Divide

Divide
Kevin Ganteng, Ya?


__ADS_3

"Gue diajak ketemuan lagi," ucap Abel saat dia dan yang lainnya sedang menyantap sarapan mereka di sekolah.


"Siapa yang ngajak?" tanya Ella.


"Evan," jawab Abel.


"Di mana?" tanya Grisel.


"Di kafenya Kevin," jawab Abel.


"Kevin?" tanya Aneska. "Oh, Kevin temannya Gavril?"


Abel mengangguk. "Kafe itu dekat sama rumah saudara dia."


"Lah, berarti rumah saudara Evan dekat sekolah dong?" tanya Ella.


"Mungkin," jawab Abel. "Gimana, nih? Gue temuin lagi apa gimana? Takutnya ntar Bang Jovan nggak kasih izin."


"Bentar, deh, gue LINE abang lo dulu," ucap Ella lalu dia mengambil ponsel yang ada di saku seragam sekolahnya.


Calluella Raveena: Bangg


Jovan Edsell: Knp El?


Calluella Raveena: Nnti Abel boleh ketemuan sama Evan lagi gak? Tempatnya dekat kok bang


Calluella Raveena: Gak jauh dri sekolah


Jovan Edsell: Boleh, tpi lo semua ikut kan?


Calluella Raveena: Iyaa bang


Jovan Edsell: Nanti klo udh siap kasih tau gue ya


Jovan Edsell: Biar gue jemput


Calluella Raveena: Siap bang


"Gimana? Dibolehin?" tanya Aneska.


Ella mengangguk. "Tapi, ya, seperti biasa, kita harus ikut."


"Eh, *****, gue masih malu sama dia," ucap Grisel yang teringat kejadian memalukan saat di pusat perbelanjaan beberapa hari yang lalu.


"Udah, nanti kita di bagian atas aja," ucap Ella. Tanpa sengaja, Ella tiba-tiba saja teringat kejadian di bagian atas kafe milik keluarga Kevin itu. Kejadian dimana dia melihat Gavril bernyanyi dengan penuh kesedihan.


"Lo, sih, cerobohnya gak ketolongan," ledek Aneska.


Grisel menatap sinis ke arah Aneska. "Jahat lo, Nes."


"Ribut lo ribut. Oh, ya, Bel, nanti lo sama Evan di bagian halaman belakang aja, biar gue sama yang lainnya bisa mantau," pesan Ella.


Abel mengangguk, tanda dia setuju.


*


Ella, Grisel, Abel, dan Aneska merasa seperti orang paling bodoh yang pernah ada. Mereka tidak memikirkan kendaraan apa yang mereka pakai untuk sampai ke kafe.


"Gimana, nih? Naik taksi online aja?" tanya Ella.


"Gue nggak ada aplikasi," jawab Aneska.


"Dua," sambung Grisel.


"Tiga," sambung Abel.


"Oh, iya, Bang Jovan bawa mobil nggak, Bel?" tanya Aneska.


Abel mengangguk. "Kita pinjem mobil Bang Jovan?"


Kali ini Aneska yang mengangguk, kemudian dia melirik ke arah Ella. Bermaksud agar Ella yang meminjam mobil kepada Jovan.

__ADS_1


"Kenapa lo lihatin gue?" tanya Ella. "Gue yang dateng ke Bang Jovan gitu?"


Aneska mengangguk.


"Gue sendiri?" tanya Ella.


"Ya, sama guelah, yok, El," ajak Abel.


Kemudian Ella dan Abel pun berjalan menuju kelas Jovan yang  lokasinya tidak jauh dari tempat mereka.


Pintu kelas Jovan masih tertutup saat Ella dan Abel baru saja sampai. Itu artinya, guru yang berada di kelas Jovan belum keluar. Ella dan Abel pun duduk di kursi yang terletak dekat dengan kelas Jovan.


Beberapa menit kemudian barulah pintu kelas terbuka dan keluarlah guru serta beberapa murid. Tetapi Jovan tidak terlihat, mereka berdua pun beranjak dari kursi itu lalu masuk ke kelas Jovan.


"Bang Jo, pinjem mobil dong," ucap Abel kepada Jovan yang sedang memasukkan buku pelajarannya ke dalam tas miliknya.


"Kalian nggak ada yang bawa?" tanya Jovan.


"Nggak ada, Bang," jawab Ella.


Jovan pun mengambil kunci mobil dari dalam tasnya kemudian memberikannya kepada Ella. "Nanti lo bawa Abel ke sini, ya? Biar dari sini nanti lo kita anter pulang."


Ella mengangguk.


"Paling lama jam empat, ya, Bel," pesan Jovan.


Abel mengangguk kemudian dirinya dan Ella berjalan keluar dari kelas Jovan.


"Kok lama?" tanya Aneska saat Ella dan Abel baru saja sampai.


"Kelas Bang Jovan tadi belum bubar," jawab Abel.


"Ini mobilnya di parkir dimana, Bel?" tanya Ella.


"Di depan sekolah," jawab Abel.


Hanya memerlukan waktu lima menit untuk sampai di kafe milik keluarga Kevin itu. Ella dan yang lainnya tidak langsung turun, mereka memutuskan untuk menyusun kegiatan mereka terlebih dahulu agar tidak terjadi kejadian memalukan seperti yang lalu.


Abel menggeleng. "Dia belum ada kabarin gue."


"Nanti lo ajakin dia di halaman belakang, ya, Bel, kayak yang gue bilang tadi. Kalau bisa lo jangan ke bagian atas dan kalau dia tanya lo dateng sama siapa, bilang aja lo dateng sendiri terus nanti gue nyusul," pesan Ella. "Jangan bilang kalau Aneska sama Grisel juga ada."


Abel menganggukkan kepalanya tanda dia akan mengingat pesan dari Ella itu. Abel pun memeriksa kembali ponselnya siapa tahu ada pesan dari Evan.


Evan Rama: Gue udh sampai depan


Evan Rama: Lo dimana?


Arabella Monica: Lo tunggu aja di situ


Arabella Monica: Gue ntar lagi dtng


"Eh, gue duluan, ya? Evan udah datang," pamit Abel dan dengan segera dia membuka pintu mobil lalu pergi menemui Evan.


"Mudah-mudahan dia nggak inget gue, amin," ucap Grisel.


"Ya, jelas ingatlah dia, mana mungkin dia lupa," ucap Aneska bermaksud untuk membuat Grisel sedikit panik.


Saat Ella, Grisel, dan Aneska berada di lantai dua secara tidak sengaja mereka bertemu dengan Kevin.


"Eh, kalian kok cuma bertiga? Yang satunya kemana?" tanya Kevin.


"Itu di bawah," jawab Grisel.


Kevin pun berjalan ke pinggir dari lantai ini agar bisa melihat ke bawah. "Itu pacarnya?" tanya Kevin.


Ella menggeleng. "Cuma teman dari sosial media aja, Vin."


"Oh, terus kalian di sini mau ngapain?" tanya Kevin.


"Jagain Abel, kalau nggak kita jagain dia nggak bakalan dikasih izin," jawab Aneska.

__ADS_1


"Mamanya terlalu protektif ya?" tanya Kevin.


"Bukan mamanya, Vin, tapi abangnya," jawab Ella.


Kevin hanya mengangguk. "Gue ke belakang dulu, ya? Selamat jadi bodyguard." Kevin pun berjalan menjauhi mereka bertiga kemudian memasuki pintu yang bertuliskan 'Staff Only'.


"Kalau dilihat-lihat Kevin ganteng, ya," ucap Grisel.


"Pas nggak ada orangnya lo baru bilang, dasar pengecut," ledek Aneska.


"Ya kali gue bilang langsung," ucap Grisel.


"Lihat mereka, yok," ajak Ella kemudian dia berjalan ke pinggir agar bisa melihat Abel dan Evan, Grisel dan Aneska pun mengikuti Ella.


"Mereka udah dekat banget, ya?" tanya Aneska.


"Kapan coba gue punya teman dekat cowok ganteng kayak Evan?" tanya Grisel sambil tetap memandangi Evan dari atas.


"Kapan-kapan," jawab Aneska.


Setelah mereka merasa sudah cukup untuk mengintip Abel dan Evan, mereka bertiga pun memutuskan untuk memesan minum lalu sedikit bersantai.


Tiba-tiba ponsel Aneska yang terletak di meja hidup, dan menunjukkan kalau ada panggilan masuk. Dan ternyata itu dari Daniel, Aneska pun segera mengambil ponselnya itu sebelum Ella dan Grisel sadar akan panggilan masuk itu. Aneska mematikan panggilan itu, bermaksud untuk berkomunikasi lewat pesan saja.


Aneska Deniza: Kenapa, Dan?


Daniel Nicholas: Kita bisa ketemuan di rumah lo gak?


Daniel Nicholas: Skrng


Daniel Nicholas: Gue udh di rumah lo dan mama lo blng lo blm pulang


Aneska Deniza: Bisa, ini gue otw pulang


"Eh, gue pulang duluan, ya?" pamit Aneska.


"Kenapa, Nes?" tanya Grisel.


"Ada urusan," jawab Aneska.


"Lo pulang naik apa?" tanya Ella.


"Angkot," jawab Aneska kemudian dia langsung berjalan menjauhi Ella dan Grisel. Entah kenapa Aneska merasa ada sesuatu yang sangat penting yang akan diberitahukan kepada dirinya.


"Lo sempat lihat siapa yang nelpon dia, nggak?" tanya Ella. Ella sedikit penasaran dengan orang yang menelepon Aneska.


Grisel menggelengkan kepalanya.


"Aneh," ucap Ella kemudian dia meminum minumannya yang tinggal sedikit lagi.


Sementara Grisel, dia mengambil ponselnya yang ada di saku seragam. Ternyata ada pesan dari kakaknya, Grisel tidak menyadari hal itu karena ponselnya dalam mode hening.


Alissa Sophia: Sel, kamu plng jam brp?


Alissa Sophia: Papa sm mama udh mau pergi


Alissa Sophia: Kamu gak mau ikut nganter ke bandara?


Griselda Florenza: Mauuu kak


Griselda Florenza: Ini aku udh mau plng


Alissa Sophia: Cepet ya


"Siapa, Sel?" tanya Ella.


"Mama sama Papa gue mau ke luar kota, dan gue mau ikut nganter mereka. Lo nggak apa-apa sendiri kan, El?" tanya Grisel.


Ella mengangguk.


Grisel pun beranjak dari tempat duduknya kemudian berjalan pergi meninggalkan Ella yang sekarang hanya seorang diri.

__ADS_1


***


__ADS_2