saya lalu di banting badan saya ke semen, syukurlah saya masih kuat dan hidup.


Sekarang terulang lagi bapak pukul badan saya beranjak remaja. Saya tak mau sekolah lagi, ya betapa bodoh nya saya.


Saya hanya ingin butuh perhatian ayah dan ibu sama seperti lainnya, tetapi saya selalu jadi korban. Kenapa anak lain berbuat kurang ajar lebih dari saya hanya di diamkan tak di bully atau tak dihajar ortunya dan temannya? Malah semakin dewasa mereka semakin kurang ajar.


Sebelum saya masuk sekolah, saat saya meliburkan diri sendiri. Sampai tante saya dikampung tau, dan berbicara ke saya lewat telepon.


"Halooo Ren, kamu sekolah yah, kalau kamu gak mau disana, sekolah tempat Tante aja lagi, nanti Tante belikan motor yah" ucap tante


" Saya mau istirahat aja dulu Tante, saya bukannya gak mau. Cape sekolah itu kebanyakan aturan" ucap saya


" Kamu yang tak bisa diatur kali, nanti tante Carikan kamu pacar disini mau?" Ucap tante


" Gak tan, mau di sini aja sekolah ntar" ucap saya


" Ya sudah, tapi kamu tiap tahun kesini jenguk tante" ucap tante


" Ibu gak berangkat saya gak berangkat juga Tan" ucap saya


" Emang kenapa ren?" Tanya tante


" Kata ibu gak punya uang tan, tante kalau mau ongkosi biaya transpornya kami mau saja" ucap aaya


" Baiklah, kalau begitu kamu ikut mama Wiwi saja yah, kalau penuh tumpangan sebaiknya tidak usah saja" ucap tante


"Iya tante, insha Allah" ucap saya


"Tante, kesepian disini, didi jarang nengok tante, juga sama ka malin jarang nengok" ucap keluhan tante


" Mungkin sibuk tan mereka" ucap saya


"Mana ibu kamu, tante mau bicara, kasih ponselnya ke ibu mu! " perintah tante


" Iya tan" saya tutup pembicaraan dengan mengasih ponsel ke ibu.


Saya pun pergi ke WC, sambil saya buang hajat, memikirkan tante berbalik arah jadi berubah ingin saya balik kesana lagi. Kemarin malah terganggu dengan kehadiran saya. Apa saya harus percaya tante belikan motor, yang ada didi dan ka Malin nanti cemburu dengan saya, mereka saja tak ada motor.


Buat saya makan saja cuma makan ayam masak merah tiap hari, mau menu lain tak di kasih. Ah... Saya tak mudah percaya imingan tante. Rasa trauma berkecamuk masih ada jadi saya kalau ditawarkan lagi kerumah kampung, siap menolak.


Didi dia sering tinggal tempat ortu om atau mantan suami tante dulu. om orang nya baik, walau didi Bukan anak kandung dia sayangi layaknya anak kandung sendiri.


Sedangkan kak malin sudah menikah dengan mantan pacarnya waktu itu menasihati saya jangan mau dimanfaatkan teman.

__ADS_1


__ADS_2