
"Kamu tidak usah kembali lagi ke asrama, Dek. Nanti Kak Rey urus penarikanmu dari asrama. Mulai sekarang kamu akan tinggal disini bersama kami. Papi juga pasti setuju," ucap Rey setelah makan pagi
"Eeeh... Tapi kak ... Aku ... "
Adeeva kaget bukan main, dia menoleh pada Junan lalu kearah Rey. Junan mengangukkan kepala menyetujui usulan Rey, sudah pasti dia akan setuju jika putrinya yang lama hilang kembali kerumah nya.
"Tidak pakai tapi tapi, Dek. Ayo berangkat nanti kamu kesiangan."
Gadis muda itu masih terbengong ketika Rey menarik tanggannya, dia langsung menyambar tasnya dan pergi mengikuti langkah Rey.
"Kak Rey ... " panggil Deeva pada Rey saat didalam mobil.
"Hmmm ... "
"Kak Rey ini kenapa sih? Maaf Kak bukannya aku tak mau tinggal dirumah Kak Rey, tapi ... "
"Tapi apa? Papi yang memintamu tinggal bersama kami, Dek."
"Haaaahh...??!" Deeva masih heran dengan semua ini.
"Sudahlah, Dek. Ini semua adalah hak kamu bersama kami. Nanti suatu saat kamu mengerti kenapa harus seperti ini. Untuk sekarang, ikuti dulu ya permintaan Kak Rey.... Ini semua demi kebaikanmu, Sayang."
Tidak sampai tiga puluh menit mereka sudah sampai disekolah. Hari pertama masuk sekolah ditahun ajaran baru ini disambut penuh semangat oleh para siswa. Rey segera mengurus penarikan Adeeva dari asrama. Lalu dia kembali kekantornya.
******
"Apa sebenarnya maksud ucapan Kak Rey tadi? Kenapa dia bilang ini semua demi masa depanku? Kenapa aku punya hak untuk bersama Kak Rey dan Papinya?" lamun Adeeva saat jam istirahat dikantin.
Drr...drrr...
Gawai nya berbunyi. Sebuah pesan WhatsApp masuk.
Klik ...
"Hi... Sayang, aku merindukanmu..."
Huuhh.... Adeeva menghela nafasnya membaca pesan dari Agra. Gadis cantik itu memilih mengabaikannya dan kembali kekelasnya.
"*I love you .... "
"I miss you ...."
"My dear ... "
"My honey* ..."
Beruntut saja pesan itu masuk lagi kedalam gawainya.
"Aku sadang dikelas, Kak"
"Okey, Sayang. Love you"
Klik ..
__ADS_1
Dengan terpaksa Deeva mematikan gawainya dan menyimpannya dalam saku rok sekolahnya. Dia kembali fokus pada materi yang diberikan guru didepan kelas. Dia tak bisa main-main lagi sekarang. Karena UN sudah didepan mata. Awal tahun depan dia harus mempersiapkan buat LUN dan UN.
Untuk itu dia mengikuti pelajaran tambahan disekolahnya seusai jam belajar berakhir. Walaupun dia harus pulang lebih lambat dari biasanya, namun itulah resiko yang dia tempuh untuk bisa lulus dari sekolah menengah atas dan bisa diterima di universitas favoritnya.
Pukul lima sore dia baru pulang dari sekolahnya. Dan Rey memerintahkan supir untuk menjemput adiknya. Perlakuan istimewa yang dia dapatkan dari Junan dan Reynand menciptakan sebuah tanda tanya besar di hati Deeva. Ada apa ini? Kenapa mereka bersikap seperti itu padanya? Deeva belum bisa menemukan jawabannya.
******
Sudah pukul tujuh namun Rey maupun Junan belum pulang kerumah. Adeeva seorang diri diruang tengah asik bermain dengan gawainya.
Drrr... drrr...
Dering gawainya berteriak nyaring memecah kesunyian seisi rumah besar itu. Sebuah panggilan masuk dari Agra.
Klik ...
"Malam Sayang ... "
"Kak Agra, ada apa telepon malam begini?"
"Apa aku menggangumu, Sayang?"
"Tidak, Kak. Cuma kok belakangan ini Kak Agra jadi rajin menghubungi aku ya ..." tanya Deeva
"Aku merindukanmu, Sayang ... aku sedang ada urusan kerja di Melbourne beberapa hari kemarin. Jadi aku tak sempat menghubungimu."
"Lalu??"
"Eeeh... lalu apa?" tanya Agra.
"Aku takut kamu merindukanku, Sayang. Aku takut kamu mengkhawatirkan aku karena aku tak memberi kabar."
"Hahahahahaha .... Kak Agra terlalu percaya diri. Seyakin itu kalau aku mengkhawatirkan Kak Agra?"
"Tentu," jawab Agra pasti.
"Kak Agra tahu dari mana?"
"Dari kenakalan bibir manis mu kemarin Sayang. Rasanya begitu manis dan lembut. Aku suka."
"Kak Agra yang memaksaku."
"Hmmm... tapi kamu menyukainya bukan? First kiss mu kemarin?"
Seandainya Agra ada didekatnya pasti dia sudah melihat betapa merahnya semu wajah Deeva saat itu. Senyum kecil mengembang di kedua ujung bibir manis nya. Dia tak menjawab pertanyaan Agra.
"Hei ... kenapa kamu diam Sayang?"
"Kak Agra, percaya diri sekali."
"Tentu ... !!! Dan aku yakin akan mendapatkan mu."
"Selamat malam, Kak." Deeva menyudahi obrolan nya.
__ADS_1
"Selamat malam, Sayang. I love you"
Klik ...
Manis sekali, batin Deeva. Tapi dia tak ingin menaruh banyak harapan pada laki-laki itu, keinginannya saat ini adalah lulus dengan nilai terbaik. Dia berfikir untuk saat ini friendzone lebih baik.
Sepertinya Rey dan Junan akan pulang terlambat malam ini. Deeva melangkahkan kakinya menuju kamarnya untuk beristirahat. Tempat tidur yang besar dan empuk, kamar yang rapi dan bersih serta ber-AC sejuk, membuat dia merasa nyaman disana. Kak Rey begitu baik, seperti dalam lindungan dua sayap malaikat, batinnya.
******
Cekreeeeekkk ....
Rey membuka pintu kamar adiknya perlahan, memastikan kalau adik kesayangannya sudah tidur atau belum. Wajah Deeva terlihat damai saat tertidur pulas. Rey tersenyum melihat keindahan itu, wajah damai bidadari cantiknya. Dia mendekati Deeva perlahan lalu merapihkan selimutnya.
Cup ...
Sebuah kecupan mendarat dengan penuh kasih pada pucuk kepala adik kesayangannya itu.
"Selamat tidur, Sayang."
Perlahan dia kembali menutup pintu kamar itu.
"Adik mu sudah tidur Rey," bisik Junan yang baru sampai.
"Sudah, Pi."
"Apa ada kabar terbaru dari hasil pencarian mu itu, Rey?"
"Iya, Pi. Rey dapat kabar dari orang terdekat beliau. Jika dalam waktu dekat ini beliau akan datang ke kota ini untuk suatu urusan. Jadi Rey rasa kita bisa menemuinya saat itu."
"Baiklah, atur dengan mu. Jangan sampai adikmu tahu, Rey."
"Ya, Pi. Apa papi yakin mau menemuinya?"
"Ya, Papi harus meluruskan masalah ini. Papi mau keterbukaan. Tidak ada lagi yang harus ditutupi. Tidak ada lagi yang harus disembunyikan."
"Apa Papi siap dengan konsekuensinya?" tanya Rey menyakinkan.
"Kamu benar Rey. Apapun itu Papi harus siap. Sepahit apapun resikonya nanti papi akan terima."
Mata Rey menatap dalam-dalam pada manik mata papinya, dia tahu papinya berusaha tegar mempersiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi nanti. Bahkan kemungkinan terburuk sekalipun.
"Pi ... " panggil Rey.
"Rey tetap akan mendukung Papi apapun yang terjadi. Rey yakin kita pasti bisa melewati semua ini. Dan jika berita itu benar, lusa kita bisa menemuinya. Rey akan temani Papi nanti," ucap Rey kemudian.
"Terima kasih, Rey"
"Selamat malam, Pi"
"Selamat malam, Rey"
Junan masuk kedalam kamarnya. Rey masih menatap Papi nya sampai Junan menghilang dibalik pintu. Barulah setelah itu dia masuk kedalam kamarnya. Rey segera membersihkan diri dan berganti pakaian. Guyuran air hangat yang mengalir dari lubang-lubang shower membuatnya relax, menyegarkan kembali tubuhnya yang terasa penat seharian ini. Setelah itu barulah dia membenamkan diri dalam alam mimpinya malam itu.
__ADS_1
******