
Setelah memastikan Flo terlelap, Nick melepaskan pelukannya, menutup tubuh sang istri dengan selimut, lalu keluar dari kamarnya. Nick menuju sebuah kamar yang juga berada di lantai atas, mengetuknya beberapa kali hingga sang pemilik kamar keluar.
"Keluarlah, aku ingin bicara padamu!" titah Nick seraya menatap gadis yang kini berdiri di hadapannya.
Gadis itu lalu keluar dari kamarnya, mengekori Nick menuruni tangga menuju taman yang ada di belakang rumah.
"Ada apa Nick?" tanya gadis itu penasaran.
"Flo adalah istriku sekarang, jadi tolong hargai dia, jangan ungkit masa lalunya lagi. Aku akan memaafkan sikapmu yang keterlaluan hari ini, tapi tidak lain kali Zill," tegas Nick dengan tatapan tajam.
Ucapan Nick membuat Zilla terkejut, dia tak menyangka Nick akan menegurnya hanya karena Flo. "Maaf Nick, aku tidak akan mengulanginya lagi!" jawab Zilla pada akhirnya, tak ada pilihan lain selain meminta maaf, dia tak mau Nick menilai buruk tentangnya.
Nick tersenyum mendengar jawaban sepupunya. "Selama kau disini, cobalah untuk akur dengannya. Flo gadis yang sangat baik!"
"Apa kau mencintainya?" tanya Zilla tiba-tiba, sejauh ini yang dia tau Flo tunangan Nicho.
"Tentu saja, dia istriku!" Nick menjawab tanpa ragu.
"Semudah itu kau mencintai wanita yang jelas-jelas pernah memiliki hubungan dengan kembaranmu Nick?" cibir Zilla dengan tatapan kecewa.
Nick menghela nafas berat, namun sangat wajar Zilla menanyakan hal tersebut karena tidak banyak yang tau kisahnya dan Flo. "Aku mencintainya sejak dulu bahkan sebelum Nicho mengenalnya!"
"Maksudmu Nick?"
"Tidak papa. Kembalilah ke kamarmu, kau pasti lelah!"
Nick lalu pergi meninggalkan Zilla dengan berjuta pertanyaan di dalam kepalanya. Hati Zilla terasa begitu sakit mengetahui fakta jika Nick telah mencintai Flo. Zilla menatap punggung Nick yang semakin jauh dengan perasaan bergemuruh. "Andai aku bukan sepupumu Nick!"
***
Kematian Sam bukanlah akhir dari segalanya, meksi begitu berat namun Zea harus tetap melanjutkan hidup demi anak-anaknya. Kepergian Sam tentu menjadi luka terdalam di hidupnya, akan tetapi dia harus bersikap tegar di hadapan anak-anak.
__ADS_1
Empat hari setelah kepergian sang suami, Zea mulai kembali beraktivitas dengan normal. Wanita paruh baya itu bangun lebih pagi, menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya yang kini masih berkumpul di rumah.
"Selamat pagi mom," sapa Flo yang kebetulan turun ke dapur dan melihat Zea di sana.
Zea menoleh dan tersenyum melihat menantunya. "Pagi Flo, kenapa pagi sekali bangunnya?" sahut Zea ramah.
"Flo ada kelas pagi hari ini mom!"
"Ah begitu!"
"Momy mau masak? Apa ada yang bisa Flo bantu?"
"Hmm, momy ingin membuat sarapan mumpung kalian di sini. Apa Flo bisa masak?"
Flo menggeleng dengan senyuman. "Terakhir Flo masak, dapur rumah kami hampir terbakar mom," jawabnya malu-malu.
Zea terkekeh mendengar ucapan menantunya. "Kalau begitu Flo kembali saja ke kamar dan bersiap-siap!"
Flo lalu kembali ke kamarnya, rupanya Nick sudah bangun dan sedang duduk di sofa sambil merentangkan tangannya. Entah mengapa pikiran Flo menjadi kotor, dia ingat bagaimana Nick memeluknya sebelum dia tidur.
"Apa aku sangat tampan?" goda Nick karena sejak tadi Flo menatapnya tanpa berkedip.
"Ti-tidak!" Flo menjadi gugup, wanita hamil itu lalu berjalan cepat menuju kamar mandi.
Nick tersenyum samar, tinggah Flo sangat menggemaskan. "Imut sekali!"
Sarapan telah siap, Zea mengumpulkan anak-anaknya di ruang makan. Selain ada Nick, Flo dan Adel, pagi ini Zilla dan Nicho juga bergabung bersama mereka. Meski rasanya sedikit kurang nyaman, namun Zea harus melakukannya demi mengabulkan permintaan terakhir Sam, yaitu menyatukan Nick dan Nicho.
"Emm, aku sangat merindukan masakan aunty," ucap Zilla penuh semangat.
"Selama kau di sini aunty akan memasak semua makanan kesukaanmu," sahut Zea.
__ADS_1
"Terima kasih aunty. Aku jadi ingat dulu aunty sering membuatkan bekal untuk kami saat aku belum pindah ke Bali. Dulu Nick paling tidak suka kalau aunty memasukkan sayur ke dalam bekalnya," oceh Zilla sambil tersenyum.
"Bukan hanya Nick saja Zill, Nicho juga begitu!" sahut Zea mengenang masa lalu.
"Mereka sangat mirip ya!" Zilla berujar.
Nick dan Nicho saling menatap meski hanya sekilasz tak bisa mereka pungkiri banyak hal dari dalam diri mereka yang mirip satu sama lain.
"Nick, hari ini kau pulang cepat kan?" tanya Zilla seraya menatap Nick.
"Hem, aku akan pulang lebih awal!"
"Temani aku jalan-jalan ya," pinta Zilla, gadis itu lalu menoleh dan menatap Flo. "Hari ini aku boleh pinjam Nick sebentar kan Flo?" tanyanya pada Flo.
Flo mengangguk meski hatinya tidak rela. "Hem!"
"Asik. Nanti aku ke kantormu ya Nick, sudah lama aku tidak bertemu Govi!"
Nick melirik Flo sejenak, dia dapat melihat wajah murung istrinya. "Apa dia cemburu?" batin Nick senang, dan untuk membuktikan dugaannya Nick memiliki rencana. "Ya. Aku akan mengajakmu berkeliling hari ini!" jawaban Nick tentu saja membuat Zilla senang, namun tidak dengan Flo yang terlihat semakin murung.
"Aku sudah selesai sarapan, aku permisi dulu karena aku harus ke kampus," pamit Flo seraya beranjak dari duduknya.
"Aku akan mengantarmu Flo," ucap Nick.
"Tidak perlu Nick, aku bisa sendiri!" tolak Flo dengan cepat. "Flo berangkat dulu mom," pamitnya pada ibu mertua.
Zea melihat ada yang aneh dengan sikap Flo pagi ini, namun Zea semakin bingung saat melihat Nick tersenyum. "Kenapa kau tersenyum Nick, kejar istrimu! Sepertinya dia sedang kesal!"
"Biarkan saja mom, dia hanya sedang cemburu!"
BERSAMBUNG..
__ADS_1