
Agra membukakan pintu untuk Deeva. Perempuan cantik itu turun dengan ragu-ragu. Berkali-kali dia menatap Agra, meyakinkan hatinya atas apa yang terjadi.
"Ayo, Sayang ... "
"Tidak usah, Kak. Aku bisa sendiri." Deeva menolak saat Agra mengulurkan tangannya pada Deeva. Dia berjalan dibelakang Agra.
Rey yang sesedang bermain dengan anaknya, Eric, dihalaman menoleh ketika melihat Agra dan Deeva datang.
"Siang Kak Rey ... " sapa Agra.
"Siang, Agra. Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?" balas Rey yang berpura-pura tidak tahu jika mereka akan kerumah.
"Baik, Kak. Maaf Kak Rey, aku ingin bicara dengan Oom Junan."
"Dengan papi?" tanya Rey sambil mengerutkan dahinya. Deeva pun menoleh heran kearah Agra. Ada apa gerangan, batin Deeva.
"Iya, Kak." Agra sangat yakin dengan ucapannya.
"Papi ada diruang kerjanya. Dilantai dua sebelah kanan. Silakan saja."
Agra pamit dan langsung mempercepat langkahnya kelantai dua. Deeva mengejarnya dari belakang. Langkah kaki Agra yang lebar membuat Deeva kesulitan mengejarnya. Agra sampai disebuah pintu besar disudut kanan lantai dua.
"Disini?" tanya Agra pada Deeva.
"Mau apa menemui, Papi?"
Agra tak menjawab pertanyaan Deeva. Tanpa basa-basi dia mengetuk pintu ruang kerja Junan.
Tok ... Tok ..
Cekreeeeekkk ...
__ADS_1
Junan menoleh kearah pintu masuk, matanya terbelalak dan alisnya berkerut saat melihat siapa yang datang menemuinya.
"Selamat siang, Oom?" sapa Agra.
"Agra?!" Junan menoleh kebelakang, disana ada putri kecil kesayangannya bersama Agra.
"Maaf menggangu sebentar. Kalo boleh aku ingin bicara," pinta Agra sopan.
"Tumben sekali. Tak pernahnya kamu seresmi ini bicara padaku, Agra. Duduklah." Junan mempersilakan Agra untuk duduk disofa besar dan empuk itu. Deeva langsung mendekat kearah Junan dan duduk bersisian dengan papinya.
"Ada perlu apa mencariku, Agra?"
"Maaf, sebelumnya kalau aku lancang. Aku kesini ingin bicara serius tentang hubungan ku dengan Deeva," ucap Agra memulai pembicaraan. Junan merubah posisi duduknya. Dia mulai membaca sesuatu dari arah pembicaraan laki-laki muda yang ada dihadapannya itu.
"Katakan! Apa mau mu?" tantang Junan.
"Kedatangan ku kesini adalah untuk meminta izin sekaligus restu untuk menikahi Deeva," ucap Agra tegas. Junan nyaris melompat dari duduknya. Deeva pun tak kalah terkejutnya dengan tindakan nekat Agra.
"Aku tak akan mundur sedikitpun. Dan aku sangat serius dengan apa yang akan aku lakukan ini."
"Selama ini Deeva selalu bahagia bersamaku, Papinya, apa kamu bisa menjamin putriku akan bahagia bersamamu?"
"Aku tidak bisa menjanjikan apapun, Oom. Tapi aku akan berjuang sekuat tenagaku untuk kebahagian Deeva. Jiwaku. Ragaku. Bahkan nyawaku sekalipun akan aku korbankan untuk membahagiakannya." Agra menoleh pada Deeva yang tertunduk disisi Junan.
"Bagus ... !!! Kamu cukup berani. Aku ... " Junan menghentikan kata-katanya, dia menoleh pada Deeva yang menarik dan menggandeng lengannya. Dia menyembunyikan wajahnya pada bahu Junan. Luluh hati laki-laki kuat itu melihat perlakuan putri kecil kesayangannya.
Junan membelai lembut kepala putrinya. Dia mengerti apa yang dirasakan Deeva saat ini. Junan tak ingin lagi bersikeras dengan Agra. Karena itu pasti akan menyakiti hati putrinya. Deeva mengangkat wajahnya, menatap pada Agra.
"Kak ... Jangan pernah main-main dengan hal ini. Pernikahan bukan hal yang bisa dipermainkan," ucap Deeva.
"Apa aku selama ini pernah main-main dengan mu? Apa yang kulakukan selama ini hanya permainan? Aku mempermainkan perasaanmu? Apa belum cukup semua ini untuk membuktikan keseriusan ku?" cecar Agra meyakinkan.
__ADS_1
Deeva terdiam beberapa saat, dia menimbang dan menelaah lebih dalam kata-kata Agra. Perempuan manis itu menoleh pada Junan seolah matanya meminta persetujuan dari laki-laki hebatnya itu. Junan pun paham maksud tatapan mata putri kesayangannya itu.
"Dengarkan kata hatimu, Sayang ... " Junan memegang pucuk kepala Deeva. Lagi, Deeva menatap penuh tanya pada Papinya.
"Papi tidak marah pada Deeva? Apa boleh Pi?" tanya nya perlahan.
"Tidak, Sayang. Papi tidak akan marah padamu. Itu hakmu. Jika kamu sudah memutuskannya Papi akan merestui kalian berdua."
"Terima Kasih, Pi." Deeva memeluk Papi nya erat-erat. Junan membalas pelukan hangat putri kesayangannya. Mencium kedua pipi gadis manis itu. Agra tersenyum melihat kehangatan ayah dan anak itu.
"Bawa Daniel kesini untuk menemuiku secara resmi dan menentukan tanggal pernikahan kalian," ucap Junan sambil bangun dari duduknya lalu meninggalkan mereka berdua. Agra mengangukkan, meng-iya-kan permintaan calon mertuanya.
******
Sejenak ruangan itu menjadi sepi. Hanya dua hati yang masih terdiam dalam bahagianya. Senyuman bahagia terukir dari wajah keduanya.
"Kak ... "
"Ya, sayang ... " jawab Agra lembut. Deeva menoleh, memandang laki-laki yang ada dihadapannya itu.
"Terima kasih atas semua nya. Atas cintamu. Atas kepercayaan mu padaku. Aku minta maaf atas semua yang telah aku lakukan dahulu padamu. Semua perbuatan ku yang pasti sangat menyakiti hatimu, Kak. Maafkan aku." raut wajah Deeva meredup dan penuh penyesalan.
"Tak perlu minta maaf, Sayang. Aku pun punya andil besar dalam masalah ini. Aku juga minta maaf padamu, Sayang. Demi Tuhan, aku menyesalinya. Aku menyesal membuatmu menderita selama ini. Aku menyesal membuatmu terluka selama ini. Andai saja aku tak seegois itu, mungkin semua ini tak akan menjadi seburuk ini, Sayang."
Deeva memandang laki-laki gagah yang ada didepannya, yang memiliki hati selembut ini. Selalu merendah dengan keadaannya. Laki-laki yang membuat hatinya tak sanggup berpaling kelain hati. Laki-laki yang berhasil mencuri hatinya.
"Sayang, tahukah kamu? Hal-hal kecil dapat membunuh kita dengan cara yang lebih besar secara perlahan-lahan. Sejak kepergianmu aku merubah diriku penjadi pribadi yang lain, dan semua kebiasaan itu membuatku dihantam rasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Tak perlu kamu tanyakan bagaimana perasaanku saat itu. Bagaimana sesaknya dada ini menahannya. Apakah kamu tahu caranya menjabarkan kesedihanku itu? Tidak cukup dengan sekedar kata pedih dan luka. Kehilanganmu membuatku tak ingin lagi mengenai diriku sendiri dan mencoba menjadi orang lain. Mencoba menikmati hari-hariku yang bukan aku. Sebab jika aku menjadi diriku sendiri artinya aku tak akan mampu melepaskanmu. Tak mampu melupakanmu," papar Agra.
"Aku sayang kamu. Adeeva Elora Caesar menikahlah denganku. Dampingi aku selama sisa umurku," pinta Agra sambil mengeluarkan cincin yang dulu pernah dia berikan pada kekasih hatinya itu. Deeva mengangukkan kepalanya. Wajahnya bersemu merah saat Agra memegang tangannya dan memasangkan lagi cincin itu dijari indah Deeva.
******
__ADS_1