
"Bayi kita baik-baik saja kan Nick?" Flo bertanya dengan suara tertatih, dia ingat sebelum tak sadarkan diri dia melihat darah yang terus keluar dari pangkal pahanya.
Tak satupun dari mereka yang menjawab pertanyaan Flo, mereka bungkam karena tak tahu harus berbuat apa.
"Kenapa kau hanya diam Nick? Bayi kita baik-baik saja kan?" Flo mengulangi pertanyaannya.
Nick meneguk salivanya dengan kasar, dia sangat takut jawabannya akan membuat Flo terpuruk. "Tidurlah lagi, kata dokter kau harus banyak istirahat!"
Flo menatap Nick dengan mata menyipit, tak biasanya Nick mengalihkan pembicaraan. Raut wajah Nick juga seolah memberi jawaban jika apa yang dia khawatirkan benar-benar terjadi. Tangan yang masih terlilip selang infus itu bergerak menyusuri perutnya yang tak lagi membuncit, Flo dapat merasakannya jika bayinya sudah tidak ada di dalam perutnya lagi. "Bayi kita," Flo menatap Nick dengan mata berkaca-kaca.
Nick menggenggam tangan Flo dengan erat, dia menyesal karena tak bisa melindungi calon bayinya. "Maaf sayang, maaf," hanya kata maaf yang mampu terlontar dari mulut Nick.
Bendungan air mata mengalir deras di wajah Flo, kata maaf yang terucap dari mulut Nick menjawab segalanya. "Tidak mungkin Nick, bayi kita tidak mungkin pergi, aku pasti sedang bermimpi kan," ujar Flo histeris. Wanita muda meraung, meratapi kepergian bayi malangnya yang bahkan baru hidup beberapa bulan di dalam kandungannya.
Nick membungkuk, memeluk tubuh istrinya yang terus meronta mengelak takdir kejam yang baru saja menimpanya. Nick hancur, kesedihan dan air mata Flo bagai anak panah yang menghujam jantungnya. Dan semua yang terjadi pada Flo tak lepas dari tanggung jawab Nicho.
Sementara di luar ruangan, Nicho pun tak kuasa menahan air matanya mendengar Flo terus berteriak dan menangisi bayinya. Nicho semakin panik saat melihat dokter dan perawat berlarian masuk ke dalam ruangan Flo di rawat. Karena ini tau apa yang terjadi, Nicho nekat masuk meski hanya berdiri di dekat pintu dan menatap Flo dari kejauhan.
__ADS_1
Karena terus menangis histeris, dokter terpaksa memberikan obat penenang untuk Flo, dan tak berselang lama Flo mulai terlelap.
"Istri saya akan baik-baik saja kan dok?" tanya Nick seraya menyeka air matanya.
"Untuk sekarang support dari keluarga sangat di butuhkan oleh pasien," jawab dokter sebelum akhirnya pergi.
Nick menatap kepergian dokter, di saat itu dia melihat Nicho berdiri di depan pintu. Bak orang kesetanan, Nick menghampiri Nicho dengan tatapan membunuh. Kedua tangannya terkepal serta rahangnya mengetat dengan kedua bola mata memerah menahan amarah.
Melihat hal itu Adel dan Zea lantas mengikuti Nick, mereka cemas Nick akan menghajar Nicho lagi.
"Aku hanya ingin tau kebenarannya, kalau kalian jujur sejak awal semua ini tidak aka terjadi!" kilah Nicho beralasan.
"Kenapa kau begitu penasaran dengan bayi kami? Setelah dengan teganya kau meninggalkan Flo sehari sebelum pernikahan, kenapa tiba-tiba kau ingin tau siapa ayah dari bayi yang Flo kandung? Kau tidak berhak melakukan itu, meskipun bayi yang Flo kandung adalah darah dagingmu, tapi kau suda tidak berhak atas mereka!"
Sekujur tubuh Nicho bergetar, ucapan Nick menjawab semua rasa penasarannya. Namun sayang, bayi yang ingin di ketahui identitasnya itu telah pergi untuk selamanya.
"Kau telah membunuh bayi tak berdosa itu, kau telah berhasil menghancurkan Flo untuk kali kedua. Aku tidak akan menghajarmu karena aku yakin Flo tidak sudi melihatku mengotori tanganmu. Aku berharap Tuhan menghukummu lebih dari luka yang Flo rasakan saat ini!"
__ADS_1
"Nick apa maksudmu dengan Nicho membunuh bayi kalian?" tanya Zea yang sejak tadi penasaran.
Nick menoleh dan menatap Zea. "Dia yang membuat Flo terluka, dia yang memukul perut Flo dengan kursi!" jawab Nick seraya menunjuk wajah Nicho.
Zea kini beralih menatap Nicho. "Apa benar yang Nick katakan?"
Nicho menunduk sesal. "Aku tidak sengaja mom!"
Plaakkk...
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Nicho, sebagai seorang ibu Zea merasa gagal mendidik anaknya.
"Adel, periksa CCTV di rumah. Cari bukti jika dia yang telah mencelakai Flo. Setelah itu laporkan dia ke polisi!"
"Mom!"
BERSAMBUNG...
__ADS_1