Diujung Lembanyung

Diujung Lembanyung
Insiden Tak Terduga


__ADS_3

"Pefect!" itulah yang diucapkan oleh Deeva saat melihat namanya tertulis disalah satu nama calon mahasiswa yang diterima.


Setelah mengurus semua syarat administrasinya, maka sah lah Adeeva Elora Caesar berstatus mahasiswa jurusan design interior. Dia menikmati hari-hari barunya sebagai seorang mahasiswa. Sangat menyenangkan dan menantang. Itulah yang ada dipikirannya saat ini. Bahkan dia nyaris melupakan tentang kerinduannya pada Agra yang sudah setengah tahun tidak bertemu.


Entah apa yang ada dipikiran Agra. Dia tak membalas pesan dan tak merespon telepon darinya. Hal itu membuatnya mulai menjauh dan mencoba untuk melupakan laki-laki itu. Dia tak ingin menyakiti hatinya sendiri. Toh antara dia dan Agra tak ada hubungan apa-apa. Hanya hubungan sepihak yang dideklarasikan oleh Agra.


"Pagi, Pi" ucap Deeva saat turun dari kamarnya.


"Pagi, Sayang. Mana kakakmu?" tanya Junan.


"Kak Rey masih dikamarnya, Pi"


"Pagi, Pi ... Pagi, Sayang ... " sapa Rey yang turun dari lantai atas.


"Pagi, Rey ... Ayo kita sarapan dulu," ajak Junan.


Deeva mengambil nasi dan lauknya lalu meletakkan piring itu didepan papinya dan dia melakukan hal yang sama terhadap Rey. Hal yang wajar dilakukan sebagai seorang anak perempuan dalam keluarga.


"Kamu tidak kuliah, Sayang?" tanya Rey.


"Nanti siang, Kak. Dan mungkin pulang agak sore. Ada kegiatan dikampus"


"Perlu Kak Rey jemput?"


"Tidak usah, Kak. Aku pulang sendiri saja"


"Ya, sudah kalau ada masalah kabari Kak Rey ya ... "


******


Perkuliahan hari ini cukup melelahkan. Deeva mulai kuliah pukul satu siang sampai pukul tiga sore. Setelah itu dia ada rapat dengan para anggota BEM. Baru pukul lima sore dia keluar dari areal kampus. Menyusuri dalam yang cukup lengang sore itu, tiba-tiba saja mata Deeva tertuju pada sebuah mobil putih yang terparkir dipinggir jalan. Pintu disebelah kemudi terbuka lebar dan ada seseorang yang tergeletak disana bersimbah darah.


Deeva mendekati orang itu. Takut-takut dia berjalan perlahan. Seorang laki-laki berumur lima puluhan tahun, dengan luka tusuk di perutnya. Dia tergeletak di trotoar.


"Anda tidak apa-apa?" tanya Deeva. Namun orang itu tak sadarkan diri. Desah nafasnya terdengar putus-putus.


Tanpa pikir panjang Deeva menggotong laki-laki itu masuk kemobilnya. Deeva segera duduk dibelakang kemudi, kunci mobil itu masih tergantung ditempatnya. Dengan cekatan dia mengemudikan mobil itu menuju rumah sakit. Untung saja mobil itu sama dengan milik Rey, dan untungnya Rey pernah mengajarkannya mengemudikan mobil.


Untung saja Deeva segera membawanya. Lukanya tidak begitu parah, namun jika terlambat sedikit saja, dengqn pendaraham sehebat itu pasti nyawa korban tidak terselamatkan.

__ADS_1


Laki-laki tua itu membuka matanya perlahan. Dua detik pertama dia tak dapat mengenali dimana dia.


"Dimana ... aku ... " ucap laki-laki itu lirih.


"Anda ada dirumah sakit, Oom. Aku membawa anda kesini saat tergeletak di pinggir jalan. Luka anda sudah ditangani oleh dokter."


"Terima kasih sudah menolongku."


"Maaf apa ada keluarga anda yang bisa saya hubungi?" tanya Deeva menyerahkan gawai dan dompet laki-laki itu.


Laki-laki itu mengambil dompet dan gawai yang diberikannya. Lalu dia menelepon seseorang.


"Sebentar lagi asistenku akan datang," ucapnya.


Deeva tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia senang orang itu selamat dari mautnya.


Drrr ... Drr ...


Klik ...


"Kamu dimana, Dek?" tanya Rey diujung teleponnya.


"Aku ... Ooh ... Iya Kak sebentar lagi aku pulang," ucap Deeva. Dia baru sadar kalau sekarang sudah pukul sembilan malam.


"Iya, Kak. Tolong bilang papi, aku sudah dijalan pulang kok."


"Ya, sudah. Hati-hatilah, Sayang."


Klik ...


Huuuhhh ... Nyaris saja dia lupa waktu pulang. Deeva mengambil tas nya dikursi lalu pamit pulang.


"Maaf Oom, apa tidak apa-apa jika aku tinggal?" tanya Deeva.


"Tidak apa-apa. Kamu sudah mau pulang?"


"Iya, maaf tak bisa membantu lebih lama lagi. Papi sudah menelepon, dia pasti khawatir."


"Terima kasih, Nak. Papi mu pasti bangga punya putri sebaik kamu."

__ADS_1


Deeva hanya tersenyum lalu pamit pulang. Perjalanan tiga puluh menit menggunakan taxi.


Tok ... Tok ...


Cekreeeeekkk ...


"Pa ... " panggil seseorang yang masuk kedalam ruang perawatan.


"Kamu bisa disini, Dave? Kapan kamu sampai?" tanya laki-laki yang terbaring itu.


"Baru saja, Pa. Begitu dapat kabar dari asisten papa, aku langsung kemari. Bagaimana keadaan papa?" tanya Dave.


"Menurut dokter lukanya tidak terlalu parah. Untung saja perempuan itu cepat membawa papa kesini. Kalau tidak mungkin papi tidak tertolong lagi."


"Perempuan? Siapa dia, Pa?"


"Entahlah. Papa lupa menanyakan nama dan alamatnya. Bagaimana papa harus berterimakasih padanya nanti. Kalau tidak ada dia pasti papa tidak akan selamat seperti sekarang ini."


"Apa papa tahu orang itu?" tanya Dave lagi.


"Tidak. Papa tidak kenal. Hanya saja perempuan itu cantik sekali, matanya keabu-abuan dan masih muda. Kalau ada kesempatan papa harus berterima kasih pada perempuan itu," ucap laki-laki itu pada Dave.


Laki-laki itu tak bisa melupakan Deeva, wajahnya memang cantik dan berbeda dari perempuan lokal lainnya. Mungkin dia anak blasteran, batin nya. Yang sangat berkesan adalah manik mata Deeva yang berwarna keabu-abuan, asli tanpa softlens.


******


Deeva memesan sebuah taxi online. Dia harus bergegas sampai rumah. Dia yakin kedua laki-laki itu sudah menunggunya dirumah. Benar saja dugaannya, sampai dirumah Junan dan Rey sudah menunggunya diruang tamu dengan wajah cemas. Deeva menyalami Papi dan kakaknya, sudah pasti dia akan diintrogasi oleh mereka.


"Kamu dari mana saja, Dek. Telepon Kak Rey tidak kamu respon," cecar Rey begitu melihat adik bungsu nya masuk kedalam rumah.


Deeva duduk disofa dengan tenang bersisisan dengan Junan. Setelah mendapat cukup oksigen, dia mulai bicara lalu dia menceritakan semua kejadian yang dia alami sepulang kampus tadi kepada Papi dan Kakak nya.


"Kamu bawa mobil sendiri?" tanya Junan.


"Apa boleh buat, Pi. Tidak ada seorangpun disana. Kalau terlambat dia bisa mati," jelas Deeva. Memang saat itu sangat darurat, tidak ada seseorang pun disana. Mau tidak mau menang Deeva harus mengambil keputusan itu. Laki-laki tadi korban perampokan. Sepertinya dia sudah diincar oleh para pelaku.


"Lain kali jangan nekat seperti itu, Sayang. Bahaya. Bagaimana jika penjahat itu masih ada disana dan kamu ikut terluka," Junan membelai lembut kepala putrinya. Dari raut wajahnya tampak sekali kalau dia sangat khawatir atas putrinya.


"Bersihkan dirimu, Sayang. Istirahatlah, sudah malam," ucap Junan lagi.

__ADS_1


Deeva menurut, lalu menuju kamarnya dilantai atas. Suasana kamar yang sudah dirombak habis oleh Junan khusus untuk putri kesayangannya. Nuansa pink saleem yang lembut dengan interior dan perabotan semua baru agar Deeva nyaman disana. Dia membersihkan diri, mengganti pakaiannya dan tidur.


******


__ADS_2