
Junan Hariz Caesar pengusaha sukses yang memutus menikah pada usia 26 tahun dengan seorang anak pengusaha kaya. Dan tahun berikutnya lahirlah putranya bernama Reynand Surya Caesar. Bagi Junan, mami Rey, bukanlah cinta pertamanya. Dia bertemu Laura saat hatinya merindukan seorang perempuan dari masa lalunya, Ruzana Alnaya Ibram, cinta monyetnya, cinta pertama nya. Kehidupan rumah tangga Junan dan Laura sangat bahagia, dia dikaruniai seorang anak laki-laki yang gagah dan tampan. Sebenarnya ada seorang anak lagi yang tak sempat lahir, ya. .. Laura mengalami abortus spontan saat usia kandungannya memasuki minggu ke tujuh belas. Pendarahan yang hebat membuat dia harus melakukan Histerektomi atau pengangkatan rahim. Reynand menjadi satu-satunya pewaris tahta keluarga Caesar. Seorang putra tunggal kebanggaan.
Untuk beberapa waktu Junan sering terbang ke Frankfurt-Jerman. Junan berada di Frankfurt untuk urusan bisnis, secara tidak sengaja dia bertemu kembali dengan belahan hati nya yang hilang dulu. Perempuan bertubuh langsing, kulit putihnya yang merupakan perpaduan Eropa dan Asia. Pupil matanya yang keabu-abuan menambah eksotik paras ayu perempuan cantik yang berpapasan dengan nya itu.
"Ruzana...??!" sapa Juan pada seorang perempuan cantik tadi
"Junan ...?!! Ini benar kamu, Jun?" Ruz tak percaya dengan apa yang ditemuinya.
"Kamu apa kabar, Ruz? Lama sekali kita tidak bertemu."
"Kabar ku baik, Jun," jawab Ruz sambil tersenyum manis. Laki-laki manapun pasti akan luluh hatinya melihat ukiran senyum menawan itu.
"Kamu tidak sedang buru-buru bukan?
Bagaimana kalau kita mengobrol ditempat yang nyaman," ajak Junan.
"Baiklah ..."
Junan membukakan pintu mobil untuk Ruz, mereka berdua menuju sebuah kafe. Café im Liebieghaus, kafe ini nyaman dengan suasana yang bersejarah, perabotan bergaya dan mengundang. Mereka berdua menikmati kue-kue lezat dan secangkir kopi. Kue ditawarkan oleh benar-benar berkualitas. Staf benar-benar ramah dan kompeten. Membuat siapapun betah menghabiskan waktu berlama-lama disini.
"Bagaimana kabar papa dan mama mu, Ruz?" tanya Junan membuka obrolan.
"Mama sudah tiada setahun yang lalu, Jun. Dan papa hanya menghabiskan hidupnya diatas kursi roda. Stroke yang dideritanya membuat dia tak bisa berjalan lagi."
"Maafkan aku soal mamamu, aku tak mengetahuinya. Dan aku turut prihatin mengenai papamu yang sakit itu. Aku harap kamu bersabar, Ruz."
"Terima kasih, Jun. Kamu tidak pernah berubah, selalu lembut dan baik hati."
"Kamu sudah menikah, Ruz?" tanya Junan lagi.
__ADS_1
"Tidak. Aku belum memikirkan hal itu. Aku terlalu sibuk bekerja untuk mencukupi hidupku dan papa. Frankfurt bukan kota yang ramah untuk orang-orang seperti kami, Jun," jelas Ruz.
Tatapan mata Junan berubah sendu, dia turut merasakan kesedihan yang dirasakan perempuan kesayangannya itu. Rasa iba dan kasihan nya mulai tumbuh.
"Bagaimana denganmu, Jun? Kamu sudah menikah?" tanya Ruz.
"Hmmm... Kami sudah mempunyai anak berumur sebelas tahun."
"Kamu pasti bahagia bersama keluargamu, Jun. Aku senang mendengarnya." Ruz tersenyum.
Wajah cantik nya memancarkan aura keemasan yang indah.
Tubuhnya yang langsing dan mungil, rambutnya yang semi hitam dan matanya yang keabu-abuan membuat nilai plus dari perempuan berdarah campuran itu.
Ruz adalah adik kelas Junan. Saat itu Junan yang berada di kelas tiga datang ke aula melihat MOS siswa baru. Dari situlah mereka berkenalan dan saling suka. Dua tahun setengah mereka berpacaran dan harus terpaksa putus karena Ruz ikut papanya kembali ke Frankfurt. Dua tahun berikutnya mereka hanya berkirim kabar lewat surat, sampai akhirnya Ruz tak lagi mengabarinya. Mereka hilang kontak. Dan setelah bertahun-tahun mereka akhirnya bisa betemu lagi.
******
"Iya, aku ingin menikahi mu Ruz. Aku masih sayang padamu," ucap Junan setelah hampir dua tahun Junan sering menemuinya di Frankfurt.
"Jun, bagaimana dengan istrimu. Dia pasti tak akan setuju. Aku ..."
"Kamu masih mencintaiku, bukan?!"
Ruzana hanya terdiam. Dalam hatinya dia benar-benar mencintai laki-laki kesayangannya itu.
"Aku tak ingin kamu terlunta-lunta sendirian disini, Ruz."
"Aku memang masih mencintai mu Jun, tapi ... "
__ADS_1
"Kalau begitu menikahlah denganku."
Ruz menatap mata Jun dengan penuh selidik, dia mencari sebuah kesungguhan dari manik mata laki-laki itu. Butuh waktu lama untuk Ruz meyekinkan dirinya untuk menikah dengan seorang laki-laki beristri. Sebulan kemudian mereka mengesahkan pernikahan mereka di Islamic Center, Munich , Jerman.
Junan berusaha membagi waktunya untuk keduanya, dia merasa bahagia karena bertemu dengan cinta pertamanya. Dan kebahagian itu semakin lengkap dengan kehamilan Ruzana pada bulan ketiga pernikahan mereka. Junan lebih sering mencurahkan waktunya untuk Ruzana dengan kehamilannya. Sebulan sekali dia akan berada disana menemani Ruz.
******
Bulan kelahiran sudah tiba, Junan melebihkan waktunya menunggu kelahiran anak pertamanya dari Ruz. Dan pada pertengahan musim panas lahirlah seorang bayi perempuan cantik, berkulit putih dengan wajahnya yang mungil. Junan begitu bahagia melihat putri cantiknya lahir.
"Adeeva Elora Caesar, putri kecilku tersayang," ucap Junan sambil mengelus-elus pipi merah si cabang bayi.
"Kamu sudah menyiapkan nama untuknya, Jun?"
"Ya, Adeeva Elora Caesar."
"Nama yang cantik."
"Adeeva, aku ingin anak ini tumbuh dengan bakat dan kepercayaan diri yang kuat, tegar dan mandiri. Elora, berarti dia adalah sinar matahari yang menghangatkan hidupku. Dan dia pantas dan berhak memakai namaku Caesar. Nama besar keluarga Caesar. Karena dia adalah putri kesayanganku," jelas Junan penuh rasa bangga
Dan Junan sudah langsung mengurus surat menyurat yang berhubungan dengan bayi perempuan cantiknya. Dia melegalkan kelahiran putri kesayangannya. Nama besar Caesar pun disandingkan dinama indah sang putri.
"Deeva ... gadis kecilku yang cantik." Junan tak melepaskan pelukannya dari baby Deeva.
Dia seolah-olah kembali jatuh hati pada seorang perempuan cantik, Adeeva. Dengan sigap dia membantu Ruz yang masih kepayahan sehabis melahirkan. Sudah lama rasanya dia tak menggendong seorang bayi lagi, maklum saja Rey putranya sudah besar dan sangat mandiri. Rasa sayang seorang ayah terhadap seorang anak perempuan akan berbeda dengan rasa sayang pada anak laki-laki. Junan merasa ada seorang bidadari mungil yang harus dia lindungi.
"Simpan ini, Ruz. Berikan ini pada Deeva saat dia dewasa nanti."
Ruz membuka kotak yang diberikan itu, sebuah kalung berukir indah, pesanan khusus yang dipesan Junan untuk putri kesayangannya. Dibalik liontin itu, jika diletakkan ditempat gelap lalu disinari cahaya, akan muncul sebuah nama "Adeeva Elora Caesar"
__ADS_1
Namun kebahagian Ruz tidak berlangsung lama, kehadirannya diantara Junan dan Laura tercium. Laura meradang dibuatnya. Satu bulan. Dua bulan. Junan tidak datang menemuinya. Hanya nominal uang yang ditransfer ke rekening Ruz. Hati Ruz yang kecil mulai cemas, perasaannya tidak tenang dan gelisah. Dia takut kalau-kalau Junan akan meninggalkan dirinya dan putri kecilnya itu. Membayangkannya saja Ruz tidak sanggup. Dia hanya bisa menangisi apa yang terjadi seorang diri.
******