Diujung Lembanyung

Diujung Lembanyung
Dua Hati Yang Terdiam


__ADS_3

Minggu pagi yang indah, rindang pepohonan yang sejuk menaungi kedamaian alam di panti. Deeva sedang asyik bermain bersama beberapa anak panti dihalaman. Semilir sejuknya angin membuat suasana semakin lembut dan damai.


"Deeva ... " sapa Natalie, salah satu temannya di Embassy of the Federal Repulic of Germany yang dikenalnya saat masih SMA. Natalie yang berkewarganegaraan Jerman itu bekerja di kedutaan besar Jerman. Bahasa nya cukup lancar namun jika bersama Deeeva, dia terbiasa berbahasa Jerman.


"Später am Nachmittag wird es einen Spender geben, der kommt, um eine Spende zu machen. Ich habe für eine Minute draußen Geschäfte. Später am Abend werde ich wieder kommen. und helfen Sie dem Spender gut zu dienen," ucap Natalie. 1)


"Mach dir keine Sorgen, Natalie. Ich werde dem Spender helfen. Sei vorsichtig auf dem Weg. Ich sehe dich diesen Abend ," jawab Deeva sambil tersenyum 2)


Natalie pergi meninggalkan Deeva sendiran dihalaman. Ada beberapa pengasuh panti lainnya yang bersama saat itu. Deeva duduk diteras sambil memandang keceriaan anak-anak panti bersama pengasuh lainnya. Matahari mulai naik saat sebuah mobil memasuki halaman pangi. Dari dalam nya keluar seorang laki-laki tua namun berbadan tegap dan masih terlihat gagah. Mungkin dia sebaya dengan Junan, Papinya. Laki-laki itu turun dan menghampiri Deeva.


"Permisi Nona, saya Daniel. Saya sudah janji untuk bertemu dengan Nona Natalie siang ini," ucap laki-laki tadi. Deeva menoleh dan tersenyum. Lalu dia bangun dari duduknya dan menghampiri laki-laki itu.


"Mohon maaf, tadi Natalie sedang keluar. Dia sudah menitipkan pesan bahwa akan ada seorang donatur yang datang. Apakah itu anda, Pak?" tanya Deeva sopan.


"Ooh.. iya benar. Ada beberapa barang juga yang dibawa oleh anak saya. Mungkin sebentar lagi mereka sampai. Ini cek yang mungkin akan bermanfaat buat anak-anak dipanti ini. Mohon diterima."


"Terima kasih," ucap Deeva menerima cek itu lalu menyimpannya di lemari besi. Daniel mengati perempuan yang ada dihadapannya itu dengan seksama. Dia merasa tak asing dengan wajah perempuan cantik itu.


"Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya? Wajahmu tidak asing untukku," tanya Daniel.


"Saya rasa tidak. Mungkin anda salah orang, Pak."


Sekali lagi Daniel mengamati Deeva dengan cermat. Kali ini dia yakin sekali bahwa Deeva lah orang yang selama ini dia cari, orang yang pernah menyelamatkan hidupnya dulu.


"Aku tidak mungkin salah. Matamu itu tidak akan ada duanya. Aku ingat sekali dengan mata indah itu. Mata yang keabu-abuan milikmu itu tidak dimiliki orang kebanyakan disini. Aku yakin bahwa kamulah perempuan itu. Perempuan baik hati yang dulu pernah menyelamatkan hidupku dari para perampok itu. Apa kamu ingat kalau kamu yang membawaku kerumah sakit saat aku terluka oleh para perampok itu, Nona?" tanya Daniel.


Sejenak Deeva terdiam, pikirannya melayang pada peristiwa beberapa tahun silam saat dia menyelamatkan seseorang dari perampok. Orang itu terluka parah. Dan dengan teliti Deeva mengamati sosok Daniel yang ada dihadapannya.


"Aaah... Rupanya bapak ini orang yang waktu itu jadi korban perampokan? Bagaimana kabar Bapak sekarang?"


"Aku senang akhirnya kita bisa bertemu kembali. Maafkan waktu itu aku tak sempat mengucapkan terima kasih padamu. Dan aku pun lupa menanyakan nama dan alamatmu. Aku berhutang nyawa padamu, Nona."


Belum sempat Deeva menanggapi pernyataan Daniel tadi, datang lagi sebuah mobil menuju halaman panti dan parkir tepat disebelah mobil Daniel. Dua orang laki-laki turun dari dalam mobil itu. Bagaikan ada sebuah petir yang menyambarnya saat dia melihat siapa yang datang itu. Deeva paham benar sosok laki-laki gagah dan tampan itu, bahkan bayanganya pun dia tahu kalau dia adalah Agra Roberto Meshach.

__ADS_1


Dave dan Agra sampai didalam ruangan tamu panti mereka langsung menghampiri Papanya. Dave dan terlebih Agra terkejut melihat perempuan berkerudung cantik yang ada dihadapan mereka. Walaupun dengan penampilan yang berbeda, namun mereka bisa mengenali Deeva dengan baik. Mata Agra tak bisa lepas dari paras cantik dan anggun Deeva yang lama dirindukannya. Mata mereka saling bertemu dan memadu rindu.


"Hi ... Deeva. Apa kabar? Senang melihatmu kembali," sapa Dave memecah kebisuan.


"Baik, Kak Dave. Ada perlu apa kesini, Kak?" tanya Deeva membuang kekakuannya atas kedatangan Agra.


"Aku dan Agra membawa barang-barang yang akan disumbangkan untuk panti ini. Oiya, papa sudah mengenal Deeva?"


"Papa?" tanya Deeva menoleh pada Daniel.


"Iya, Ini papaku. Daniel Meshach. Pa ... Kenalkan ini Deeva. Adeeva Elora Caesar. Putri bungsu keluarga Caesar," jelas Dave yang sengaja melakukan itu agar Daniel tahu siapa Deeva sebenarnya. Deniel melotot mendengar ucapan putra sulungnya itu. Dia melihat ke arah Deeva lalu kearah Agra. Keduanya saling membuang pandangan. Ketengangan tercipta saat itu. Namun akhirnya Natalie yang datang bersamaan dengan Junan dapat merubah suasana yang terjadi.


"Maaf membuat anda menunggu Tuan Daniel. Saya ada sedikit keperluan diluar sebentar."


"Tidak apa-apa," jawab Daniel canggung.


"Hi, Daniel ... Lama tidak berjumpa denganmu. Bagaimana kabarmu?" ucap Junan sambil mengulurkan tangannya pada Daniel.


Walaupun masih terlihat canggung Daniel menyambut uluran tangan Junan dengan ramah.


"Baiklah, lain kali kita lanjutkan obrolan ini. Aku permisi dulu," ucap Junan sambil menoleh pada Deeva.


"Tunggu sebentar, Pi."


Deeva menuju sebuah lemari kayu dan mengambil tasnya dari dalam lemari. Lalu menyerahkannya cek yang dia letakkan tadi pada Natalie.


"Ich muss gehen. Wenn es keine Hindernisse mehr gibt, werde ich mit Alber nach Frankfurt gehen," pamit Adeeva pada Natalie. 4)


"Beeil dich nicht, Deeva. Überzeugen Sie zuerst Ihr Herz. Ich wünsche dir immer das Beste."5)


"Ja. Danke für alles. Bis später."6) Deeva menggandeng tangan papinya lalu pergi meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh lagi pada Agra yang tak melepaskan pandangannya sampai dia hilang dibalik pagar panti.


"Maaf, apa Deeva sering kesini?" tanya Dave tiba-tiba. Agra menoleh pada kakaknya itu. Dia hanya diam tanpa mengomentari apapun.

__ADS_1


"Ya, dulu sering kesini. Dia dan teman-temannya pernah jadi pengurus dipanti ini. Mungkin setelah ini tidak akan lagi," jawab Natalie.


"Kenapa?" tanya Dave lebih dalam.


"Kalau tidak salah tiga hari lagi dia akan ke Frankfurt. Membicarakan perjodohannya dengan seorang laki-laki Jerman. Mungkin jika perjodohan itu berlanjut dia akan menikah dan menetap di Frankfurt mengikuti suaminya nanti," jelas Natalie.


Agra melotot mendengarnya. Bukan hanya dia Dave dan Daniel pun terkejut dibuatnya.


"Perjodohan? Menikah?" gumamnya.


"Adeeva kesini hanya untuk berpamitan pada anak-anak panti karena lusa calon tunangannya akan datang dari Frankfurt. Dan tiga hari lagi mereka akan berangkat ke sana untuk perundingan masalah perjodohan dan pernikahannya nanti."


Penjelasan Natalie membuat Agra benar-benar merasa frustasi. Jauh lebih frustasi dari sebelumnya. Hatinya jauh lebih hancur mendengar perempuan yang dia cintai akan bertunangan dan menikah dengan laki-laki lain. Agra merasa darah diseluruh tubuhnya berhenti mengalir. Tangan dan kakinya menjadi dingin. Nafasnya sesak tak karuan, rasanya sulit sekali paru-parunya menghirup oksigen segar. Dave yang tahu keadaan adiknya itu mendekati Agra.


"Masih ada kesempatan, Dek. Tiga hari lagi. Kejar dia," ucap Dave sambil menepuk bahu adik bungsunya.


"Deeva membenciku, Kak. Dia sama sekali tak ingin melihatku lagi. Biarkanlah. Mungkin laki-laki itu bisa membuatnya bahagia."


"Kamu yakin itu? Apa kamu yakin kamu bisa bahagia melihatnya bersama laki-laki lain? Agra, aku yakin Deeva masih sangat mencintai dan menyayangi mu. Matanya tak bisa berdusta. Jangan sia-siakan kesempatan ini, Dek!?" Dave memberi semangat pada Agra.


******


Terjemahan :


"Nanti siang akan ada donatur yang datang untuk memberikan sumbangan. Aku harus pergi dan nanti sore akan kembali. Dan tolong kamu layani donatur itu dengan baik" ucap Natalie.


"Jangan khawatir, Natalie. Aku akan membantu donatur itu. Hati-hatilah dijalan. Sampai jumpa nanti sore" jawab Deeva


3) "Aku harus pergi. Jika tidak ada lagi hambatan, aku akan pergi ke Frankfurt dengan Albert." pamit Adeeva pada Natalie.


4) "Jangan terburu-buru, Deeva. Pertama-tama yakinkan hatimu. Aku selalu berharap yang terbaik untukmu"


5);"Ya. Terima kasih atas segalanya. Sampai jumpa lagi"

__ADS_1


******


__ADS_2