Diujung Lembanyung

Diujung Lembanyung
Rindu Dan Cemburu


__ADS_3

Malam ini bulan purnama tergantung dilangit tak berbintang. Deeva duduk di sofa santai dalam kamarnya. Tangannya asik memainkan gawainya, melihat lagi foto-foto kenangannya bersama Agra. Diatas mejanya ada sebuah foto dia bersama Agra yang selalu ada dalam dompetnya.


Tok ... Tok ...


Cekreeeeekkk ...


"Belum tidur, Sayang?" ucap Junan saat melihat Deeva yang masih terjaga.


"Belum, Pi"


Junan mendekat pada Deeva dan duduk bersisisan dengan putri kesayangannya. Mata Junan melirik foto yang terselip pada dompet Deeva yang tergeletak diatas meja. Junan mengambilnya, lalu menoleh pada Deeva.


"Kamu menyayangi laki-laki ini?" tanya Deeva.


Deeva tersenyum kecil dia menyandarkan kepalanya pada pundak Junan. Lengusan nafasnya terdengar berat.


"Deeva tidak tahu, Pi. Awalnya Deeva hanya menganggap Kak Agra sebagai teman saja, tidak lebih. Dia baik dan juga perhatian. Walaupun Kak Agra berkali-kali menyatakan perasaannya tapi Deeva tak pernah menanggapinya dengan serius. Tapi setelah kepergian Kak Agra ke Australia, entah kenapa hati ini terasa sedih dan sakit. Deeva bingung, Pi. Ada apa ini? Kenapa saat jauh dari Kak Agra hati ini jadi tidak tenang dan gelisah," papar Deeva.


Junan hanya tersenyum menanggapi curhatan putri cantiknya, tangan kokohnya membelai lembut kepala gadis kecilnya itu. Dia paham apa yang Deeva rasakan, rupanya putri kecilnya ini sedang jatuh cinta, sedang dilanda rindu pada laki-laki pujaannya.


"Kamu rindu pada laki-laki itu, Sayang?" tanya Junan kemudian. Deeva mengangkat kepalanya dia menatap papinya dan mengangukkan kepalanya perlahan. Dia tertunduk.


Rindu. Benar. Deeva saat ini benar-benar merindukan sosok Agra yang lama tidak ditemuinya. Sosok laki-laki yang tanpa disadarinya selalu mengisi ruang kosong dihatinya.


"Sayang ... " panggil Junan.


Deeva mengangkat kepanya. Dia menatap papi nya. Kedua mata mereka bertemu.


"Kamu sekarang sudah dewasa. Bukan lagi putri kecil papi yang dulu selalu papi gendong-gendong. Kamu tumbuh menjadi perempuan anggun kesayangan papi. Suatu saat pasti ada laki-laki yang akan membawamu pergi dari pelukan papi. Jika saat itu tiba, mau tidak mau, suka tidak suka, papi harus rela melepaskan mu kepelukan laki-laki lain. Entah apakah saat itu papi akan sanggup melawan rasa cemburu papi melihat gadis kecil papi dulu bersama laki-laki pilihanmu itu," sejenak Junan mengambil nafas dan mengisi paru-parunya dengan oksigen segar.


"Sayang, kamu berhak memilih dan jatuh cinta pada siapapun. Hanya saja papi berpesan jaga diri dan kehormatan mu, Sayang. Papi tak ingin kamu rusak sebelum ada laki-laki yang berani menghalalkanmu. Ingat, Sayang. Jika laki-laki itu sayang padamu, dia tak akan pernah main-main. Dia akan menikahimu, karena dengan menikahi perempuan yang dia sayangi adalah bukti rasa sayang dan cinta seorang laki-laki," papar Junan lagi.


"Papi ... tidak marah sama Deeva, jika Deeva bersama Kak Agra?" tanya Deeva.


"Tidak, Sayang. Jika memang itu pilihanmu papi tak akan melarang, selama laki-laki itu punya itikad baik padamu dan tidak kurang ajar padamu. Bagi papi perasaanmu dan juga kebahagianmulah yang paling utama. Jika kamu bahagia papi akan sangat bahagia."

__ADS_1


Mata Deeva mulai menggenang, dia memeluk Junan dengan erat. Membenamkan dirinya dalam hangatnya dada bidang laki-laki hebat yang telah membawanya ke alam dunia ini. Laki-laki hebat yang paling dia sayangi.


"Terima kasih, Pi. Deeva sayang Papi," ucap Deeva yang masih membenamkan diri dalam pelukan papinya.


"Papi juga sayang kamu, Sayang," ucap Junan sambil mencium pucuk kepala putri cantiknya itu. Dengan tangan besarnya dia menghapus airmata yang berjejak di kedua pipi Deeva.


"Tidurlah, Sayang. Sudah malam."


Deeva mengangukkan kepalanya. Dia menyimpan gawai dan dompetnya dinakas. Lalu dia naik ketempat tidur. Junan menarik selimutnya hingga menutupi sebagian tubuh cantik putrinya.


"Selamat tidur, Sayang." ucapnya sambil memberi kecupan selamat malam pada bidadari kecil kesayangannya.


******


Hari ini Deeva tidak ada mata kuliah. Dia hanya menghabiskan waktunya mencari beberapa literatur untuk tugas kuliahnya itu. Puas berkeliling toko buku, Deeva melanjutkan perjalanannya pulang kerumah. Hari sudah hampir senja. Matanya terhenti saat melewati sebuah taman, dia melihat mobil hitam kesayangan Agra terparkir disekitar situ. Deeva menghentikan taxi onlinenya, setelah membayarnya dia turun dan mencari tahu keberadaan pemilik mobil itu.


Dari sudut taman Deeva melihat seseorang yang dia paham benar bayangannya, Agra, bersama seorang perempuan. Entah apa yang mereka bicarakan. Perempuan itu menangis lalu memeluk Agra. Hancur hati Deeva melihat semua itu, tanpa disadarinya airmatanya sudah mengalir deras. Sadar ada seseorang yang memperhatikan mereka, perempuan itu melepaskan pelukannya dan memandang ke arah Deeva. Agra menoleh dan betapa terkejutnya dia melihat Deeva ada disana.


"Sayang ..." panggilnya.


Namun hati Deeva terlanjut gelap oleh rasa amarahnya bercampur sedih. Dia berlari meninggalkan Agra tanpa bicara sepatah kata pun. Agra tentu tak membiarkan itu terjadi. Dia mengejar perempuan yang sedang hancur hatinya itu. Langkah kaki Agra yang lebar mempermudah dia berlari lebih ceoat dan mendahului Deeva.


"Kamu jahat, Kak. Kak Agra menghilang berbulan-bulan. Tak membalas pesanku. Tak menjawab panggilan ku. Sekarang ... Sekarang Kak Agra tiba-tiba muncul bersama perempuan itu. Jahat ..." isak Deeva dipelukan Agra.


"Maaf, Sayang. Begitu banyak yang harus aku kerjakan. Bahkan terkadang makan pun aku tak sempat. Aku ingin sesegera mungkin kembali bersamamu disini. Maafkan aku" Agra membelai lembut rambut Deeva dan mencium pucuk kepalanya.


"Siap perempuan itu, Kak?" tanya Deeva.


"Perempuan itu?"


"Hmm ... "


"Sepenting itukah dia untuk mu, Sayang."


"Ya, sudah kalau Kak Agra tidak mau menjawabnya. Aku tidak akan memaksamu."

__ADS_1


Adeeva melepaskan pelukannya lalu memalingkan wajahnya dari Agra. Dia mengusap airmatanya. Agra tersenyum lalu memegang pundak Deeva, memeluknya dari belakang.


"Apa dia begitu mengganggumu, Sayang? Kamu cemburu?"


Deeva menoleh pada Agra yang menyandarkan kepalanya dibahunya. Agra makin mengeratkan pelukannya.


"Cemburu?"


"Hmm ... "


"Tidak. Aku tidak cemburu."


Agra mencium pipi Adeeva, perempuan cantik itu tak dapat menghindari kecupan Agra yang mendarat dipipinya. Agra memegang pundak Deeva lalu membalikkannya. Mereka saling berhadapan. Tangan besar dan lembut Agra memegang dagu Deeva.


"Aku senang kamu cemburui seperti itu, Sayang."


"Aku tidak cemburu, Kak ... " sewot Deeva.


"Kamu cemburu, Sayang. Kamu marah karena kamu sayang padaku, bukan? Aku suka kamu perlakuan begitu. Artinya kamu sayang padaku."


"Itu bukan jawaban yang aku inginkan, Kak."


"Baiklah, Sayang. Dia Rani. Mantan pacarku"


Deeva menoleh. Dia terkejut mendengar pengakuan Agra.


"Hari ini dia menemuiku untuk meminta maaf karena telah meninggalkan ku dan menikah dengan laki-laki lain. Tidak ada yang istimewa. Kami sudah lama berpisah. Sudah enam tahun dan dia sekarang istri orang, Sayang," papar Agra.


"Kak Agra tidak bohong?" selidik Deeva.


"Demi Tuhan ... atau demi apapun aku berani bersumpah. Aku mengatakan yang sejujurnya, Sayang. Kamu percaya padaku, Bukan?"


Huuuhhh ... Deeva menghela nafas panjang dia merasakan ada kejujuran dari aliran nafas Agra.


"Ya ... aku percaya padamu, Kak."

__ADS_1


"Terima kasih ya ... Sayang."


******


__ADS_2