Diujung Lembanyung

Diujung Lembanyung
Kakak Beradik


__ADS_3

Sudah lewat tengah malam, udara malam semakin dingin, namun Rey masih saja berdiri dibalkon lantai atas. Menatap langit yang seolah hendak dia gapai.


"Deeva ... Takdir ini seolah mempermainkan kita. Bertahun-tahun kita sedekat ini, namun kenapa baru sekarang aku tahu kalau kamu adalah adikku. Adik sedarah. Adik seayah. Ya. .. Tuhan, apakah aku bisa melupakan mu sebagai perempuan yang pernah ada dihatiku, Dek??" batin Reynand bertarung hebat.


Rasa sayang dan cinta nya kepada Deeva sebagai seorang perempuan bertarung hebat dengan akal sehatnya yang mengetahui kebenaran bahwa mereka adalah bersaudara. Dan itu artinya dia harus membunuh perasaannya sebagai seorang laki-laki terhadap Deeva.


Huuuhhh ... lengsus nafasnya memecah malam. Rey menyandarkan tubuhnya ditembok.


"Belum tidur, Rey?" tanya Junan yang tiba-tiba muncul.


"Tidak bisa tidur, Pi ... " jawab Rey.


"Mana adikmu? Dia sudah tidur?"


"Hmmm .... "


"Rey ... Papi tahu apa yang kamu pikirkan. Tapi kamu harus berusaha menerima kenyataan ini. Kalian bersaudara, sedarah. Sama-sama anak kandung papi. Papi yakin kamu bisa melewati semua ini, Rey. Tugas mu sekarang sebagai anak laki-laki tertua dikeluarga adalah menjaga adikmu dengan baik. Papi percaya padamu, Rey."


"Ya, Pi. Rey akan berusaha. Walaupun itu sulit, merubah haluan hati ini, tapi Rey senang Deeva adalah adik Rey. Rey janji akan menjaga dan melindunginya dengan baik," janji Rey sebagai seorang kakak.


Junan tersenyum, dia mengalihkan pandangannya pada taman bunga di halaman, lalu kembali menatap langit. Bukan hanya Rey saja yang bingung menghadapi kenyataan ini, Junan pun tak kalah bingung nya. Dia tak tahu bagaimana harus bersikap pada Deeva nanti.


"Pi ..." panggil Rey.


Junan menoleh. Dia menatap Rey dengan mata sedihnya.


"Bagaimana selanjutnya, Pi? Cepat atau lambat Deeva pasti tahu kebenaran ini," ucap Rey lagi.


"Kamu benar, Rey. Deeva berhak tahu kebenaran ini. Namun jujur, Papi takut menghadapi kenyataannya nanti. Papi takut kalau dia menolak semua ini. Wajar kalau Deeva marah dan benci dengan papi. Dan papi tak tahu apakah akan sanggup menghadapi kemarahan dan kebenciannya nanti." Junan berusaha mengontrol emosinya.


Dadanya terasa penuh dengan sesak penyesalan dan kerinduan pada putri cantiknya itu. Dua laki-laki itu terdiam. Saling berbagi dengan kesunyian malam itu sampai harus menyerah dengan rasa kantuk yang mulai datang.


******


Deeva yang sudah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian keluar dari kamarnya. Dia tak melihat adanya mobil Rey didepan.


"Apa Kak Rey sudah pergi sepagi ini?" batinnya.


"Pagi, Deeva ..." sapa Junan yang baru turun dari lantai dua.


"Pagi, Oom..." senyum manis mengukir dibibir Deeva membalas salam Junan.


"Apakah Kak Rey sudah berangkat, Oom?" tanya Deeva


"Hmmm ... "

__ADS_1


"Sepagi ini?" gumam Deeva.


"Ya, tadi Rey mengatakan ada sesuatu hal penting yang harus dia kerjakan."


Deeva mengangukkan kepalanya, dia tak paham apa hal penting yang mengharuskan Rey pergi sepagi ini. Dia hanya saja merasa canggung bersama Junan.


"Kamu sudah sarapan?" tanya Junan.


"Belum."


"Kalau begitu kita sarapan dulu. Tak usah menunggu Rey, mungkin dia akan pulang lewat tengah hari nanti."


Benar dugaan Junan, putra sulungnya itu baru kembali selepas makan siang. Rey langsung mengajak Papinya bicara empat mata dikamarnya. Deeva yang mulai merasa bosan, berjalan-jalan dihalaman belakang rumah seorang diri. Dia berjongkok memandang setangkai mawar putih yang ramai menghiasi kebun belakang. Deeva sangat suka mawar putih.


"Kalian cantik sekali," ucapnya pada bunga-bunga itu sambil tersenyum.


"Kamu suka bunga, Deeva?" tanya Junan yang datang menghampirinya.


"Iya, mereka cantik-cantik sekali. Terawat dengan baik. Aku suka sekali mawar putih."


"Mawar putih?" tanya Junan.


"Seperti mawar merah yang kerap diidentikkan dengan cinta dan keromantisan, bunga mawar putih juga mempunyai makna tersendiri. Ia biasa dipakai sebagai simbol dalam melambangkan kesucian atau kemurnian, kepolosan, dan rasa simpati. Bunda juga suka sekali bunga ini. Bunda pernah bilang mawar putih ibarat bunga melati yang banyak digunakan untuk prosesi pernikahan tradisional. Bunga ini dinilai mampu mewakili penyatuan, keutamaan, kehormatan, dan kemurnian cinta. Selain cinta, bunga ini juga dikaitkan sebagai simbol penghormatan terakhir untuk sosok tercinta yang telah tiada," papar Deeva dengan mata yang berbinar-binar.


"Bunda mu orang yang sangat cantik dan lembut. Dia memang menyukai bunga itu dari sejak kecil. Karena dia dibesarkan diantara budaya Eropa yang menyukai bunga itu sebagai lambang dari perasaan," ucap Junan.


"Aahh... Tidak hanya menebak saja. Sepertinya begitu bukan?"


"Tapi kenapa tebakan tadi semuanya benar? Tentang Bunda, kesukaan, dan juga tentang Bunda yang dibesarkan di Eropa."


"Warna matamu, Deeva," jawab Junan tenang.


"Eeh... Warna mataku?"


Junan menoleh dan tersenyum pada putri cantiknya. Sebenarnya dia juga tak siap menghadapi pertanyaan Deeva itu yang heran akan ucapannya yang kelepasan tadi.


"Jika diperhatikan dari dekat, warna matamu keabu-abuan, sedikit berbeda dari perempuan lokal lainnya. Itu menandakan adanya darah campuran yang mengalir dari dalam tubuhmu. Mungkin dari kedua orang tuamu ataupun kakek nenekmu."


"Waahh... Hebat. Tebakan Oom jitu sekali. Kakekku memang orang Jerman. Aku lahir di Frankfurt, Jerman."


"Asik sekali mengobrol nya," sela Rey yang baru saja keluar dengan wajah segar sehabis mandi.


"Kak Rey dari mana?" tanya Deeva.


"Ada sedikit urusan mendadak tadi pagi, kak Rey buru-buru jadi tak sempat mengabarimu, Dek."

__ADS_1


Drrr .... Drrr ....


Gawai Junan berteriak nyaring. Memecah lagi obrolan mereka bertiga.


Klik ...


"Hallo... Good morning Mr. Caesar. I am Stave Brown from ICPO," sapa seseorang diujung teleponnya.1)


"Morning, Mr. Brown ... " sapa Junan 2)


"I inform you that, Based on your report, we have arrested Bennett and his accomplices in France. It suported by a good coordination from Indonesian Police and France Police Departmen." 3).


"That is a good news, Sir. I am glad so much by hearing this. Thank you for everything," ucap Junan dengan mata bercahaya penuh kemenangan. 4)


"You are welcome, Mr. Caesar. For handling there we leave it to the Indonesian police. Thank you for your cooperation, your information help us, Mr. Caesar." 5)


Klik ...


Senyuman puas terukir diwajah Junan setelah menerima kabar dari ICPO.


"Ada apa, Pi?" tanya Rey yang memperhatikan perubahan raut wajah papinya.


"ICPO berhasil meringkus Bennett dan komplotannya di Prancis, dia pasti akan mendapat hukuman yang setimpal."


"Bennett?" tanya Deeva sambil mengerutkan alisnya.


"Kak Rey menceritakan semuanya pada papi. Lalu papi menghubungi temannya yang ada di ICPO, dan akhirnya mereka berhasil meringkus Bennett dan komplotannya," jelas Rey.


"ICPO itu apa kak?" tanya Deeva.


"International Criminal Police Organization dalam bahasa Indonesia disebut Organisasi Polisi Kriminalitas Internasional, atau lebih dikenal dengan alamat telegraf listriknya, Interpol, Dek ... " jelas Rey.


Adeeva membulatkan bibirnya tanda paham dengan penjelasan Rey. Artinya dia sedikit tenang dengan semua ini.


******


Terjemahan


"Hallo... Selamat pagi tuan Caesar. Saya Stave Brown dari ICPO," sapa seseorang diujung teleponnya.


"Selamat pagi, Tuan Brown..." sapa Junan


3) "Saya memberi tahu Anda bahwa, Berdasarkan laporan Anda, kami telah menangkap Bennett dan kaki tangannya di Prancis. Hal itu didukung oleh koordinasi yang baik dari Kepolisian Indonesia dan Departemen Kepolisian Prancis."


4) "Itu berita baik, Tuan. Saya sangat senang mendengar ini. Terima kasih atas segalanya."

__ADS_1


5). "Sama-sama, Tuan Caesar. Penanganan kasus yang terkait disana, kami serahkan kepada polisi Indonesia. Terima kasih atas kerja sama Anda, informasi Anda membantu kami, Tuan Caesar."


******


__ADS_2