Diujung Lembanyung

Diujung Lembanyung
Diujung Lembayung


__ADS_3

Ruang tengah rumah keluarga Caesar dihias indah penuh dengan bunga mawar putih. Bunga kesayangan Adeeva Elora Caesar, calon pengantin perempuan. Pukul tujuh pagi, Agra Roberto Meshach, calon pengantin laki-laki beserta keluarganya sudah hadir di kediaman mempelai perempuan. Deeva yang berada dikamarnya dan sedang dihias, terlihat anggun dan cantik mengenakan kebaya putih pernikahannya itu. Junan dan Rey pun sudah siap dengan stelan jas hitamnya itu. Mereka terpukau melihat aura pengantin yang terpancar dari paras jelita Adeeva.


"Cantik sekali, Sayang. Adik Kak Rey memang paling cantik," puji Rey.


Junan pun tak kalah mengagumi putri kesayangannya itu, mengingatkan dia pada sosok almarhumah Bunda Deeva. Junan menangkupkan kedua tangannya pada wajah putrinya itu.


"Sayang, sebentar lagi tanggung jawab Papi akan berpindah pada laki-laki yang akan menjadi suamimu. Bagaimanapun dia nanti akan menjadi imam hidupmu. Kamu harus menghormati suamimu. Papi percaya dengan pilihan hatimu. Papi doakan yang terbaik untuk rumah tangga kalian kelak." Junan memandang pada wajah Deeva.


"Terima kasih, Pi. Deeva akan pegang nasehat Papi. Deeva sayang, Papi." Deeva memeluk erat papinya. Rey ikut terbawa suasana melihat keharmonisan itu. Adik bungsunya akan dibawa oleh laki-laki pilihannya.


Tepat pukul delapan semua yang hadir serempak mengucapkan kata "sah", sesaat setelah Junan dan Agra berjabat tangan. Mengucapkan kalimat sakti akad nikah. Barulah pengantin perempuan turun dari lantai dua. Semua mata tertuju pada perempuan cantik itu, begitu anggun dan penuh pesona. Agra tak dapat melepaskan pandangannya dari istrinya itu. Pemandangan yang sangat indah yang pernah dia lihat.


Deeva duduk bersisian dengan suaminya. Lalu dia mengambil tangan laki-laki halalnya itu dan mencium punggung tangannya. Agra meletakkan tangan kirinya di pucuk kepala perempuan halalnya itu, lalu menciumnya dengan mesra. Barulah keduanya memohon restu pada kedua orangtua mereka dan kedua kakak mereka. Sempurna.


******


Sepasang pengantin baru itu berbulan madu ke Australia. Menikmati indahnya panorama di Mindil Beach. Pantai Mindil adalah sebuah pantai di Wilayah Utara Australia yang terletak di pinggiran The Gardens yang terletak di dekat kawasan pusat bisnis Darwin. Salah satu pantai yang memiliki lembayung yang indah.


Agra baru saja keluar kamar mandi dengan bertelanjang dada saat Deeva sedang menyisir rambutnya didepan cermin, cepat-cepat dia memalingkan wajahnya. Agra lebih dulu menangkap prilaku istrinya itu. Sifat jahilnya muncul. Dia sengaja mendekati Deeva dan memeluknya dari belakang.


"Ada apa, Sayang? Apa suamimu terlalu sexy hingga membuat wajah mu merah seperti tomat?"


"Pakai bajumu, Kak."


"Apa perlu ku lepaskan handuk ini, Sayang?" bisiknya ditelinga Deeva. Perempuan cantik itu menoleh dan mencubit perut suaminya. Agra hanya cekikikan dibuatnya. Dia makin jadi menggoda Deeva.


"Kenapa kamu malu, Sayang. Aku kan suamimu. Walaupun suamimu bukan mahrom mu tapi suamimu lebih berhak atas tubuhmu. Berhak melihat dan menyentuh tubuh mu. Begitupun sebaliknya, kamu punya hak yang sama atas tubuhku. Atas perhatian dan kasih sayangku. Jadi mulai sekarang kamu harus membiasakan diri berada disisiku. Dampingi aku sepanjang sisa hidupku, Sayang."


Agra membalikkan tubuh istrinya, kini mereka berdua saling berhadapan. Agra menarik pinggang perempuan halalnya itu dengan sebelah tangannya. Deeva hanya memejamkan mata saat dia merasakan benda kenyal itu bermain dibibirnya. Mengajak bibirnya menari-nari.


"Balas aku, Sayang," bisik Agra.

__ADS_1


Deeva mengalungkan kedua lengannya pada leher laki-laki halalnya itu. Tangan Agra sebelah memegang kepala istrinya. Mereka memadu kasih dalam ikatan sah dan halal. Menikmati keindahan cinta diujung lembayung senja sampai matahari pagi datang menyapa mereka.


Agra mengecup pipi Deeva saat membuka matanya. Deeva yang duduk ditepi tempat tidur terkejut lalu menoleh pada suaminya.


"Terima kasih, Sayang. Kamu menjadikan aku orang yang pertama mendapatkannya." Agra menunjuk bercak darah yang ada diseprai. Deeva hanya tersenyum malu-malu karena hanya Agra, suaminyalah, yang dia berikan mahkota kebanggaannya itu.


******


Mereka mengelilingi kota Darwin - Australia, kota ini dinamakan Darwin untuk menghormati Charles Darwin, ilmuwan yang mengemukakan teori evolusi , dan pernah mendarat di kota tersebut. Namanya juga kemudian diabadikan menjadi nama universitas di Darwin, Charles Darwin University. Berbeda dengan sejumlah kota di negara bagian lainnya, seperti Melbourne atau Sydney, suhu Darwin cenderung panas. Suasananya sepi. Toko-toko biasanya sudah mulai tutup sekitar jam 18.00-19.00 waktu setempat. Setelah itu, kehidupan malam dimulai.


Meski demikian, Darwin harus tetap menjadi pilihan yang masuk dalam daftar kunjungan jika berniat menjelajah benua Australia. Kedatangan mereka di kota Darwin disambut langit senja ungu dan merah jambu. Pemandangan sunset cantik ini menemani mereka yang berjalan-jalan ditepi pantai. Disini tempat para wisatawan berburu suset yang indah. Namun suasana malam di kota Darwin cukup ramai, terutama anak-anak muda yang berpesta di pub. Di jalan-jalan utama banyak akomodasi dan kios tur untukĀ backpacker. Becak-becak modern berseliweran mencari penumpang.


Deeva memandang ujung langit yang menguning dari balkon kamar hotelnya. Cantik warnanya memendarkan keindahan ujung hari.


"Sayang, kenapa melamun?" tanya Agra lembut sambil memeluk istrinya dari belakang.


"Kak ... "


"Kak Agra ingat tidak, waktu pertama kali kita ketemu di pantai?"


"Ingat. Waktu istriku ini masih jadi anak ingusan yang cengeng"


Deeva menoleh pada Agra, dia memonyongkan bibirnya tanda protes nya pada suaminya. Agra gemas dibuatnya. Dia mencium pipi perempuan halalnya itu.


"Sekarang dilembayung yang sama kita bersama-sama lagi dengan status yang berbeda. Aku tak menyangka kalau takdir akan mempersatukan kita."


"Karena Tuhan tahu betapa besar kekuatan cinta kita sayang. Aku dan kamu. Dan lembayung ini jadi saksi bisu kisah kita."


"I love you, Kak"


"I love you too, honey"

__ADS_1


******


Tatapan langit begitu indah


Saat semesta menenun kain pelangi diujung senja


Mencari seburat kebahagian dibalik hujan


Sang Aku hanya terdiam


Menatap kagum dalam senyum Sang Lembayung


Aku dan kamu masih tetap disini


Menorehkan sebuah kisah dan janji


Meminta restu Sang Semesta


Yang merangkul langit dalam kedamaian


Aku dan kamu saling bergandengan tangan


Meniti lagi setapak kehidupan yang akan kita laju


Lembayung senja menjadi saksi perikatan janji aku dan kamu


Kita berdua.


Luna Hanayuki - Diujung Lembayung


******

__ADS_1


T. A. M. A. T.


__ADS_2