Diujung Lembanyung

Diujung Lembanyung
Perasaan Tiga Hati


__ADS_3

Malam itu Deeva tidak bisa tidur dibuatnya, perasaan istimewa yang dia rasakan saat itu membuat hatinya terbuai. Hal yang sama dirasakan juga oleh Reynand, dia sangat gelisah dan terganggu dengan apa yang dia saksikan tadi. Rasa kesal dihatinya melihat Deeva dirangkul oleh laki-laki lain didepan matanya. Ingin rasanya dia menonjok dan membuat babak belur laki-laki itu. Namun dia menjaga harga diri dan martabat nya sebagai laki-laki.


Sementara Agra yang lebih dulu melakukan serangan pun merasa hal yang sama. Dia merasa Deeva adalah perempuan istimewa yang pernah dia kenal. Entah sejak kapan perasaan itu tumbuh dihatinya, mungkin sejak dia sering menjahili Deeva saat perempuan manis itu masih tinggal didalam. Atau sejak Deeva tumbuh menjadi perempuan dewasa dan cantik. Dia tak bisa menolak datangnya rasa itu.


"Kamu benar-benar membuat hatiku tidak tenang, Sayang. Kamu sangat menggangu ku. Mengusik ketenangan hatiku. Jujur apa yang aku katakan tadi benar-benar dari dalam hatiku. Tak kusangka aku bisa benar-benar jatuh cinta. Aku akan memperjuangkanmu. Aku sayang padamu, Deeva ... " ucap Agra dalam kamarnya malam itu.


******


"Deeva ... ada kakakmu menjenguk," ucap seorang teman asramanya


Perempuan cantik itu mengangukkan kepalanya. Dia tahu benar siapa yang datang itu. Langkah kakinya melangkah pasti menuju ruang tamu asrama.


Cekreeeeekkk ...


"Pagi, Dek ..." sapa Rey saat melihat Deeva datang dibalik pintu.


"Kak Rey, pagi sekali Kak Rey datang. Ada apa?" tanya Deeva.


"Entahlah. Tiba-tiba kak Rey ingin bertemu denganmu. Kamu baik-baik saja, Sayang?"


Siswi kelas dua SMA itu mengangukkan kepalanya. Dia duduk bersisian dengan Reynand. Rey memegang tangan Deeva, mencium punggung tangannya. Entah kenapa ada rasa takut dan cemas dalam dirinya terhadap perempuan yang duduk bersisisan dengannya itu.


"Laki-laki itu tidak melakukan apapun padamu bukan? Dia tidak berbuat hal yang buruk bukan?"


"Maksudnya Kak Agra?"


"Ya, Si kampret itu siapa lagi?!" ucap Rey mulai emosi


"Kak Agra laki-laki baik."


"Dia tidak berbuat sesuatu padamu, Dek?" selidik Rey


Deeva menundukkan kepalanya, refleks dia menggigit kecil bibir bawahnya. Mata jeli Rey mengamati perubahan airmuka Deeva. Tangan besarnya memegang dagu Deeva, mengangkat wajah cantik perempuan muda itu. Kedua mata mereka bertemu dan saling bercerita. Jari besar Rey membelai lembut bibir manis Deeva.


"Dia menciummu, Dek??" tanya Rey.


Kali ini tebakan Rey tepat dan membuat wajah Deeva bersemu merah. Perlahan gadis muda itu mengangukkan kepalanya.


"Disini?!" ucap Rey sambil menunjuk bibir manis Deeva.

__ADS_1


Dan sekali lagi Deeva pasrah dan mengangukkan kepalanya. Ada rasa sakit, kesal, sedih dan marah yang bertarung jadi satu dalam hati Rey yang kecil.


Huuuhhh ... lengusan nafas kasarnya terdengar berat dan menggema diseluruh ruangan itu. Rey pergi meninggalkan Deeva yang merasa tak enak pada laki-laki baik itu. Deeva tak dapat mencegah kepergian Rey. Dia hanya berdiam diri beberapa saat didalam ruangan itu, sampai dia tersadar jarum jam yang hampir menunjukkan pukul tujuh tiga puluh pagi. Dia bergegas menuju gedung kelasnya di bagian depan Asrama.


******


Untuk beberapa lama Reynand tidak datang kesana. Deeva merasa cemas dibuatnya, telepon tidak direspon dan pesan WhatsApp tidak dibalas. Deeva benar-benar merasa bersalah pada laki-laki baik itu. Berhari-hari dia cemas dibuatnya.


"Deeva ... Deeva ..." panggil teman sebangkunya.


Lamunan Deeva terbuyarkan. Dia menoleh pada seseorang yang duduk disampingnya.


"Ada apa?" tanyanya.


"Belakangan ini kamu sering melamun, ada apa Deeva?" tanya temannya lagi.


"Tidak ada apa-apa. Hanya saja belakangan ini aku merasa kurang enak badan."


"Jangan terlalu memporsir tenaga dan pikiranmu, siapkan tenaga buat kita local tour nanti?"


"Eehhh... Local tour?" tanya Deeva.


"Iya, bulan depan kita ada local tour ke kota wisata bersejarah di selatan kota. Setelah UAS nanti. Kamu ikut, Deeva?"


******


Rasa lega terpancar dari wajah setiap murid yang ikut acara jalan-jalan lokal tersebut, mereka terbebasnya dari lelahnya ujian akhir sekolah. Mengelilingi gedung-gedung tua bersejarah dipinggiran kota, lalu berwisata kuliner tradisional dan berfoto-foto disana. Pukul empat sore saat mereka berkumpul lagi di dalam bus.


Gawai Deeva bergetar. Sebuah pesan whatsApp masuk keponselnya.


"Kamu dimana, Dek?" tanya Rey


"Didalam bis kak, sudah mau pulang ke Asrama."


"Turun dulu sebentar."


Gadis manis itu meletakkan gawainya kedalam tas lalu turun dari bus. Dia menoleh kesana- kemari mencari Reynand.


"Dek ... " panggilnya dari belakang mobil.

__ADS_1


"Kak Rey ... " Deeva menghampiri pajero hitam yang terparkir dibelakang bus mereka.


"Sudah mau pulang ke asrama, Dek?" tanya Rey


"Iya, kak sebenatar lagi."


"Kalau begitu pulang bareng aku saja, tak perlu kembali ke asrama. Temani Kak Rey jalan-jalan sebentar."


Rey menghadap guru pendamping dan meminta izin untuk membawa Deeva. Sebagai wali Deeva guru pendamping mengizinkannya. Mereka berjalan-jalan sore di tepian pantai yang tak jauh dari lokasi study wisata lokal. Menikmati lembayung senja yang mulai menguning. Menantikan matahari yang tenggelam dan turun dari tahtanya.


Mobil Rey berjalan santai membelah jalanan beraspal kota. Memecah keseunyian malam. puas rasanya mereka menikmati hari. Rey menghentikan mobilnya disebuah restoran. Rey merasa sangat bahagia melihat Deeva tersenyum dan tertawa sepanjang perjalanan tadi.


"Kak Rey kenapa dari tadi melihatku senyum-senyum sendiri?" tanya Derva setelah selesai menghabiskan makan malamnya.


"Tidak ada apa-apa, Dek. Masa Kak Rey tidak boleh melihat mu," protes Rey


"Boleh sih. Cuma aneh saja kalau sambil senyum-senyum sendiri begitu."


Hahahahha ...


Reynand tertawa mendengar kesewotan Deeva padanya. Dia mengambil kedua tangan Deeva lalu mencium kedua punggung tangannya. Laki-laki gagah itu tidak melepaskan genggamannya. Matanya menatap lembut kearah manik mata indah perempuan bertubuh langsing itu.


"Kamu terlihat makin dewasa. Semakin cantik dan anggun. Selamat ulang tahun ya, Sayang. Maaf Kak Rey terlambat mengucapkannya. Kak Rey baru kembali dari luar kota," Rey mengeluarkan sebuah hadiah yang dipersiapkannya.


"Kak Rey tidak sempat mempersiapkan apa-apa. Hanya oleh-oleh kecil buat kamu," ucap Rey lagi


Deeva mengambil bungkusan itu lalu membukanya. Sebuah gaun yang indah dan cantik berwarna biru langit yang serasi dengan kulit kuning gadingnya yang bersih.


"Waaahhh.... cantik sekali. Kak Rey pintar memilih gaun ya ... aku suka ... Terima kasih, Kak ... " ucap Deeva sambil tersenyum.


"Syukurlah kalau kamu menyukainya. Kak Rey senang mendengarnya"


"Maaf, ya ... Kak. Aku selalu mengusahkan Kak Rey."


"Menyusahkan? Tidak, Dek. Jangan bicara begitu. Kak Rey senang melakukaknya. Bagi Kak Rey apapun akan Kak Rey lakukan demi orang yang kak Rey sayang."


Perempuan cantik itu mengangkat kepalanya, dia memandang Reynand yang duduk dihadapannya. Rey tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Lagi, dia menggenggam tangan halus Deeva.


"Kak Rey, sayang sama kamu, Dek. Kak Rey takut kehilangan kamu," ucap Rey lagi.

__ADS_1


Dan Deeva hanya tersenyum mendengarnya. Deeva bingung harus melakukan apa, dalam hatinya pun menaruh rasa simpati dan sayang pada laki-laki itu. Namun dia lebih nyaman menganggap Rey sebagai kakak nya sendiri. Sedangkan Arga, dia belum memiliki perasaan apapun pada laki-laki yang satu itu.


******


__ADS_2