
Stuttgart adalah ibukota negara bagian Baden-Württemberg di selatan Jerman. Stuttgart adalah kota terbesar keenam di Jerman. Di daerah Feuersee di barat Stuttgart Ruz dan putri kecilnya tinggal. Jauh dari Frankfurt. Laura sengaja menjatuhkan Ruz dengan menutup semua aksesnya, ponsel dan juga rekning milik Ruz di ambilnya. Sepertinya Laura sudah kalap dan begitu emosional. Dia meninggalkan Ruz dan baby Deeva ditempat asing dan jauh tanpa apapun.
Hanya sebuah rumah sewaan kecil dan uang seribu lima ratus Euro. Itu semua tak akan cukup untuk nya menghidupi dirinya dan baby Deeva. Sedangkan Stuttgart bukanlah kota yang ramah. Ruz hanya bisa menangisi nasib nya berhari-hari. Dan ditengah kesedihannya itu dia bertemu kembali dengan Bennett. Dia adalah mafia sexs kelas berat di Eropa dan Asia. Pemilik rumah bordir besar di Eropa dan Asia. Selain itu bisnis obat-obatan terlarang nya sangat rapi dan tidak terendus polisi. Salah satu TO interpol yang paling dicari. Dia sangat licin dan licik. Dan juga orang yang telah membuat bisnis papanya hancur sehingga terkena stroke.
Wajah Ruz menjadi pias saat dia melihat Bennett disana. Walaupun penampilannya sangat berbeda, dengan bulu-bulu di dagu dan jenggotnya dan itu semua palsu. Penyamarannya tidak bisa menipu mata Ruz. Mata jahanam nya menatap liar pada Ruz dan juga baby Deeva. Ben segera menarik Ruz kemobilnya.
"lass mich gehen, Ben"1) pinta Ruz setengah berteriak
"Ich werde dich nicht wieder gehen lassen, Ruz. Jetzt gehörst du mir "2)
Ruz menangis dalam mobil itu, jika dia seorang diri mungkin dia akan keluar dan melompat dari dalam mobil itu, namun Baby Deeva ada dalam pelukkannya. Tidak mungkin dia melakukan hal se bar-bar itu yang bisa membahayakan nyawa putri kecil kesayangannya.
"Dia anakmu, Ruz," tanya Bennett melirik pada baby Deeva
Perempuan cantik itu tak menjawabnya, dia mempererat pelukkannya pada bayi kecilnya. Bennett. Laki-laki itu mempercepat laju mobilnya, menuju sebuah pedesaan kecil. Dan berhenti disebuah rumah yang terletak agak jauh dari pemukiman. Dengan kasar Bennett menarik tangan Ruz dan membawanya kesebuah kamar diruang bawah tanah. Ben juga merampas baby Deeva dari tangan Ruz lalu mengunci nya dikamar itu.
Teriakan dan tangisannya tidak diperdulikan Ben dia membawa baby Deeva yang menangis ke kamar yang terpisah. Ben memandang bayi mungil tak berdosa itu. Mirip sekali dengan Ruz, kecantikan paripurna milik sang Bunda diwariskan pada baby Deeva.
Satu hari
Dua hari
Tiga hari
Sampai hari ke empat Bennett tak juga melepaskan Ruz dari kamar itu. Dia hanya datang membawakan makanan untuk ya bahkan memaksa Ruz memakannya saat perempuan yang tengah depresi itu menolak makanan Ben. Bagi Ruz nasib putrinya lah yang selalu dipikirkannya.
"Kembalikan bayiku, Ben. Bagaimana keadaannya? Aku mohon padamu Ben," Ruz begitu memohon pada Ben
"Kamu tak usah khawatir bayi cantik mu itu baik-baik saja. Dia sehat dan cantik sepertimu."
"Bawa dia padaku, Ben. Kembalikan putriku," pintanya lagi.
__ADS_1
"Aku akan membawanya kepadamu asal kamu mau menuruti semua perintah ku, Sayang."
"Katakan apa maumu, Ben?"
"Sabarlah. Kita baru akan memulainya dengan bersenang-senang."
Mata liar Ben menatap tubuh sexy Ruz dari ujung rambut sampai ujung kepala. Sebotol wine yang dibawahnya membuat matanya semakin liar dan fantasinya meninggi. Akal sehatnya berganti dengan nafsu yang sudah sampai di ubun-ubun nya. Tanpa basa-basi lagi dia menyerang Ruz tanpa ampun. Ruz meronta, berteriak dan menangis. Namun Ben tak memberinya ampun. Dia melampiaskan nafsu setan itu pada Ruz berkali-kali. Tidak hanya hari itu, besok dan hari-hari lainnya pun dia melakukan hal yang sama. Dia selalu mencekoki perempuan malang itu dengan pil kontrasepsi. Memuaskan rasa sakit hatinya saat dulu papa Ruz menolak lamarannya.
Tatapan mata Ruz kosong, menatap langit-langit kamarnya, tubuhnya terbaring lemah seolah tak bertulang. Tubuhnya kurus dan pucat. Matanya selalu tampak sembab. Setiap saat harus meladeni kegagahan laki-laki brutal itu membuat Ruz seperti orang gila.
Cekreeeeekkk ...
Ben datang membawa baby Deeva yang tertidur pulas. Mata Ruz kembali berbinar melihat putri kecilnya datang. Dia menghujani ciuman pada baby cantiknya itu. Dia memandang wajah malaikat kecilnya itu, baby Deeva pun tampak lebih kurus. Walaupun Ben memberinya susu formula terbaik namun ikatan batin ibu dan anak itu teramat kuat. Mungkin dalam hati mungilnya itu, baby Deeva pun paham penderitaan yang dialami sang Bunda.
"Kamu bisa bebas bertemu dan bersama dengan putrimu, asal kamu mau bekerjasama denganku," ucap Ben.
"Apalagi yang kamu inginkan, Ben? Belum puaskah kamu melampiaskan nafsu setanmu pada tubuhku ini?! Lepaskan aku, Ben!!" teriaknya.
"Aaaaaaggghhh... " jerit Ruz saat Bennett menarik rambutnya dengan kasar dan nyaris saja Deeva terlepas dari pelukannya.
******
(Stuttgart - lima tahun kemudian)
Cekreeeeekkk...
Bennett masuk kedalam rumah tanpa mengucapkan salam. Deeva kecil yang melihatnya langsung kabur memeluk Bundanya.
Braaak...
Ben melemparkan amplop besar diatas meja sambil membuka jaketnya.
__ADS_1
"Ambil itu..." titahnya.
Ruz mendekat dan mengambil amplop itu. Didalamnya berisi dokumen dan pasport atas namanya dan Deeva.
"Apa ini, Ben?" tanya Ruz.
"Besok kita akan kembali ke Indonesia, aku akan memulai bisnis baru disana. Dan aku percayakan itu padamu. Bersiaplah!!"
"Bolehkah kita ke Frankfurt sebentar Ben, aku ingin mengunjungi makam kedua orang tuaku disana untuk terakhir kalinya," pinta Ruz.
"Frankfurt?" tanya Ben.
"Ya... hanya sebentar saja Ben."
"Stuttgart ke Frankfurt butuh waktu dua jam perjalanan. Sedangkan pesawat akan berangkat besok pagi-pagi sekali."
Bennett bangun dari duduknya lalu mengambil jaketnya.
"Cepatlah! Aku tunggu dimobil." titahnya lagi.
Dengan cepat Ruz berganti pakaian dan membawa Deeva serta bersamanya. Didalam mobil Deeva memeluk erat Bundanya. Sesampainya dimakam, Ruz hanya sempat mendoakan kedua orang tuanya saja. Ben langsung menarik tangannya untuk kembali lagi ke Stuttgart.
"Ingat !! Besok pagi-pagi sekali kita sudah harus dibandara," tegas Ben begitu sampai rumah.
Ruz membawa Deeva masuk kekamarnya dan memasukkan beberapa potong pakaian mereka. Dia meletakkan koper itu di sudut dekat pintu kamar. Bisnis hitam yang dilakukan Bennett menyeret Ruz kedalam lembah kehinaan, dia menjadikan Ruz sebagai induk semang bagi kupu-kupu liar yang dikumpulkannya. Dan Bennett hanya menengok bisnisnya itu sebulan sekali atau sesuka hatinya, dan saat itulah dia selalu melampiaskan nafsu setannya pada Ruz. Deeva kecil harus hidup bersamanya dalam gelapnya dunia itu. Wajah sedihnya membuat Deeva menghampirinya. Deeva kecil memeluk Bundanya. Tak pakai diperintah lagi, airmata Ruz mengalir membasahi pipinya.
"Deeva, anak Bunda yang paling cantik. Maafkan bunda ya, Sayang. Kamu jadi menderita karena, Bunda. Sepertinya mulai saat ini bunda harus menjadi seekor harimau untuk melindungimu. Untuk masa depanmu. Bunda pun tak ingin hidup dalam kehinaan ini, namun demi hidupmu, demi menyambung nyawa mu sayang, Bunda rela menghinakan diri dilembah hitam ini. Tapi Bunda tak pernah rela melihat kamu menderita apalagi sampai mengikuti jejak kelam Bunda. Kamu harus jadi anak yang kuat, tegar dan mandiri. Kamu harus jadi sinar matahari seperti apa yang diharapkan, Junan, ayah kandungmu," paparnya sambil memeluk putri kecilnya yang belum paham apa maksud kata-katanya.
******
Terjemahan
__ADS_1
1) "Lepaskan aku, Ben", pinta Ruz setangah berteriak.
2) "Aku tak akan melepaskan kamu lagi, Ruz. Sekarang kamu adalah milikku"