
Zea tak henti-hentinya menangis di depan ruang tindakan, sudah hampir satu jam lamanya Sam di periksa oleh dokter dan hal tersebut membuat Zea semakin cemas. Sementara itu Nicho memilih diam dan menjaga jarak setelah ucapan Zea beberapa saat yang lalu, hatinya di penuhi sesal saat melihat kemarahan sang momy untuk kali pertama.
Beberapa menit kemudian, seorang dokter keluar dari ruang tindakan dan segera menghampiri Zea dan kedua anaknya.
"Bagaimana kondisi dady saya dok?" tanya Nick dengan wajah cemas, terlihat sangat jelas gurat kekhawatiran di wajahnya yang selalu tampak datar dan dingin.
"Tuan Sam mengalami serangan jantung, beberapa kali beliau juga mengalami henti jantung. Kami akan memindahkannya ke ruang ICU segera," jelas dokter dengan wajah menyesal.
"Lakukan yang terbaik untuk dady saya dok!" pinta Nick dengan sungguh-sungguh.
"Pasti Nick," dokter itu menepuk lengan Nick dan kembali masuk ke dalam ruang tindakan, tak berselang lama dokter dan perawat keluar sambil mendorong hospital bed dimana Sam terbaring lemah dengan beberapa alat penunjang hidup yang menempel di tubuhnya.
Tangisan Zea dan Adel kembali pecah saat melihat kondisi Sam, mereka sangat takut terjadi sesuatu yang buruk pada Sam.
__ADS_1
Nick merangkul Zea dan Adel dengan kedua tangannya, mereka mengikuti dokter namun berakhir di depan ruang ICU karena dokter melarang mereka untuk masuk.
"Dady akan baik-baik saja," ucap Nick mencoba menenangkan ibu dan adik perempuannya.
Zea dan Adel kembali menangis di pelukan Nick, sementara itu Nicho hanya diam dan mengamati interaksi mereka. Jauh dari dalam hatinya, Nicho merasa cemburu, dia sedih karena tak begitu dekat dengan keluarganya.
Waktu terus berjalan, langit mulai gelap dan lampu-lampu di lorong rumah sakit mulai menyala. Zea dan Adel duduk berdampingan, sementara Nick sibuk dengan pekerjaannya. Suara langkah kaki perawat mengusik konsentrasi Nick, pria itu menutup laptopnya dan memeriksa jam tangan, saking sibuknya dia sampai lupa jika hari sudah petang. Nick menghampiri Zea dan duduk di sebelah sang momy. "Mom, sebaiknya momy dan Adel pulang. Nick akan berjaga malam ini," ucapnya dengan lembut.
"Momy tidak mau pulang, momy mau menemani dady mu Nick," tolak Zea dengan mata berkaca-kaca. Dia benar-benar takut jika Sam akan meninggalkannya.
Adel mengangguk patuh, baginya Nick bukan hanya sekedar kakak. "Baik kak!"
"Tapi momy mau di sini Nick!"
__ADS_1
Nick tersenyum seraya menggenggam tangan Zea. "Tolong dengarkan Nick kali ini saja, momy juga butuh istirahat. Dady pasti akan memarahi Nick saat sadar dan melihat istri cantiknya tampak lesu seperti ini!"
Zea menatap wajah Nick yang juga tampak lelah, dia tak ingin membuat Nick khawatir dan memilih menuruti perkataan putranya. "Momy akan pulang. Tolong jaga dady baik-baik. Segera kabari momy saat dady sadar!"
Nick mengangguk dan kembali tersenyum, dia lalu mengantarkan ibu dan adiknya ke parkiran. Sebelumnya Nick juga sudah menelfon supir Sam agar datang ke rumah sakit dan menjemput Zea.
Setelah Zea dan Adel pergi, Nick kembali masuk ke dalam rumah sakit. Dia menghampiri Nicho yang masih duduk di tempat yang sama selama berjam-jam. "Apa sekarang kau senang?" ucapnya Nick menohok hati Nicho.
Nicho mengangkat kepalanya dan menatap Nick. "Diamlah, aku sedang tidak ingin bertengkar!" jawabnya tanpa semangat.
Nick menghela nafas berat, dia juga sedang tidak ingin membuat keributan. Nick kembali duduk, dia meraih ponselnya dan mengirim pesan untuk Flo.
"Jangan lupa makan dan minum susu, jangan lupakan juga vitaminmu Flo. Aku merindukanmu Flo!"
__ADS_1
BERSAMBUNG...