
Kesendirian membuat Deeva mengingat lagi sebuah pesan yang dia terima dari Nino. Gadis manis itu, mendekati dan mengambil buku di dalam laci nakasnya.
"Meiner lieben Tochter Adeeva Elora Caesar. Vergib deiner Mutter, Liebes. Ich wollte dein Herz nicht verletzen, aber ich werde dir alles sagen. Ehrlichkeit und auch dieser Schmerz."1)
Itulah isi surat yang ditulis oleh Bunda untuk dirinya. Deeva menutup surat singkat itu lalu membuka buku catatan itu. Membukanya mulai dari halaman pertama, ini benar-benar tulisan bundanya. Dia hapal benar dengan tulisan bundanya itu.
Lembar pertama mengisahkan awal pertemuan Ruz dan Junan saat masih dibangku sekolah. Bagaimana keseharian mereka. Bagaimana mereka jatuh cinta kemudian berpisah. Ruz juga menceritakan kehidupan keluarganya di Jerman. Pertemuannya dengan Bennett yang kemudian menipu keluarganya.
Lembaran berikutnya menceritakan tentang pertemuan kembali Ruz dan Junan. Tentang mereka yang kembali jatuh cinta untuk kedua kalinya. Tentang kesepakatan mereka untuk menikah. Tentang resiko yang harus diambil Ruz sebagai istri kedua Junan.
Perlahan airmata Deeva mulai mengalir, hatinya teriris membaca cerita sang Bunda tentang dihidupnya. Tentang kesedihannya. Penderitaannya. Juga tentang siksaan fisik dan psikis yang dialaminya saat dikurung selama lima tahun dan menjadi budak sex Bannett. Lalu dipaksa melacurkan dirinya dan akhirnya menjadi "mami" didalam lokalisasi.
Makin hancur hati Deeva membaca semua ini. Dia makin terisak saat membaca tentang perjuangan Bunda dalam melawan penyakitnya dua tahun terakhir.
"Deeva, Bunda tidak menyalahkanmu jika kamu membenci bunda. Itu adalah hak mu untuk tidak menerima kisah pahit ini, namun satu hal yang harus kamu ketahui bahwa kepedihan ini, rasa sakit ini dan semua hinaan ini bunda tahan demi kamu. Agar kamu bisa tetap hidup dan tersenyum menatap masa depanmu. Bukan juga salah Papimu, Deeva. Dia laki-laki hebat, dia laki-laki kuat yang selalu menyayangi bunda dan dirimu. Percayalah dia adalah sayap malaikat hidupmu yang akan melindungi mu, Deeva. Bunda sayang padamu." tulis Ruz dalam bukunya.
"Maafkan Deeva, Bunda," ucap Deeva lirih sambil memeluk buku catatan itu.
Gemetar tangan gadis manis itu membaca semua yang dituliskan Sang Bunda, hancur hatinya sehancur-hancurnya membaca semua itu. Semua diluar dugaan gadis manis itu, jauh dari prasangkanya.
******
Langit senja yang menguning menemani kesendirian Deeva duduk di taman belakang rumah. Sebuah ayunan besi lebar menemani nya berayun-ayun senja itu. Dia masih memikirkan isi surat itu. Dia menyandarkan punggungnya pada sandaran ayunan besi itu.
__ADS_1
Bunga-bunga cantik disekitarnya menambah indah suasana senja. Lamunan Deeva melayang dan berpetualang kemana-mana, menjejaki lagi masa-masa yang telah ia lewati.
"Deeva," panggil Junan yang datang dari belakangnya. Deeva menoleh lalu merubah posisi duduknya.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Junan hati-hati.
Deeva mengangukkan kepalanya. Junan duduk bersisian dengan putrinya itu. Dari dekat Deeva bisa melihat punggung lebar Papinya itu, bahunya yang kokoh, lengannya yang kuat dan dadanya yang bidang.
"Deeva ...Papi tahu kamu pasti marah sama, Papi. Tapi demi Tuhan, Deeva ... tak ada niatan dihati papi untuk meninggalkan Bunda mu bahkan sampai mencampakkan mu. Bertahun-tahun Papi mencari kalian, tapi tak juga ada hasilnya. Papi benar-benar bahagia saat mengetahui kamu masih hidup dan ada didekat Papi. Namun Papi juga sedih, kita dekat, bahkan sangat dekat. Tapi Papi tak bisa memelukmu, tak bisa mencurahkan rasa sayang Papi padamu." Junan menarik sebentar nafas nya. Melebarkan kembali paru-parunya yang sesak.
"Itu semua hak mu, Deeva. Hak mu untuk membenci Papi. Papi tak akan marah padamu. Tapi satu yang tidak bisa kamu pungkiri, darah Papi mengalir dalam tubuhmu. Dan darah itu lebih kental dari pada air. Kamu tetap putri kandung Papi, kamu berhak memakai nama Papi dibelakang namamu. Juga berhak mendapatkan apapun dari Papi sebagai ayah kandungmu," paparnya lagi.
Junan kembali menghentikan ucapannya. Dia menoleh pada gadis kecilnya yang cantik, matanya menatap dan mengatakan banyak kerinduan untuk putri kesayangannya itu.
"Deeva," panggilnya.
"Papi tahu mungkin papi tak pantas mengatakan ini. Maafkan papi yang belum bisa menjadi ayah yang baik untuk mu." Junan mengelus lembut kepala gadis kecil kesayangannya itu.
Dia berdiri dari duduknya. Rasanya cukup banyak yang dia ungkapkan pada putrinya itu. Namun langkahnya terhenti, dia membagi pandangannya kesamping. Deeva menahan lengannya.
"Papi," panggilnya lembut.
Seketika manik mata Junan bercahaya mendengar Deeva memanggilnya "Papi". Ini kali pertamanya dia mendengar Deeva memanggilnya begitu. Pertama kalinya dia mendengar suara merdu gadis kecilnya memanggilnya "Papi".
__ADS_1
"Papi ... Deeva minta maaf pada Papi. Deeva sudah membuat Papi kecewa. Deeva sudah menyakiti hati Papi," ucap Deeva pelan.
Perempuan muda itu menatap laki-laki yang ada dihadapannya itu. Laki-laki terhebat dalam hidupnya. Laki-laki hebat yang membawanya ada dalam dunia ini. Bagi Deeva saat ini, terserah orang lain bicara apa, tapi laki-laki ini adalah orang terhebat dan terkuat dalam hidupnya. Sayap pelindungnya.
"Maafkan Deeva, Pi. Deeva bersalah pada Papi. Deeva sudah jahat sama Papi," ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Deeva membenamkan tubuhnya dalam dada bidang laki-laki hebatnya itu. Menangis dalam pelukan sayap malaikatnya. Junan membalas pelukan hangat gadis kecil kesayangannya itu. Seketika itulah runtuh pertahanan hatinya melihat putrinya menangis dalam pelukkannya. Hati laki-laki mana yang sanggup melihat perempuan kesayangnya menangis.
"Deeva sayang Papi," ucapnya dalam dekapan Junan.
Demi apapun yang ada didunia ini, kata-kata cinta itu membuat Junan melayang, hatinya melambung tinggi. Terserah apa yang akan terjadi nantinya, segalanya telah sempurna baginya. Cukuplah cinta dan sayang putrinya ini bagi Junan. Dia membelai lembut rambut indah putrinya. Mencium pucuk kepalanya. Adeeva Elora Caesar.
Junan memegang wajah putrinya dengan kedua telapak tangannya yang besar. Menghapus jejak-jejak airmata dipipi Adeeva.
"Maafkan Deeva ya, Pi," ucap Deeva sambil mengambil tangan Papinya dan mencium punggung tangannya.
Lagi, getaran hebat itu menjalar dari ujung kaki sampai ke ujung kepala Junan. Ada rasa haru dan bangga saat putrinya memperlakukan nya dengan begitu hormat dan lembut.
Reynand yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka dari ujung tiang rumah, ikut terharu dengan suasana yang terjadi itu. Rey menyandarkan tubuhnya pada tiang rumah, mendekap kedua belah tangannya didepan dada sambil menatap pemandangan indah didepannya. Bahagia hatinya melihat Papi dan adik bungsunya bersatu kembali. Ukiran indah tercipta diujung garis bibirnya. Lengkap sudah keluarga Caesar dengan kembalinya sibungsu dalam pelukan Papinya.
******
Terjemahan
__ADS_1
"Putriku tersayang Adeeva Elora Caesar. Maafkan Bundamumu, Sayang. Aku tidak ingin menyakiti hatimu, tetapi aku akan menceritakan segalanya padamu. Kejujuran dan rasa sakit ini juga." 1)
******