
Sepi. Itulah yang menggambarkan keterdiaman keluarga Caesar pada hari minggu yang cerah itu. Rey baru saja kembali dari urusannya diluar. Setelah makan pagi tadi yang juga tak ada interaksi apapun dari Deeva, dia langsung masuk kedalam kamarnya dan tak keluar.
Tok ... Tok ...
Cekreeeeekkk. ..
Deeva yang sedang membaca buku dikamarnya menoleh pada Rey yang berdiri dibalik pintu.
"Apa Kak Rey menganggumu, Dek?" tanyanya.
Gadis manis itu hanya mengelengkan kepalanya dan tersenyum pada kakaknya itu. Rey masuk mendekati adiknya. Dia mengelus lembuy kepala adik kesayangannya itu.
"Bagaimana keadaanmu sekarang, Dek?" tanya Rey.
"Aku baik-baik saja Kak Rey. Tak perlu khawatir," jawab Deeva berdusta.
"Sayang ... Kamu mungkin bisa bilang tidak. Tapi kamu salah besar kalau kamu pikir kamu bisa membohongi mata Kak Rey. Kak Rey tahu kamu tidak sedang baik-baik saja. Kak Rey paham apa yang kamu rasakan. Tapi ini semua bukan mutlak salah Papi ataupun Bunda mu. Terimalah takdir ini dengan lapang dada. Yakin lah tidak ada niatan Papi untuk mengabaikan mu apa lagi membuangmu. Kak Rey paham benar siapa Papi," papar Rey.
Untuk beberapa saat Rey terdiam, mengatur lagi irama nafasnya, mengatur lagi perasaanya. Deeva hanya terdiam mencerna baik-baik setiap perkataan yang diucapkan kakak laki-lakinya itu.
"Malam itu saat kamu tertidur dimobil, Papi lah yang memberi sanggahan bantal agar tidurmu nyaman. Dan menyelimutimu agar kamu merasa hangat. Lalu Papi jugalah yang menggendongmu dan membawamu kekamar. Papi tak ingin kamu bersedih, walaupun dia tahu kamu pasti akan membencinya. Tapi nalurinya sebagai Ayah tak bisa di dustai. Dia benar-benar mengkhawatirkan mu saat kamu tak ada kabar seharian kemarin, lalu kamu pulang larut malam. Papi takut terjadi sesuatu yang buruk denganmu. Dan bukan hanya Papi saja yang merasakan itu, Kak Rey pun merasakan hal yang sama." Rey diam sejenak. Dia menatap dalam pada manik mata adik perempuan kesayangnya.
"Kak Rey dan terutama Papi sangat senang saat mengetahui bahwa kamu adalah bagian dari keluarga ini. Kamu berhak menjadi bagian dari keluarga Caesar. Anak Papi, anak kandung Junan Hariz Caesar. Adik Kak Rey satu-satunya. Kak Rey harap kamu bisa memikirkan dengan baik kata-kata Kak Rey. Buka hatimu, berdamailah dengan takdir. Kamu adalah adik Kak Rey yang paling lembut, cerdas dan juga bijaksana."
"Kak Rey tinggal dulu ya, Sayang ..." Rey pamit dan mencium pipi adik perempuannya itu.
Adeeva terdiam setelah kepergian kakaknya, dia masih mengurung diri dikamarnya. Menelaah lagi semuanya, menarik helai demi helai apa yang terjadi.
Begitupun Junan, dia hanya mengurung diri dikamarnya. Merenungi setiap inchi apa yang telah dia lakukan dan apa yang harus dia lakukan diantara kebencian putri kandungnya itu Rey berada ditengah-tengah mereka berdua, diantara ayah dan anak yang sedang perang dingin.
Tok ... Tok ...
Cekreeeeekkk ...
"Boleh Rey masuk, Pi?" ucap Rey sopan
__ADS_1
"Masuklah Rey," jawab Junan
Junan menggeser duduknya. Dia hanya menghela nafas saat Rey datang, seolah memberi tahu kegelisahan hati yang dia rasakan saat ini. Rey duduk didekat papinya, menyandarkan tubuhnya pada busa empuk sofa itu.
"Dimana adikmu, Rey?" tanya Junan.
"Deeva ada dikamarnya, Pi."
"Kemana dia semalam sampai pulang selarut itu. Papi sangat mengkhawatirkan nya. Dia anak perempuan. Jangan sampai terjadi apa-apa dengannya." lengusan nafas Junan terdengar parau.
Harga dirinya terlalu tinggi untuk menunjukkan kelemahannya sebagai seorang laki-laki. Sebisa mungkin dia menekan perasaannya itu dihadapan putra sulungnya. Rey paham benar watak Papinya itu. Rasa sayang nya pada anak-anak nya tidak terlawan oleh apapun.
"Deeva hanya mengatakan berkeliling mall dan nonton bioskop dengan temannya, Pi. Hanya sekedar hang out setelah ujian," jelas Rey.
"Syukurlah kalau begitu, Papi lega mendengarnya."
"Rey, harap Papi sedikit menahan diri terhadap Deeva. Dia tampaknya sangat sensitif. Perasaan nya sangat lembut. Rey takut dia tertekan dengan keadaan ini," pinta Rey.
"Ya, Papi paham maksudmu. Lebih baik kita beri Deeva sedikit waktu untuk berfikir dan menenangkan diri. Papi yakin dia anak yang cerdas dan dewasa. Hanya saja hatinya butuh waktu untuk beradaptasi dengan takdir ini. Adikmu masih sangat muda, dia juga seorang perempuan. Tentunya berbeda cara pandang seorang laki-laki. Perempuan lebih mendahulukan hati dan perasaan nya dari pada akal nya," papar Junan.
Junan hanya tersenyum menanggapi komentar anak sulungnya itu. Mereka kembali hanyut dan terpaku dalam keterdiaman.
******
Drrrr.... Drrr...
Klik ...
"Selamat pagi, Pak Junan," sapa seseorang diujung teleponnya
"Selamat pagi," jawab Junan.
"Maaf, Pak. Menggangu pagi anda. Saya mau melaporkan penyelidikan saya tentang Ny. Ruz ..."
Seorang mata-mata bayaran yang diperintahkan Junan untuk mengamati gerak-gerik Ruz melaporkan sesuatu. Mendadak Junan menjadi pias. Tanpa basa-basi dia segera menuju kamar mandi, membersihkan diri lalu berganti pakaian. Junan menyambar kunci mobilnya. Dia tak sempat memberitahu siapapun tentang keterburu-buruanya itu. Dua jam perjalanan dia tempuh untuk mencapai tujuannya, dia segera mencari kamar yang dituju.
__ADS_1
Cekreeeeekkk ...
"Ruz ..." panggilnya
Ruz yang terbaring lemah ditempat tidur menoleh kearah pintu. Rona merah tampak terkuras dari wajahnya, bibirnya melengkung mengukir senyum kesedihan.
"Kamu datang, Jun," ucapnya lemah.
"Bagaimana keadaan mu, Ruz. Ya, Tuhan...kamu begitu pucat dan kurus. Kamu begitu menderita Ruz," lirih terdengar dari kata-kata yang keluar dari bibir Junan.
"Bagaimana kamu tahu aku disini, Jun? Mana Deeva?"
"Orang suruhanku yang mengabarkannya. Deeva dirumah bersama Rey, aku tak sempat memberitahu mereka."
"Tolong jangan, Jun. Jangan katakan keadaanku ini pada Deeva. Kasihan dia, Jun."
Junan mengangukkan kepalanya, wajahnya memandang sedih pada perempuan yang masih sangat dicintainya itu, tangannya membelai lembut pipi Ruz yang terasa dingin ditelapak tangannya yang besar. Manik mata mereka bertemu, saling bercerita tentang kerinduan. Puluhan tahun jarak dan waktu yang dirampas takdir memisahkan mereka. Kedua orang yang masih saling mencintai itu melepaskan kerinduan pada detik-detik indah mereka saat itu, tanpa ada kata-kata, hanya bicara dalam diamnya.
"Jun ..." panggil Ruz kemudian.
"Hmmm..."
"Boleh aku minta sesuatu padamu, Jun?" mata Ruz menodong mata Jun dengan tatapan sangat memohon.
"Ya, katakan Ruz ..."
"Jika terjadi sesuatu padaku nantinya, aku mohon Jun, jaga Deeva untukku. Dia putrimu yang baik, Jun."
"Tanpa kamu minta pun aku akan melakukannya, Ruz. Itu sudah tanggung jawabku sebagai ayah kandungnya. Deeva akan berada dalam perlindunganku, kamu jangan khawatir soal itu. Konsentrasi sajalah dengan kesembuhanmu, Ruz. Semangatlah untuk sembuh, demi putri kita, Deeva," papar Jun.
Ruz menghela nafas lega, terpampang senyum bahagia diwajahnya. Dia percaya bahwa Jun akan menepati kata-katanya. Dia tahu benar watak laki-laki yang menikahinya itu. Jun menggenggam tannya Ruz dengan kedua telapaknya yang besar, memberikan energi besar untuk Ruz tetap semangat demi kesembuhannya.
Dengan setia Junan menemani Ruz dirumah sakit, menungguinya siang dan malam. Beberapa hari ini kondisi Ruz semakin menurun, dokter mengatakan hanya bisa pasrah dengan semangat hidup pasien. Jun kali ini benar-benar frustasi, dia benar-benar merasakan sakit yang luar biasa di ujung hatinya saat perempuan yang sangat dia cintai harus berjuang melawan maut seorang diri. Dua hari berikutnya Ruz kritis kembali, dia tak sadarkan diri, nafasnya mulai menipis, nadinya kembali melemah. Hari berikutnya Ruz sadar dalam keadaan yang sangat lemah bahkan sangat lemah.
******
__ADS_1