
Sudah satu minggu sejak kepergian Ruz untuk selamanya dari hidup Deeva. Perempuan yang saat ini sangat rapuh itu lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar. Liburan sekolahnya hanya dinikmatinya dalam lautan kedukaan.
Klik. ..
Deeva baru mengaktifkan dawainya. Puluhan pesan WhatsApp masuk dari Agra. Banyak sekali, batinnya. Dia malas membaca satu per satu. Baru saja hendak meletakkan gawainya pada nakas, benda kotak itu berteriak nyaring.
Drrr .... Drrr ....
Panggilan masuk dari Agra.
Klik ...
"Halo," ucap Deeva.
"Sayang, kamu tidak apa-apa? Kenapa kamu menghilang selama ini? Aku khawatir dengan keadaanmu, Sayang."
"Kak Agra sibuk tidak?"
"Tidak. Ada apa, Sayang?"
"Aku mau keluar, aku bosan dirumah terus. Disini sendirian membuat aku semakin sedih." mata gadis cantik itu sudah berenang dengan airmata.
"Kamu menangis Sayang? Ada apa?"
"Jemput aku disini ya, Kak?"
"Baiklah, tunggu sebentar."
Agra langsung menyambar kunci mobilnya, lalu menghampiri sekretarisnya diluar sana. Dia meminta menjadwal ulang jadwalnya siang ini, tak lama Agra pun sampai didepan gerbang rumah mewah itu. Dengan sigap security membukakan pintu gerbang.
Laki-laki gagah berjas hitam itu turun dari mobilnya, seorang bibi asisten rumah tangga mempersilakan dia duduk. Tak lama Deeva turun dari lantai dua dan menemui Agra di ruang tamu.
"Maaf ya, Kak Agra ... aku merepotkan mu," ucap Deeva.
"Tidak apa-apa Sayang. Kita mau kemana?"
"Temani aku sebentar ya, Kak. Ada seseorang yang harus aku temui."
"Baiklah ... Kita berangkat sekarang?"
"Sebentar Kak ... "
Adeeva mengambil tasnya yang dia letakkan diatas meja. Lalu Agra membukakan pintu mobilnya.
"Keselatan ya, Kak," ucap Deeva
"Oke, Sayang ... "
Agra tetap fokus dibelakang kemudi mobilnya. Sambil sesekali melirik pada gadis manis disebelahnya itu.
"Kak ... " panggil Deeva.
"Hmm ... "
"Aku tak mengganggu pekerjaan Kak Agra, bukan?"
"Tidak, Sayang ... "
Deeva menoleh pada Agra, sudut mulutnya terangkat indah. Namun keindahan itu sirna seketika. Hatinya kembali teringat pada sang Bunda. Sekelebat Agra melihat bola mata Deeva menggenang.
"Ada apa, Sayang? Kenapa kamu manangis?" ucap Agra sambil mengelus lembut kepala Deeva.
"Bunda ... " ucap Deeva lirih.
"Bunda kamu kenapa, Sayang?"
"Bunda meninggal, Kak"
Nyaris saja Agra menginjak rem mendadak mendengar ucapan pujaan hatinya. Dia yang tak mengetahui hal itu merasa bersalah pada Deeva.
"Meninggal? Kenapa kamu tak mengatakannya padaku, Sayang? Aku turut berdukacita atas meninggalnya Bundamu. Kamu pasti sedih sekali, Sayang. Maafkan aku."
Gadis cantik itu menggelengkan kepalanya. Dia menceritakan semuanya pada Agra. Tentang pertemuannya kembali dengan ayah kandungnya, tentang Rey, tentang penyakit Bundanya dan juga tentang apa yang dia rasakan saat ini. Kekacauan yang bertempur hebat dalam hatinya. Ketidak tenangan dirinya.
Agra menepikan kendaraannya, menarik rem tangan dan mematikan mesinnya. Hatinya tak kuat melihat perempuan kesayangannya itu menangis disisinya. Dia langsung memeluk Deeva, meletakkan kepala gadis cantik itu dalam dada bidangnya yang hangat.
"Tenang Sayang, aku ada disini bersamamu," ucapnya sambil membelai lembut lambut indah Deeva.
__ADS_1
Setelah dia merasa Deeva cukup tenang, Agra kembali melanjutkan kemudinya yang terhenti tadi. Dua puluh menit kemudia mereka sampai disebuah rumah makan tepi pantai.
"Sudah sampai, Sayang," ucap Agra.
Deeva mengambil gawainya dan menekan beberapa nomor.
Tuuut ... Tuuuut ...
Klik ...
"Halo," sapa seseorang diujung teleponnya.
"Aku sudah sampai. Kamu dimana?"
"Oiya ... Tunggu sebentar."
Lalu dari dalam rumah makan itu keluarlah seorang laki-laki jangkung mamakai celemek. Dari dalam mobil Deeva mengerutkan kedua alisnya, lalu dia menarik kedua ujung garis bibirnya.
"Niiinn ...." sapa Deeva.
"Nino," ucap Nince yang sekarang sudah merubah penampilan menjadi seorang laki-laki tulen.
"Baiklah, kamu terlihat keren seperti ini, Nino."
"Bunda yang menarikku keluar dari lumpur gelap itu dan mencarikan aku pekerjaan disini."
"Aku senang melihatmu seperti ini. Oiya, kenalkan ini Kak Agra ... Kak ... Kenalkan ini Nino temanku." Deeva memperkenalkan Nino pada Agra yang berdiri disisinya.
"Agra ... "
"Nino ... "
Kedua laki-laki itu saling berjabat tangan.
"Oiya, aku tak bisa lama-lama. Aku sedang bekerja. Aku memintamu kesini untuk memberikan titipan Bunda untukmu."
"Titipan?" tanya Deeva.
Nino mengeluarkan sebuah bungkusan plastik hitam yang diselipkan diantara celemek dan perutnya.
"Kebenaran apa? Rahasia apa lagi yang disimpan Bunda," batin Deeva.
Nino kembali pada pekerjaannya. Deeva dan Agra pun sudah berada didalam mobil. Deeva membuka plastik pembungkus itu. Didalamnya ada sebuah buku catatan dan sepucuk surat.
"Meine Sünden "1)
Tulisan itu tertulis besar di cover depan buku catatan itu. Deeva menyimpan buku dan surat itu didalam tas yang dibawanya. Ada senyum kecil diujung bibirnya.
"Kak ... " panggil Deeva.
Agra menoleh pada gadis manis yang memanggilnya.
"Ya, Sayang."
"Kita pulang."
"Baiklah, Sayang. Tapi apa kamu tak kasihan padaku?"
"Eeh ... " Deeva menoleh pada Agra.
"Masa aku tidak dapat upah. Temani aku sebentar ya, Sayang?"
"Kemana?"
Agra mengembangkan senyum lebarnya sambil menepuk-nepuk perutnya. Deeva hanya tersenyum geli melihatnya.
Mereka singgah disebuah restoran, Agra memesan privat room buat mereka berdua. Candle light diner lebih tepatnya. Iringan musik romantis membuat suasana semakin syahdu.
"Kenapa pesan tempat seperti ini sih, Kak?" protes Deeva.
"Tidak apa-apa. Untuk menghiburmu saja, Sayang," jawab Agra santai sambil menyantap makanannya.
"Kak Agra berlebihan deh."
"Siapa bilang ini berlebihan, Sayang. Ini sebagai ungkapan rasa bahagiaku karena kamu sudah mulai mau belajar."
"Belajar apa?"
__ADS_1
"Belajar mencintaiku."
"Eeehh .... Jangan memutuskan sebelah pihak, Kak."
"Tidak. Kamu memang pacarku. Kekasih hatiku yang sangat mencintaiku"
"Lagi-lagi Kak Agra memutuskan hal sebelah pihak. Aku belum membuat persetujuan."
"Kamu pasti setuju, Sayang."
"Apa sih ... Kak ... Bukankan aku bilang aku lebih nyaman berada di friendzone."
"Terserah kamu, Sayang. Yang jelas kamu itu pacarku," ucap Agra mutlak.
Drr ... Drrr ...
Gawai Deeva berteriak nyaring. Panggilan masuk dari Reynand tertera dilayarnya.
Klik ...
"Ya, Kak ... "
"Kamu dimana, Dek?"
"Aku sedang dijalan, Kak. Sebentar lagi aku pulang."
"Ya, sudah. Jangan terlalu malam ya, Sayang. Papi mengkhawatirkan mu."
"Ya, Kak ... "
Klik ...
Huuuuhhh ... Deeva menghela nafasnya.
"Siapa, Sayang? Kakakmu yang galak itu?"
"Kak Rey. Dia tidak galak kok"
"Galak sekali, Sayang. Aku pinjam adiknya sebentar saja sudah sewot begitu."
"Pinjam? Memangnya aku barang pakai pinjam segala," protes Deeva lagi.
******
Junan menghampiri Rey yang berada di ruang keluarga lantai atas.
"Adikmu belum pulang, Rey?" tanya Junan.
"Belum, Pi," jawab Rey.
Sudah pukul sembilan malam, belum ada tanda-tanda Deeva kembali. Rey paham benar Papinya, walaupun terlihat tenang dia pasti sangat khawatir dengan Deeva. Adik bungsunya hanya mengatakan akan pergi bersama temannya. Itu pun yang membuat Rey gelisah. Dia khawatir kalau Deeva terjebak rayuan laki-laki berengsek yang menggodanya. Tak lama terdengar suara mobil memasuki halaman, Rey melongokkan kepalanya ke bawah balkon.
Agra turun dan membukakan pintu mobil buat Deeva. Entah apa yang mereka bicarakan dibawah, Rey melihat Agra memegang kedua tangan adik perempuan kesayangannya. Matanya melotot melihat semua itu.
"Apa itu adikmu, Rey?" tanya Junan.
"Ya, Pi," jawab Rey singkat.
Dia turun kebawah menemui Deeva dan mereka berpapasan ditangga.
"Baru pulang, Dek?" tanya Rey.
"Iya, Kak."
"Dengan Agra."
"Ya ... " jawab Deeva lalu berlalu dari hadapan Rey.
Deeva langsung masuk kekamarnya, membersihkan diri, dan berganti pakaian. Sejenak dia merebahkan tubuhnya diatas kasur empuknya itu.
******
Terjemahan
1) Dosa-dosaku
******
__ADS_1