
Zea dan Adelia sudah sampai di rumah, mungkin karena terlalu lelah, Zea tertidur tanpa sempat membersihkan tubuhnya. Sementara itu Adelia menemani ibunya dan menatap wajah sendu Zea dengan perasaan nelangsa. Malam belum terlalu larut, Adelia sendiri tidak bisa tidur dan memikirkan kondisi dady nya dan kondisi Nick. Untuk kali pertama, dia benar-benar melihat kesedihan di wajah kakaknya
"Apa Flo tau kalau dady masuk rumah sakit ya?" tanya Adelia pada dirinya sendiri. Adelia lalu meraih ponsel dan berniat untuk mengabari Flo, namun teringat kesalahan pahaman antara Flo, Nick dan Nicho membuat Adelia mengurungkan niatnya.
Sementara di tempat lain, Flo juga sama sekali tak bisa menutup matanya. Flo lalu memilih duduk sambil memainkan ponselnya, di saat yang sama Flo menerima pesan dari Nick.
"Jangan lupa makan dan minum susu, jangan lupakan juga vitaminmu Flo. Aku merindukanmu Flo!"
Flo membaca pesan Nick berulang kali, kalimat rindu dalam pesan Nick membuat hati Flo merasa aneh, dan tak bisa di pungkiri Flo juga mulai memikirkan Nick.
"Dia tidur dimana sekarang? Apa dia sudah makan?"
Ingin rasanya Flo membalas pesan tersebut, namun dia terlalu gengsi mengingat apa yang terjadi di antara mereka siang tadi.
__ADS_1
Sampai matahari terbit Flo masih terjaga, malamnya dia habiskan untuk merenungi apa yang harus dia lakukan setelah ini. Dia marah, dia kecewa dan merasa di bohongi oleh Nick, namun sejauh ini Nick lah yang paling baik padanya dan Flo perasaan tidak rela pergi dari Nick mulai menggerogoti hatinya.
Bel rumah yang terus berbunyi menyadarkan Flo dari pikiran runyamnya, wanita hamil itu lalu turun dan membuka pintu. Flo cukup kecewa karena bukan Nick yang datang, namun Flo juga terkejut karena melihat Adelia berdiri di depan rumahnya depagi ini.
"Adel," panggil Flo dengan wajah terkejut.
Adel tersenyum sendu. "Boleh aku masuk?" tanyanya seraya menatap Flo.
Flo lalu mengajak Adelia masuk dan membawa adik iparnya itu ke dapur. "Duduk dulu, aku buatkan cokelat panas untukmu," ucap Flo dan Adel hanya mengangguk.
Dua gelas cokelat panas menemani Flo dan Adel di meja makan. Flo menatap Adel dengan seksama dan merasa ada yang aneh, tak biasanya wajah ceria Adel berubah semuram ini. "Ada apa Del?" Flo memberanikan diri untuk bertanya karena penasaran.
Adelia menghela nafas panjang, gadis itu menoleh dan menatap Flo dengan mata berkaca-kaca. "Dady masuk rumah sakit dan belum sadar," jawab Adelia sedih.
__ADS_1
Flo membekap mulutnya, dia sedikit tak percaya karena kemarin masih melihat Sam dalam keadaan sehat. "Kenapa dady bisa masuk rumah sakit del?"
"Dady terkena serangan jantung. Setelah kau pergi, kak Nick dan Nicho kembali berdebat. Dady sangat terpukul saat tau Nicho lah yang menyebabkan kak Nick kecelakaan dan di vonis susah memiliki anak," jelas Adelia apa adanya, semalaman dia merenung dan berpikir jika Flo berhak tau apa yang terjadi antara Nick dan Nicho di masa lalu. "Dan semua itu terjadi saat kak Nick berniat memberi tahumu tentang kebohongan Nicho. Kak Nick sangat marah saat tau Nicho menipumu. Mereka bertengkar hebat, puncaknya kak Nicho menyerang kak Nick karena kak Nick tidak mau mendengarkan Nicho dan bersikeras untuk menemuimu segalanya. Lalu dengan sengaja Nicho mendorong kak Nick di saat sebuah sepeda motor tengah melaju ke arah mereka!"
Dada Flo terasa sesak, semua cerita Adelia membuat Flo merasa bersalah pada Nick. Wanita hamil itu kembali membekap mulutnya sambil menangis.
Adelia memiringkan tubuhnya dan memeluk Flo, tangan lembutnya mengusap punggung kakak iparnya. "Aku rasa kau berhak tau, aku yakin kak Nick tidak akan jujur padamu dan memilih diam tanpa menjelaskan apapun. Tolong jangan beci dia Flo, dia pria yang sangat baik. Melihat tatapannya padamu, aku yakin dia benar-benar mencintaimu!"
Air mata Flo semakin deras, entah apa yang dia rasakan kini, namun dia ingin segera bertemu dengan Nick dan meminta maaf padanya.
Adelia melepas pelukannya, gadis itu menyeka air mata di wajah Flo. "Segera temui kak Nick saat kau sudah merasa lebih baik. Kak Nick sangat membutuhkanmu sekarang!"
BERSAMBUNG...
__ADS_1