
Tok ... Tok ...
Cekreeeeekkk ...
"Belum tidur, Dek?!" tanya Rey saat Deeva membukakannya pintu
"Belum, Kak."
"Boleh Kak Rey masuk?!"
"Hmmm ...."
Raut wajah Deeva memaksakan tersenyum, Rey sangat jeli memperhatikannya. Di duduk ditepi tempat tidur bersama Deeva yang juga bersisian dengannya.
"Umurmu berapa?" tanya Rey
"16 tahun kurang sebulan," jawab Deeva.
"SMA?"
"Seharusnya."
"Kenapa, Dek?"
Huuuhhh ... Deeva hanya menarik nafas panjangnya.
"Kalau kamu keberatan untuk mengatakannya, tidak apa-apa. Jangan sampai pertanyaanku membuatmu tidak nyaman, Dek ... " lanjut Rey
"Tidak apa-apa, Kak Rey. Hanya saja dada ini masih sesak mengingat semua itu. Mungkin akulah anak yang paling tidak beruntung dibumi ini."
Mata Deeva memandang jauh kedepan. Kosong, seolah pikirannya mencari sesuatu yang hilang darinya. Dia memberanikan diri untuk bercerita dengan Reynand. Mulai dari masa kecilnya yang pernah tinggal dengan Bennett yang nyaris di perlakukan buruk oleh laki-laki cabul itu, lalu tentang pekerjaan Bundanya, hari-hari nya yang tak lagi manis sejak teman-temannya mengetahui pekerjaan sang Bunda serta pertengkaran hebatnya dengan Bunda yang berujung pengusiran dirinya dari rumah.
Hati perempuan yang berlagak tegar itu melemah, kini dia berada pada titik terapuh. Dan tak sanggup lagi membendung airmatanya. Rasa sesak didadanya yang selama ini penuh, dia tumpahkan semua. Matanya sembab oleh tangisnya malam itu. Rey tak tega melihat perempuan menangis dihadapannya. Hatinya luluh. Rey membelai lembut rambut indah Deeva, menghapus airmata dikedua pipinya lalu memeluk gadis muda itu dalam dekapan dada bidangnya yang hangat.
"Sabar ya, Dek ... " ucap Rey sambil mengusap-usap rambut Deeva.
Entah kenapa diperlakukan seperti itu oleh Reynand, Deeva malah merasa sangat nyaman. Hatinya tenang dan damai dalam pelukan laki-laki baik hati itu.
"Besok kita urus sekolah mu," ucap Rey setelah Deeva tenang.
"Sekolah?" tanya Deeva tak paham.
"Ya, kamu harus melanjutkan sekolahmu. Tidak boleh putus sekolah. Sayang sekali masa depanmu nanti. Masalah biaya, biar Kak Rey yang tanggung. Kamu mau kan?"
"Tapi Kak Rey ..."
"Jangan membantah ya, Sayang. Kak Rey maunya kamu sekolah terus. Buktikan kalau kamu bisa lebih baik dan yang terbaik."
"Itu artinya aku harus kembali kesana. Aku belum mengambil ijazahku disekolah."
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Kak Rey temeni kamu kesana. Jangan takut, Dek."
"Ya, Kak."
"Tidurlah. Biar besok pagi badanmu lebih segar." Rey membaringkan Deeva lalu menyelimutinya. Pelan-pelan Reynand menutup pintunya.
******
"Pagi, Kak Rey ... " sapa Deeva yang baru turun pagi itu dari kamarnya.
"Pagi, Dek. Ayo kita sarapan dulu, setelah itu kita urus ijazahmu."
Tak lama setelah menghabiskan makan paginya, Rey dan Deeva sudah siap menempuh perjalanan yang cukup jauh menuju sekolah Deeva. Satu jam tiga puluh menit mereka berkendara dalam mobil macho dan nyaman itu. Deeva segera menemui bagian tata usaha dan mengambil ijazahnya.
"Kamu mau menemui Bunda?" tanya Rey dalam mobil.
"Tidak!" jawabnya singkat.
"Jangan bohong, Dek. Kamu sebenarnya ingin sekali bertemu Bunda. Pandangan matamu tak lepas saat kita melewati satu jalan tadi."
Sebenarnya dia ingin sekali menemui Bunda nya, namun dia hanya memandang jalan kecil menuju tempat tinggalnya yang dulu. Reynand menghentikan mobilnya di depan jalan.
"Kamu mau Kak Rey masuk atau tetap disini saja? Atau bagaimana? Terserah kamu, Dek."
Sejenak Deeva berfikir, lalu dia mengambil gawainya dan menekan beberapa nomor.
Tuuuut... Tuuuut...
"Halooo ... " sapa seseorang diujung sana.
"Nin, Jangan sebut namaku. Aku tunggu di gang depan ya. Sekarang!!"
Tanpa basa-basi Nince bergegas ke depan gang dia menoleh kesana kemari dan tidak menemukan sosok Deeva.
"Mendekatlah ke dalam mobil hitam yang ada disisi kananmu, Nin."
Pesan WhatsApp nya pada Nince yang lalu direspon dengan cepat oleh laki-laki separuh itu. Tanpa turun dari mobil Deeva membukakan pintu belakang mobil.
"Astaga ... Deeva kamu kenapa kembali lagi," protes Nince didalam mobil.
"Aku tidak berniat kembali, Nin. Oiya kenalkan ini Kak Rey."
Reyanand menyalaminya dan Nince pun menyambut uluran tangan laki-laki gagah itu.
"Bunda dimana, Nin?" tanya Deeva.
"Dia tidak ada ditempat. Sejak kamu pergi dia juga pergi, izin menemui keluarganya dikampung?"
"Keluarganya dikampung? Siapa?" tanya Deeva.
__ADS_1
"Mana aku tahu. Seharusnya kamu yang tahu itu, Deeva."
"Bunda tidak punya keluarga lain selain aku disini"
"Entahlah. Mungkin dia mau menenangkan diri. Bennett ada didalam."
"Bennett?" Deeva terkejut mendengarnya.
"Dia datang tadi pagi. Sepertinya dia akan ambil alih lagi semuanya?"
Sejenak semua terdiam. Lalu Nince meneruskan kalimatnya yang terpotong oleh keterdiaman.
"Deeva, aku harus mengatakan ini padamu. Walaupun nanti Bundamu akan marah besar padaku. Tapi aku rasa kamu harus tahu semua yang sebenarnya."
"Semua yang sebenarnya?"
"ATM yang aku berikan padamu adalah milikmu. Rekening atas namamu yang Bundamu sengaja persiapkan. Nominalnya cukup besar. Itu cukup buat biasa sekolahmu. Dan juga ada deposito atas namamu yang dipersiapkan Bunda mu, surat-surat nya ada didalam amplop yang aku berikan kemarin. Bundamu memang mempersiapkan kamu untuk keluar dari sana, sengaja membuatmu marah dan dia punya alasan untuk mengusirmu. Menjauhkanmu dari Bennett," papar Nince panjang lebar.
Adeeva menoleh pada Nince yang duduk dikursi tengah mobil. Dia tidak percaya pada apa yang didengar nya itu.
"Jadi ini sudah direncanakan, Bunda?" tanyanya.
"Ya. Kamu sendiri pahamkan siapa dan bagaimana sepak terjang Bennett. Jadi aku harap kamu jangan membenci Bundamu, Deeva. Aku harap kamu bisa menemukan kebahagiaanmu diluar sana. Jangan pernah kembali lagi kesini."
Setelah berpamitan pada Rey dan Deeva, Nince segera meninggalkan mobil itu lalu kembali kedalam. Dan menghilang diujung jalan.
******
Sepanjang perjalanan Deeva hanya diam. Apa yang Bunda nya lakukan adalah diluar prediksi nya. Bunda sudah mempersiapkan ini semua dengan matang, untuk nya, untuk masa depannya.
"Berarti Bundamu sangat menyayangimu, Dek ... " ucap Rey memecah kesunyian.
"Iya, Kak. Aku tahu itu."
"Jadi Kak Rey fikir lebih baik kamu wujudkan keinginannya. Bunda ingin kamu menjadi anak yang baik, dan punya masa depan bagus."
"Ya, Aku tak ingin membuat Bunda kecewa lagi, Kak ... " jawab Deeva pasti.
"Kalau begitu kita kesekolah barumu. Kak Rey ingin kamu masuk sekolah terbaik. Boarding school, jadi Kak Rey tidak khawatir melepasmu," ucap Rey lagi.
Di Internasional Boarding Scholl ternama yang ada di pusat kota itulah nantinya Deeva akan melanjutkan pendidikannya. Tidak semua siswa tinggal di asrama, bagi siswa yang bisa mengakses sekolah itu dari rumahnya, mereka diperbolehkan tinggal bersama keluarganya. Rey lalu membawa Deeva kesebuah toko buku dan peralatan sekolah. Dia membelikan semua perlengkapan sekolah untuk Deeva. Lalu mengantarkan Deeva kembali ke asrama, karena bagi siswa yang tinggal di asrama mereka harus segera masuk kamar asrama.
"Kak Rey, pulang dulu Dek. Nanti kapan ada waktu Kak Rey pasti menengokmu."
"Maaf ya, Kak. Aku jadi menyusahkan Kak Rey."
"Sama sekali tidak. Jadi Kak Rey harap kamu rajin belajar ya, Dek."
Deeva mengangukkan kepalanya. Reynand pamit dan meninggalkan Deeva diasrama untuk memulai lagi hidup barunya.
__ADS_1
******