
Liburan sekolah hampir tiba, saya berjanji untuk pulang kampung menemui tante. Ibu saya ajak tak mau, karena ibu malas bertemu paman Kun.
"Ibu masa sendirian kesana, saya kan malu bu" ucap saya
"Ibu malas, bertemu suami tante kamu itu, angkuh ceramahin kita, dia sendiri baru hijrah, asal kamu tau tante lagi sakit"
" Sakit apa Bu?"
"Katanya sakit ca mamae masih belum parah"
" Semoga bisa diobati yah bu, kasian tante, pantes merasa kesepian"
" Ya biarkan saja, salah tante kok nikah sama paman kun, udah tau jelas dia mantan suami dari adik kandung Pelakor mantan laki suami nya dulu, ibu yakin pasti kena pelet tante mu"
" Hush Bu, masa sih orang nya rajin ibadah masa gitu??"
" Kamu jangan percaya itu, dia tau dukun sakti sampai luar provinsi sana"
" Masa sih Bu??"
" Dia baru belajar tentang agama udah merasa sok benar ceramahin orang lain, ustad juga bukan"
"Ia sih Bu, tapi kalau bicara ke tante itu lembut"
" Ya dia mau harta Tante mu itu"
" Ya Allah Bu, saya masih belum percaya, beliau begitu"
"Terserah kamu, liat saja hutang dia mau berangkat bekerja ke luar negeri aja gak dibayar ke tantemu, motor dia langsung dibelikan Tante, semudah itu merayu tante kamu"
"Iya juga sih Bu"
"Ibu yakin ilmu hitam nya itu masih ada, apalagi dia tak bekerja, dia gunakan morotin harta tante kamu lah, tau sendiri kan tante mu pelit, masa mau keluar biaya buat laki dia itu"
"Ibu saya jadi berangkat tidak? Jadi takut saya sama paman Kun"
" Terserah kamu, kamu harus hati-hati aja"
Tetapi dalam hati saya belum percaya paman Kun begitu, dia sangat rajin ibadah nya. Menurut saya ibu hanya suudzon karena tante dan paman Kun sudah tak membantu ibu lagi masalah ibu dengan keuangan terkait warisan Nini dan kayi.
Saya pun jadi bingung, kenapa tante dulu gak mau bagikan ke ibu warisan Nini dan kayi tanpa alasan yang jelas, jadi begini kan jadi boomerang ibu juga. Mungkin Ibu sudah letih yang banyak bekerja sendirian daripada bapak untuk biayain sekolah kami.
-----
Saya berangkat dengan menumpang mobil ibu Hana atau ibu ka Wiwi, tetapi hana sudah lama berangkat duluan. Saya tiba di sana dengan baik.
Di suguhi makanan lumayan enak, mereka pun merendah ke saya.
"Ren, kalau mau makan disini, kami hanya seadanya aja ala kadarnya hanya gorengan gak ada kalau disini kalau kamu mau pizza" kata paman Kun
"Saya pun gak ada makan pizza di kota, kota saya gak ada pizza paman, sama saja makanan saya gorengan juga" jawab saya
" Nanti di sana kan pasti ada, cuma belum saja"
"Ren, kalau mau kerja di sini, nanti lulus sekolah, kerja di sini saja atau cari suami orang sini, biar Tante ada temannya" ucap tante
" Gak tau tan, saya bilang ke ibu dulu" ucap saya gak enak menolak.
" Nanti tante bicarakan ke ibu yah"
" Terserah saja tante, lagian saya masih belum mau cari suami juga"
" Loh kamu jangan lama-lama, tante takut gak sempat liat kamu nikah"
" Kenapa Tan??"
"Kan umur kita tak tau kapan"
" Semoga tante panjang umur"
" Kamu segera semoga dapat jodoh nya juga"
" Ish tante, saya masih kecil dan masih sekolah malu nikah muda"
Hahahahaa ketawa Tante.
-------
Saat malam hari ka Fey tidur tempat tante, ternyata ka Fey menikah dengan olik, saya kaget kenapa ka fey bisa suka dengan olik yang kekanakan menurut saya.
Karena dia dulu suka mengganggu saya.
Saya malam hari ada teman ngobrol dengan ka Fey.
Saat saya tertidur, tengah malam hp saya berbunyi ternyata yang menelpon Nono, dia selama 3 hari tak ada khabar. Malah menelpon baru saja. Dia pun omongan nya mulai ngelantur, bilang kangen tapi susah saya hubungi, malah menelpon semaunya saja. Saya berapa kali mengirim pesan banyak-banyak tak dibalasnya.
Siapa yang tak curiga, sms tak di balas-balas. Di telpon pun tak di angkat, di matiin nya. Alasan sibuk tapi belum ada kejelasan pasti, malah menelpon tengah malam dengan merayu. Dia pun tak tau Khabar saya ada pulang kampung, bukan saya tak mau mengasih tau, dia sendiri susah di hubungi.
__ADS_1
Ya seperti itu lah selama ini. Tapi lama-lama saya geram sama dia tak ada kejelasan yang jelas.
Saya berniat mau putus, tetapi masih ragu apa dia mau menerima apa tidak.
-----
Saya di kampung, hanya jalan-jalan sekitaran komplek saja. Main ketempat ipar dan warung ka Fey. Saya diantar samil yang beranjak sudah besar. Dia mau mengantar kan saya ketempat kakak ipar saya, saya lupa jalan kesana.
"Udah gede aja kamu samil, kemarin kita masih main-main"
Samil hanya diam tersipu malu.
Mau gak mau saya yang memulai dan mengakhiri pembicaraan, dia hanya menjawab seadanya saja.
Tante juga ada merekam dirinya sendiri, dia berpesan harta warisan nya untuk ka malin dan didi.
Saya waktu itu tak curiga apa-apa karena saya yakin tante pasti sembuh dan masih ada harapan sembuh berumur panjang.
Tetapi tante seperti kurang ada harapan. Saya masih tak ada menaruh dengan curiga paman Kun seperti ibu bilang, dia masih ibadah rajin dan mesra dengan tante.
Memang susah rasanya berpikir negatif ke paman kun, tapi biarlah waktu yang menjawab nya.
------
Sudah satu Minggu saya di kampung, rasa ingin pulang saja. Karena saya ingin bertemu adik yang buat saya kangen, setiap ada dia saya selalu tersenyum lebar.
Saya besok sudah harus pulang ke rumah di kota. Tante dan paman tak begitu banyak cerita, ya hanya di awal saja mereka menyambut saya bercerita.
Mereka sibuk lagi dengan urusan nya masing-masing. Setelah pulang dari usahanya tante tidur dengan paman sampai sore.
Saya pulang ikut ibunya Hana dan kaka Wiwi. Lagi-lagi saya dibandingkan.
"Emang kamu dikasih berapa oleh tante kamu ren sangu pulang?" Tanya ka Wiwi
"Seratus ribu kak"
" Aku aja kasih hana tiga ratus ribu, Tante kamu banyak uang gitu masa kasih seratus"
Saya pun hanya senyum. Bingung jawab apa.
" Makanya lain kali, kamu berani minta lebih aja" ucap ka Wiwi
" Gak berani kak heee"
Selama perjalanan ditempuh, hana hanya tiduran saja, dia gak kuat kalau bangun takut muntah. Mungkin dia minum obat efeknya tidur terus, saya juga minum obat bawaan nya mau tidur tapi saya lawan.
Saya berterimakasih kepada ibu dan kak Wiwi mau menerima tumpangan gratis pulang kampung. sekolah hampir tiba, saya berjanji untuk pulang kampung menemui tante. Ibu saya ajak tak mau, karena ibu malas bertemu paman Kun.
"Ibu masa sendirian kesana, saya kan malu bu" ucap saya
" Sakit apa Bu?" Tanya saya
"Katanya sakit ca mamae masih belum parah" ucap ibh
" Semoga bisa diobati yah bu, kasian tante, pantes merasa kesepian" ucap saya
" Ya biarkan saja, salah tante kok nikah sama paman kun, udah tau jelas dia mantan suami dari adik kandung Pelakor mantan laki suami nya dulu, ibu yakin pasti kena pelet tante mu" ucap ibu
" Hush Bu, masa sih orang nya rajin ibadah masa gitu??" Hardik saya
" Kamu jangan percaya perubahan paman kun, dia tau dukun sakti sampai luar provinsi sana" ucap ibu
" Masa sih Bu??" Tanya saya masih kurang percaya
" Dia baru belajar tentang agama udah merasa sok benar ceramahin orang lain, ustad juga bukan" ucap ubu
"Ia sih Bu, tapi kalau bicara ke tante itu lembut" ucap saya
" Ya dia mau harta Tante mu itu" ucap tante
" Ya Allah Bu, saya masih belum percaya, beliau begitu" ucap saya
"Terserah kamu, liat saja hutang dia mau berangkat bekerja ke luar negeri aja gak dibayar ke tantemu, motor dia langsung dibelikan Tante, semudah itu merayu tante kamu" hardik ibu
"Iya juga sih Bu" ucap saya masih sedikit ragu
"Ibu yakin ilmu hitam nya itu masih ada, apalagi dia tak bekerja, dia gunakan morotin harta tante kamu lah, tau sendiri kan tante mu pelit, masa mau keluar biaya buat laki dia itu" ucap ibu
"Ibu saya jadi berangkat tidak? Jadi takut saya sama paman Kun" ucap saya
" Terserah kamu, kamu harus hati-hati aja" ucap ibh
Tetapi dalam hati saya belum percaya paman Kun begitu, dia sangat rajin ibadah nya. Menurut saya ibu hanya suudzon karena tante dan paman Kun sudah tak membantu ibu lagi masalah ibu dengan keuangan terkait warisan Nini dan kayi.
Saya pun jadi bingung, kenapa tante dulu gak mau bagikan ke ibu warisan Nini dan kayi tanpa alasan yang jelas, jadi begini kan jadi boomerang ibu juga. Mungkin Ibu sudah letih yang banyak bekerja sendirian daripada ayah untuk biayain sekolah kami.
-----
__ADS_1
Saya berangkat dengan menumpang mobil ibu Hana atau ibu ka Wiwi, tetapi hana sudah lama berangkat duluan. Saya tiba di sana dengan baik.
Di suguhi makanan lumayan enak, mereka pun merendah ke saya.
"Ren, kalau mau makan disini, kami hanya seadanya aja ala kadarnya hanya gorengan gak ada kalau disini kalau kamu mau pizza" kata paman Kun
"Saya pun gak ada makan pizza di kota, kota saya gak ada pizza paman, sama saja makanan saya gorengan juga" jawab saya
" Nanti di sana kan pasti ada, cuma belum saja" ucap paman
"Ren, kalau mau kerja di sini, nanti lulus sekolah, kerja di sini saja atau cari suami orang sini, biar Tante ada temannya" ucap tante
" Gak tau tan, saya bilang ke ibu dulu" ucap saya gak enak menolak
" Nanti tante bicarakan ke ibu yah" ucap tante
" Terserah saja tante, lagian saya masih belum mau cari suami juga" ucap saya
" Loh kamu jangan lama-lama, tante takut gak sempat liat kamu nikah" ucap tante
" Kenapa Tan??" Tanya saya
"Kan umur kita tak tau kapan" ucap tante
" Semoga tante panjang umur" ucap saya
" Kamu segera semoga dapat jodoh nya juga" ucap tange
" Ish tante, saya masih kecil dan masih sekolah malu nikah muda" ucap saya
Hahahahaa ketawa Tante.
-------
Saat malam hari ka Fey tidur tempat tante, ternyata ka Fey menikah dengan olik, saya kaget kenapa ka fey bisa suka dengan olik yang kekanakan menurut saya.
Karena dia dulu suka mengganggu saya.
Saya malam hari ada teman ngobrol dengan ka Fey.
Saat saya tertidur, tengah malam hp saya berbunyi ternyata yang menelpon Nono, dia selama 3 hari tak ada khabar. Malah menelpon baru saja. Dia pun omongan nya mulai ngelantur, bilang kangen tapi susah saya hubungi, malah menelpon semaunya saja. Saya berapa kali mengirim pesan banyak-banyak tak dibalasnya.
Siapa yang tak curiga, sms tak di balas-balas. Di telpon pun tak di angkat, di matiin nya. Alasan sibuk tapi belum ada kejelasan pasti, malah menelpon tengah malam dengan merayu. Dia pun tak tau Khabar saya ada pulang kampung, bukan saya tak mau mengasih tau, dia sendiri susah di hubungi.
Ya seperti itu lah selama ini. Tapi lama-lama saya geram sama dia tak ada kejelasan yang jelas.
Saya berniat mau putus, tetapi masih ragu apa dia mau menerima apa tidak.
-----
Saya di kampung, hanya jalan-jalan sekitaran komplek saja. Main ketempat ipar dan warung ka Fey. Saya diantar samil yang beranjak sudah besar. Dia mau mengantar kan saya ketempat kakak ipar saya, saya lupa jalan kesana.
"Udah gede aja kamu samil, kemarin kita masih main-main" ucap saya
Samil hanya diam tersipu malu.
Mau gak mau saya yang memulai dan mengakhiri pembicaraan, dia hanya menjawab seadanya saja.
Tante juga ada merekam dirinya sendiri, dia berpesan harta warisan nya untuk ka malin dan didi.
Saya waktu itu tak curiga apa-apa karena saya yakin tante pasti sembuh dan masih ada harapan sembuh berumur panjang.
Tetapi tante seperti kurang ada harapan. Saya masih tak ada menaruh dengan curiga paman Kun seperti ibu bilang, dia masih ibadah rajin dan mesra dengan tante.
Memang susah rasanya berpikir negatif ke paman kun, tapi biarlah waktu yang menjawab nya.
------
Sudah satu Minggu saya di kampung, rasa ingin pulang saja. Karena saya ingin bertemu adik yang buat saya kangen, setiap ada dia saya selalu tersenyum lebar.
Saya besok sudah harus pulang ke rumah di kota. Tante dan paman tak begitu banyak cerita, ya hanya di awal saja mereka menyambut saya bercerita.
Mereka sibuk lagi dengan urusan nya masing-masing. Setelah pulang dari usahanya tante tidur dengan paman sampai sore.
Saya pulang ikut ibunya Hana dan kaka Wiwi. Lagi-lagi saya dibandingkan.
"Emang kamu dikasih berapa oleh tante kamu ren sangu pulang?" Tanya ka Wiwi
"Seratus ribu kak" jawab saya
" Aku aja kasih hana tiga ratus ribu, Tante kamu banyak uang gitu masa kasih seratus" ucap ka Wiwi
Saya pun hanya senyum. Bingung jawab apa.
" Makanya lain kali, kamu berani minta lebih aja" ucap ka Wiwi
" Gak berani kak heee" ucap saya
__ADS_1
Selama perjalanan ditempuh, hana hanya tiduran saja, dia gak kuat kalau bangun takut muntah. Mungkin dia minum obat efeknya tidur terus, saya juga minum obat bawaan nya mau tidur tapi saya lawan.
Saya berterimakasih kepada ibu dan kak Wiwi mau menerima tumpangan gratis pulang kampung.