Dinikahi Kembaran Calon Suami

Dinikahi Kembaran Calon Suami
Tidak berubah


__ADS_3

Keputusan Zea untuk memenjarakan Nicho sudah bulat, apalagi setelah Zea melihat rekaman CCTV dan menyaksikan dengan kedua matanya sendiri bagaimana Nicho mencelakai Flo meski Nicho berdalih jika semua itu di luar sengaja.


"Jaga istrimu baik-baik, momy akan ke kantor polisi!" ucap Zea kepada Nick. Sementara Nick hanya mengangguk, dia juga sudah muak terhadap Nicho, biarkan pihak berwajib yang memberi hukuman kepada Nicho.


Langkah kaki Zea begitu berat, namun dia terpaksa melakukannya agar Nicho segera sadar jika selama sikapnya sangat keterlaluan. Nicho mengejar Zea hingga lobby rumah sakit, dia berharap Zea akan berubah pikiran.


"Mom, tolong pikirkan sekali lagi mom. Bagaimana nasib Nicho jika Nicho di penjara mom," ujar Nicho dengan suara keras.


Zea menghentikan langkahnya, wanita paruh baya itu menoleh dan menatap putranya. "Apa kematian dady mu masih belum cukup bagimu Nich? Entah bayi itu milikmu atau bukan, namun tak seharusnya kau bertindak sejauh ini. Saat kau memutuskan untuk pergi dan meninggalkan Flo, seharusnya kau sadar jika kau sudah tidak berhak atas hidup Flo lagi, kau tidak berhak ikut campur! Entah dosa apa yang telah momy lakukan sampai Tuhan menghukum momy seperti ini. Momy benar-benar kecewa padamu," ujar Zea dengan mata berkaca-kaca, dengan hati yang hancur wanita itu harus memenjarakan putranya sendiri. Mungkin dengan semikian Nicho bisa berubah.


Nicho menatap kepergian Zea dengan nyalang, bukannya sadar dia malah menganggap jika Zea memang tidak pernah menyayanginya. "Baiklah kalau itu kemauan momy, mulai detik ini aku bukan anak momy lagi!" teriak Nicho dengan kedua tangan terkepal erat.


Bohong jika Zea tak mendengar ucapan Nicho, namun wanita itu bertekad, dia tak akan luluh meski taruhannya harus kehilangan putranya sendiri.

__ADS_1


Matahari tergelincir ke barat, langit pun mulai gelap dan lampu-lampu di koridor rumah sakit mulai menyala. Meski siang telah beranjak, tak sedikitpun Nick bergerak dari tempatnya, pria itu dengan setia menemani sang istri yang masih terlelap karena pengaruh obat penenang.


Hampir tengah malam saat Nick merasakan jemari Flo mulai bergerak, perlahan namun pasti kelopak mata Flo mulai terbuka. Di saat yang sama Nick merasa lega dan cemas, dia takut Flo akan kembali histeris.


"Sayang, kau sudah bangun?" ucap Nick seraya mengusap rambut Flo.


Flo mengedipkan kedua mata, rasanya dia belum memiliki tenaga untuk menjawab pertanyaan suaminya.


"A-air," pekik Flo dengan suara tercekat.


Nick segera mengambil gelas berisi air putih, dia lalu membantu istrinya untuk minum. Tenggorokan Flo terasa basah, kesadarannya pun berangsur kembali dan air mata tiba-tiba mengalir deras di wajahnya.


"Sayang? Kau baik-baik saja? Apa kau merasa sakit?" Nick kembali cemas melihat air mata istrinya.

__ADS_1


"Bayi kita Nick," ucapnya dengan suara tertahan.


Nick menunduk sedih, namun dia harua terlihat baik-baik saja di hadapan sang istri. Nick harus bisa menjadi pilar yang kuat untuk istrinya. "Bayi kita sudah bahagia di atas sana sayang," ucap Nick seraya menahan air matanya.


Kali ini Nick akan membiarkan Flo menangis, tugasnya kini hanya memeluk Flo dan memberikan rasa aman pada istrinya. Bahkan di dalam pelukan sang suamipun Flo masih terisak, mengingat calon bayinya yang pergi begitu saja.


Sementara di apartemennya, Nicho sedang panik karena sebentar lagi polisi pasti akan menangkapnya. Nicho kembali mengemas barang-barangnya, dia kembali melarikan diri untuk kedua kalinya.


Nicho berjalan dengan cepat, sesekali dia menoleh untuk memastikan jika tidak ada orang yang mengikutinya. Sesampainya di basement apartemen, Nicho menyipitkan matanya karena sebuah lampu mobil menyorot ke arahnya. Tak lama kemudian, seorang wanita yang Nicho kenal keluar dari mobil.


"Cepat masuk, aku akan membantumu melarikan diri!"


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2