Diujung Lembanyung

Diujung Lembanyung
Prestasi Dan Hati


__ADS_3

Ruang kelas yang rapi, gedung-gedung kokoh dan ter-design dengan elegan serta dilengkapi dengan fasilitas olah raga dan sarana belajar yang mumpuni, membuat Deeva merasa senang bersekolah disana. Maklum saja sekolahnya yang dulu adalah sekolah kampung yang fasilitas nya tidak sebaik sekolah barunya ini. Dan juga teman-teman baru serta suasana baru ini membuat dia jadi semakin semangat belajar.


Jam pelajaran dimulai pukul tujuh tiga puluh, lalu selesai pukul tiga sore. Bagi siswa yang tinggal di asrama mereka diberi fasilitas makan tiga kali sehari, dan hari bebas setiap akhir pekan. Tiga bulan pertama dirasakan sangat menyenangkan bagi Deeva dan dia kembali mengukir prestasi luar bisa dengan keikutsertaan nya dalam lomba olimpiade matematika tingkat nasional dan berhasil meraih perak.


"Kamu ini memang anak ajaib, Dek. Prestasi mu luar biasa. Kak Rey bangga padamu."


"Kak Rey berlebihan aku tidak seistimewa itu."


"Tentu saja istimewa. Dibalik ketidakberuntungan mu, kamu punya kelebihan yang luar biasa. Pasti kedua orang tuamu bangga, Dek"


"Bunda tak pernah perduli dengan apa yang aku raih ini. Telepon ku, pesanku semua diabaikannya. Sedangkan aku sendiri tak pernah tahu dimana ayah kandungku. Bunda tak pernah mau menceritakannya."


"Bundamu pasti punya alasan sendiri. Tapi di balik semua itu, kamu adalah anak yang tegar, Deeva."


Reynand sesekali mengunjungi Deeva diasramanya, mengajaknya keluar saat weekend ataupun libur sekolah. Dan pada tahun keduanya di SMA Deeva berhasil masuk tingkat internasional, mendapatkan mendali perak juga. Suatu kebanggaan tersendiri bagi gadis cantik yang akan genap berusia tujuh belas tahun dua bulan lagi. Rey pun ikut merasa bangga dengan apa yang telah dicapai Deeva.


"Hi, Deeva ... " sapa seseorang


"Kak Arga?" Deeva masih mengingat laki-laki itu.


"Senang kamu masih mengingat ku, Sayang."


"Kak Agra sedang apa disini?" tanya Deeva


"Mencari susuatu dan aku sudah


menemukannya."


"Oiya...? Kak Agra mencari apa?"


"Mencari kamu, Sayang ... " ucap Agra sambil tersenyum.


Perempuan cantik itu hanya tersenyum malu-malu saat Agra, menggodanya.


"Sudah lama sekali ya kita tidak bertemu. Kamu semakin dewas dan semakin cantik saja, Deeva."


"Mulai deh, Kak Arga gombal "


"Eeehhh... Bukan gombal loh. Aku serius. Kamu terlihat lebih anggun dan dewasa. Bagaimana kalau kapan-kapan kita ngobrol lebih santai. Sambil jalan misalnya."

__ADS_1


"Aku tak bisa keluar asrama jika bukan akhir pekan, itupun minggu sore harus masuk ke asrama lagi."


"Kalau begitu... Hari sabtu ini aku jemput kamu di asrama. Kita jalan-jalan sebentar. Bagaimana?"


"Boleh."


Agra memang lebih agresif terhadap Deeva, dia meminjam gawai Deeva dan memasukkan nomor teleponnya. Tepat seperti yang Agra janjikan. Sabtu malam pukul tujuh dia sudah menelepon Deeva dan memintanya keluar asrama. Deeva kali ini berpakaian berbeda. Kemeja sutra tangan pendek dan rok tujuh per depalan nya, dia mengikat rambutnya dengan rapi. Bibirnya berwarna share pink dengan polesan liptint.


"Maaf Kak, lama menunggu ya," ucap Deeva saat masuk ke mobil.


"Tidak apa-apa. Menunggu pacar berdandan rasanya sangat menyenangkan."


"Pacar? Sejak kapan kita pacaran?"


"Sejak saat ini. Iya, kan??!" jawab Agra


"Kenapa Kak Agra memutuskannya sendiri?" protes Deeva.


"Tentu saja. Karena aku yakin kamu setuju."


"Tidak."


Huuuhhh... Deeva menghela nafas mendengarkan kepercayaan diri laki-laki yang duduk disampingnya. Mereka menghabiskan malam minggu dengan makan malam di restoran. Agra sudah memesan tempat duduk untuk mereka. Selera Agra cukup bagus untuk memikat hati perempuan, cara bicaranya yang penuh percaya diri itu membuat Deeva menaruh rasa kagum pada laki-laki tampan itu.


"Deeva ... " sapa Rey yang berpapasan dengannya di pintu masuk restoran.


"Kak Rey ..." Deeva sedikit terkejut melihat Rey muncul dihadapannya.


"Kamu sedang apa, Dek?"


"Aku ada janji sama teman, Kak."


"Temanmu?" tanya Rey


Belum sempat Deeva menjawab, Arga muncul dan merangkul pundaknya.


"Ada apa, Sayang?" tanya nya.


"Ah... Tidak ada apa-apa. Kak Rey kenalkan ini Kak Agra teman ku."

__ADS_1


Rey menatap tajam pada Agra, ada perasaan tidak suka dalam hatinya saat Agra merangkul pundak Deeva. Agra pun membalas tatapan Rey dengan gelombang yang sama. Dan Deeva, perempuan cantik itu, menyadari aura persaingan diantara kedua laki-laki itu. Dia menyingkirkan tangan Agra yang merangkul pundaknya.


Dengan kesal Rey mengulurkan tangannya dan Agra menyambut uluran tangan Rey dengan aura yang sama.


"Reynand."


"Agra."


Dan Deeva yang berada ditengah-tengah pertarungan kedua laki-laki itu merasa serba salah. Dia merasa tak enak pada Rey yang selama ini telah baik padanya. Rey tampan, dewasa dan Deeva merasa nyaman didekatnya. Dia mempunyai rasa sayang pada laki-laki baik hati itu. Sedangkan Agra, agresif, dan juga tak kalah tampan dari Rey. Dan Deeva memiliki rasa senang jika bersama laki-laki itu.


"Ya, sudah... Kak Rey duluan ya Dek..."


"Ya, Kak. Hati-hatilah dijalan."


Laki-laki berjas hitam itu tersenyum pada Deeva lalu mengusap lembut kepala Deeva sebelum dia meninggal mereka berdua. Agra yang melihat itu menjadi panas hati dibuatnya. Sepanjang perjalanan Agra tak banyak bicara. Hatinya masih kesal dengan kejadian tadi.


"Kak Agra kenapa? Dari tadi kok diam saja?" tanya Deeva membuka obrolan.


"Siapa laki-laki itu?"


"Maksudnya Kak Rey?"


"Terserah siapapun namanya. Aku tak suka dia dekat denganmu."


"Kak Rey adalah orang yang menolong ku, dia banyak membantu ku, aku tak mungkin bersikap buruk pada orang yang sudah membantu hidupku," jelas Deeva.


"Membantu hidupmu?"


"Panjang ceritanya. Belum saatnya Kak Agra tahu. Kita belum lama kenal."


Mendengar ucapan itu Agra menepikan kendaraannya. Dia menarik rem tangan dan mematikan mesin mobilnya. Agra menatap wajah Deeva lalu merangkul leher nya. Mendekatkan wajahnya pada wajah cantik Deeva, perempuan cantik itu sedikit mengelak saat bibir nakal Agra hendak menyerangnya.


"Ini baru pertama buatmu?" tanya Agra.


Deeva hanya menunduk dan mengangukkan kepalanya. Wajahnya merah. Agra memegang dagu Deeva dengan tangan sebelahnya. Perempuan cantik itu tak lagi menolak saat bibir Agra mengajaknya bermain. Dia dengan refleks memejamkan matanya saat ada benda kenyal menempel pada bibirnya. Agra memperlakukannya dengan lembut. Menggigit kecil bibir bawah Deeva yang terasa manis.


"Terserah kapan kamu akan belajar mencintaiku. Yang jelas aku sayang padamu, Deeva. Aku tidak pernah main-main dengan persaanku ini, Sayang ... " ucapnya lalu melanjutkan lagi permainannya.


Detak jantung Deeva tidak beraturan saat itu, berisik sekali, seperti sedang meloncat-loncat kesana kemari. Ini memang pengalamannya yang pertama. Walaupun sejak kecil dia terbiasa melihat anak asuh Bunda melakukan itu dihadapannya, tapi baru kali ini dia merasakan manisnya permainan ini.

__ADS_1


******


__ADS_2