
Flo terlihat ragu, dia mondar mandir di depan kamarnya sambil menggenggam ponsel, dia ingin menghubungi Nick namun rasanya begitu berat. Flo juga sudah rapi dan berencana menyusul Nick kerumah sakit, namun lagi-lagi ego menahannya.
"Come on Flo, mertuamu di rawat sekarang. Jangan egois dan hanya memikirkan dirimu sendiri!" ucap Flo pada dirinya sendiri. Setelah mencoba menekan gengsi dan egonya, Flo memutuskan untuk ke rumah sakit.
Sementara itu, Adelia dan Zea sudah berada di rumah sakit. Kedua wanita itu duduk di antara Nick yang terlihat begitu lelah, lingkar hitam di bawah mata Nick menandakan jika pria itu terjaga sepanjang malam.
"Kemana Nicho?" tanya Zea seraya menatap sekeliling, sejak datang dia tak melihat Nicho.
"Aku menyuruhnya makan mom," jawab Nick seraya mengusap tangan Zea.
"Kakak menyuruh dia makan sementara kakak sendiri belum makan?" sahut Adelia dengan wajah tak suka, dia kesal karena Nick masih begitu baik pada Nicho.
Nick menoleh dan menatap adiknya dengan lembut. "Jaga bicaramu Del, Nicho juga kakakmu, panggil dia kakak!" pesan Nick bijak.
Adelia mendegus kesal, entah terbuat dari apa hati kakaknya itu. "Ya, ya, aku tau!"
"Momy dan Adel ada di sini, sebaiknya kau juga makan dulu Nick, jangan sampai kau juga sakit!" sela Zea.
"Baik mom, apa momy dan Adel mau di belikan sesuatu?"
"Momy dan Adel sudah makan!"
Nick beranjak dari duduknya, sebelum pergi dia mengintip jendela kaca dan menatap Sam dari kejauhan. Puas menatap dadynya, Nick lantas pergi. Namun baru beberapa langkah kakinya berjalan, dia berpapasan dengan dokter dan perawat yang berlarian dengan wajah panik dan masuk ke dalam ruang ICU dimana Sam berada.
Nick berbalik dengan wajah tegang, dia segera berlari menghampiri Zea dan Adel yang sudah berdiri di depan ruang ICU. Melihat ibu dan adiknya menagis, Nick langsung memeluk keduanya.
__ADS_1
"Dady Nick," ucap Zea tertahan karena air matanya keluar begitu deras.
"Dady akan baik-baik saja mom, percayalah!" jawab Nick setenang mungkin meski perasaannya juga bercampur aduk.
Di tengah ketegangan tersebut, Nicho kembali sambil meneteng kantung plastik berisi sarapan untuk kembarannya. Nicho kendekati keluarganya dengan wajah bingung. "Ada apa Nick?" tanyanya seraya menatap keluarganya secara bergantian.
Nick menoleh ke arah Nicho. "Aku juga tidak tau, tiba-tiba dokter dan perawat masuk ke dalam!"
Di saat yang sama seorang dokter keluar dan menghampiri Zea dan kedua anaknya. "Tuan Samuel mencari anda nyonya," ucap dokter seraya menatap Zea.
Zea menyeka air matanya dengan kasar. "Suami saya baik-baik saja kan dok?" tanyanya gusar.
Dokter hanya diam dan tak memberi jawaban. "Tuan Samuel sudah menunggu nyonya!"
"Sa-sayang," ucap Sam dengan suara serak.
Zea segera meraih tangan Sam dan menggenggamnya dengan erat. "Aku di sini, bertahanlah sayang!" sahut Zea penuh haru.
Sam memiringkan kepalanya sehingga dia bisa melihat wajah Zea dengan jelas. "Ja-jangan menangis," ucapnya terengah-engah.
Zea menghapus air matanya dengan kasar. "Aku tidak menangis!"
Sebuah senyuman sangat terbit di wajah pucat milik Sam. "Berjanjilah untuk tidak menangis!"
Zea hanya bisa mengangguk sambil menahan air matanya.
__ADS_1
"Sayang," panggil Sam dengan suara yang semakin lemah.
"Aku di sini!"
"Terima kasih karena kau telah menjadi istriku. Aku sangat bahagia memilikimu. Dan maaf," Sam menjeda kalimatnya, nafasnya terdengar semakin berat dan buliran air mata menetes dari ekor matanya.
"Jangan bilang begitu, tidak ada yang perlu di maafkan. Aku juga sangat bahagia bisa menjadi istrimu. Kau tau sendiri bagaimana aku sangat mencintaimu!"
"Tetap saja aku harus meminta maaf padaku. Semua yang terjadi pada putra kita adalah hukuman untukku karena aku menyakitimu di masa lalu. Seumur hidup aku menyesalinya sayang!"
Zea menggeleng-gelengkan kepalanya, air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya jebol juga. "Jangan katakan apapun lagi. Aku sudah memaafkan segalanya, aku sudah melupakan masa lalu. Jangan ungkit itu lagi, kebahagiaan yang kau berikan ribuan kali lebih besar dari pada kesalahanmu di masa lalu!"
Sam berusaha mengangkat tangannya, dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki dia menyeka air mata di wajah istrinya dengan sangat lembut. "Jaga anak-anak dengan baik, tuntun Nick dan Nicho agar mereka berdamai. Jangan benci salah satu dari mereka sayang!"
Zea menahan tangan Sam yang berada di wajahnya. "Kita akan menuntun mereka bersama-sama!"
"Aku mencintaimu sayang!" ucap Sam dengan wajah tersenyum, detik berikutnya tangannya terlepas dari genggaman sang istri. Suara alat monitor melengkik memekakkan telinga membuat Zea begitu panik.
"Sa-sayang, buka matamu!" Zea mengguncang tubuh Sam sambil terisak.
Perawat membantu Zea untuk berpindah tempat, lalu dokter berusaha untuk mengembalikan detak jantung Sam. Sayangnya, setelah setengah jam berlalu detak jantung Sam tak kembali, garis lurus di layar monitor tak berubah sama sekali.
Dokter melepas semua alat yang menempel di tubuh Sam, lalu dia menoleh dan menatap Zea dengan wajah penuh sesal. "Tuan Sam telah berpulang, waktu kematian pukul 10 lewat 25!"
BERSAMBUNG...
__ADS_1