
Jika bisa memutar waktu, Flo akan memilih untuk tidak mengenal Nicho sama sekali. Pria yang dia pikir akan menjadi awal dan akhir cintanya justru membuatnya terluka berulang kali. Di tinggal sehari sebelum pernikahan menyisakan luka dalam hidup Flo, dan saat luka itu belum benar-benar kering, Nicho kembali menorehkan luka yang lebih dalam. Pria itu telah membuat Flo kehilangan bayinya.
Sepanjang malam Flo tak bisa memejamkan matanya, hatinya terasa sesak saat mengusap perutnya yang telah kembali rata. Bayi malang itu telah benar-benar pergi meninggalkannya.
Flo menghela nafas berat, dia merasa haus dan ingin minum. Namun Flo terpaksa harus menahannya saat melihat Nick tertidur, Flo tak ingin membangunkan sang suami karena saat ini tangan Nick masih setia menggenggam tangannya.
Flo menatap wajah Nick yang terlihat lelah, entah berapa lama Flo melakukan hal itu karena sampai matahari terbit, perhatian Flo masih tertuju pada Nick.
Flo mengalihkan tatapannya saat Nick mulai membuka mata, namun Nick menyadari jika tadi Flo tengah menatapnya. "Kenapa tidak tidur?" tanya Nick dengan suara serak.
"Aku baru saja bangun," jawab Flo bohong.
"Lingkaran hitam di matamu tidak bisa membohongiku," ujar Nick seraya mengusap wajah istrinya.
Flo menunduk lemah, dia diam sejenak sebelum akhirnya kembali mengangkat kepala dan menatap suaminya. "Nick," panggilnya dengan pelan.
"Ya, kau butuh sesuatu?" jawaban Nick selalu terdengar lembut di telinga Flo.
"Bayiku telah tiada. Tanggung jawabmu sudah selesai, kau bisa menceraikanku sekarang!"
Deg...
__ADS_1
Nick terpaku sejenak, ucapan Flo membuat lidahnya kelu untuk beberapa saat. "Apa maksudmu?" Nick menatap wajah Flo dengan tajam, tiba-tiba otak Nick tidak bekerja dengan baik.
"Aku ingin kita bercerai Nick!" tutur Flo.
"Tidak!" jawab Nick dengan cepat.
"Bayiku telah pergi, jadi kau tidak perlu bertanggung jawab lagi. Kau bebas sekarang!"
Nick meraih tangan Flo dan menggenggamnya, pria itu kembali menatap Flo, namun kali ini tatapannya lebih lembut. "Aku tidak akan pernah menceraikanmu. Meski bayi kita telah tiada, selamanya kau akan tetap menjadi tanggung jawabku. Aku menikahimu dengan tulus, sejak awal aku sudah berjanji untuk tidak meninggalkanmu apapun yang terjadi!"
"Aku tidak mau membebanimu Nick!" ujar Flo dengan mata berkaca-kaca.
"Tapi aku..."
"Jangan katakan apapun lagi," potong Nick sebelum Flo melanjutkan kalimatnya. "Kau pasti lelah sehingga bicaramu melantur. Aku akan mencari sarapan, istirahatlah sebentar lagi dan jangan pernah memikirkan hal-hal aneh!" Nick beranjak dari duduknya, pria itu lalu keluar dari kamar dengan langkah gontai. Nick benar-benar merasa takut, dia khawatir Flo akan mengatakan kata cerai lagi.
Sesaat setelah Nick pergi, pintu kembali terbuka. Flo menoleh dan menatap seorang gadis yang tengah berjalan ke arahnya.
"Zilla," ucap Flo lirih.
"Bagaimana kabarmu Flo?" tanya Zilla seraya meletakkan parcel buah di atas nakas.
__ADS_1
"Sudah lebih baik," jawab Flo apa adanya.
"Syukurlah. Hari ini aunty Zea belum bisa datang dan menyuruhku datang untuk menemanimu," Zilla duduk di kursi, kakinya terlipat dan menunjukan sikap angkuhnya.
"Tidak perlu repot-repot Zill, aku sudah baik-baik saja."
"Oh ya, kemana Nick?" tanya Zilla karena tak melihat Nick sejak tadi.
"Dia sedang keluar sebentar!"
"Oh," Zilla mengangguk-anggukan kepalanya. "Mumpung kita sedang berdua, ada yang ingin aku katakan padamu!"
"Apa?" Flo menatap Zilla penasaran.
"Aku menyukai Nick!" aku Zilla tanpa ragu sedikitpun.
Pengakuan Zilla tentu saja membuat Flo terkejut, bukan hanya itu, Flo juga merasa kesal atas pengakuan tersebut. Entah mengapa dia merasa tak rela ada wanita lain yang menyukai suaminya. "Kenapa kau mengatakannya kepadaku?"
"Karena aku rasa kau harus tau. Dan aku sudah dengar semuanya, bayi yang kau kandung bukanlah darah daging Nick. Dan sekarang bayi itu juga sudah pergi, aku rasa tak ada alasan lain untuk kalian terus bersama kan? Lepaskan Nick, biarkan dia melanjutkan hidupnya!"
BERSAMBUNG...
__ADS_1