Dinikahi Kembaran Calon Suami

Dinikahi Kembaran Calon Suami
Kepergian Sam


__ADS_3

"Tuan Sam telah berpulang, waktu kematian pukul 10 lewat 25 menit!"


Deg...


Detak jantung Zea seolah berhenti, tubuhnya membeku dan lidahnya tiba-tiba kelu. Apa yang baru saja di katakan dokter bagai sebuah pukulan hebat di kepalanya, wanita paruh baya itu mulai merasa pening lalu matanya berkunang-kunang. Saat Zea hampir tak sadarkan diri, untung saja Nick sigap berlari ke arah sang momy dan menahan tubuh Zea agar tidak terjatuh.


"Ti-tidak mungkin, semua ini pasti bohong!" ucap Zea dengan tatapan kosong. Zea mencoba mendekati suaminya, dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki, Zea menggucang tubuh Sam perlahan dengan harapan Sam akan kembali membuka matanya. "Buka matamu, aku mohon jangan tinggalkan aku seperti ini. Kau berjanji tidak akan meninggalkanku, cepat buka matamu!:


Nick tak kuasa menahan air matanya, pria itu lalu menarik tubuh Zea menjauh. "Mom, sadarlah. Dady telah pergi!" ucapnya sedih.


"Tidak Nick, dady mu hanya sedang tidur. Cepat bangunkan dia," jawab Zea sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Cepat hubungi om Rama, dia pasti bisa membangunkan dady mu lagi. Cepat suruh om Rama datang ke sini secepatnya!"


Nick hanya bisa memeluk tubuh Zea dengan erat, dia sangat terluka melihat Zea terpuruk seperti itu.


Adelia yang berdiri di ambang pintu sama terkejutnya dengan Zea, gadis itu mematung dengan air mata yang terus bercucuran di matanya. Kabar kematian Sam membuatnya hidupnya terguncang.


"Dady tidak mungkin meninggal," ujar Adel tak percaya, dengan langkah gontai Adelia menghampiri jasad sang dady yang sudah terbujur kaku di atas hospital bed. "Dad, ini Adel, bangun dad!" ucapnya dengan suara bergetar, lalu dengan tangan yang gemetaran Adelia memberanikan diri untuk menyentuh wajah Sam yang mulai terasa dingin. "Bagun dad, Adel tidak suka dady seperti ini. Buka mata dady, lihat Adel dad!" Adel mulai merancau, dia benar-benar tak mau mempercayai fakta jika Sam telah berpulang.

__ADS_1


Karena Nick tengah menenangkan Zea, Nicho berinisiatif untuk menghampiri Adel. "Dady telah pergi, kita harus mengikhlaskannya!" ucap Nicho seraya meyentuh pundak adiknya.


Mendengar suara Nicho, Adel lantas menoleh seraya mengusap air matanya dengan kasar. Bukannya tenang, gadis itu justru menatap Nicho dengan tatapan penuh kebencian. "Ikhlas katamu?" ujar Adelia marah. "Dady meninggal karena dirimu. Andai saja kau tetap menghilang dan tak pernah kembali, dady pasti masih baik-baik saja. Kau yang telah membunuh dady, kau pembunuh. Kau pembawa sial di dalam keluargaku!" Adelia berteriak histeris, gadis itu meluapkan amarahannya kepada sang kakak.


Melihat sikap Adelia, Nick meminta bantuan perawat untuk memegangi tubuh Zea, dia lalu menghampiri Adelia dan memeluk adiknya penuh kasih sayang. "Adel, dengarkan kakak. Tenanglah, dady pasti sedih melihat Adel seperti ini. Lihat momy Del, momy membutuhkan kita saat ini, Adel harus kuat demi momy dan dady!" ucap Nick dengan lembut.


Adelia meraung, menangis sejadi-jadinya di dalam pelukan sang kakak. Sementara itu Nicho hanya diam, tak ada hal yang bisa dia lakukan karena semua keluarganya kini membencinya.


Setelah Adel merasa tenang, gadis itu lalu menghampiri Zea dan memeluk ibunya dengan nelangsa, kini mereka telah kehilangan sosok yang sangat mereka sayangi. Kedua wanita itu kembali menangis.


"Kami akan segera mengurus jenazah tuan Sam, kalian bisa menunggu di luar!" ucap dokter.


Nick membawa Zea dan Adel keluar ruangan di ikuti Nicho di belakangnya. Mereka lalu duduk, menunggu jenazah Sam di bawa ke ruang jenazah.


Sementara itu Flo baru saja tiba di rumah sakit. Setelah bertanya pada resepsionis, wanita hamil itu bergegas menuju ruang ICU. Dari kejauhan Flo melihat Nick dan anggota keluarga lainnya duduk di depan ruang ICU sambil menangis. Perasaan Flo mulai tak tenang, dia mempercepat langkahnya untuk menghampiri suaminya.


"Flo," pekik Nick tertahan saat mendapati Flo berdiri di hadapannya sambil membawa keranjang kecil berisi buah-buahan. Nick lalu berdiri dan meraih keranjang buah tersebut karena terlihat berat.

__ADS_1


"Maaf aku baru datang Nick, bagaimana kondisi dady? Dady baik-baik saja kan?" tanya Flo seraya menatap wajah Nick yang terlihat sembab dengan mata memerah.


Di saat yang sama dokter keluar dan menghampiri mereka. "Jenazah tuan Sam akan kami pindahkan ke kamar jenazah, salah satu anggota keluarga bisa mengurus administrasi dan kepulangan jenazah tuan Sam! Kami turut berduka cinta Nick," ucap dokter tersebut seraya menepuk pundak Nick.


Flo menatap dokter tersebut dengan tatapan tak percaya. "Apa maksud anda dokter? Jenazah siapa yang anda maksud?"


Dokter tak berani memberi jawaban dan menatap Nick seolah memberi kode agar Nick menjawab pertanyaan Flo.


"Dady sudah pergi Flo," jawab Nick pelan.


Flo menoleh, dia menatap Nick dengan kening berkerut. "Jangan bercanda Nick, jelas-jelas kemarin dady masih baik-baik saja!" ujarnya tak percaya.


"Dady terkena serangan jantung dan dady..." Nick tak mampu melanjutkan kalimatnya, bendungan air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya tumpah juga. Untuk kali pertama Flo melihat Nick menangis. Iba, kasihan, dan perasaan aneh lainnya memenuhi hati Flo saat melihat Nick menangis, reflek Flo memeluk Nick dengan erat. Nick membalas pelukan Flo, pria itu lalu meluapkan kesedihannya di dalam pelukan wanita yang selama ini di cintainya dalam diam.


Nicho hanya bisa menonton Nick dan Flo, dia marah melihat kedekatan keduanya, namun bukan waktu yang tepat untuk membuat keributan.


"Kenapa dia yang kau peluk Flo, aku juga sedih kehilangan dady!"

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2