
Tok ... Tok ...
Rey terbangun, dia melirik pada jam digawainya, masih pukul dua pagi. Siapa yang tengah malam ini mengetuk pintu kamarnya. Rey bangkit dari tidurnya.
Tok ... Tok ...
Cekreeeeekkk ...
"Kak Rey ..." Adeeva langsung menyeringsek masuk dan memeluk Rey sambil menangis.
"Ada apa, Dek?! Kenapa menangis, sayang?" tanya Rey
"Kak ... cari Bunda, Kak ... Aku takut ... " isaknya dalam pelukan kakaknya.
Rey membimbing adiknya duduk diatas tempat tidur. Menenangkannya.
"Ada apa, Sayang? Cerita sama Kak Rey."
"Aku mimpi buruk tentang Bunda, Kak. Aku takut ada apa-apa dengan Bunda. Tadi saat aku telepon, tapi bukan Bunda yang mengangkat teleponnya. Nince bilang Bunda ada dikota sebelah dan ... " Adeeva menangis.
"Dan ... Bunda kamu kenapa, Dek?"
"Bunda kritis, Kak."
"Ya... Tuhan ... Ya sudah, ayo kita kesana. Kak Rey ganti baju dulu, ya...."
Sepuluh menit kemudian Rey dan Deeva sudah berada didalam mobil. Mereka menuju rumah sakit tempat Bunda dirawat. Perjalanan yang cukup jauh, butuh waktu dua jam menuju kesana. Rey memarkirkan kendaraannya disana, mereka menuju UGD dan menanyakan keberadaan Ruz.
Lorong-lorong panjang rumah sakit mereka telusuri mencari kamar perawatan Ruz. Pagi itu dingin menghamburkan auranya pada setiap jengkal udara yang berhembus.
"Papi," panggil Rey pada Papi nya yang keluar dari ruang perawatan.
Junan menatap pada kedua anak nya itu. Keadaan Ruz yang mengkhawatirkan membuat dia cemas, dan itu terpancar jelas diwajahnya.
"Bunda?" tanya Deeva
"Didalam," jawab Junan sambil membukakan pintu untuk putri nya.
Deeva langsung masuk kedalam melihat keadaan Ruz yang terbaring lemah tak berdaya.
__ADS_1
"Bunda Deeva kenapa, Pi?" tanya Rey saat melihat Papinya duduk dikursi tunggu.
"Kegagalan fungsi ginjal membuat kondisinya makin menurun. Dokter bilang harapan sembuhnya sangat tipis," jelas Junan lirih.
"Apakah tidak ada harapan lagi, Pi?"
"Beberapa hari sebelumnya kondisi Ruz kritis, setelah sadar dari komanya pun kondisinya tidak makin membaik. Sudah dua tahun ini Ruz menderita. Seandainya Papi lebih cepat bertemu dengannya, mungkin tak akan seperti ini jadinya."
Junan menangkupkan kedua tangannya kewajahnya, rasa sesal terlukis jelas dari rona wajahnya. Rey mendekati Papinya lalu menepuk lembut pundak laki-laki kebanggannya itu.
"Pergilah kedalam Rey. Temani adikmu. Kasihan dia. Papi tak sanggup melihatnya menangis."
"Ya, Tuhan ... Deeva pasti sangat terpukul." Rey tersadar dan bangun dari duduknya.
Dia menyusul adik perempuannya masuk kedalam kamar perawatan. Dia melihat Ruz terbaring lemah diatas tempat tidur, wajahnya pucat seperti tak ada aliran darah dalam tubuhnya. Deeva duduk disampingnya, matanya yang sembab memandang Rey.
"Dek," ucapnya sambil membelai lembut kepala adik bungsunya itu.
Ruz melirik pada Rey yang baru datang. Tubuh Ruz begitu lemah dan nafasnya satu-satu.
"Deee ...eevva..." ucapnya sambil mencoba meraih tangan putrinya.
"Ya, Bun ... "
"Nein. Mutter ist unschuldig. Deeva, liebe Bunda." 2)
"Vergib auch deinem Vater. Er ist ein guter Mann" 3)
Gadis manis itu hanya terdiam. Dia tak menjawabnya. Matanya nanar menatap sang Bunda. Ruz memandang Rey yang setia berdiri dibelakang adik bungsunya itu.
"Rey," panggil Ruz.
"Ya, Bun ... " jawabnya.
"Tolong jaga, Deeva."
"Ya, Bun ... Rey pasti jaga Deeva. Dia juga adik Rey. Bunda tidak usah khawatir," ucap Rey
Ruz tersenyum lega mendengarnya.
__ADS_1
Dia merasa tenang jika harus meninggalkan putri kesayangannya pada dua orang laki-laki hebat itu, Junan dan juga putranya Rey.
Gagal ginjal stadium 5 yang dideritanya membuat Ruz memasrahkan dirinya pada malaikat maut. Ini adalah tahapan terakhir dari penyakit ginjal kronis. Tahapan ini menandai bahwa ginjal sudah tidak mempu menjalani fungsinya dengan baik, yaitu untuk menyaring dan membuang “limbah” serta cairan yang berlebih dari dalam darah. Dalam dunia medis, gagal ginjal stadium 5 lebih dikenal dengan sebutan end stage renal disease (ESRD).
Fungsi ginjal penderita ESRD biasanya tidak mencapai 10 persen dari fungsi normalnya. Itu artinya, ginjal sudah hampir tidak berfungsi atau bahkan tak berfungsi sama sekali. Sebelum mencapai gagal ginjal tahap akhir, penderita penyakit ginjal kronis akan mengalami penurunan fungsi ginjal secara bertahap. Dua tahun terakhir adalah masa-masa menyakitkan bagi Ruz yang akhirnya harus menyerahkan hidupnya pada malaikat maut yang menjemputnya.
Setiap jengkal ruangan itu menjadi lebih dingin dari biasanya, bahkan mungkin lebih dingin dari tubuh Ruzana yang mulai membeku. Tangis Adeeva pecah melihat Bunda yang sudah tak bernyawa lagi. Runtuhlah pertahanan Rey melihat adik perempuan kesayangannya itu menangis. Tak tega hatinya melihat kedukaan itu, akhirnya dia paham kenapa Papi nya tak sanggup melihat, Deeva menangis. Mana ada laki-laki yang tak akan luluh hatinya melihat perempuan yang dia cintai menangis. Dan untuk kedua kalinya Junan kehilangan lagi perempuan yang dia sayangi, Laura dan juga Ruzana.
Rey langsung memeluk Deeva dalam dekapannya. Memberikan kekuatan pada sibungsu.
"Sabar sayang. Kak Rey ada disini bersamamu," ucapnya
Diluar sana Junan bisa mendengar jelas apa yang terjadi dalam ruangan itu. Tangannya mengepal dan memukul tembok yang ada dihadapannya. Dia menyandarkan kepalanya ketembok, matanya menggenang. Dia tak dapat lagi menutupi kesedihan hatinya. Hancur hatinya melihat perempuan yang disayangnya itu berjuang seorang diri.
"Maafkan aku, Ruz .... Maafkan Aku ... "
Kata-kata itulah yang terulang dari bibir nya yang bergetar menekan rasa sedih dalam hatinya itu. Penyesalan berkali-kali memucuk dihatinya. Ruzana Alnaya Ibram, kembali kepada pelukan Sang Penciptanya.
******
Pesan terakhir Ruz, dia minta dimakamkan dikampung halaman ibunya. Mobil iring-iringan jenasah mengantar kepergian Ruz ke peristirahatannya yang terakhir. Deeva hanya duduk diam di bangku tengah mobil, Rey beberapa kali meliriknya dari spion tengah mobilnya. Wajah sedih perempuan muda itu terbalut ketegaran. Begitu tenang.
Bahkan ketika jenasah Bunda dimasukkan liang lahat, mata Deeva hanya mengalirkan dua garis anak sungai dipipinya. Senyumannya masih terukir diwajahnya.
"Auf Wiedersehen, Bunda. Gott liebt Bunda. Er wird seine Bunda im Himmel umarmen. Deeva liebe Bunda," ucapnya dalam hati.
Dia menoleh untuk terakhir kalinya pada gundukan tanah yang penuh taburan bunga itu, langkahnya menjauh dari pemakaman. Rey dengan setia memeluk adik perempuannya itu dan Deeva pun menyandarkan kepalanya pada Rey.
Ada sedikit rasa cemburu dihati Junan melihat kedekatan Rey dan adiknya, rasa cemburu yang berbalut kerinduan seorang ayah yang sangat ingin memeluk putri kandungnya. Sangat ingin melihat kemanjaan gadis kecilnya itu padanya. Namun Junan tak ingin memaksakan kehendaknya, Deeva masih belum siap menerimanya sebagai ayah kandungnya.
******
Terjemahan
1) "Maafkan bunda, Sayang," ucap Ruz
2) "Tidak. Bunda tidak bersalah. Deeva sayang Bunda."
3) "Maafkan ayahmu juga. Dia orang baik."
__ADS_1
4) "Selamat tinggal, Bunda. Tuhan mencintai Bunda. Dia akan memeluk Bunda di surga. Deeva sayang Bunda," ucapnya dalam hati.
******