
Adeeva masih kesal dengan kejadian kemarin. Dia merasa dibohongi oleh semua orang. Dibohongi oleh Bunda, Kak Rey, dan juga Oom Junan. Oom? Aah... Dia tak tahu harus memanggil Junan apa sekarang, setelah dia mendapati kalau Junan adalah ayah kandungnya, dan Rey adalah kakak seayah lain ibu dengannya. Dia menghabiskan waktu sorenya sepulang sekolah dengan berkeliling pusat perbelanjaan, hari ini sekolahnya pulang agak cepat karena sedang ujian semester. Untung saja hari ini dia sempat membawa baju ganti, dia memang sengaja ingin pulang terlambat. Ingin menghilangkan kekesalan hatinya pada semua yang terjadi.
"Hi, Sayang ... " tiba-tiba saja Agra muncul memotong langkahnya.
"Kak Agra ... "
"Hmmm ... " Agra mendekatkan wajahnya pada Deeva.
"Kenapa kayak hantu sih?!" protesnya.
"Hantu??"
"Iya, tiba-tiba muncul. Tiba-tiba menghilang."
Hahahahahaha...
Agra tak perduli kalau tawanya menggangu para pengunjung mall itu. Dia terlihat bahagia bisa bertemu dengan gadis kesayangannya.
"Kalau begitu aku rela jadi hantu, biar aku tiap hari bisa menghantui mu."
"Aku tidak takut," jawab Deeva sambil meneruskan langkahnya.
"Eeits, kok marah Sayang. Kamu mau kemana sih?!"
"Kak Agra ... "
"Ya, Sayang ..."
"Tolong, berhentilah memanggilku dengan sebutan "sayang" dan aku lebih nyaman berada di friendzone. Tidak lebih."
"Baiklah, Sayang. Kita akan ke timezone. Ayo ..." Agra menggandeng tangan Deeva
"Kak... Friendzone bukan timezone?!" protes Deeva pada Agra sambil melepaskan genggamannya.
"Apa itu?" Agra berpura-pura tak paham.
Gadis manis itu merasa makin kesal dikerjai oleh Agra. Dia meneruskan langkanya mengitari mall. Agra pun dengan setia mengikuti nya disamping.
"Sayang ... " panggil Agra
Namun Deeva tak memperdulikan nya. Agra kembali memotong langkahnya. Kali ini Agra menarik tangannya memasuki sebuah kafe di area food court. Agra menarik sebuah kursi dan mempersilakan Deeva untuk duduk.
"Mau apa kesini?" sewot Deeva.
"Mau beli semen sama besi," jawab Agra santai.
Deeva membelalakkan matanya mendengar jawaban laki-laki itu. Agra tertawa kecil melihat Deeva yang sewot karena dijahilinya. Baginya wajah cantik Deeva yang sedang marah sungguh sangat menggemaskan.
"Kamu mau pesan apa Sayang?"
__ADS_1
Benar! Deeva baru ingat kalau siang tadi dia belum makan. Sekarang sudah lewat pukul empat sore. Nyaris saja waktunya makan malam. Dengan terpaksa dia mengambil daftar menu diatas meja lalu memesan makanannya. Agra menatap Deeva sambil tersenyum. Merasa risih diperhatikan seperti itu, dia memalingkan wajahnya.
"Kamu makin dewasa. Cantik sekali Sayang," ucap Agra sambil memegang tangan Deeva.
"Kak ... "
Belum sempat Deeva melanjutkan ucapannya, Agra mencium kedua punggung tangannya. Seketika wajahnya bersemu merah dan tertunduk. Melihat reaksi seperti itu malah membuat Agra makin gemas terhadap perempuan cantik yang ada dihadapannya. Ingin rasanya dia menghabiskan rasa manis yang ada di bibir indah Deeva yang sejak tadi menggodanya. Namun pelayan kafe datang menyajikan makanan dihadapannya. Umpatan kesal berkali-kali diucapkan nya dalam hati pada pelayan itu.
"Kenapa Kak Agra bisa ada disini?" tanya Deeva.
"Aku sedang ada janji disekitar sini. Kebetulan aku pun sedang mencari sesuatu."
"Janji dengan pacar mu?"
"Tidak!"
"Kak Agra seyakin itu?"
"Ya, karena pacarku cuma kamu."
"Pacar??? Jangan seenaknya memutuskan sendiri. Sejak kapan kita pacaran?!" protes Deeva lagi.
Agra menghentikan makannya, dia menatap Deeva sambil tersenyum kecil.
"Sejak kapan?"
"Ya, sejak kapan. Kak Agra memutuskan itu sepihak."
Huuuh ...
Deeva menghela nafasnya menghadapi tingkah absurb Agra. Namun bersama laki-laki ini Deeva bisa melupakan sejenak rasa kesal nya pada kenyataan pahit hidupnya. Agra Roberto Meshach, laki-laki yang dijumpainya pertama kali empat tahun lalu dibawah naungan lembayung senja ditepi pantai. Laki-laki yang selalu menghiburnya disaat dia sedih. Laki-laki yang memberi warna keceriaan dalam hatinya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Agra yang melihat perubahan wajah kekasihnya itu.
"Kak ..."
"Hmmm..."
"Terima kasih ya, Kak. Kak Arga selalu menghiburku saat aku sedih. Walaupun tingkah Kak Agra itu terkadang sangat menyebalkan. Tapi itu bisa membuatku sejenak melupakan masalahku."
"Kamu sedang ada masalah, Sayang?" tanya Agra.
"Hmmm..."
"Jika kamu mau kamu bisa menceritakannya kapan saja padaku. Aku siap mendengarkan mu."
"Terima kasih, Kak."
"Ayo kita pergi, mumpung masih sore," ajak Agra.
__ADS_1
"Eeeh... Kemana?"
Agra tak menjawabnya. Dia menggenggam tangan Deeva dan memintanya untuk mengikuti langkanya. Mereka berhenti di depan movie center. Agra memesan dua buah tiket film komedi, dua cup besar popcorn, dan cola. Mereka berdua kenyang tertawa menonton film itu. Tawa bahagia terlihat dari wajah perempuan yang duduk disampingnya. Agra tersenyum, dia senang melihat gadis pujaannya tidak lagi bersedih.
Tangannya menarik pinggang langsing Deeva, lalu tangan sebelahnya menahan kepala perempuan cantik itu dan bibirnya tanpa basa-basi mengajak bibir mungil Deeva bermain bersama. Dia tak memberikan ruang untuk Deeva menghentikan permainannya. Agra tak perduli jika ada orang yang melihat mereka melakukan itu ditempat gelap itu. Baginya sensasi manis dan kenyal yang menyatu dengan kelembutan bibir Deeva mampu meruntuhkan hatinya. Dia sejenak menghentikan kegiatannya, memandang wajah cantik pujaan hatinya dari jarak begitu dekat.
"Kak ... Apa-apaan sih? Ini tempat umum," ucap Deeva berbisik.
"Kamu yang memaksaku melakukannya. Kamu begitu menggoda ku. Aku tak tahan lagi Sayang. Maaf ya ..."
******
"Kenapa kamu tak mengizinkan aku mengantarkan mu pulang, Sayang. Ini sudah pukul sepuluh. Berbahaya buat perempuan. Aku mengkhawatirkan mu."
"Tidak usah, Kak. Aku naik taxi online saja."
"Taxi online? Tidak boleh. Aku tidak mengizinkanmu pulang sendiri. Aku harus meyakinkan kalau gadis cantikku aman sampai dirumahnya."
"Tapi Kak ... "
"Ayo, masuk." Agra membukakan pintu mobilnya.
Huuuhhh ...
Mau tidak mau akhirnya Deeva menuruti paksaan Agra yang ingin mengantarnya pulang. Jalanan sudah mulai sepi malam itu, mereka tak banyak bicara saat didalam mobil. Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka sampai dirumah keluarga Caesar. Agra menatap heran.
"Kamu tinggal disini?" tanya Agra.
"Ya..."
"Bukannya kamu tinggal diasrama?"
"Tidak lagi. Panjang ceritanya, Kak. Terima kasih sudah mengantarkan aku pulang."
"Baiklah, Sayang. Selamat malam."
"Selamat malam Kak Agra."
Mobil Agra kembali menembus dinginya malam dijalanan beraspal. Deeva melangkahkan kakinya masuk kerumah. Didalam Junan sudah gelisah menunggunya. Gawai Deeva memang sengaja dimatikan.
"Deeva," panggil Junan saat melihat putrinya baru tiba.
Deeva menghentikan langkahnya, tanpa menoleh pada Junan.
"Dari mana kamu Deeva, jam segini baru pulang. Ini sudah hampir jam sebelas malam."
Lagi, Deeva tetap diam. Dia enggan bicara, dia lalu meneruskan langkahnya naik kelantai dua. Diujung sana Rey sudah menunggunya.
"Dek," sapa Rey
__ADS_1
"Aku ngantuk, Kak" lagi ... Deeva tanpa menoleh pada Rey meneruskan langkahnya menunu kamarnya. Dia menutup rapat pintu kamarnya lalu pergi tidur.
******