
Dengan susah payah mereka berusaha keluar dari kamar itu. Semua akses keluar terkunci. Rey tak bisa mendobrak nya kerena arah pintu berbeda. Akhirnya mereka terpaksa cari cara merusak gagang pintu dan kuncinya. Setelah setengah jam berusaha, akhirnya mereka terbebas dari ruangan bedebah itu. Cepat-cepat mereka naik kemobil dan pergi meninggalkan tempat yang memiliki kenangan buruk semalam itu.
"Sekolahmu sedang libur kan, Dek?" tanya Rey dalam perjalanan.
"Iya, Kak."
"Kalau begitu kamu menginap saja dirumah Kak Rey, biar Kak Rey yakin dengan keselamatan mu."
"Menginap?" tanya Deeva.
"Ya, kalau kamu dirumah, Kak Rey bisa memantau mu dan bisa meyakinkan keselamatan dengan mata kepala Kak Rey sendiri."
Satu jam kemudian mereka baru sampai dirumah keluarga Caesar. Rey turun dan membukakan pintu untuk Deeva. Junan yang hendak berangkat kekantornya berpapasan dengan putranya itu.
"Pagi, Pi ..." sapa Rey
"Pagi, Rey.... Dari mana saja kamu semalam tidak pulang?" Junan melirik pada Deeva.
"Panjang ceritanya, Pi. Nanti saja Rey cerita. Dan hari ini Rey tidak kekantor dulu. Oiya, Pi.... Kenalkan ini Deeva. Teman Rey."
Deeva dengan sopan mengambil uluran tangan Junan dan mencium punggung tangannya.
"Ya, sudah ... Papi berangkat kekantor dulu. Nanti malam saja kita bicaranya." Junan masuk kedalam mobilnya.
Dengan cekatan sang supir mengendalikan mobilnya lalu keluar dari halaman rumah besar itu. Mereka masuk kerumah dan Rey mengantarkan Deeva kekamar tamu.
Cekreeeeekkk ...
"Istirahatlah, Dek. Tenangkan hatimu. Kak Rey akan menjamin keselamatan mu disini," ucap Rey sambil memegang kedua pipi Deeva.
"Terima kasih ya, Kak. Kak Rey sudah menjaga dan melindungi aku. Aku selalu menyusahkan Kak Rey."
"Tidak, Sayang ... kamu tidak menyusahkan Kak Rey. Kamulah perempuan yang ingin Kak Rey lindungi didunia ini"
Rey mendekatkan bibirnya pada Deeva, mencium dengan lembut bibir manis perempuan muda itu. Deeva memjamkan matanya saat benda kenyal itu menyentuh bibir ranumnya.
******
Hari sudah mulai senja, saat Deeva membuka matanya. Kasur empuk dan ruangan ber-AC membuatnya nyaman dan tidur dengan nyenyak. Dia masih enggan untuk turun daru kasurnya. Begitu berat dia melepaskan pelukan pada guling empuk itu. Deeva melirik pada jam yang tergantung dinding. Pukul empat sore.
Huuuhhh ...
Mau tak mau dia bangun dari tidurnya. Membuang semua rasa malas dihatinya. Dia berjalan keluar kamar.
Cekreeeeekkk ...
Sepi sekali. Dia menoleh kesisi kanannya. Diujung ruangan itu terdapat sebuah ruang keluarga besar dengan sofa empuk di tengahnya. Dia berjalan menuju kesan, terus membuka pintu balkon lantai atas yang ada diujung ruangan itu. Dari atas sana Deeva melihat keindahan arsitektur rumah itu, serta taman bunga yang indah dibelakang rumah.
Cukup lama dia memandangi keindahan itu, sampai dia tersadar dengan suara deru mobil yang datang dari arah gerbang. Deeva paham sekali mobil yang datang itu. Mobil kesayangan Reynand Surya Caesar.
Laki-laki itu turun dari mobilnya dan tersenyum kearah Deeva. Lalu dia masuk kedalam rumah dan tak lama Rey pun tiba di lantai atas.
"Sudah bangun, Dek?" tanya Rey
"Ya, Kak. Kak Rey dari mana?" tanya Deeva balik.
"Ini untukmu. Kak Rey beli beberapa pakaian untuk mu. Kamu perlu pakaian ganti bukan? Disini tidak ada pakaian perempuan. Masa iya kamu mau pakai baju, Kak Rey?"
__ADS_1
"Bisa, Kak. Bisa tenggelam aku kalau pakai baju Kak Rey yang kebesaran," celotehnya.
Hahahaha ...
Rey tertawa renyah mendengar kelakar perempuan yang berdiri dihadapannya. Dia menyerahkan papper bag itu pada Deeva.
"Ya, sudah... Bersihkan dirimu dan pakai ini."
Deeva mengambil paper bag itu lalu kembali kekamarnya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Dari bawah tangga Junan yang baru saja sampai dirumah mendengar tawa Rey, dia melangkahkan kakinya menuju kesana.
"Tawa mu kencang sekali, Rey. Tampaknya kamu sedang bahagia," ucap Papinya mendekat.
"Ah... Papi sudah pulang. Papi dengar pembicaraan Rey tadi?"
"Tidak. Hanya saja tawamu terdengar sampai pintu masuk. Ada angin bahagia apa rupanya?"
"Semoga saja kabar bahagia, Pi," jawab Rey tersenyum.
Junan Hariz Caesar, Papi Rey, seorang laki-laki bertubuh tinggi tegap. Pundaknya yang lebar serta tangannya yang besar dan kuat menunjukkan wibawa laki-laki berusia lima puluh enam tahun itu. Dari garis wajahnya terlihat masih ada sisa-sisa ketampanan wajahnya saat muda dulu, dan sekarang diwarisi oleh putra tunggalnya, Reynand.
"Perempuan tadi pacarmu, Rey?" selidik Junan.
"Tidak. Atau lebih tepatnya belum, Pi."
"Kamu sepertinya tertarik dengan anak itu. Masih muda sekali tampaknya."
"Baru naik kelas tiga SMA," jawab Rey tenang.
"SMA? Papi baru tahu kamu sekarang punya selera unik."
"Hahahahha... Jangan mengejek Rey, Pi."
"Deeva. Adeeva Elora, Pi."
Junan nyaris melompat dari tempat duduknya mendengar Rey menyebut nama itu. Dia menatap Rey, mencoba meyakinkan apa yang dia dengar.
"Adeeva Elora?!" tanya Junan lagi.
"Ya, memang itu namanya. Ada apa, Pi?"
Wajah Junan mendadak pias. Tangannya gemetar. Dia tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Rey ... " panggil Junan pelan
"Ya, Pi.."
"Sudah berapa lama kamu berhubungan dengan anak itu?"
"Rey mengenalnya kurang lebih tiga tahun yang lalu, Pi. Deeva anak yang baik dan cerdas."
"Tiga tahun? Sudah lama sekali. Tapi kamu tidak pernah melakukan hal buruk kepada nya, bukan?"
"Hal buruk? Kami hanya sekedar berciuman. Ya ... Sebatas yang dilakukan laki-laki dan perempuan."
"Hanya itu saja? Tidak lebih?"
"Nyaris, Pi. Nyaris Rey menyerangnya malam itu. Tapi demi Tuhan itu bukan keinginan Rey, itu semua pengaruh obat perangsang."
__ADS_1
"Obat perangsang?!" teriak Junan.
Rey menceritakan apa yang terjadi pada mereka semalam. Makin gemetar Junan mendengar cerita putra tunggalnya itu. Wajahnya makin pias dan berkeringat. Dia berusaha mengontrol emosinya saat mendengar cerita Rey.
"Ya, Tuhan.... Papi nyaris saja membuat kalian melakukan dosa itu. Papi tidak tahu lagi apa yang terjadi nantinya jika benar-benar kalian menjalin hubungan bahkan sampai berbuat dosa itu. Papi sangat bersalah pada kalian" Junan membenamkan tubuhnya lebih dalam disofa.
"Maksud papi apa?"
"Hentikan semua itu Rey, hubungan mu dengan Deeva adalah hubungan dosa. Hubungan terlarang."
"Hubungan terlarang?" Rey mengerutkan kedua alisnya.
"Apa anak itu pernah bercerita dengan mu tentang masalah orang tuanya atau keluarganya?" Junan tak menghiraukan perkataan Rey.
"Deeva hanya mengatakan kalau dia hanya tinggal dengan Bundanya, dia tidak tahu siapa ayah kandungnya. Bunda nya tidak pernah menceritakan siapa ayah kandungnya"
"Ruz tak pernah memberitahukan nya?" tanya Junan lagi.
"Ruz?? Ahh... Ruz memang nama Bunda Deeva. Apa papi kenal? Ada apa dengan semua ini, Pi. Rey sama sekali tidak memahaminya."
"Ruzana Alnaya Ibram. Papi sangat mengenalnya. Anak itu baru saja berumur tujuh belas tahun beberapa hari lalu, bukan?"
"Iya, papi tahu dari mana semua tentang Deeva."
"Tentu saja papi tahu semuanya. Adeeva Elora Caesar. Itulah nama yang Papi berikan pada anak itu saat dia lahir di Frankfurt tujuh belas tahun yang lalu. Dia ..." Junan menghentikan ucapannya.
Dia menarik nafas dalam-dalam. Mengatur sirkulasi udara yang masuk kedalam paru-parunya agar dadanya tidak terasa sesak.
"Maksud ... Papi.. apa?" Rey mulai tak sabar menunggu penjelasan papinya.
"Anak itu adalah putri kandungku. Dia anak kandung papi, Rey."
Kali ini Rey lah yang nyaris berteriak mendengar penjelasan Papinya. Perkataan yang sungguh diluar dugaannya.
"Papi tidak sedang bercanda bukan? Anak kandung?"
"Adeeva Elora Caesar. Dia putri kandung Papi. Adik mu," jelas Junan.
Reynand mencerna lagi kata-kata yang diucapkan papinya, menarik lagi helai demi helai penjelasan Junan.
"Tidak mungkin. Jadi dia anak ... " ucap Rey pelan.
"Dia bukan anak mamimu. Tapi dia adalah anak Papi dan Ruz. Ruzana Alnaya Ibram, ibu kandung Deeva."
"Ya, Tuhan ... Jadi papi ..."
"Papi mengenal Ruz kurang lebih sejak kami masih di SMP, Ruz pindah ke Frankfurt mengikuti kedua orang tuanya, papa Ruz warga negara Jerman. Lama kami tidak pernah berhubungan, sampai sembilan belas tahun yang lalu Papi bertemu lagi dengan Ruz. Lalu setahun kemudian kami menikah secara resmi dimata agama ataupun hukum yang berlaku dikedua negara. Tak lama Ruz hamil dan melahirkan seorang bayi perempuan. Aku berada didekatnya saat dia melahirkan. Dan akulah yang memberikan nama pada anak kami. Adeeva Elora Caesar. Bayi perempuan yang cantik," papar Rey.
"Apa almarhumah mami tahu cerita ini, Pi?"
"Ya, sejak mami mu tahu semua ini. Dia dan kekekmu menutup akses ku untuk menemui Ruz dan putrinya. Bahkan sampai sekarangpun aku tidak mengetahui keadaan Ruz. Deeva waktu itu baru berumur tiga bulan saat Papi pergi meninggalkannya terakhir kalinya. Dan baru kali ini Papi mendengar namanya."
Percakapan mereka terhenti saat Deeva yang sudah berpakaian rapi keluar dari kamarnya. Kedua laki-laki itu menghentikan pembicaraan mereka. Untuk beberapa saat mereka semua terdiam.
"Duduk sini, Dek ... " panggil Rey.
Junan melirik kearah putri bungsunya itu. Dia mengamati dengan jeli tingkah laku kedua anak kandungnya itu. Rey yang baru mengetahui hubungan darah diantara mereka, mencoba bersikap tenang dihadapan adiknya.
__ADS_1
******