Diujung Lembanyung

Diujung Lembanyung
Bukan Perpisahan


__ADS_3

Drrr ... Drr ....


Klik ...


"Halo, Sayang ... " sapa Agra diujung teleponnya.


"Ya ... Kak. Ada apa?" jawab Deeva lembut.


"Kamu dimana, Sayang?"


"Dirumah."


"Aku suruh supir menjemputmu ya, Sayang?"


"Eehh ... Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin ketemu kamu. Ya, sudah siap-siaplah."


Klik ....


Deeva heran apa maksud Agra. Dia kembali menutup buku pelajarannya. Minggu depan dia akan menghadapi UN. Blouse sutra warna saleem dan rok hitamnya, di padu dengan tatanan rambut yang rapi, membuat Deeva jauh terlihat lebih anggun dari seragam sekolahnya. Tak lama dia masuk kedalam mobil jemputan. Supir itu mengantar gadis kesayangan Tuan Muda Meshach ke bandara, lebih tepatnya menuju private room bandara.


Cekreeeeekkk ...


Deeva membuka pintu perlahan. Ruangan ber-AC. Sofa empuk terletak di tengah ruangan. Tak ada siapapun disana. Deeva melangkahkan kakinya perlahan. Mengamati sekalilingnya.


Brak ...


Tiba-tiba pintu tertutup dan seseorang menarik tangannya. Menyandarkan tubuh indahnya pada sebuah dada bidang yang hangat. Deeva paham benar bau tubuh ini.


"Kak Agra," ucapnya.


"Aku rindu, Sayang," ucap Agra masih tetap mendekap perempuan kesayangnya itu.


"Kak ... "


"Hmm ... "


"Ada apa menyuruhku kemari?"


Agra melepaskan pelukannya. Lalu menangkupkan kedua tangannya pada wajah Deeva. Dia memandang lekat-lekat wajah gadis pujaannya itu. Nafasnya begitu sesak dan paru-parunya penuh menahan perasaannya.


"Sayang ... Hari ini aku akan berangkat ke Australia. Aku tak tahu berapa lama aku disana. Aku sangat ingin membawamu bersamaku."


"Australia" ucap Deeva dalam hati. Entah kenapa hatinya mendadak menjadi sedih.


"Aku akan merindukanmu disana. Sangat akan merindukanmu, Sayang."


Deeva hanya diam. Matanya meredup. Dia tak bisa berkata apa-apa lagi. Ada sejumput rasa sakit dan sedih di hatinya. Entah kenapa dia seperti tak rela melepaskan kepergian laki-laki yang ada dihadapannya itu. Agra membelai lembut wajah Deeva dengan sebelah tangannya, sementara tangan lainnya masih merangkul dipinggang gadis manis itu Agra mendekatkan wajahnya, mencium kedua pipi Deeva yang halus.


Agra menempelkan keningnya pada kening Deeva. Mata mereka bersitatap dengan jarak sedekat itu.

__ADS_1


"Aku akan merindukanmu, Sayang," ucap Agra sambil terus mengintimidasi bibir manis Deeva. Mengajaknya bermain dengan lembut.


Deeva hanya memejamkan matanya saat Agra mengeksplorasi bibis manisnya. Menikmati setiap hembusan kasih sayang yang diberikan oleh laki-laki yang memeluk tubuhnya itu.


Tok ... Tok ...


Kegiatan mereka terhenti. Agra membuka pintu.


Cekreeeeekkk ...


"Maaf, Pak. Sudah waktunya take off," ucap ajudan pribadinya.


"Baiklah," jawab Agra.


Lagi, Agra memeluk erat Deeva mencium kedua pipinya. Seolah tak ingin meninggalkan perempuan kesayangnya.


"Aku pergi dulu, Sayang. Jaga diri mu dan juga hatimu untukku."


Agra berlalu meninggalkan Deeva yang masih diam didalam ruangan itu. Perlahan airmatanya mengalir membasahi pipinya. Paru-paru penuh dengan sesak yang tak bisa keluar. Kali ini Deeva benar-benar merasa frustasi harus melepaskan Agra ke Australia.


******


Sehari.


Dua hari.


Tiga hari.


Berkali-kali Deeva duduk tak tenang memperhatikan gawainya. Sesekali dia terlihat kesal menatap layar gawainya.


"Kenapa, Sayang?" tanya Rey yang dari tadi memperhatikan.


"Tidak apa-apa, Kak," jawab Deeva santai. Atau berpura-pura santai dan tak perduli.


"Agra belum menghubungimu?" Rey bertanya sambil mengunyah kue yang ada dihadapannya.


Deeva kesal sekali, kakaknya ini serba tahu dan tebakannya selalu benar. Dengan berat hati dia mengangukkan kepalanya.


"Si taxi argo itu masih di Australia."


"Agra. Jangan sembarangan mengganti nama orang, Kak," protes Deeva.


"Ya, siapapun lah mananya. Mungkin setahun dua tahun atau tidak kembali lagi. Perempuan Australia cantik-cantik," ledek Rey.


"Kak Rey ... " Deeva melotot menatap kakaknya yang terkekeh-kekeh meledek.


"Dari mana Kak Rey tahu kalau Kak Agra di Australia?" tanya Deeva lagi.


"Dave. Kakak Agra itu adalah teman SMA ku. Dia yang cerita kalau peternakannya di Australia perlu perhatian khusus, almarhum pamannya meninggalkan hutang yang besar dengan kondisi yang nyaris bangkrut. Untuk membangkitkannya lagi butuh tenaga, waktu dan dana yang tidak sedikit, Sayang. Jadi pacarmu itu tidak akan pulang dulu beberapa tahun ini," papar Rey panjang lebar.


"Pacar?"

__ADS_1


"Memangnya bukan?" tanya Rey sambil tersenyum.


Lagi-lagi pertanyaan kakaknya itu membuat Deeva tersipu-sipu. Kalau menurut Agra sih iya, batin Deeva.


"Yakin dia bukan pacarmu, Dek? Nanti dia direbut sama cewek bule bagaimana, Sayang?" tiba-tiba Rey memoles hidung adiknya dengan krim kue, sehingga Deeva kesal dibuatnya dan mengejar Rey.


"Kak Reeeeeeyyyy ... "


Hahahahaha ...


Rey kenyang sekali tertawa meledek adik bungsunya, dia berlari menghindari kejaran dendam Deeva yang bernafsu ingin membalas perlakuannya tadi. Junan yang dari tadi sibuk dengan koran yang dibacanya hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan anak-anaknya itu.


"Kalian ini seperti anak kecil saja. Papi pusing melihatnya," ucap Junan berdusta. Padahal dalam hatinya dia senang sekali melihat kedua kakak beradik itu akur dan suka bercanda. Walaupun sesekali mereka kadang bertengkar.


"Kak Rey jahat sekali, Papi," rajuk Deeva sambil memeluk papinya.


Ini yang sangat disukai Junan. Kemanjaan putri kecilnya ini yang sangat dirindukannya. Maklum saja sejak kecil Deeva tidak bersamanya. Maka sekarang Junan benar-benar memperlakukan bagai seorang ratu dirumah itu.


"Jangan lari-lari, Sayang. Nanti kamu jatuh," ucap Junan sambil membelai kepala putri kesayangannya itu.


Lagi Rey hendak menyerang Deeva dengan krimnya. Deeva menyembunyikan kepalanya kedalam pelukan Junan.


"Papi ... " rengeknya.


"Rey ... Kamu ini jahil sekali sama adikmu," bela Junan.


Lagi-lagi Rey terkekeh-kekeh dibuatnya. Dia langsung melahap habis kue itu dengan sekali suapan. Deeva memonyongkan bibirnya melihat kelakuan absurb kakaknya itu.


******


Matahari baru bersinar dengan hangat, Deeva mulai bertempur melawan soal-soal ujian penerimaan mahasiswa baru. Dia beharap akan diterima di universitas pilihannya. Dia harus membayar lunas semua hasil kerja kerasnya dengan keberhasilannya masuk difakultas yang dia pilih.


Lewat tengah hari barulah semua peserta kembali kerumahnya masing-masing. Diparkiran Rey dengan setia menunggu adik bungsunya itu.


"Bagaimana ujiannya, Sayang?" tanya Rey.


"Lumayan sulit, Kak. Tapi aku optimis bisa diterima," ucap Deeva yakin. Dengan predikat juara umum dan nilai kelulusan terbaik tentunya wajar saja jika Deeva optimis.


"Baiklah, Sayang. Kak Rey doakan kamu berhasil dalam ujian ini." Rey juga sangat percaya dengan kompetensi yang dimiliki adik bungsunya itu.


Mereka kembali kerumah. Tepat bersamaan dengan Junan yang baru kembali dari kantornya. Rey memarkirkan mobilnya disamping mobil Papinya.


"Bagaimana ujiannya, Sayang," tanya Junan.


"Doakan Deeva lulus ya, Pi," ucapnya sambil mencium punggung tangan papinya.


"Tentu, Sayang. Papi selalu mendoakan kalian berdua. Kamu dan kakakmu."


Deeva tersenyum lalu menggandeng tangan papinya masuk kedalam rumah. Sosok laki-laki hebat itu membuat Deeva bangga punya ayah sebijaksana dan sebaik Junan.


******

__ADS_1


__ADS_2