
"Kamu yakin dengan apa yang kamu pilih ini, Sayang? Papi tidak ingin memaksakan kehendak. Bagi Papi kebahagianmu nomor satu. Jika kamu keberatan kamu bisa menolaknya. Mumpung ini belum dimulai, Sayang," tanya Junan meyakinkan.
"Tidak apa-apa, Pi. Teruskan saja. Deeva tidak akan apa-apa. Papi tak usah khawatir."
"Papi tak bisa kamu bohongi begitu saja, Sayang. Matamu tadi mengatakan hal sebaliknya. Kalian berdua masih saling menyayangi. Papi tak tega melihat kamu menghancurkan dirimu sendiri seperti ini."
Deeva mencoba tersenyum namun senyuman itu terasa begitu getir dihati Junan. Dia tahu benar kalau putri kesayangannya itu sedang tidak baik-baik saja. Rencana perjodohan ini digagas oleh salah satu kerabat Bunda Deeva di Jerman. Lusa calon tunangannya akan dipertemukan dengan Deeva. Jika sama-sama cocok mereka akan berangkat ke Frankfurt untuk membicarakan pertunangan dan pernikahan mereka.
******
Suasana rumah keluarga Caesar masih sepi pagi itu, Deeva masih ada dikamarnya setelah makan pagi bersama. Dia malas pergi kemanapun. Hanya mengurung diri dan mencoba membunuh perasaannya pada Agra.
"Kak Agra, aku senang melihatmu baik-baik saja," ucapnya dalam hati.
Drrr ... Drr ...
Sebuah panggilan masuk pada gawai Deeva. Nomor asing yang tak dia kenal. Deeva terkejut menerima panggilan itu, dia hanya menanggapi dengan datar apa yang disampaikan orang diujung teleponnya.
Klik ...
Gadis cantik berkerudung itu segera mengganti pakaiannya dan pergi mengendarai mobilnya menuju suatu tempat. Private room sebuah hotel mewah. Disana ada seorang pelayan yang mengantarnya masuk menuju suatu ruangan.
Tok ... Tok ...
Cekreeeeekkk ...
"Maaf, aku sedikit terlambat," ucap Deeva.
"Tidak apa-apa. Silakan duduk." Daniel mempersilakan Deeva duduk dihadapannya. Lalu seorang pelayan datang membawakan makanan dan kudapan buat mereka berdua.
__ADS_1
"Maaf jika permintaan ku ini mengganggu kesibukanmu." Daniel membuka obrolan.
"Tidak apa-apa," jawab Deeva tersenyum.
"Maaf sebelumnya bukan maksud hatiku mencampuri hubungan mu dengan Agra, tapi ... "
"Kami sudah lama berpisah dan saling melupakan. Jadi anda tidak perlu khawatir tentang itu. Aku cukup tahu diri dengan siapa aku. Aku tak ingin membuat hubungan kalian berdua menjadi renggang. Tidak baik merusak hubungan antara orang tua dan anak. Aku sadar itu. Aku minta maaf atas kesalahan ku mengenal Kak Agra." Deeva memotong perkataan Daniel.
"Tidak bukan begitu maksudku. Aku minta maaf kalau apa yang aku lakukan dulu membuat mu sakit hati. Membuatmu terluka. Namun perlu kamu ketahui, setelah berpisah darimu Agra tidak benar-benar menjadi seorang manusia. Dia hanya seperti mayat hidup," jelas Daniel.
"Mayat hidup? Maksudnya?" tanya Deeva. Sebelum sempat Daniel menjawab Dave datang dan menjelaskannya pada Deeva.
"Mayat hidup. Itulah Agra sekarang. Hatinya sudah tidak ada lagi. Jiwanya kosong. Hidupnya hanya untuk pekerjaan. Dia mengunci diri dari dunia luar diluar pekerjaannya. Bahkan dari kami keluarganya. Dia tak pernah lagi bicara bahkan nafsu makannya berkurang jauh dari sebelumnya. Auranya selalu terlihat pucat. Agra benar-benar frustasi saat kamu meninggalkannya Deeva. Rasa patah hati terberat yang pernah dia rasakan. Bahkan perubahannya itu membuat mama sakit karena stress memikirkannya. Dia benar-benar menjadi manusia yang berbeda. Saat kemarin dia bertemu dengan mu, aku merasa bahwa separuh jiwanya yang semula mati hidup kembali. Pancaran wajahnya berubah jauh. Kamu yang mengembalikan Agra seperti semula, Deeva ... " jelas Dave.
"Jadi jika masih bisa kamu merubah keputusan mu itu, aku mohon kembalikan Agra yang dulu. Dia benar-benar sangat mencintai mu, Deeva. Dan aku yakin kamu pun demikian. Matamu tak bisa berdusta. Cinta itu masih ada disana. Masih ada dihatimu. Agra masih ada dihatimu, Deeva. Ini belum terlambat. Bahkan ini belum dimulai. Kembalilah pada Agra," pinta Dave.
"Kalau harus ada yang berkorban dalam keluarga Meshach, biarlah orang itu aku Deeva. Jangan lagi Agra," ucap Dave saat Deeva membuka pintu hendak keluar. Gadis manis itu menoleh pada Dave. Matanya mengambarkan perasaannya yang terluka. Daniel hanya memalingkan wajahnya. Dia sadar apa maksud ucapan putra sulungnya itu. Dua kesalahan besar yang pernah dia perbuat pada kedua putranya.
******
Rumah Keluarga Meshach - Kamar Pribadi Dave
Drrr ... Drr ...
Klik ...
"Halo Dave ... " sapa Rey diujung teleponnya.
"Rey ... Wah ... Lama tak mendengar suaramu. Bagaimana kabarmu, Rey?" jawab Dave yang baru saja sampai dirumah dan menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur.
__ADS_1
"Kabarku baik. Apa aku menggangumu, Dave?"
"Tidak. Aku sedang santai. Ada apa? Sepertinya penting sekali."
"Ya ... Ini ada kaitannya dengan adikku dan adikmu. Deeva dan Agra. Aku ingin
menawarkan kerja sama dengan mu,"
"Sepertinya menarik. Apalagi berhubungan dengan anak-anak itu. Apa yang bisa aku bantu, Rey."
"Begini, jujur aku akui kalau Deeva banyak berubah sejak berpisah dengan Agra. Dia jadi lebih tertutup dan pendiam. Dia menutup diri dari semuanya. Bahkan dia tidak mau membuka hatinya lagi. Aku tahu dia menyetujui perjodohannya dengan Albert bukan karena cinta. Dia ingin mengubur dirinya dalam kuburan yang bernama perjodohan. Aku khawatir dengan keadaannya." Rey menarik sejenak nafasnya.
"Aku tahu dihatinya masih ada Agra. Dan aku rasa adikmu pun demikian. Albert adalah sahabat kecil Deeva di Jerman, mereka selalu bertemu saat Deeva dan Bunda berziarah kemakam kakeknya di Frankfurt. Mereka dulu bertetangga. Salah satu paman Albert yang menjodohkan mereka. Dan tanpa pikir panjang Deeva menerimanya. Dan besok mereka berdua kan bertemu di suatu tempat," lanjut Rey.
"Lalu apa rencanamu, Rey. Kalau kamu mau menyatukan mereka aku setuju. Karena keadaan Agra pun tak jauh lebih baik dari pada adikmu, Rey ... " ucap Dave yang mulai menarik perhatian lebih dengan rencana Rey.
Kedua kakak sulung itu akhirnya menemui kata sepakat untuk menyetukan kedua adik bungsunya. Dave meyakinkan kalau dia pasti akan berhasil membujuk Agra. Ini adalah bentuk pengorbanan seorang kakak untuk adiknya.
"Kamu yakin bisa membuat Agra percaya dengan rencana kita, Dave. Kita tak boleh gagal. Akan fatal akibatnya jika gagal. Aku paham benar watak adikku dan pastinya kamu pun begitu."
"Aku yakin Rey. Agra memang keras kepala. Tapi dia patuh kepada ku. Kami hanya dua bersaudara jadi tentu saja aku paham benar watak adik bungsuku itu. Kamu tak usah khawatir aku yang akan membuka hati Agra. Dan aku yakin rencana ini akan berhasil dengan baik."
"Baiklah kalau begitu, aku percayakan urusan disana kepadamu Dave. Selamat berjuang."
Klik ...
Rey menutup teleponnya. Sebuah garis indah melengkung terukir dari wajah Dave. Dia memuju kamar Agra untuk membuka lagi pintu hati adik bungsunya yang keras kepala itu.
******
__ADS_1