Dibalik Senyuman Indah

Dibalik Senyuman Indah
Kelulusan sekolah menengah atas


__ADS_3

Saat kak Hesty menikah atau acara pernikahan nya. Hardy tak datang saat siang hari, dia kata sedang sibuk bekerja.


Kalau tak bisa datang siang, malam hari saja. Hardy datang bersama teman nya, dia memakai pakaian kerja Hitam putih. Kasian juga seperti kelelahan pulang bekerja di swalayan.


Di sana keluarga menanyakan pekerjaan Hardy, saya bilang kerja di swalayan jadi cleaning servis.


Bersyukur keluarga saya tak begitu mempermasalahkan lagi, tak ada ejekan fisik atau ejekan pekerjaan seseorang.


Hardy tak gendut, hanya tinggi kurus.


Tampang nya lumayan cocok untuk saya tidak kelihatan dewasa ataupun anak-anak. Jadi tak ada ejekan lagi terhadap saya dari keluarga. Hanya saja mereka mengejek sama- sama kami ini berdua kurus dengan saya saja mereka berani mengejek.


------


Satu tahun sudah saya pacaran dengan Hardy, dia pindah pekerjaan lebih terjamin.


Dia bekerja perusahaan tv swasta, hanya dari bantuan saudaranya dia masuk perusahaan tersebut.


Dia pun mengurus surat pengunduran diri, saya tak memasalahkan apa pekerjaan nya yang penting halal, yah dia pindah pekerjaan banyak mulai iri dengan saya.


Dia mulai punya hp baru yang bagus, pakaian yang bagus ada mereknya kualitas asli. Motor dia pun beli baru. Tetapi saya masih pakaian biasa saja. Hp masih yang biasa serta saya tak punya motor.


Saya bekerja di klinik cantik Kaka, ya saya di beri berapa pun gak berani mengeluh karena takut masih trauma di jambaknya.


Ibu pun menasehati untuk hati-hati.


" Pacar kamu kerja di kantor situ, banyak cewek rapi dan cantik, mana lumayan tampan pacar kamu, kamu yakin pacar kamu aman?" Ucap ibu


"Ibu ini gimana sih kok gitu nakutin? Percaya aja lah Bu" ucap saya


"Kamu liat aja, pakaian mulai bagus, motor nya bagus, kamu sendiri pakaian gitu-gitu aja, makanya kamu minta belikan pakaian sama dia yang bagus" ucap ibu


"Kata dia gak boleh Bu, nanti bisa buat gak awet pacaran" ucap saya


"Ya emang ada seperti itu, tetapi kamu ga ada perubahan, kamu pake aja uangmu beli pakaian bagus" ucap ibu


" Uang gajih pas san buat makan dan pulsa bu, saya baju tiap tahun aja udah seneng beli" ucap saya


" Kamu juga ibu suruh ambil lebih yang di celengan kaka mu gak mau" ucap ibu


Celengan atau tempat uang pelanggan atau customer.


"Ah ibu ngaco, kak Hesty teliti orangnya, aku gak berani, kalau ibu sih gak apa-apa suka ngambil, kalau saya di jambaknya" ucap saya


" Kakamu aja ibu diemin ambil celengan Waktu dia bantu di warung waktu kecil dulu, terlalu Kaka kamu itu sama kaya ayanlhmu, pelittt" ucap ibu


"Tau tu ka Hesty, ibu juga cuma bisa diam aja aku di Jambak ka Hesty" ucap saya


" Sudahlah lain kali ambil aja sembunyi, kan ibu dan ayah modali usahanya" ucap ibi


" Gak berani aku Bu, udah di Jambak nya dipermalukan ya ntar, ujung nya dipotong nya gajih aku" ucap saya

__ADS_1


Ibu dan ayah mau pindahan keluar kota, hanya saya tinggal sendiri. Nenek sudah menegur untuk bersabar usaha di sini saja.


Tapi ibu dan ayah sudah tak kuat usaha di sini sepi, hanya jual di depan rumah jual makanan ringan.


Rumah dijual bertuliskan di depan rumah, kaget lah kami dan nenek.


Nenek pun langsung marah.


" Kalian ini ada-ada saja, emang cari rumah itu enak apa, sudah ada rumah malah di jual


Nanti kalian mau tinggal dimana kalau rumah ini di jual, menyewa pun biayanya mahal" ucap nenek


"Kami, lagi butuh modal usaha ma, biar berkembang"ucap ayah


"Usaha itu yang ringan dulu, gak harus langsung modal banyak, coba dulu baru dikembangkan, ada saja ulah kalian" ucap nenek


"Ya sudah tulis di sewakan saja" ucap ayah.


" Ya begitulah seharusnya, kamu itu punya Anak banyak, itu siapa tau buat mereka tempati nanti sudah berkeluarga" ucap nenek


Ibu dan ayah mau berencana beli rumah di luar daerah, tetapi nenek tak mau rumah di sini dijual, karena kami bertiga bersaudara di sini semua.


Saya harus tinggal di tempat Kaka Hesty, karena ka hesty mau melahirkan. Walau rumah belum laku di sewakan.


Saya di tinggal ortu kali ini lebih tegar dan kuat. Bagaimana pun agar ayah dan ibu bahagia mencari nafkah nya.


------


Saya terasa tak di asing kan lagi. Mereka bercerita ada yang lanjut kuliah ada yang tidak. Kalau saya mau lanjut kuliah tapi belum tau dananya dari mana? Asal ikutan saja, siapa tau ada dananya.


Kak hesty tak mau lagi dia membiayai kami lanjut kuliah, cukup kami lulus sampai sekolah menengah atas saja. Dia juga tidak membantu ibu lagi saat ibu minta bantuan.


Dia ambil alih usahanya jadi miliknya untuk membiayai kehidupan rumah tangga nya. Saya waktu itu antara bingung lanjut kuliah apa tidak karena juga ibu dan ayah baru pindahan jadi dananya habis buat modal usaha pindah-pindah.


Tetapi saya dengan pedenya mendaftar satu fakultas kesehatan, saya mencoba daftar. Sambil mencoba cari fakultas di lain uang pendaftaran saya kurang mencukupi. Saya hanya membantu mengantarkan lisa saja pendaftaran nya.


"Jadi gak kamu daftar ren?" tanya lisa


" Uang ku kurang nih Lis, kamu aja deh daftar" ucap saya


"Aku utangin mau?" tanya lisa


"Gak usah Lis, lagian aku juga bingung masuk belum pasti, ibu ku kurang ijinin masuk fakultas sini, ibuku maunya aku tuh masuk fakultas kesehatan" ucap saya


"Loh kamu yakin lulus di fakultas kesehatan? Banyak yang daftar di sana" ucap lisa


"Iya aku coba dulu, tapi sebenarnya hheee, belum ada juga uang buat masuknya, kalau seandainya aku dapat fakultas kesehatan " ucap saya


" Aneh kamu, kenapa mau masuk kuliah" ucap lisa


" Ibu ku kalau aku mau sekolah kesehatan ibu ku janji mau cari utangan dengan siapa aku juga gak tau, tapi kalau fakultas lain ibu kurang mendukung" kata saya

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu, aku saja daftar" ucap lisa


Kami pun pulang, dia mengantarkan saya ke klinik Kaka saya, saya mulai bekerja di klinik, masih tahap belajar jadi tak banyak di gajih, di gajih sesuai kehendak Kaka saya yang beri. Saya kalau tidak dapat tak jadi masalah karena saya harus bantu kaka, ka Resty habis melahirkan jadi jarang menunggu klinik cantik nya.


------


Tak lama telpon berdering, tante dikampung menelpon.


"Halo Ren, kamu sudah lulus sekolah yah?" tanya tante


" iya sudah tante, apa Khabarnya Tante?" tanya saya balik


"Tante sakit ren tapi tante masih bisa jualan kadang-kadang" ucap saya


"Tante kenapa gak berobat aja?" tanya saya


" Tante takut dioperasi, katanya malah makin parah dengar yang mengalaminya" ucap tante


"Iya kah tan, ikuti aja arahan dokter Tan" ucap saya


"ren, kamu mau tinggal di sini, nanti Tante modal Lin kamu usaha, kamu mau usaha apa?" ucap Tante menawarkan


" Gak tan, aku di sini aja, ka Resty habis melahirkan jadi aku bantu jaga klinik ny" ucap saya


" Kamu gak lanjut kuliah? " tanya tante


" Mau nya sih gitu, liat aja nanti tan, liat keuangan ibu juga hhee" ucap saya


"Kamu kuliah sini aja, di sini udah ada fakultas keguruan, kamu mau" ucap tante


"Gak tan, ibu gak bakal ijinin, ibu maunya fakultas kesehatan" ucap saya


"Ya sudah, pasti tante ongkossi sekolahnya kamu, kamu yakin ibu mu bisa baiyain?" ucap tante


" Gak tau juga tan, liat aja nanti, saya juga mau rencana kursus nanti" ucap saya


" ya sudah kalau gitu, kamu rajin-rajin kursusnya, nanti tante modallin kamu" ucap tante


"insha Allah tan, kalau jadi kursus, tante gimana khabar Didi?" tanya saya


" Didi dia ada di sebrang, jarang nengok tante" jawab tante


"Tante banyak istirahat aja, sambil berobat, jangan takut Tante" ucap saya


" Tante mau cari pengobatan alternatif lain aja" ucap tante


" Terserah aja tan, saya mau kerja dulu, ada pelanggan, Assalamualaikum" ucap saya mengakhiri salam


"Waalaikumsaalam"


Saya kurang tau tentang penyakit ca mamae, saya anggap pasti Tante sembuh dan kuat.

__ADS_1


__ADS_2