
Hari ini Adeeva sudah siap dengan pakaian seragamnya, hari ini hari istimewa baginya. Tentu saja hari pengumuman kelulusannya. Hari yang sangat dia tunggu-tunggu. Dengan penuh percaya diri Deeva melangkahkan kakinya kesekolah. Tepat pukul tujuh tiga puluh pagi, semua siswa dikumpulkan diaula sekolah dan berbaris menurut kelasnya masing-masing.
Setelah pengarahan dari kepala sekolah dan wakil kepala sekolah bidang kurikulum selesai, siswa dibagikan sebuah amplop yang didalamnya tertera status kelulusannya. Ada yang bersorak, ada yang melompat-lompat, ada yang berteriak kegirangan, ada yang sujud syukur dan ada pula yang menangis bahagia.
Ekpresi kebahagian yang diungkapkan para siswa bermacam-macam, Adeeva hanya tersenyum sambil melipat kertas yang diterimanya. Ada rasa puas dan bangga dengan pencapaian yang dia dapatkan selama ini. Dibalik cercaan dan hinaan teman-temannya kemarin, dia bisa menunjukkan prestasi gemilangnnya, nilai tertinggi kelulusan tahun ini ada ditangannya. Adeeva berjalan melangkahkan kakinya menuju rumah, dia berfikir akan kemanakah dia nantinya. Sebenarnya Deeva ingin sekali melanjutkan sekolah dikota, namun dia takut Bunda akan marah padanya.
Tin ... Tiiiin ....
Sebuab mobil mengelaksonnya dari belakang. Mercedes-Benz S-Class berwarna hitam menepi dipinggir jalan. Seorang laki-laki gagah keluar dari dalamnya. Tampangnya sangat rupawan, dia tersenyum pada Deeva. Perempuan muda itu mundur selangkah sambil mengerutkan kedua alisnya, aaahhh... akhirnya dia bisa mengingat siapa laki-laki itu.
"Hai, Deeva ...senang bertemu lagi," ucap laki-laki tadi.
"Bagaimana kamu bisa tahu namaku? Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Deeva.
"Apa kamu lupa?"
"Aaahhh.... Kamu yang ditepi pantai waktu itu?"
"Iya, benar sekali adik kecil."
"Jangan sembarangan memanggilku. Lagi pula apa waktu itu kita berkenalan? Dari mana kamu tahu namaku?" protes Deeva.
Hahahahhaaha. ... Tawa laki-laki itu.
"Kamu ini seperti polisi saja ya. Pertanyaannya banyak sekali."
"Jawab saja."
"Baiklah, tapi lebih baik kita kenalan dulu Deeva."
Laki-laki itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum padanya. Mau tidak mau Deeva menyambut uluran tangannya.
"Agra Roberto Meshach, panggil saja Agra."
"Deeva. Adeeva Elora."
"Nama yang cantik. Secantik wajahmu, Sayang."
"Sayang? Siapa yang izinkan panggil aku sayang. Kita baru dua kali bertemu."
"Tiga kali," jawab Agra santai.
"Eehh..."
"Sudah kuduga kamu pasti lupa. Waktu itu di pantai Senggigi, Lombok. Kita pernah ketemu didepan resort. Kamu dan teman-temanmu sedang wisata sekolah kesana. Dan apa kamu ingat soal es krim coklat?" jelas Agra.
"Es krim coklat??" Deeva mengerutkan alisnya.
Ingatannya kembali kesaat dia liburan kenaikan kelas tujuh. Deeva dan teman-temannya ikut dalam rombongan study wisata sekolah. Saat itu mereka sedang berjalan-jalan di tepi pantai. Saat Deeva kembali ke resort dia bertabrakan dengan seseorang. Dan es krim coklat yang dimakannya mengenai baju putihnya. Dan orang itu adalah Agra.
"Aaaaahhh.... Jadi kamu orang aneh yang merusak baju kesayanganku itu?" ucap Deeva kesal.
"Maaf aku waktu itu sedang terburu-buru dan kamu pun terburu-buru pergi saat temanmu memanggil mu, Deeva...."
__ADS_1
"Lalu?" tanya Deeva
"Ya, lalu dua tahun kemudian bertemu lagi disini?"
Deeva melunak. Dia tersenyum pada Arga. Dia tidak menyangka kalau laki-laki itu masih mengingatnya sampai sekarang.
"Kamu ada waktu?" tanya Agra
"Hmmm....."
"Kalau begitu kita makan siang dulu?"
Sejenak Deeva terdiam, dia berfikir, hmmm ... lumayan nih makan siang gratis, kan dia yang menggajak, batin Deeva.
"Bagaimana?" tanya Agra.
"Baiklah," jawab Deeva.
Pemuda tampan itu tersenyum, lalu membukakan pintu mobilnya untuk Deeva. Mereka menuju sebuah restoran dipusat kota, Agra mempersilakan perempuan muda yang ada didepannya itu memesan makanan yang dia suka.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Agra
"Terserah Oom saja."
Laki-laki itu melotot mendengar Deeva memanggilnya Oom. Lalu dia tertawa kecil.
"Pilihlah makanan yang kamu suka. Apapun itu," ucap Agra sambil menyodorkan buku menunya.
Restoran itu selain enak pelayanannya juga cepat, tak perlu waktu lama mereka menunggu pesanannya datang.
"Hmmm... "
"Oiya, satu lagi ... Jangan panggil aku Oom. Sebuah penghinaan besar untukku. Dan aku rasa aku tak setua itu," protes Agra.
"Lalu?" tanya Deeva
"Apapun selain Oom dan Bapak. Aku bukan Oom-oom dan juga bukan bapakmu. Aku baru 25 tahun, Sayang."
Deeva berfikir, dia mengerutkan kedua alisnya.
"Dua puluh lima tahun? Berarti 10 tahun diatasku. Kakak, abang, mas .... Iih... Pilihan yang berat," batin Deeva.
"Baiklah kalau begitu, Kak Agra ... " ucapnya kemudian.
"Nah, gitu dong Sayang. Kan terdengar lebih akrab."
"Haruskah memanggiku pakai kata sayang?"
"Kamu keberatan?" ucap Agra sambil
tersenyum.
"Tidak. Hanya saja terdengar aneh, kita bukan siapa-siapa kenapa pake sayang."
__ADS_1
"Baguslah. Tidak masalah. Itu bentuk penghargaanku pada perempuan cantik. Terima kasih, Sayang."
"Hmmm... Jadi Kak Agra seperti itu pada setiap perempuan cantik, ya?"
"Hahahahha... Tidak dong Sayang. Hanya padamu. Aku tak seplayboy itu. Aku ini anak baik-baik."
******
"Dari mana kamu Deeva?!" tanya Bunda saat Deeva baru selesai mengganti pakaiannya.
"Tadi pengumuman kelulusan disekolah, Bun"
"Sampai sesore ini?" tanya Bunda.
"Deeva hanya main sebentar dengan teman"
"Main??!"
"Ya, Bun"
"Deeva ... Kamu pikir kamu ini anak TK yang bisa main-main lagi. Disini sedang banyak pekerjaan kamu malah enak-enakan main. Dimana pikiranmu!!"
"Bun, aku akan bantu Bunda tapi tidak di bar"
"Mau dimana? Mau didalam kamar seperti mereka? Bagus kalau begitu!!"
"Bunda?!!" Deeva membelalakkan matanya.
"Kenapa?! Kalau kamu tak suka disini silakan tinggalkan tempat ini. Bereskan semua pakaianmu!!!" titah Ruz
Dia mengeluarkan semua pakaian Deeva dan memasukkannya kekoper. Lalu menyeretnya ke jalan raya.
"Pergilah. Dan jangan pernah kembali kesini lagi. Aku tak ingin melihat mu," usir Ruz.
"Deeva tidak menyangka kalau Bunda setega itu pada Deeva."
"Sudah ku bilang. Jangan pernah kembali lagi kesini!!!"
Ruz membalikkan badannya, dia meninggalkan Deeva seorang diri. Rasanya saat itu dia ingin sekali menangis, berteriak dan memaki. Namun dadanya terlalu penuh, penuh dengan rasa sesak yang seharusnya dia keluarkan, namun dia tahan. Akhirnya dia berjalan tanpa arah tujuan.
"Deeva ... " panggil seseorang.
"Nince ... Ada apa?" ucap Deeva
"Ambillah ini." Nince menyodokan amplop berisi uang. Dan jumlahnya cukup banyak. Didalamnya juga ada sebuah ATM dan
secarik kerta bertuliskan nomor PIN ATM nya.
"Buat apa ini?"
"Buatmu, ambillah. Jangan kamu tolak. Pakai ini buat hidupmu ditempat yang baru. Mulailah hidup baru. Keluarlah dari tempat gelap itu Deeva. Cari masa depanmu disana. Uang ini cukup buat sewa kamar dan biaya hidupmu beberapa bulan kedepan. Selanjutnya aku percaya pada kekuatan hatimu. Pada semangat mu." Nince menepuk pundak Deeva.
Genangan airmata tampak di ujung mata Deeva namun dia tahan agar Nince tak melihatnya menangis. Gadis itu menganggukkan kepalanya lalu kembali berjalan. Nince hanya memandang kepergian Deeva sampai dia naik sebuah bus dan menjauh dari pandangannya.
__ADS_1
******