Diujung Lembanyung

Diujung Lembanyung
Terpaksa Melepas Mu


__ADS_3

Ruzana Alnaya Ibram, mengurung diri dikamarnya. Ada rasa sedih dihatinya melepas kepergian putri semata wayangnya.


Tok ... Tok ...


Cekreeeeekkk ...


"Bagaimana?" tanya Ruz


"Semua seperti yang mami perintahkan. Aku sudah memberikan amplop dan atm itu pada Deeva."


"Kamu sudah suruh orang memantaunya?"


"Sudah, Mi," jawab Nince.


"Pastikan keselamatan Deeva dan jangan lupa masukkan setiap bulan kerekening nya uang yang aku perintahkan."


"Baik, saya permisi dulu."


Ruz kembali dalam kesunyian dikamar itu, dia sengaja melakukan itu untuk menjauhkan Deeva dari tempat gelap itu. Dia tak ingin Deeva menjadi sepertinya. Dia sengaja melemparkan makian, sampai pukulan untuk memancing emosi Deeva agar ada alasan baginya membiarkan putri tunggalnya itu pergi. Semua ini dia lakukan demi keselamatan Deeva.


"Maafkan Bunda, Deeva. Bunda terpaksa melakukan ini demi masa depanmu. Jika kamu masih tetap disini, hidupmu akan dalam bahaya. Bennett tak akan melepaskanmu. Bunda harap kamu menemukan hidup yang lebih indah diluar sana," isak tangis Ruz makin tak tertahan.


Rasa pedih, sedih menyelimuti hatinya. Berat dia melepaskan putri satu-satunya itu. Namun Ruz merasa Deeva sudah cukup dewasa untuk bisa berdiri dikakinya sendiri. Suatu saat Deeva pasti tahu alasannya ini.


"Jika memang Bunda masih punya umur panjang, yakinlah kita akan bisa bertemu lagi nantinya. Bunda do'akan semua yang terbaik untukmu. Bunda hanya bisa menitipkanmu pada Tuhan, dia pasti akan menjagamu dimanapun kamu berada, Deeva."


Dengan tangan gemetar dia membelai foto putri kesayangannya itu yang ada dilayar ponselnya. Kerinduan sudah menyelimuti hatinya. Namun mau tidak mau, suka tidak suka, Ruz harus melepas belahan jiwanya itu.


******


Deeva yang tidak memahami arti kasih sayang tersembunyi dari sang Bunda itu terus menangisi keputusan Bunda. Dia hanya menghabiskan waktunya di taman kota yang terletak tidak jauh dari terminal. Dia sudah putus asa, dia ingin hanyut dan menghilang bersama derasnya hujan sore itu. Berharap hujan ini bisa menghanyutkan semua kesedihannya, keputusasaannya, juga ketidak berdayaannya.


Tanpa pikir panjang Deeva bangun dari duduk nya dan menyelintasi jalanan tanpa melihat kiri kanan. Dan cicit nyaring rem mobil yang diinjak dalam-dalam memekik disela-sela guyuran hujan.


Bruuukkk ....


Tubuhnya ambuk. Tas ransel yang dibawanya terlempar didekatnya. Seseorang turun dari Mitsubishi Pajero Sport Dakar 4x4 AT, mobil macho dan gagah berwarna hitam itu. Setelah memeriksa keadaan Deeva orang itu membawanya kerumah sakit. Luka dikepala Deeva tidak parah, begitu juga ditubuhnya. Hanya saja demam tinggi yang membuatnya lemas dan masih belum sadarkan diri sejak dibawa kerumah sakit.


"Badannya masih demam," gumam orang itu seseorang yang sejak tadi berada didekatnya.


"Ehmmm...mmm..."


Perlahan Deeva sadarkan diri dan membuka matanya. Butuh waktu beberapa detik sampai dia sadar keberadaan dimana. Deeva menoleh kesamping kanannya. Seorang laki-laki bertubuh tinggi dengan bahu lebarnya, kulit putih dan penampilan yang perlentenya. Terlihat mewah dan tampan. Perempuan muda itu menarik nafasnya perlahan. Ada rasa sesal dihatinya melihatnya masih hidup didunia ini.


"Bagaimana keadaan mu? Apa masih sakit?" tanya laki-laki itu lembut.


Hanya senyuman dipaksakan yang terukir dari bibir mungil Deeva. Dia berusaha duduk. Laki-laki tadi membantunya perlahan.


"Jangan dipaksakan jika tidak kuat," ucapnya.


"Tidak apa-apa. Aku masih kuat. Buktinya aku masih hidup."

__ADS_1


"Masih hidup? Jangan bilang kalau tadi kamu sengaja menabrakkan diri."


"Hmmm..."


Drrr.... Drrr...


Gawai Deeva berbunyi. Dia meraihnya dari atas meja. Sebuah panggilan dari Nince.


Klik ...


"Deeva ... Kamu baik-baik saja?" tanya Nince.


Lagi, hanya senyum kecil mengejek terukir dibibir Deeva.


"Apa maksudnya ini? Buat apa kirim orang untuk mengawasiku? Kalau mau dibuang ya buang saja tak usah dipunggut kembali. Apa Bunda masih punya perasaan tak tega?"


"Bukan begitu Deeva ... ma ... "


Klik


Belum sempat Nince meneruskan ucapannya, Deeva sudah mematikan teleponnya. Gadis manis itu menyandarkan tubuhnya dikepala tempat tidur.


"Apa ada masalah, Nona?" tanya laki-laki yang sejak tadi bersamanya.


Deeva tersadar dari lamunannya, dia baru menyadari kalau ada seseorang lainnya diruangan itu selain dirinya.


"Tidak terlalu penting. Aku bahkan tidak mau mengingatnya."


"Baiklah, itu hakmu. Oiya, kita belum berkenalan. Namaku Reynand Surya Caesar, panggil saja Reynand."


"Tubuhmu masih demam, Deeva. Lebih baik kamu istirahat saja dulu. Aku keluar sebentar. Nanti aku kembali lagi."


Cekreeeeekkk ...


Reynand membuka pintu hendak keluar membiarkan Deeva beristirahat.


"Kak Rey ..." panggil Deeva tiba-tiba.


Reynand menoleh dan tersenyum pada Deeva, wajahnya terlihat lebih tampan dengan senyuman semanis itu dibibirnya.


"Boleh aku panggil begitu?" tanya Deeva


"Tentu saja boleh."


"Terima kasih." senyuman manis pun terukir dari wajah Deeva.


Dia membenamkan tubuhnya kembali diatas tempat tidur. Mencoba memejamkan matanya. Mengistirahatkan lagi lembar-lembar syarafnya yang menegang.


******


Dua hari Deeva dirawat dirumah sakit, kali ini tubuhnya sudah bisa menerima makanan yang masuk dan suhu tubuhnya pun sudah stabil. Dokter mengizinkannya pulang.

__ADS_1


Cekreeeeekkk ...


"Tadi dokter mengatakan kamu sudah bisa pulang," ucap Rey yang baru datang.


"Hmmm ... "


"Lalu apa rencanamu? Dimana rumahmu biar aku antar."


"Aku tidak ingin pulang," jawab Deeva


"Eeehh..."


"Aku tak ingin pulang lagi kesana."


"Kesana? Maksudmu kerumahmu?"


"Andai saja itu bisa disebut rumah. Ya, sudah Kak Rey tak usah khawatir. Aku akan baik-baik saja. Terima kasih sudah membantuku."


"Jadi kemana tujuanmu?" tanya Rey.


"Entahlah. Kemana saja."


"Ikut aku," ajak Rey sambil membantu Deeva bangun dari tempat tidurnya. Mereka berjalan menuju mobil, Rey membukakan pintu mobilnya untuk Deeva, sementara dia siap dibelakang kemudi.


"Kita mau kemana, Kak?" tanya Deeva


"Kerumahku," jawab Rey yang tetap fokus pada kemudinya.


"Rumah Kak Rey?"


"Hmmm ... "


Sejenak Deeva berfikir, apa pantas dia kerumah laki-laki yang baru dikenalnya. Dia tidak tahu siapa Rey sebenarnya, siapa keluarga nya.


"Tenang saja, Dek. Kak Rey laki-laki baik-baik kok. Kak Rey tak akan berbuat jahat padamu. Paling tidak disana kamu bisa menenangkan hatimu sambil memikirkan hal selanjutnya," jelas Rey.


Perempuan yang duduk disampingnya itu hanya tersenyum kecil. Dia tak menyangka kalau Rey bisa membaca isi hatinya. Tak sampai dua puluh menit, mereka sudah memasuki gerbang rumah mewah berlantai dua. Gedung besar yang artistik itu di pagari dengan tembok besar yang mengelilingi rumah kokoh itu.


Mereka menaiki tangga demi tangga yang lantainya terlihat sangat licin dan mengkilap. Sunyi dan teduh. Begitulah kesan yang pertama di tangkap dari rumah itu. Dari ujung tangga, mereka berbelok kekamar yang paling ujung di bagian kanan lantai dua.


Cekreeeeekkk ...


"Istirahatlah disini dulu. Tenangkan hatimu," ucap Rey


"Sepi sekali," ucap Deeva


"Ya, cuma ada Kak Rey dan Papi yang tinggal disini. Papi sedang ada di Singapura. Ada urusan kerja disana beberapa hari ini."


"Apa tidak masalah, Kak? Maksudku dengan keberadaan ku disini."


"Tidak apa-apa. Papi ada pun dia akan menerima mu dengan baik. Papi tidak sekolot itu tapi juga tidak seliberal orang tua lainnya."

__ADS_1


Deeva mengangukkan kepalanya. Dia menyukai design kamar tamu itu. Shabby minimalis yang cantik dan lembut.


******


__ADS_2