
Sam dan Zea tak bisa membendung air mata mereka, keduanya merasa gagal menjadi orang tua dan merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Nick.
"Nick," panggil Sam dengan suara bergetar. Nick menoleh dan memperhatikan Sam yang terlihat begitu sedih. "Jika kecelakaan itu membuatmu kesulitan memiliki keturunan, lalu bayi dalam kandungan Flo ad...
"Bayi itu milikku dad, dokter memvonisku susah memiliki keturunan bukan tidak bisa memiliki keturunan lagi!" potong Nick sebelum Sam merampungkan ucapannya.
"Maaf karena dady sempat meragukanmu!"
Nick hanya diam dengan kedua tangan terkepal, dia tak suka saat orang lain meragukan bayi dalam kandungan Flo meski faktanya bayi itu memang bukan miliknya.
__ADS_1
Sam lalu beralih pada Nicho yang tengah meringis menahan sakit karena seluruh wajahnya babak belur. "Dan kau, kenapa kau begitu tega pada saudaramu sendiri? Kau hampir membunuhnya!" ucap Sam marah.
Nicho menyeka sudut bibirnya yang berdarah, kepalanya lalu terangkat, menatap nyalang pria tua yang tak lain adalah ayah kandungnya. "Aku justru berharap Nick mati saat itu!" jawaban Nicho menggambarkan betapa dia sangat membenci Nick.
"Keterlaluan kamu Nicho!" sahut Zea dengan mata berair, wanita paruh bay itu tak menyangka jika putranya memiliki pemikiran yang begitu keji.
Nick beralih menatap Zea, tersirat sebuah kekecewaan dari tatapan tajamnya. "Kalian yang membuatku seperti ini!" ujar Nicho setengah berteriak, urat-urat lehernya mencuat karena menahan amarah. "Sejak kecil kalian selalu saja membanding-bandingkan kami, seolah-olah hanya Nick yang menjadi anak kalian! Aku juga ingin cerdas dan serba bisa seperti Nick, tapi aku bukan Nick, aku juga memiliki kemampuan yang tak pernah kalian sadari dan kalian anggap!"
Nicho menoleh dan melayangkan tatapan permusuhan. "Kenapa? Memang faktanya begitu kan? Mereka tidak pernah perduli padaku, mereka hanya menyayangimu!"
__ADS_1
"Sepertinya aku harus memukul kepalamu agar kau ingat bagaimana dady dan momy meyayangimu! Aku masih sangat ingat, saat kita duduk di sekolah dasar dady dan momy tidak datang saat aku mengikuti lomba cerdas cermat hanya karena kau sedang flu dan tidak mau di tinggal. Saat kita berada di banggu sekolah menengah, aku berhasil lompat kelas dan lulus lebih awal darimu, mereka bahkan tak merayakannya demi menjaga perasaanmu. Kau mulai liar sejak SMA, mereka sibuk menutupi semua kesalahanmu, mereka memohon kepada pihak sekolah agar kau tidak di keluarkan. Semua waktu momy dan dady mereka habiskan untukmu, tapi dengan mudahnya kau mengatakan mereka tak perduli dan tak menyayangimu? Kau benar-benar pria hina dan tidak tau artinya terima kasih!" papar Nick panjang lebar, dia tak ingin membahas masa lalu, namun Nicho harus tau bagaimana pengorbanan orang tua mereka. "Dan satu hal lagi, kau pikir bengkelmu bisa semaju itu hanya dengan usahamu sendiri? Kau salah Nick, semua itu berkat dady. Dady merekomendasikan bengkelmu kepada karyawan dan relasi bisnis. Bahkan diam-diam dady sering memantaumu dari jauh, saat bengkelmu sepi dady menyuruh orang untuk datang ke bengkelmu dan semua biaya perbaikan dady yang menanggungnya!"
Nicho hanya diam dan mendengarkan semua luapan amarah Nick, namun jauh di dalam hatinya dia merasa tercubit dan bertanya-tanya. Benarkah semua yang di ucapan oleh Nick, benarkah jika selama ini Nick juga menderita. "Jangan membual Nick, jelas-jelas mereka pilih kasih!"
Emosi Nick kembali terpancing, dia kembali mendekati Nicho dan akan memukulnya, namun tangan Nick tertahan saat mendengar Zea berteriak.
"Dad, bangun! sadarlah!"
Nick dan Nicho menoleh dan mematap Sam yang tak sadarkan diri sambil memegangi dadanya. Si kembar berlari menghampiri sang ayah dengan wajah memegang.
__ADS_1
"Dady!"