
"Pelankan suaramu, Laura!" ucap Junan.
Laura yang sudah mengetahui kehadiran orang ketiga dalam rumah tangganya dengan Junan terbakar emosi. Hatinya menjadi panas, amarahnya sudah sampai di ubun-ubun.
"Ceraikan perempuan itu, Kak!" ucap Laura
"Apa??! Cerai?! Tidak. Aku tidak mau melakukan itu."
"Sekarang pilih olehmu aku atau perempuan itu, Kak!"
"Aku tak bisa memilih diantara kalian berdua, Laura."
"Kenapa tidak bisa?"
"Rey dan putriku lah yang membuat ku tak bisa melepaskan kalian. Itu semua tanggungjawab ku sebagai papi mereka."
"Aku tak mau dengar apapun alasanmu, Kak "
"Laura ... Dengarkan aku. Jangan kamu anggap perempuan yang menikah resmi dengan suamimu ini sebagai sainganmu, sebagai kebencianmu. Anggaplah dia sebagai saudara perempuan mu yang sama-sama mencintai laki-laki yang sama. Anggaplah dia sebagai temanmu, sebagai sahabatmu, yang siap berbagi denganmu. Ruzana adalah istriku juga, dan anaknya adalah putriku. Darah dagingku. Aku tak mungkin mengabaikannya. Sama seperti kamu dan Rey," papar Junan.
******
Tok ... tok ...
Tok ... tok ...
Suara pintu yang diketuk dengan keras membangunkan Ruz dari istirahat nya. Di menoleh kesamping, meyakinkan kalau putri kecilnya tidak terbangun. Lalu bergegas menuju pintu depan rumah.
Cekreeeeekkk ...
Ruz mendapati seorang perempuan cantik memakai kacamata hitam dengan gaya elegan nya berdiri didepan pintu. Senyumnya membuat Ruz bergidik ngeri. Siapa perempuan ini, batin Ruz.
"Apa kamu yang bernama Ruzana Alnaya Ibram?" tanya perempuan itu.
"Benar. Saya Ruzana. Anda siapa ya?" tanya Ruz
__ADS_1
Perempuan itu tak menjawab, dia terus saja masuk kedalam rumah. Matanya jelalatan memperhatikan setiap sudut rumah itu. Lagi, senyuman perempuan itu sangat mengerikan bagi Ruz.
"Aku Laura Alviana Caesar. Istri sah Junan Hariz Caesar. Laki-laki yang kau goda itu adalah suamiku."
Seketika nafas Ruz seolah-olah berhenti mendadak, bukan main terkejutnya dia melihat istri pertama suaminya datang menemuinya. Namun dia berusaha bersikap tenang, harga dirinya terlalu tinggi untuk menunjukkan kelemahannya.
"Ooh... Maaf Mbak Laura. Aku tak tahu jika Mbak berkenan datang kesini untuk menemuiku. Maaf aku tak mempersiapkan apa-apa untuk menjamu Mbak Laura."
"Sudahlah ... tak usah banyak basa-basi... kita langsung saja pada tujuannya ..." ucapan Laura terjeda dengan suara tangis baby Deeva.
Ooeeee .... oeeeee..... oeeeee.....
Suara tangisan yang lantang menggema disetiap sisi rumah. Ruz segera menghampiri baby Deeva. Menenangkan yang terganggu tidurnya oleh aura kehadiran seorang ibu tirinya. Laura pun masuk kedalam kamar.
"Apa dia anak Junan?" tanya Laura.
"Iya, mbak anak ini anak ku dan Jun."
Laura memperhatikan wajah cantik baby Deeva itu. Benar-benar seorang bayi yang cantik. Dan jika itu anak Junan, suaminya, artinya anak itu pun akan menjadi seorang putri mahkota di keluarga Caesar, batin Laura.
"Maaf Mbak kita bicara diluar saja, kasihan Deeva terganggu tidurnya," pinta Ruz.
"Jadi anak itu namanya Deeva?"
"Ya, Mbak. Jun yang memberinya nama itu."
"Begini, aku tak perduli apapun alasanmu menggoda suamiku, sampai-sampai dia mau menikahimu. Aku minta tinggalkan Kak Junan dan jauhkan dirimu dan anakmu itu dari kehidupan rumah tanggaku dengan suamiku. Dan juga aku tak ingin melihat mu dan anak mu lagi. Aku tak mengizinkan anak itu memakai nama keluarga Caesar," cecar Laura.
"Aku tak perduli apapun tentang diriku, namun anak ini adalah anak Junan. Darah dagingnya. Diakui atau tidak darah keluarga Caesar mengalir dalam tubuhnya. Dia hanya bayi perempuan yang tak berdosa, Mbak. Jangan kamu rendahkan dia. Deeva juga anak suamimu."
"Aku hanya memperingatkan mu saja. Dan jangan salahkan aku jika terjadi apa-apa dan anakmulah yang menjadi korbannya. Aku tidak pernah main-main dengan ancamanku. Aku harap kamu memikirkan itu perempuan rendah. Kamu dan anakmu sama saja. Aku hanya memperingatkanmu, dan aku beri kamu waktu satu minggu untuk mu berfikir. Selanjutnya nikmatilah permainannya... hahahhahaha...." Laura tertawa dan meninggalkan rumah itu.
Tawa yang sangat menakutkan bagi Ruzana, suara tawa yang membuat salju di Jerman mencair lebih cepat. Dia hanya terduduk lemas dilantai, airmatanya mengalir deras. Bukan dirinyalah yang dia tangisi, melainkan nasib putri semata wayangnya itu. Putri kecil yang tak berdosa yang harus menanggung semua beban hidup ini. Dia tak akan sanggup jika harus kehilangan Deeva, setelah sebulan yang lalu dia harus kehilangan papanya yang shock mendengar Junan yang tak pernah datang tanpa kabar berita. Serangan jantung menyebabkan kematian Papanya yang sangat dia cintai.
Dan kini dia hanya punya Deeva, jika benar ancaman Laura benar, entah bagaimana nasib mereka kedepannya.
__ADS_1
"Deeva, anakku sayang. Perempuan kecilku yang cantik. Bunda hanya memiliki kamu seorang sayang. Bunda tak akan sanggup jika harus kehilangan kamu lagi. Lebih baik bunda mati dari pada harus jauh apalagi kehilanganmu sayang. Kita berdua harus menjadi kuat mulai detik ini. Kita berdua harus menjadi karang untuk menentang ombak, dan kita berdua harus saling bersama. Jangan pernah tinggalkan Bunda, ya. Bunda janji, apapun akan Bunda lakukan untuk kebahagianmu. Mulai hari ini dan seterusnya hanya ada kita, kamu dan Bunda. Maafkan Bunda yang tak bisa menyatukan cinta kasih Junan, ayah kandungmu. Mungkin inilah jalan terbaik untuk kita. Mengucapkan selamat tinggal padanya," ucap Ruz lirih.
Ruz menciumi baby Deeva yang tersenyum manis padanya. Wajah polosnya itu memandang Bundanya dengan penuh kebahagiaan. Walaupun dia sendiri kenapa dia dihujani ciuman dari sang Bunda yang saat itu juga meneteskan airmatanya. Wajah polos seorang bayi mungil berumur tiga bulan yang tak berdosa penuh dengan senyum dan tawa ceria.
******
Laura memang benar. Dia tak main-main dengan ancamannya, seminggu kemudian dia datang lagi dengan beberapa orang laki-laki bertubuh besar. Seperti seorang centeng yang siap menerkam siapa saja.
Tok ... Tok ...
Tok ... Tok ...
Cekreeeeekkk ....
"Mbak Laura. .. " Ruz terbengong melihat kedatangan Laura dan para bodyguard nya kesana.
"Kamu yang bernama Ruzana?" tanya seorang laki-laki tua yang datang bersamanya.
"Benar. Saya Ruzana. Maaf anda siapa ya?!" tanya Ruz sopan.
"Aku Ferdi Albans, dan Laura adalah putri sulungku," ucap laki-laki itu dengan pandangan mata yang dingin
Mendadak wajah Ruz menjadi pias, berarti orang yang ada dihadapannya adalah ayah kandung istri suaminya, mertua Junan. Mau apa mereka kesini, batin Ruz. Dia mendekap baby Deeva yang baru saja tertidur. Perasaan nya jadi tak menentu, dia mempunyai firasat buruk.
"Maaf ada keperluan apa kalian datang kemari?" tanya Ruz
"Manis sekali mulut mu berbasa-basi, bukankah aku sudah memperingatkan mu untuk segera pergi dari sini dan menjauhkan dirimu serta anak hasil hubungan gelapmu itu dari kehidupan kami. Tapi sepertinya kamu meremehkan ku, perempuan rendah," maki Laura.
"Anak hasil hubungan gelap? Maaf Mbak, terserah kamu mau menghinaku sesuka hatimu tapi aku tak rela kamu menghina dan merendahkan anak ini. Anak ini adalah anak hasil pernikahan resmi ku dengan Junan," Ruz mulai terpancing.
"Tinggalkan tempat ini dan menjauh dari kehidupan putriku sekarang juga!!!" titah Ferdi.
Dia memerintahkan orang-orang suruhan nya untuk membawa Ruz dan baby Deeva kedalam sebuah mobil dan membawa mereka kesuatu tempat yang jauh diselatan Jerman.
******
__ADS_1