
"Ada apa?" tanya Nick kesal, pasalnya pria itu sudah sudah mau tidur saat pintu kamarnya di ketuk oleh Nicho.
"Aku ingin melakukan tes DNA!" jawab Nicho tanpa basa-basi.
"Apa?" pekik Flo dengan wajah menegang. Nick menoleh dan melihat kepanikan di wajah istrinya, diam-diam Nick meraih tangan Flo dan menggenggamnya dengan erat, dia ingin Flo tenang agar Nicho tak menaruh kecurigaan kepada mereka.
Nick tersenyum menanggapi ucapan kembarannya, meski tak bisa di pungkiri jika dia juga sedikit cemas. "Sebegitu putusasakah dirimu sampai ingin tes DNA?" ujar Nick masih dengan senyuman di wajahnya. "Lalu setelah tes DNA apa yang kau inginkan? Kau ingin mengambil Flo dan bayinya?" sambung Nick. "Nicho, Nicho, tes DNA tidak akan merubah apapun. Sampai kapanpun Flo akan tetap menjadi istriku dan bayi dalam kandungan Flo tidak akan pernah menjadi anakmu!"
"Aku hanya ingin tau siapa ayah dari anak Flo yang sebenarnya!"
Plakkkkk!!!
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Nicho, pria itu begitu terkejut karena Flo menamparnya di hadapan Nick. Nicho menatap Flo seraya mengusap pipinya yang terasa panas.
"Aku memang pernah salah karena memberikan tubuhku padamu sebelum kita menikah, tapi kau tidak berhak meragukan siapa ayah kandung dari anakku karena jelas-jelas Nick adalah ayahnya. Sejak awal Nick sudah tau kalau aku sudah tidak perawan, tidak dia tetap menerimaku setulus hati. Kau pikir dia tidak tau apapun? Kau salah besar Nicho! Selain pembohong, rupanya kau juga picik!" maki Flo dengan amarah menggebu, dia sangat malu dan merasa harga dirinya di injak-injak oleh Nicho.
"Kau dengar kan? Sekarang pergi dan jangan pernah ganggu Flo lagi!" Nick lalu membawa Flo masuk le dalam kamar dan menutup pintu dengan keras, dia juga sangat jengkel pada kembarannya itu.
Nick mendudukan Flo di tepi tempat tidur, pria itu lalu mengambilkan segelas air putih untuk istrinya. "Jangan takut, aku akan melindungi kalian!" ucap Nick dengan lembut.
Flo meraih gelas tersebut dan menghabiskan air di dalamnya. "Terima kasih Nick," ucapnya dengan suara bergetar.
"Jangan katakan itu, sudah kewajibanku untuk melindungi kalian! Sudah malam, sebaiknya kau tidur, besok ada janji dengan dokter kan?"
Flo mengangguk, dia memberikan gelas kosong kepada Nick dan berbaring di atas tempat tidur. Dengan penuh perhatian Nick menyelimuti tubuh Flo, tak lupa tangannya juga mengusap kepala Flo dengan lembut. "Mau aku temani tidur?" tanya Nick dengan wajah serius, namun tatapannya terlihat tulus.
"Kau mau?" sahut Flo ragu.
Nick tersenyum samar. "Tentu saja!" jawab Nick penuh semangat, dia lalu menyusul istriinya naik ke atas kasur, tak lupa dia juga masuk ke dalam selimut yang sama dengan istrinya. "Mau ku peluk?" tanya Nick lagi setelah cukup lama diam.
Kepala Flo menoleh, di saat yang sama Nick juga menoleh sehingga kedua mata mereka saling beradu. "Hanya peluk ya!" ucapnya memberi syarat.
__ADS_1
"Ya, hanya peluk!"
Nick memiringkan tubuhnya, tangan kekarnya lalu melingkar di atas perut Flo yang terasa buncit. Entah bawaan bayi atau perasaan Flo, wanita hamil itu merasa begitu nyaman kali Nick memeluknya. Bahkan saking nyamannya, tak butuh waktu lama bagi Flo untuk terlena ke alam mimpi.
***
Suasana sarapan terasa canggung sejak kejadian semalam, Flo berusaha acuh meski Nicho terus saja memperhatikannya. Perhatian Flo justru tertuju pada Zilla karena sejak tadi Zilla terus mencuri pandang ke arah Nick.
"Nick, nanti siang temani aku ke mall ya. Govi sangat membosankan Nick, aku tidak mau jalan-jalan dengannya lagi," rengek Zilla seperti seorang bocah.
"Tidak bisa Zill, aku sibuk!" sahut Nick.
"Ck, kapan kau tidak sibuk. Aku bosan!" Zilla kembali mengeluh.
"Bagaimana kalau jalan-jalan sama Adel, kebetulan Adel tidak ada kelas hari ini kan?" sahut Zea memberi saran.
Zilla menghela nafas panjang, dia hanya ingin menghabiskan waktu bersama Nick bukan yang lain, namun apa boleh buat, dia terpaksa menuruti saran Zea. "Apa Adel mau?"
Mereka lalu kembali fokus pada sarapan, namun Zilla kembali membuat suasana semakin canggung. Saat Flo akan mengambil selai cokelat, tiba-tiba Zilla menyambarnya dan mengoleskannya di atas roti tawar. "Nick sangat suka roti selai buatanku, saat aku masih di sini aku selalu membuatkannya untuk Nick!" ucap Zilla seraya meletakan roti selai di atas piring Nick.
Flo menoleh dan menatap suaminya dengan tatapan yang sukar di jelaskan.
"Itu dulu Zill. Aku tidak terlalu suka cokelat sekarang. Dan aku juga sudah kenyang," jawaban Nick tentu saja membuat Zilla merasa malu dan kecewa.
"Ah, seleramu berubah ya sekarang," ujar Zilla kikuk.
Kekecewaan Zilla berlangsung sampai siang, namun dia tak patah semangat. Dengan di temani Adelia, Zilla mendatangi kantor Nick dengan harapan dia bisa membujuk Nick agar mau menemaninya jalan-jalan. Sialnya, saat Zilla sampai di kantor, Nick malah sedang bersiap untuk pergi.
"Adel, Zilla, ada apa kalian kemari? Bukannya kalian mau ke mall?" tanya Nick seraya menatap adik dan sepupunya.
"Zilla memaksaku kesini kak, dia ingin makan siang bersama!" jawab Adel mewakili Zilla.
__ADS_1
"Maaf ya, aku tidak bisa. Aku dan Flo akan ke dokter hari ini! Kalian makan siang berdua saja, kalau tidak ajak Govi bersama kalian!"
"Bukannya kemarin kalian sudah ke dokter?" tanya Zilla heran.
"Ah, aku lupa, jadwalnya hari ini ternyata!"
Nick bergegas pergi karena tak mau Flo menunggunya terlalu lama. Sementara itu Zilla merasa semakin marah dan kesal karena waktu Nick hanya tertuju untuk Flo.
Zilla segera keluar dari kantor Nick, dia sudah tidak mood lagi untuk makan siang.
"Kau mau kemana Zill?" teriak Adelia.
"Pulang!"
Bukannya pulang, Zilla malah pergi ke bengkel Nicho untuk mengurangi rasa kesalnya. Mungkin saja dengan bercerita dengan Nicho hatinya merasa lebih baik.
"Tumben, ada apa kesini?" tanya Nicho penasaran.
"Aku kesal. Lagi-lagi Nick tidak bisa menemaniku jalan-jalan karena harus mengantar Flo ke dokter!" jawab Zilla dengan wajah lesu.
"Mereka ke dokter?"
"Ya!"
"Apa kau tau mereka ke rumah sakit mana?" Nicho kembali bertanya.
"Entah. Kenapa kau bertanya?"
"Tidak papa, aku hanya ingin tau! Aku ambilkan air sebentar!"
Nicho kembali ke dalam bengkel, pria itu lalu meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. "Hari ini Flo pergi ke dokter, sepertinya sudah saatnya memulai rencana kita!"
__ADS_1
BERSAMBUNG...