
Tiga hari menjalankan PLS atau Pengenalan Lingkungan Sekolah membuat Ella sedikit lelah. Pasalnya selama tiga hari berturut-turut, dia harus merasakan panasnya mentari siang dan sensasi pulang di saat mentari tengah berganti posisi dengan sang bulan.
Dan hari ini adalah hari pertama Ella benar-benar masuk sekolah. Saat di barisan sebelum memasuki kelas, yaitu barisan yang terbentuk saat salah satu guru membacakan kelas-kelas mereka, Ella sedikit panik. Ella tidak mengenal satu pun orang yang ada di barisan siswa yang akan menjadi teman sekelasnya.
Kursi kelas rata-rata sudah ditempati oleh teman-teman baru Ella. Setelah mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, Ella pun menemukan kursi yang kosong. Ella yang tak ingin berlama-lama berdiri layaknya orang tersesat pun memutuskan untuk langsung menghampiri siswi yang duduk di sebelah kursi yang diincar oleh Ella.
"Oh, nggak ada orang, kok. Duduk aja," ujar siswi itu setelah Ella melontarkan basa-basi ala murid baru yang sedang mencari kursi untuk ia duduki.
"Nama gue Ella. Nama lo?" tanya Ella saat ia sudah duduk di sebelah siswi itu.
"Nama gue Grisel," jawab siswi itu. Grisel kemudian mengarahkan pandangannya pada name tag yang terjepit di saku baju seragam Ella. "Nama panjang lo Calluella Raveena, ya?"
Ella mengangguk. "Susah, ya? Makanya nama panggilan gue Ella, biar simpel dan elegan."
Grisel tertawa kecil mendengar ucapan Ella. Grisel menganggap teman satu meja barunya itu adalah orang yang seru. Begitu juga dengan Ella, ia juga menganggap Grisel adalah orang yang seru. Sudah tercium bau ingin bersahabat di antara mereka berdua.
Beberapa menit kemudian, datanglah seorang guru yang mereka semua tebak adalah wali kelas mereka. Dan benar saja, guru itu adalah wali kelas mereka. Beliau adalah guru Bahsa Jerman. Nama beliau adalah Dhea, biasa dipanggil Frau Dhea oleh para muridnya.
"Guten Morgen!" sapa Frau Dhea dengan sangat bersemangat. Ini adalah kali pertama beliau menjadi seorang wali kelas. Sudah sangat pantas beliau sangat bersemangat.
Sebagian siswa membalas sapaan Frau Dhea dengan bahasa Jerman. Dan sebagian siswa lainnya memutuskan untuk diam, takut salah seandainya mereka ikut membalas.
"Kalian tidak usah takut. Untuk saat ini, kalian belum diminta untuk berbahasa Jerman dengan saya," ucap Frau Dhea. "Oke, seperti biasa, saya persilakan kalian untuk memperkenalkan nama kalian terlebih dahulu. Setelah kalian selesai, nanti saya akan memperkenalkan diri saya. Baiklah, kita mulai dari yang paling pojok depan."
'Yang paling pojok depan' yang dimaksud oleh Frau Dhea adalah Grisel. Ya, Ella dan Grisel duduk di pojok bagian depan. Tanpa mengulur waktu, Grisel pun memperkenalkan dirinya. Lalu hal yang sama juga dilakukan oleh Ella dan teman-teman sekelas mereka. Yang Ella ingat pada saat sesi perkenalan itu adalah nama dua siswi yang berada di belakangnya dan Grisel. Nama kedua siswi itu adalah Arabella yang katanya biasa dipanggil Abel dan juga Aneska.
Bel istirahat berbunyi, bunyi periang hati itu membuat suasana kelas Ella sangat rusuh bak sebuah pasar. Kebanyakan dari mereka adalah murid-murid yang berasal dari SMP yang sama sehingga mereka layaknya tengah melaksanakan reuni dadakan.
"Guys, tolong perhatiannya sebentar!" seru seorang siswa yang tiba-tiba saja sudah berdiri di depan kelas. Semua murid pun diam, menunggu pengumuman yang akan disampaikan oleh murid itu. "Nama gue Reno, gue mau lo semua tulis ID LINE kalian di kertas yang bakal gue kasih." Reno kemudian menyerahkan kertas yang sedari tadi ia pegang kepada Grisel. Grisel dan yang lainnya pun secara bergilir menuliskan ID LINE mereka di kertas itu.
Bel pertanda kegiatan belajar-mengajar telah usai akhirnya berdering. Bel yang baru saja berdering itu adalah bunyi periang hati yang paling luar biasa. Semua murid pun merapikan peralatan sekolah mereka yang terletak di atas meja.
"Eh, El, lo ada pulsa, nggak?" tanya Abel kepada Ella yang masih merapikan peralatan sekolahnya. "Kalau ada, gue pinjam buat telepon orang tua gue dong."
__ADS_1
"Ada. Nih." Ella memberikan ponselnya kepada Abel.
Abel pun mengambil ponsel itu dari tangan Ella. "Gue pinjam sebentar, ya?" Abel lalu pergi keluar kelas untuk menghubungi orang tuanya.
"Lo Ella sama Grisel, 'kan?" tanya Aneska memastikan. Ia tidak ingin salah mengenal orang.
Ella dan Grisel mengangguk.
"Gue Aneska." Aneska memperkenalkan namanya dengan senyuman terukir di wajahnya.
"By the way, yang tadi itu Abel." Aneska melanjutkan kalimatnya dengan maksud memperkenalkan teman semejanya itu.
"Lo balik sama siapa, Nes?" tanya Grisel. Grisel sedang mencoba melakukan pendekatan pertemanan dengan Aneska.
"Gue balik naik ojek online. Kalau kalian berdua?" tanya Aneska balik.
"Gue dijemput kakak gue," jawab Grisel.
"Gue balik bareng doi," jawab Ella.
Dan untuk sekadar informasi, lagi, pacar Ella bernama Gavril. Secara umur mereka berbeda dua tahun. Namun, secara tingkatan kelas mereka, mereka hanya berbeda satu tahun. Ella berada di kelas sepuluh sementara Gavril berada di kelas sebelas.
"Lah, lo udah punya pacar, El?" tanya Grisel sedikit kaget. Masalahnya, selama mereka mengobrol, Ella tidak menceritakan tentang kisah percintaannya. Sebenarnya, Grisel juga tidak menceritakan tentang hal itu. Alasannya simpel, Grisel sedang tidak dalam fase itu.
Ella mengangguk. "Gue malu cerita ke lo."
"Lo nggak usah malu, El. Kita ini udah temanan. Nggak baik kalau dalam hubungan pertemanan ada rahasia," ucap Abel yang tiba-tiba saja sudah kembali masuk ke dalam kelas dan berdiri di samping Ella. "Nih, El, handphone lo. 'Makasih, ya." Abel memberikan ponsel Ella kepada sang pemilik.
Bertepatan dengan kembalinya ponsel itu kepada Ella, ponsel tersebut bergetar tanda notifikasi yang masuk. Ella pun segera memeriksa notifikasi itu. Dan ternyata notifikasi yang masuk berasal dari Gavril.
Gavril Dean: El, kamu di mana?
Gavril Dean: Aku udh di depan
__ADS_1
Calluella Raveena: Iya, aku ke depan skrg
"Gue balik duluan, ya?" pamit Ella kepada ketiga teman barunya itu.
"Hmm, iya, deh, yang udah dijemput sama doi," ledek Aneska.
"Kapan-kapan ajakin kenalan sama kita dong, El," pinta Abel.
"Iya, deh, iya," ucap Ella. "Gue balik, ya?" Ella kemudian berjalan keluar kelas, meninggalkan Grisel, Abel, dan juga Aneska.
*
"Seru, nggak?" tanya Gavril saat Ella sudah masuk ke dalam mobilnya.
Ella mengangguk. "Aku udah punya tiga teman dan kayaknya, sih, mereka orangnya baik-baik."
"Semoga aja. By the way, kamu mau langsung balik atau jalan dulu bareng aku?" tanya Gavril sembari menghidupkan kembali mesin mobilnya lalu menjalankannya.
Ella melihat jam tangan yang bertengger di pergelangan tangan kirinya. Masih pukul setengah sebelas. Ella berkata kepada ibunya kalau ia akan pulang pukul dua. Itu artinya, Ella masih memiliki waktu untuk berjalan bersama Gavril.
"Aku jalan bareng kamu dulu, deh," jawab Ella.
"Ya udah, kamu izin ke mama kamu dulu sana," suruh Gavril.
Ella terdiam sejenak. Ella tidak yakin ibunya itu akan langsung memberikan dirinya izin untuk keluar di hari pertama sekolah. "Nggak usah, Gav. Aku janji sama mama pulang jam dua, kok. Jadi, nggak perlu izin."
"Ella," ucap Gavril, menginstruksikan bahwa dirinya tidak setuju dengan kalimat-kalimat yang baru saja Ella lontarkan. "Mau bagaimana pun, kamu harus tetap izin sama mama kamu."
"Gav, kamu yang izinin, ya?" pinta Ella dengan nada memohon.
Gavril menganggukkan kepalanya. Kebiasaan Ella, selalu menggunakan namanya ketika mereka berdua hendak menghabiskan waktu bersama. Gavril pun memberikan ponselnya kepada Ella. "Nih, kamu pake nama aku."
Ella berseru dengan penuh bahagia lalu ia mengambil ponsel Gavril dari tangan sang pemilik. Setelah mengirimkan pesan kepada ibunya melalui sudut pandang Gavril, Ella pun memainkan game yang ada di ponsel Gavril.
__ADS_1
***