
Pernikahan Reynand Surya Caesar berlangsung meriah disebuah hotel berbintang, para tamu yang hadir juga bukan orang sembarangan. Deretan orang-orang terkenal dinegeri ini, para pejabat dan juga jejeran artis top. Deeva menunggu kedatangan Agra namun dia maupun keluarga Meshach tidak ada yang hadir kecuali Dave. Dave Meshach datang mewakili kedua orang tuanya yang sedang menjenguk kakeknya yang sakit dikampungnya.
"Deeva ... Kamu Deeva bukan?" tanya Dave saat melihat Deeva ditengah pesta. Dia langsung mengulurkan tangannya.
"Aku Dave. Dave Meshach. Kakak Agra." ucap Dave sambil tersenyum.
Deeva tersenyum sambil menyambut uluran tangan Dave.
"Deeva ... "
"Ternyata melihat wujud aslimu jauh lebih cantik dari pada poto yang diperlihatkan Agra padaku."
"Terima Kasih, Kak. Maaf Kak Agra kemana? Kenapa dia tidak kelihatan?" tanya Deeva.
"Ooh ... Maaf Agra sedang bersama Papa dan Mama dikampung. Kondisi kakek sedang tidak baik. Beliau sakit parah," Dave berdusta.
Agra ada di Australia. Dia tak diperbolehkan Daniel untuk bertemu dengan Deeva. Pertengkaran hebat sebelum Dave terbang untuk menghadiri pesta Rey itu membuat Agra frustasi dan mengurung diri dikamarnya. Dia tak ingin Deeva melihat wajah buruknya itu, sudah pasti gadis itu akan merasa cemas.
"Dia menitipkan salam untukmu, Deeva," ucap Dave menghibur Deeva.
"Ya, Kak. Terima kasih. Apa Kak Agra baik-baik saja? Firasatku belakangan ini tak enak, Kak."
"Kamu tak usah khawatir, Agra baik-baik saja. Tolong beri sedikit dia waktu. Aku yakin kamu bisa mengerti keadaannya sekarang."
Deeva mengangukkan kepalanya dan tersenyum. Dave merasa tak enak dan bersalah kepada Deeeva. Sebenarnya dia ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, namun melihat wajah polos dan lembut Deeva, Dave urung melakukannya. Agra benar, Deeva berbeda dengan perempuan lainnya.
******
Rey dan istrinya pergi selama dua minggu ke Prancis untuk berbulan madu. Deeva dan Junan kembali kerutinitas mereka sehari-hari. Sebenarnya Deeva mempunyai perasaan tak tenang dan gelisah. Belakangan ini entah kenapa dia dangat mengkhawatirkan Agra. Namun kekhawatiran itu pupus saat Agra kembali dan datang menemuinya.
Tok ... Tok ...
Cekreeeeekkk ...
"Maaf Non Deeva, ada tamu buat Non dibawah," ucap bibi asisten rumah tangga.
"Tamuku? Siapa, Bi?"
"Dia bilang teman Non Deeva."
Deeva turun menemui tamu yang dimaksudkan tadi. Dari jauh dia melihat seseorang laki-laki yang duduk disofa ruang tamu. Tanpa harus melihat wujudnya, Deeva sudah paham siapa yang datang. Matanya berbinar-binar dan hatinya sangat bahagia.
"Kak Agra ... " panggilnya.
Agra menoleh lalu bangun dari duduknya. Dia tersenyum pada perempuan yang dia sayangi itu.
"Hi ... Sayang .. Bagaimana kabarmu?" tanya Agra.
__ADS_1
"Kabarku baik, Kak. Kak Agra kemana saja. Kenapa tidak menghubungi aku beberapa bulan ini?"
"Maaf, Sayang ... " ucap Agra sambil mengusap-usap kepala Deeva.
Obrolan mereka terhenti saat mendengar suara mobil memasuki halaman. Junan baru saja tiba dari kantornya.
"Sore, Oom ... " sapa Agra sambil mengambil tangan Junan dan mencium punggung tangannya.
"Ooo ... Agra, Sore ... Kapan kamu datang dari Australia?" tanya Junan membalas keramahan Agra tadi dengan senyuman.
"Baru saja Oom. Aku langsung kemari. Oiya, Oom ... Boleh aku izin membawa Deeva keluar sebentar?" Agra langsung saja to the point pada calon mertuanya itu. Junan sejenak berfikir dan menoleh pada Deeva lalu kembali pada Agra.
"Kalian mau kemana?" tanya Junan.
"Mau jalan-jalan sore sebentar, Oom ..."
"Baiklah. Tapi jangan pulang terlalu malam?" Junan memasang rambu-rambu untuk Agra.
Laki-laki gagah itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Sepuluh menit kemudian Deeva sudah siap dan merekapun pamit pada Junan untuk pergi.
Agra mengemudikan mobilnya dengan santai dan konstan. Dia ingin menikmati waktu lebih lama bersama perempuan kesayangannya itu. Menikmati langit yang hampir menguning menantikan lembayung senja. Dia menghentikan sejenak mobilnya menikmati langit kekuningan yang indah. Terasa begitu damai dan nyaman dihati. Tidak ada kata-kata istimewa, hanya diam dan melarutkan hati dalam kenyamanan itu. Setelah langit bertukar dengan gelapnya malam mereka melanjutkan perjalanannya.
"Kak ... "
"Hmmm ... "
"Mau makan apa, Sayang?"
"Terserah Kak Agra saja."
Agra memarkirkan mobilnya disebuah restoran di pusat kota. Mereka masuk dan memesan makanan disana. Sebuah restoran langganan mereka. Tak ada yang spesial dari pembicaraan mereka saat itu, hanya sekedar pelepas rindu hati. Namun keduanya begitu menikmati kebersamaan mereka saat itu. Deeva pamit untuk ke-restroom sebentar.
"Agra ... " sapa Daniel yang tiba-tiba muncul disana.
"Papa ... " ucapnya kaget.
"Kapan kamu datang? Sedang apa kamu disini, Agra?" selidik Daniel.
"Agra sedang ada janji dengan seseorang, Pa."
"Seseorang? Jangan kamu katakan kalau kamu bertemu dengan perempuan itu disini."
"Deeva, Pa. Dia calon istriku."
"Calon istri? Pakai akal sehat mu Agra. Mana ada dalam sejarah keluarga Meshach menikah dengan perempuan yang tak jelas seperti itu. Latar belakang hidupnya saja sudah seperti itu, apalagi kalau dia itu dibesarkan didaerah lokalisasi. Sudah bisa terbayang seperti apa perempuan itu. Semacam perempuan penggoda ya ... mungkin kamu sudah masuk dalam perangkapnya. Intinya papi tidak setuju. Jangan kamu rusak keluarga kita dengan menikahi perempuan yang lahir dari seorang pekerja malam. Ingat itu, Agra!" cecar Daniel.
"Papa tidak pernah bertemu Deeva, dia bukan perempuan seperti yang papa pikirkan. Dia perempuan baik-baik, Pa. Agra sayang sama dia. Dia pilihan terakhir dan selamanya buat Agra," bela Agra. Dia benar-benar kesal mendengar ucapan Papanya yang sangat merendahkan kekasih hatinya.
__ADS_1
"Lupakan rasa sayangmu itu, Agra. Diluar sana masih banyak perempuan terhormat lainnya yang lebih pantas untukmu."
Daniel tak menggubris lagi putra bungsunya itu. Dia pergi tanpa mengatakan apapun pada Agra. Bahkan melihat wajahnya pun tidak. Sikap otoriter nya membuat Agra semakin kesal dan marah. Namun dia mencoba mengendalikan dirinya. Dia takut Deeva melihat aura emosionalnya. Dia duduk kembali ditempat duduknya.
Satu menit.
Dua menit.
Bahkan sudah lebih dari lima belas menit Deeva tak juga kembali. Agra memutuskan mencarinya ke-restroom wanita. Namun tempat itu kosong. Agra mulai berfikir heran, kemana perginya Deeva. Sampai seorang pelayan yang tadi mengantarkan pesanan mereka datang menghampirinya.
"Maaf, Tuan Agra ... "
Agra menoleh pada pelayan itu.
"Saya hanya menyampaikan pesan dari seseorang untuk anda," ucapnya sambil memberikan sebuah amplop kecil pada Agra.
"Apa ini? Siapa yang memberikannya?" tanya Agra heran.
"Perempuan yang tadi bersama Anda, Tuan."
"Deeva? Dimana dia?"
"Nona itu sudah pergi dari tadi. Saya permisi, Tuan." pelayan itu pergi meninggalkan Agra seorang diri. Agra membuka amplop itu, sebuah kertas kecil dan cincin yang dia berikan pada Deeva.
"Kak Agra ... Maaf aku pergi tanpa pamit pada mu. Aku mohon maaf telah membuat keruh hubunganmu dengan papamu. Aku tak sengaja mendengarnya, obrolanmu dengan seseorang, dan orang itu adalah papamu. Aku rasa papamu benar, sebaiknya kita tak lagi bersama jika harus melukai orang lain. Aku sangat bahagia bersama mu selama ini. Terima kasih untuk semua yang Kak Agra berikan padaku. Semoga Kak Agra menemukan perempuan terhormat dan layak untuk berada disisimu. Tolong jangan cari aku lagi. Selamat tinggal"
Agra melipat kertas dan memasukkan cincin itu kedalam amplop disakunya. Dia berlari menuju mobilnya, berharap masih bisa mengejar Deeva. Hujan deras yang melanda kota malam itu makin membuat Agra panik dan khawatir dengan keadaan kekasihnya. Gawai Deeva tidak aktif lagi. Agra seperti orang gila mengemudikan mobilnya tanpa tahu harus kemana.
Dari ujung jalan tak jauh dari rumah keluarga Caesar dia melihat sosok Deeva yang berdiri menatap langit yang menangis untuknya malam itu. Perempuan itu tak perduli dengan tubuhnya yang sudah basah kuyup. Dia seolah ingin hilang dan larut bersama airmata langit. Agra tak pikir panjang lagi dia turun dari mobil dan melepas jasnya, menutup kepala Deeva dengan jasnya itu lalu memeluknya.
"Lepaskan aku, Kak. Biarkan aku pergi," ucap Deeva sambil mendorongkan kedua
tangannya kedada Agra. Membuat laki-laki itu bergeser beberapa centi darinya.
"Ada apa, Sayang. Aku tak paham apa maksudmu. Aku mencarimu kamana-mana. Aku sangat mengkhawatirkan mu, Sayang."
"Sudah lah, Kak. Aku sudah mendengarnya. Sseorang laki-laki yang berdiri dihadapanmu tadi, aku mendengar semua nya dengan jelas dibalik tembok restoran tadi. Papamu benar Kak. Aku ini bukan perempuan yang pantas untukmu, Kak. Jadi aku mohon lupakan aku." airmata Deeva mengalir sama derasnya dengan airmata bumi malam itu.
"Sayang dengarkan aku. Aku tak perduli apapun yang orang lain katakan tentang mu. Yang aku tahu bahwa perasaan ku padamu tidak main-main. Aku benar-benar sayang padamu. Aku mencintaimu dengan segenap jiwa dan ragaku. Dan aku tak perduli apapun yang terjadi hanya kamu yang pantas didalam hati ini, Sayang. Aku mohon jangan mengatakan hal yang membuatku takut seperti itu lagi. Aku benar-benar takut sayang. Aku takut kehilanganmu. Kehilangan cintamu. Aku bisa gila karenanya," papar Agra.
Deeva memundurkan kakinya beberapa langkah, sedikit menjaga jarak dengan Agra. Matanya menatap penuh kesedihan pada laki-laki yang sangat dia sayangi itu. Airmata bumi malam ini menjadi saksi kepedihan dua hati yang saling mencintai itu.
"Kak ... Aku ingin berpisah darimu. Aku harap lupakan semua yang telah kita lalui selama ini. Kita harus bisa menjalani hidup kita masing-masing. Menulis lagi takdir baru dalam hidup kita. Maaf, aku harus melupakanmu. Bukan karena aku tak sayang padamu. Tapi besarnya rasa sayang inilah yang membuatku memutuskan hal ini. Aku tak mau orang yang aku sayangi menjadi anak yang tak berbakti pada orang tuanya. Dia papamu Kak. Dialah orang yang paling berharga dalam hidupmu. Orang yang telah membawamu kedunia ini untuk bertemu denganku walaupun cuma sesaat. Lupakan aku. Aku pergi dan tak akan pernah kembali lagi. Aku selalu berdoa untuk kebahagianmu, Kak. Selamat tinggal." Deeva mendekat pada Agra. Mencium pipi laki-laki kesayangnya itu untuk terakhir kalinya. Lalu dia berlari sekuat mungkin menembus derasnya hujan malam itu.
Agra terdiam. Malam itu juga dia menunjukkan kelemahannya. Airmatanya mengalir sama derasnya dengan airmata langit. Airmata seorang laki-laki yang tak pernah dia tunjukkan pada siapapun. Tubuhnya lemas seperti tak bertulang. Berjam-jam dia terduduk diam dipinggir jalan sepi itu. Meresapi kesedihan dan kepatah hatiannya. Ketidakberdayaannya melawan takdir itu membuatnya sangat frustasi.
******
__ADS_1