
"Ruz .... " panggil seseorang.
Perempuan separuh baya bertubuh langsing dan cantik itu menoleh, rambutnya yang di gulung rapi serta kulitnya yang putih itu masih menunjukkan sisa-sisa kecantikan masa mudanya. Manik matanya yang keabu-abuan nan indah itu terbelalak melihat siapa yang memanggilnya tadi.
"Jun ... " ucapnya pelan.
Ada sedikit rasa pedih diujung hati Ruz, kenangan masa lalunya kembali datang menyerang ingatannya. Dada kecilnya terasa penuh sesak.
"Apa kabarmu, Ruz. Aku senang melihatmu lagi" ucap Junan memulai pembicaraan.
"Kenapa baru sekarang kamu perduli dengan keadaanku, Jun."
"Maaf Ruz, waktu itu keadaannya tidak mendukung. Aku .... "
"Sudahlah, tak ada gunanya lagi kamu menyesalinya. Akupun tak pernah menyesali apa yang pernah terjadi. Jadi mulai sekarang lupakan semua yang terjadi dan anggap saja kita tak penah bertemu apa lagi saling mengenal," papar Ruz.
"Baiklah, jika itu mau mu. Tapi aku hanya ingin keadilan untuk Deeva. Dia berhak tahu semuanya."
"Deeva?"
"Ya, Adeeva Elora Caesar. Putri kandungku."
"Heeh ... " Ruz tersenyum mengejek.
Dia menyandarkan diri pada mobilnya, matanya menatap tajam pada Jun dan kedua tanggannya berdekap didepan dadanya. Ruang parkir salah satu apartemen mewah itu menjadi saksi perseteruan keduanya.
"Putrimu?? Jangan melawak didepanku, Jun. Sejak kapan kamu memperdulikan Deeva. Aku tak akan pernah mengizinkan Deeva untuk bertemu denganmu. Bahkan menyebutmu sebagai ayah kandungnya pun tak pernah keluar dari mulutku. Baginya kamu sudah tak ada, Jun."
"Itu tidak adil, Ruz. Deeva adalah anak kandungku. Dia berhak tahu siapa ayah kandungnya."
"Aku tak perduli itu. Aku tak perduli semua tentangmu lagi, Jun. Jauhi Deeva, aku tak perduli walaupun kamu adalah ayah kandung nya, Jun." Ruz mulai emosi.
"Bunda, bilang apa?!" Deeva muncul diantara mereka secara tiba-tiba.
Ruz, Junan dan juga Rey yang sedari tadi berada dibelakang papinya pun ikut menahan nafas melihat kedatangan perempuan muda itu. Mata Deeva menatap tajam pada Ruz, dia meminta penjelasan dari bundanya. Perlahan dia mendekati ketiganya. Menatap mereka satu persatu. Rey menatap cemas pada adiknya itu, dia takut Deeva akan menjadi emosional mengetahui semua ini. Entah kenapa gadis cantik itu bisa muncul disaat seperti ini.
"Geh weg....!!! Ich will sein Gesicht nicht wieder sehen" gertak Ruz. 1)
"Erkläre was das alles bedeutet, Mutter." 2)
__ADS_1
"Das geht dich nichts an !!! " 3)
"Das ist meine Sache. Das ist alles über mein Leben, Mutter. Ist es wahr, was ich gerade gehört habe? Ist dieser Mann wirklich mein leiblicher Vater?" desak Deeva. 4)
Ruz hanya memalingkan wajahnya. Dia tak menjawab pertanyaan anak perempuan satu-satunya itu. Sebenarnya Ruz belum siap dengan keadaan ini, namun keadaan sekarang menjadi berbalik. Dia seolah mendapat serangan balasan dari apa yang telah dia lakukan selama ini. Dia mendapatkan kemarahan Deeva yang mendesaknya untuk mengatakan kebenaran yang tak ingin dia katakan.
"Stimmt es, dass der Mensch mein leiblicher Vater ist? Erkläre es mir, Bunda!!?" 5) Deeva makin mendesak Ruz
"Ja, dieser Mann ist dein leiblicher Vater," jawab Ruz perlahan. 6)
"Warum muss es versteckt sein? Warum nicht ehrlich zu mir sein? Ich hasse dich?!!" 7)
Perempuan muda itu benar-benar kecewa mengetahui kenyataan ini, dia benar-benar marah pada bundanya. Deeva pergi dengan mata berlinang airmata dan hati yang kecewa.
"Kejar adikmu, Rey!" titah Junan pada Rey.
Dan tanpa menunggu dua kali lagi Rey mengejar Deeva yang berlari keluar.
"Kenapa kamu sekeras itu padanya, Ruz. Kasihan Deeva," ucap Junan saat mereka tinggal berdua saja.
"Jika aku tidak seperti ini, dia akan menjadi anak yang lemah. Dia tak akan bisa bertahan sampai sejauh ini. Kamu yang menghancurkan semuanya, Jun. Kamu yang menghancurkan hidupku, juga anakmu. Kamu yang membuat aku seperti ini." Ruz menatap Jun dengan mata penuh amarah dan kekecewaan.
"Deeva menceritakan nya? Jadi selama ini Deeva bersamamu, Jun?"
"Entah bagaimana ceritanya. Rey dan Deeva bertemu dan saling mengenal. Mungkin ikatan darah itulah yang membawa mereka. Deeva bersama ku. Kamu tak perlu mengkhawatirkannya. Aku akan menjaganya dengan baik. Aku akan menebus puluhan tahun yang hilang itu, Ruz," ucap Junan.
"Aku pegang ucapanmu itu, Jun. Tolong jaga Deeva." Ruz masuk kemobilnya lalu pergi tanpa mengucapkan salam perpisahan pada Junan.
Laki-laki itu menatap sendu pada perempuan yang masih sangat disayanginya itu. Ada setumpuk rasa sesal dan sedih yang berbaur jadi satu pada hati kecil Junan. Dia hanya berdiam diri didalam mobilnya.
******
Rey berlari sekuat tenaga mengejar adiknya yang saat ini sangat emosional. Dengan sigap dia menarik tangan adiknya saat posisi mereka sudah sangat dekat. Tanpa pikir panjang dia langsung menjatuhkan tubuh adiknya itu dalam pelukannya. Mencoba menenangkan dan memberinya sebuah energi positif.
"Dek ... Sabarlah, Sayang ... Kalau kamu emosional begitu di tempat ramai seperti ini, Kak Rey takut kamu akan ada dalam bahaya," ucap Rey sambil membelai dan menciumi pucuk kepala adik bungsunya.
Deeva memeluk dan menangis dalam dekapan kakak laki-lakinya. Dia menumpahkan semua emosinya pada Rey. Cukup lama Deeva baru bisa menenangkan emosinya.
"Kak .... " panggilnya.
__ADS_1
"Hmmm ... "
"Kak Rey sudah tahu semua ini?"
"Ya, Dek. Kak Rey juga baru mengetahui nya beberapa bulan yang lalu saat kita bebas dari Bennett dan kamu ada dirumah. Papi menceritakan semuanya. Papi sebenarnya ingin sekali kita menjadi keluarga yang utuh Dek. Papi ingin kamu bisa menerima kenyataan ini," jelas Rey.
"Maaf, Kak ... Aku belum bisa. Aku masih ...."
"Sudah tak usah dipaksakan. Pelan-pelan saja Dek. Kak Rey tahu kamu masih marah dengan keadaan. Tapi tenang saja ada Kak Rey disini. Percayalah, Papi tidak pernah punya niatan untuk mencampakkan mu. Bahkan dia sangat bahagia ketika mengetahui kalau kamu adalah anaknya yang hilang dulu," ucap Rey meyakinkan adiknya.
Deeva masih menyandarkan tubuhnya dalam pelukan kakak nya. Dia merasa tenang bersama Rey. Mungkin ikatan batin yang begitu kuat diantara merekalah yang menyatukan hati kakak beradik itu. Rey pun sekarang sudah bisa memposisikan diri sebagai seorang kakak terhadap Adeeva.
"Kita pulang, sayang?!" ajak Rey. Deeva mengangukkan kepalanya.
Mereka kembali ke basement menuju mobil. Junan yang masih membenamkan tubuhnya pada kursi mobil merasa senang melihat kedua putra putrinya kembali. Dia cemas kalau-kalau Deeva yang emosional menjadi nekat dan terjadi sesuatu yang buruk putri bungsunya itu. Rey membukakan pintu tengah mobil untuk adiknya. Lalu dia kembali kebelakang kemudi dan mengendalikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Junan yang duduk disebelahnya terlihat tak tenang, dia menopangkan dahinya pada tangan kirinya di sisi pinggir pintu mobil.
"Pinggirkan dulu mobilnya, Rey," pinta Junan.
Rey mengerutkan alisnya, dia segera memberi sen dan menepikan mobilnya. Junan turun dan membuka pintu belakang mobil. Dia mengambil sebuah bantal kecil yang ada disana, lalu membuka pintu tengah mobil. Perlahan dia mengangkat kepala Deeva dan meletakkan bantal itu dikepalanya. Dia ingin putrinya yang tertidur merasa nyaman. Dia melepaskan jasnya dan menyelimuti Deeva dengan jasnya itu. Rey melirik dari spion tengah mobil. Ada seutas senyum yang terukir dibibirnya. Dia tahu kalau papinya sangat menyayangi adik perempuannya itu. Adeeva Elora Caesar.
******
Terjemahan
1). "Pergilah...!! Aku tak ingin melihat wajahmu lagi."
2) "Jelaskan apa maksud dari semua ini, Bunda?!"
3) "Ini bukan urusanmu."
4) "Ini urusanku. Ini semua tentang hidupku, Bunda. Benarkah apa yang aku mendengar tadi?! Benarkah laki-laki ini ayah kandungku?"
5). "Benarkah lelaki itu ayah kandungku? Jelaskan padaku, Bunda !!?"
6). "Ya, laki-laki itu adalah ayah kandungmu."
7). "Kenapa disembunyikan? Kenapa tidak jujur padaku? Aku benci bunda?!"
******
__ADS_1