
Ucapan Zilla terus terngiang di benak Flo, dia benar-benar terganggu dan semakin yakin jika berpisah dari Nick adalah pilihan terbaik untuk semua orang. Namun Flo seakan tak di beri kesempatan oleh Nick untuk mengatakan keputusannya, selama di rumah sakit Nick terlihat sibuk dengan pekerjaannya membuat Flo segan untuk membuka mulut.
Hari ketiga sejak Flo di rawat, kondisi fisiknya mulai membaik meski mentalnya masih belum menerima kenyataan pahit tersebut. Seperti hari-hari sebelumnya, Nick tetap setia menemani Flo meski pria itu terlihat sibuk dengan laptopnya.
"Nick, apa kau sibuk?" tanya Flo seraya menatap Nick, pria itu duduk di sofa yang cukup jauh dari tempat tidurnya.
"Hem," Nick hanya bergumam, pria itu lalu mengangkat kepala dan menatap Flo sekilas. "Ada apa?" tanyanya kemudian.
"Soal perce...
Belum sempat Flo menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Nick meraih ponsel dan meletakkannya di dekat telinga. "Ada apa Gov?" ucap Nick seraya memberi tanda kepada Flo agar wanita itu diam sejenak. "Masalah lagi? Bagaimana kerja kalian? Mengurus masalah begitu saja tidak becus!" sambung Nick dengan wajah kesal. Tak lama kemudian Nick melempar ponselnya dengan keras, dan dia kembali menatap Flo. "Apa yang ingin kau katakan?" tanya Nick.
"Apa ada masalah di kantor?" melihat wajah Nick membuat Flo tak tega untuk membahas masalah perceraian mereka.
__ADS_1
"Hm, ada beberapa driver yang bermasalah dan pelanggan menuntut perusahaan," jawab Nick apa adanya. Namun sebenarnya masalah itu sudah di selesaikan oleh Govi dan kuasa hukum perusahaannya, Nick memang sengaja memamerkan masalahnya karena Nick tau apa yang akan Flo bicarakan. Dan usahanya kali ini sepertinya berhasil.
"Kalau begitu pergilah ke kantor Nick," ujar Flo.
"Hm, kau baik-baik saja sendirian di sini kan? Ah tidak, aku akan menghubungi momy!"
"Tidak perlu, aku baik-baik saja sendirian!"
"Oh ya, apa yang ingin kau katakan sebelumnya?" Nick mengemasi barang-barangnya, lalu mengampiri tempat tidur Flo.
"Baiklah. Aku pergi dulu!" sebuah kecupan mendarat di kening Flo. "Hubungi aku kalau kau butuh sesuatu!"
"Hem!"
__ADS_1
Flo menatap kepergian Nick dengan perasaan bergemuruh. Sikap baik dan perhatian tulus dari Nick membuat hatinya goyah, di satu sisi dia ingin melepaskan Nick namun di sisi lain dia merasa tak rela jika harus berpisah dengan pria yang mulai mengisi hatinya.
Nick kini berada di perusahaannya, kedatangannya sudah di tunggu oleh Govi, pria itu membuntuti Nick hingga ke ruangannya dengan wajah terheran-heran.
"Apa maksudmu tadi? Kenapa kau membentakku di telefon?" tanya Govi penasaran, da sangat kaget saat tiba-tiba Nick membentaknya.
Nick duduk di kursi kerjanya, membuka laptop lalu menatap Govi. "Kapan?" tanyanya dengan wajah tak bersalah.
"Masalah lagi? Bagaimana kerja kalian? Mengurus masalah begitu saja tidak becus!" Govi menirukan ucapan Nick sebelumnya.
"Ah itu. Sorrry," jawab Nick singkat, padat dan tidak memuaskan Govi.
"Ah itu? Sorry? Are you kidding me?" Govi menatap Nick kesal karena tak menjawab pertanyaannya dengan benar. "Akhir-akhir ini kau terlihat aneh. Sepertinya menjadi pria yang sudah menikah tidak begitu menyenangkan!" tak ingin semakin kesal, Govi memilih keluar dari ruangan Nick karena percumah saja rekan kerjanya itu tak akan menjawab pertanyaannya dengan jujur.
__ADS_1
"Kau benar Gov, cinta memang membuat orang menjadi aneh!
BERSAMBUNG...