
Obrolan santai mereka berdua harus berakhir saat jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Reynand membukakan pintu mobil buat Deeva, lalu dia siap sedia dibalik bangku kemudinya. Rey mengendalikan mobilnya dengan santai dan konstan, menikmati lebih lama kebersamaan ini. Tiba-tiba dari arah belakang mereka muncul sebuah mobil memotong laju jalan mereka.
Ciiiiiit ...
Cicit rem mobil yang diinjak dalam-dalam terdengar nyaring memecah malam sunyi. Dua orang laki-laki berbadan besar turun. Lalu dari pintu samping kemudi keluarlah laki-laki bertubuh besar tinggi, rahangnya kuat dan persegi, tatapan matanya liar dan tajam. Pundak lebar dengan tangan-tangan yang besar dan kuat. Laki-laki itu melepas kacamatanya.
Dari dalam mobil wajah Deeva mendadak pias melihat sosok yang datang itu. Dia hapal benar wujud manusia iblis yang paling dibencinya itu.
"Bennett ... " gumamnya.
Kuping Reynand yang duduk disebelahnya cukup tajam untuk menangkap kata-kata yang digumamkan Adeeva itu. Rey turun dari mobilnya tanpa sempat dicegah oleh Deeva.
"Halo... Sayangku, Deeva ... " seringai picik Ben. Senyuman laknat yang paling dibenci Deeva.
"Bagaimana kamu bisa tahu aku disini, Ben."
"Itu rezeki ku, Sayang, yang jelas katakan padaku dimana Ruzana berada."
"Aku tidak tahu dimana Bunda. Dan aku itu bukan urusanmu, Ben."
Hahahahhaha ....
Tawa liar Bennett memecah kesunyian malam, membuat para serigala bergidik ngeri mendengarnya. Deeva berdiri dibelakang Rey yang dengan sigap menyediakan pundak lebarnya sebagai tempat berlindung Deeva.
Dan dengan satu komando dua orang laki-laki tadi menyerang Rey. Terjadilah perkelahian disana. Namun bukan Rey sasaran mereka. Tiba-tiba saja Ben sudah berada dibelakang Deeva dan mencengkeram lengan halus perempuan itu dengan besarnya yang kuat. Deeva meringis kesakitan. Tanpa banyak basa-basi Ben menarik Deeva kedalam mobil lalu pergi dari sana. Rey pun tanpa dikomando memacu mobilnya mengimbangi laju mobil Ben yang berada didepannya. Balap-balapan itu berakhir sampai akhirnya mereka tiba disebuah rumah kosong di pinggiran kota.
Ben dengan kasarnya menarik tangan Deeva. Rey dengan cepat menarik rem tangannya dan mematikan mesin mobilnya. Langkahnya makin lebar mengerjar langkah kaki Bennett yang menyandra Deeva.
"Lepaskan Deeva ...!!" teriak Rey begitu masuk rumah itu.
Lagi, Bennett hanya menunjukkan senyum laknatnya. Tangan liarnya makin merangkul pada pinggang langsing Deeva. Membuat Rey semakin panas melihatnya. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal kuat siap menghajar laki-laki yang ada dihadapannya.
__ADS_1
Dua orang laki-laki bertubuh besar tadi mencekal kedua tangannya, Rey mulai berontak. Tapi cengkraman mereka tak bisa membuat celah dalam pergerakan Rey.
"Kamu sepertinya punya hubungan khusus dengan perempuan ini. Kita lihat bagaimana kuatnya hatimu menahan ini semua. Saksikan dengan matamu sendiri, dan pastikan kamu kuat melihat nya ... Hahahahahahaa ... "
Seringai licik Bennet makin melebar dia makin merapatkan tubuh Deeva dalam pelukannya. Bennett mendekatkan bibir liarnya pada bibir mungil Deeva, perempuan manis itu mencoba mengelak dan memalingkan wajahnya. Namun sebelah tangan Ben semakin kuat mencengkram pinggang nya, dan tangan sebelahnya memegang kepala Deeva. Mengarahkan bibir ranumnya ke bibir laknatnya itu. Mengecup dan bermain dengan liar disana. Menggigit kecil bibir bawah Deeva sehingga gadis muda itu meringis.
Emosi Reynand sudah sampai di ubun-ubun melihat itu semua. Wajahnya merah padam, nafasnya turun naik. Ben menyeret Deeva kedalam kamar. Melemparkan tubuh cantiknya keatas tempat tidur.
"Jauhkan tanganmu dari Deeva, biadab ...!!!" maki Rey.
Tiba-tiba dia merasakan adanya benda tajam dan lancip menancap di punggungnya. Dan kedua orang itu melepaskan Rey. Tanpa basa-basi Rey mengejar Deeva kedalam kamar. Perempuan muda itu menangis disudut kamar saat Ben mengunci pergerakannya, dan menahan tubuhnya didinding kamar. Rey menarik kerah baju Ben dan menghadiahi laki-laki itu dengan sebuah pukulan matang yang tepat mengenai wajahnya. Namun, dia tak merasa kalah.
"Ruz akan menangis melihat apa yang terjadi padamu malam ini, Deeva. Akan ku hancurkan kesombongan perempuan lacur itu ... Hahahahha ... " Ben pergi setelah
mengatakan hal itu. Dia menutup pintunya dengan sangat keras dan menguncinya dari luar.
Rey memeluk Deeva yang ketakutan setelah mengalami kejadian buruk itu, dia membelai dan mengecup pucuk kepala perempuan kesayangannya itu. Menghapus air matanya dan mengusap bibir mungilnya seolah menghapus bekas bibir laknat Ben yang melahapnya tadi.
Bruuukk...
"Kak Rey ... Kenapa?!" tanya Deeva panik.
Entah setan apa yang bercerita penuh nafsu dikepala Reynand. Laki-laki itu merasakan gairahnya sudah berada di ubun-ubun dan Rey tak bisa lagi mengendalikan nafsu liarnya menyaksikan kemolekan tubuh perempuan yang ada dihadapannya. Dia mendekap Deeva lalu melahab dengan ganas bibir manis perempuan itu, gerakannya mulai menjalar ke leher dan pundak Deeva. Gadis manis itu berteriak dan menyadarkan Rey.
"Kak Rey, hentikan ...!! Ada apa dengan mu?!" Deeva berusaha melepaskan pelukan Rey.
Seketika Rey mendorong tubuh Deeva, dia menjauh dan memalingkan wajahnya dari perempuan cantik itu. Dia takut tak bisa mengontrol lagi fantasi liarnya.
"Jahanam rupanya mereka menyuntikan sesuatu pada tubuhku. Aku yakin ini adalah obat perangsang. Aku makin tak bisa mengontrol nafsu jahanamku ini" batin Rey yang masih terengah-engah.
"Pergilah Deeva Menjauhlah dariku. Aku tak mau menyakitimu. Aku tak mau merusakmu dengan nafsu jahanamku yang tak terkendali ini. Laki-laki berengsek itu meracuniku dengan obat perangsang. Menjauhlah Deeva. Aku takut makin tak terkendali," teriak Rey.
__ADS_1
Deeva mencoba membuka pintunya namun sia-sia. Semua pintu dan jendela terkunci.
"Kak Rey ... Semua pintu dan jendela terkunci. Kita terkurung disini. Diluar sangat gelap, Kak," ucap Deeva
Braakkk...
Rey memukulkan tangannya pada nakas yang ada disampingnya.
"Sial ...!!! Licik sekali laki-laki itu," maki Rey.
Tak ada jalan lain, Rey pergi kekamar mandi dan mengunci diri disana. Dia tak mau melihat Deeva, dia takut akan mencelakai Deeva nantinya. Karena sampai saat ini dirinya masih dikuasai oleh obat kotor itu.
"Diamlah disitu, dek. Jangan bergerak dan jangan mengeluarkan suara apapun kalau tidak otak kotorku ini akan semakin menggila. Tunggulah disitu sampai efeknya menghilang," teriak Rey dari dalam kamar mandi.
Dengan terpaksa Reynand membahasi tubuhnya dengan air dingin agar libidonya menurun. Keadaan kembali sunyi. Tak ada irama apapun yang terdengar untuk waktu lama. Sunyi bahkan lebih sunyi dari pada makam angker yang menakutkan.
******
"Dek .. dek ... " panggil Rey sambil menepuk lembut pipi Deeva yang tertidur.
Pelahan gadis manis itu membuka matanya, dua detik kedua baru dia menyadari kalau Reynand duduk dihadapannya.
"Kak Rey ... tidak apa-apa?" tanya Deeva
"Kak Rey yang harusnya menanyakan itu padamu, kamu tidak apa-apa kan dek. Laki-laki itu tidak melakukan hal buruk padamu bukan?" tanya Rey.
Deeva tak menjawabnya, dia menjatuhkan kepalanya pada pundak kekar Rey dan menangis disana.
"Aku takut, Kak. Aku takut ... " isak Adeeva.
Luluh pertahanan hati Rey melihat Deeva menangis dipundaknya. Tangannya mengusap-usap lembut kepala Deeva mentransfer kekuatan hati pada perempuan kesayangannya itu.
__ADS_1
"Kak Rey disini, Dek. Jangan takut sayang ... " ucapnya lembut.
******