
"Pagi, Pi ... " ucap Deeva saat menjumpai Junan dibawah.
"Pagi, Sayang. Sudah siap?" tanya Junan.
"Ya, Pi ... " jawab Deeva.
"Pagi, Pi. Pagi, Sayang ... " sapa Rey yang baru turun tangga.
"Pagi, Kak ..."
"Pagi, Rey. Ayo kita sarapan dulu," ajak Junan.
Untuk kali ini Junan menikmati sarapan terindah dalam hidupnya. Bisanya tak banyak cerita saat sarapan bersama. Kali ini setelah hati Deeva meluluh, banyak keceriaan dan cerita diantara mereka. Wajah Junan tampak berseri.
"Sudah siap, Sayang?" tanya Rey
Deeva mengangukkan kepalanya, dia pamit pada Papinya, mencium punggung tangan Junan, lalu naik kemobil.
Drr ... Drr ...
Klik
Sebuah pesan WhatsApp dari Agra masuk.
"Pagi, Sayang," sapa Agra.
"Ada apa, Kak?"
"Pulang sekolah nanti aku jemput ya? Aku kangen, Sayang."
"Oke"
"I love you"
Kalimat terakhir Agra tak dibalasnya. Dimasukkan ponselnya kedalam tas. Lalu menyandarkan tubuhnya pada kursi mobil. Rey yang berada disebelahnya.
"Nanti pulangnya Kak Rey jemput ya, Sayang," ucap Rey.
"Eeeh ... "
"Kenapa?" tanya Rey.
"Aku pulang sendiri saja ya, Kak?!"
"Pulang sendiri?"
"Iya, aku ada janji dengan teman."
"Teman? Agra?"
"Hmmm ... "
Huuuhh... Rey menghela nafasnya.
Dugaannya tepat rupanya. Dia tahu Agra menaruh hati pada adik bungsunya itu, bukan dia tak menyetujuinya, namun beda usia mereka sangat jauh. Agra tiga tahun lebih muda dari Rey. Dia khawatir Deeva akan terkejebak dengan laki-laki dewasa yang tidak benar.
"Deeva masuk dulu ya, Kak." pamit Deeva sambil mencium punggung tangan kakaknya.
"Yang rajin belajarnya ya, Sayang."
Deeva masuk ke halaman sekolah. Rey memutar mobilnya dan menghilang di keramaian jalan raya.
******
Pukul empat sore Deeva keluar dari sekolahnya. Agra sejak tadi sudah menunggunya di depan gerbang sekolahnya. Deeva paham benar mobil kesayangan Agra yang sudah terparkir disana. Tanpa banyak tanya Deeva membuka pintu mobil itu.
__ADS_1
"Hi ... Sayang, gimana sekolahnya?"
"Biasa saja, Kak," jawab Deeva.
"Kenapa begitu, Sayang?" tanya Agra lagi.
"Ya, seperti biasanya. Melelahkan. Apalagi mendekati UN ini."
"Jaga kesehatan ya, Sayang. Aku tidak mau kamu sakit nanti"
"Ayo, pulang Kak."
"Oke ... "
Agra menghidupkan mobilnya. Lalu mengemudikannya dengan kecepatan sedang. Cukup dengan tiga puluh menit dia sudah sampai dirumah keluarga Caesar. Agra menahan tangan Deeva saat perempuan manis itu hendak turun dari mobilnya.
"Sayang ... " panggil Agra.
"Ya, Kak ... "
"Aku mau bicara sebentar,"
"Bicara apa, Kak?"
"Bulan depan Papa memintaku membantu Kak Dave di Australia, mengurus perternakannya disana. Peternakan itu tadinya dikelola oleh almarhum Paman, jadi sejak dia meninggal setahun yang lalu semuanya terbengkalai. Papa memintaku mengurus perternakannya lagi," papar Agra.
"Aku tak tahu sampai kapan aku bisa menyelesaikan permasalahannya. Paling tidak sampai semuanya bisa berjalan seperti semula. Mungkin setahun, dua tahun atau ... "
Agra diam. Dia melihat tatapan mata Deeva yang meredup.
Manik mata mereka saling bertemu. Ada kesedihan didalam cahaya keduanya. Sejenak mereka terdiam.
"Aku takut meninggalkan mu disini sendiri. Aku takut kehilanganmu, Sayang."
"Mungkin lebih."
Deeva menahan hatinya sekuat mungkin, dia berusaha agar tidak menangis didepan Agra. Dia memang mengatakan lebih nyaman dengan friendzone dari pada harus punya hubungan, namun hatinya tak bisa berdusta. Seringkali ada Agra yang menghiasi mimpi-mimpinya.
Tiiin .... Tiiinn ...
Suara klakson mobil memecah romansa mereka berdua. Mobil Rey masuk dan berhenti tepat disisi mobil Arga. Deeva buru-buru turun dari mobil dan menghampiri Rey.
"Baru pulang, Sayang?" tanya Rey lembut.
"Ya, Kak ... "
Rey menoleh pada Agra pandangan mata Rey agak tidak bersahabat. Dia masih sebal dengan kejadian terakhir mereka bertemu. Agra pun sepertinya siap menghadapi serangan tajam mata calon kakak iparnya. Calon kakak ipar? Ya, Agra yakin kalau suatu saat Deeva akan menjadi miliknya.
"Terima kasih sudah mengantarkan Deeva dengan selamat," ucap Rey berbasa-basi.
"Tenang saja. Selama bersamaku, Deeva tak akan kurang satu apapun. Aku adalah orang yang bertanggungjawab atas apa yang aku perbuat "
"Bagus kalau begitu. Aku senang mendengarnya."
"Aku permisi," ucap Agra.
Lalu dia menoleh kearah Deeva dan tersenyum, Deeva membalas senyumannya. Dalam hitungan menit Agra sudah keluar dari gerbang rumah keluarga Caesar.
*****
"Kak Rey ini apa-apaan sih?!" protes Deeva didalam rumah.
"Ada apa, Sayang? Kenapa marah-marah begitu pada Kak Rey?"
Huuuhhh... Deeva melenguskan nafasnya.
__ADS_1
"Kenapa tadi Kak Rey bersikap tidak ramah pada Kak Agra?"
"Kak Rey ramah kok, Sayang."
"Tatapan mata Kak Rey tadi itu sangat membuat aku tak enak hati pada Kak Agra. Tak bisakah Kak Rey sedikit bersahabat dengan Kak Agra."
"Bersahabat? Akan Kak Rey pikirkan," Rey membuang pandangannya kearah lain.
"Kak ... Seriuslah sedikit," pinta Deeva.
"Baiklah. Kak Rey hanya mengantisipasi saja. Kak Rey harus pastikan kalau laki-laki itu akan bersikap baik dan tidak kurang ajar padamu."
"Kurang ajar? Kak Agra tidak pernah seperti itu padaku, Kak ... " bela Deeva.
"Kak Rey ini laki-laki, Sayang. Kak Rey tahu dia punya perasaan yang lebih padamu. Cara dia memandang mu, cara bicaranya padamu, cara dia memperlakukan mu, Kak Rey paham kalo dia mencintaimu. Bagaimanapun juga dia laki-laki normal, bukan. Kak Rey tidak mau terjadi apa-apa dengan kamu," papar Rey.
"Kak Agra tidak seburuk itu, Kak. Dia laki-laki yang baik."
"Itu menurut mu yang sedang mabuk cinta padanya."
"Apa?!" ucap Deeva setengah berteriak.
Mereka menghentikan perdebatannya saat Junan datang dan melihat perbuatan kedua kakak adik itu. Mereka saling mengalihkan perhatian masing-masing, membuat Junan semakin curiga.
"Ada apa ini? Kalian kenapa bertengkar?
Suara kalian terdengar sampai keluar." selidik Junan.
Mereka berdua terdiam, tidak ada satupun yang berani menjawab pertanyaan Papi mereka. Akhirnya Deeva pamit kembali kekamarnya.
"Ada apa, Rey? Kalian berdua bertengkar?" tanya Junan.
"Tidak, kami cuma beda argumen saja, Pi ... " jawab Rey.
"Beda argumen? Tentang apa?"
"Arga. Laki-laki yang mendekati Deeva."
Junan menghentikan langkahnya yang sudah ditengah tangga. Dia menoleh pada Reynand.
"Laki-laki yang mendekati adikmu? Siapa dia?"
"Agra Roberto Meshach. Putra bungsu keluarga Meshach."
"Meshach. Jadi dia anak Daniel."
"Benar, Pi."
"Bagaimana adikmu bisa mengenal laki-laki itu?"
"Entahlah, Pi. Sepertinya mereka sudah lama mengenal."
"Papi senang kalau kamu perhatian pada adikmu. Papi harap itu benar-benar bentuk perhatian seorang kakak terhadap adiknya. Bukan rasa cemburu seorang laki-laki terhadap perempuan, Rey."
Reynand terdiam sesaat.
"Tidak, Pi. Rasa itu sudah lama hilang. Dan Rey cukup tau norma. Papi tidak usah khawatir masalah itu."
"Bagus. Papi percaya padamu. Beristirahat lah."
"Selamat malam, Pi," ucap Rey.
Junan hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia menuju kamarnya dan tidur.
******
__ADS_1