
Karin merasa malam ini dia harus berbicara dengan Gavril tentang apa yang sudah diceritakan oleh Aneska kemarin. Karin benar-benar merasa kesal dengan adik laki-laki satu-satunya itu.
Pintu kamar Gavril tidak terkunci. Biasanya jika keadaan begitu, Gavril sedang bersantai. Karin pun langsung membuka pintu kamar Gavril tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
Ternyata Gavril sedang memainkan gitar miliknya sambil bernyanyi, tetapi Karin tidak tahu lagu apa yang dinyanyikan oleh adiknya itu. Didengar dari nada lagu tersebut, lagu itu menggambarkan perasaan Gavril yang sedang sedih.
Setelah Karin duduk di kursi dekat meja belajar Gavril, barulah Gavril menyadari kedatangan kakaknya itu. Gavril meletakkan gitarnya lalu berjalan mendekati Karin.
"Ada apa, Kak? Tumben Kakak ke sini," tanya Gavril.
Karin memang jarang datang ke kamar Gavril karena mereka lebih sering memilih ruang keluarga sebagai tempat untuk berbicara. Tapi kali ini, Karin merasa ruang keluarga bukanlah tempat yang cocok.
"Kakak mau ngomong ke kamu tentang hal penting dan tolong kamu jujur ke Kakak," jawab Karin kemudian dia beranjak dari tempat duduknya lalu mempersilakan Gavril untuk duduk. Gavril hanya mengangguk lalu duduk di kursi itu.
"Kamu kenal sama Aneska?" tanya Karin. Karin memang sengaja memulai dari hal itu agar Gavril lebih mudah untuk mengetahui apa maksud dirinya mengajak Gavril berbicara.
Gavril mengangguk.
"Kenapa kamu nyuruh dia buat jagain Ella biar dia nggak pacaran dan jadiin Kakak sebagai ancaman?" tanya Karin. Kali ini Karin langsung to-the-point.
Gavril tediam, dia masih memikirkan apa jawaban yang akan diberikan oleh Karin. Tapi, Gavril merasa dia harus jujur kepada kakaknya itu, harus. "Aku nyuruh dia karena aku masih sayang sama Ella, Kak. Aku nggak mau Ella punya pacar lagi, karena aku bakal nembak dia lagi waktu aku udah putus sama Erlyne. Dan aku jadiin Kakak sebagai ancaman biar dia mau ikutin suruhan aku."
Karin menggeleng-gelengkan kepalanya, sebenarnya dia sudah tahu bagaimana teori yang dibuat oleh adiknya itu. Tujuan Karin bertanya kembali adalah agar dia mengetahui apakah adiknya jujur kepadanya atau malah sebaliknya. Dan ternyata adiknya itu jujur.
"Kenapa kamu nggak cerita ke Kakak kalau kamu putus sama Ella dan kamu udah jadian sama cewek itu?" tanya Karin.
"Emang Kakak peduli aku pacaran sama siapa?" tanya Gavril.
Pertanyaan Gavril benar-benar membuat Karin terdiam untuk pertama kalinya. Karin menyadari kalau dirinya tidak terlalu peduli dengan kisah percintaan adiknya. Tetapi, Karin tidak sepenuhnya seperti yang Gavril katakan. Karin peduli dengan Gavril, maka dari itu saat ini Karin berbicara berdua dengan Gavril.
"Kakak peduli sama kamu, makanya sekarang Kakak ada di sini. Kakak mau kamu sadar kalau apa yang kamu lakukan itu salah, Gav. Kamu tahu, nggak? Gara-gara ancaman kamu, Aneska jadi mikir macam-macam tentang Kakak, dia kira Kakak yang buat Kenzie hancur dan sampai ngelawan orangtua," jelas Karin panjang lebar.
Kali ini Gavril terdiam, apa yang diucapkan oleh Karin benar. Gavril sudah tahu apa yang akan diterima oleh Karin, tetapi pada saat itu, Gavril sama sekali tidak peduli akan hal itu. Dan mendengar ucapan Karin membuat Gavril merasa bersalah. Sangat-sangat bersalah.
"Kak, aku minta maaf," ucap Gavril memohon maaf kepada Karin.
"Bagus, kamu sadar akan kesalahan yang kamu buat. Dan sekarang Kakak mau kamu sadar akan satu hal," ucap Karin.
Gavril terdiam, dia menunggu hal apa yang akan diberitahu oleh Karin. Entah kenapa saat ini Gavril sedikit merasa lega karena dia sudah menceritakan sebagian kisahnya kepada Karin.
"Kakak mau kamu sadar, kalau cara kamu untuk mempertahankan Ella itu salah, Gav. Kamu nggak perlu ngelakuin hal yang udah kamu lakukan sebelumnya, karena apa? Karena itu percuma, Gav. Percuma kamu berusaha mempertahanin dia apalagi dengan cara yang salah.
"Dan kamu perlu tau, Gav, Ella lagi dekat sama cowok lain, dan Kakak harap kamu jangan sampai ngerusak kebahagian mereka. Kamu relain mereka berdua. Kalau kamu masih sayang sama Ella, mending kamu alihkan perasaan itu ke cewek baru kamu," ucap Karin panjang lebar.
Gavril kembali terdiam mendengar ucapan Karin. Gavril tahu semua itu. Gavril tahu kalau Ella dekat dengan laki-laki lain dan Gavril juga tahu siapa laki-laki itu.
"Kak, 'makasih, ya," ucap Gavril pada akhirnya.
"Iya, sama-sama, dan Kakak mau kamu ngomong ke Aneska kalau kamu membatalkan semua rencana aneh kamu itu," pesan Karin kemudian dia berjalan keluar dari kamar Gavril.
Karin berharap Gavril benar-benar sadar akan kesalahannya dan mau berubah. Sekarang, Karin hanya punya satu masalah. Masalah tentang siapa perempuan yang membuat Kenzie menjadi berubah di depan keluarganya.
Sementara Gavril, sebenarnya dia masih tidak rela kalau dia harus membiarkan Ella dengan laki-laki lain. Tetapi, dia harus melakukan hal itu, dan Gavril juga akan mencoba mengalihkan rasa sayangnya kepada Ella untuk Erlyne.
*
Aneska sedang menunggu kedatangan Daniel di depan pagar rumahnya. Tadi, Aneska memberitahu kepada Daniel kalau Kenzie pergi keluar rumah dan sepertinya Kenzie akan pergi dengan perempuan itu. Daniel pun menyuruh Aneska untuk menunggu di rumahnya dan Daniel segera menuju rumah Aneska.
"Nes," panggil seseorang dari belakang Aneska. Aneska langsung membalikkan badannya dan mendapati Daniel duduk di atas motornya. "Lo naik cepetan."
"Kayaknya sekarang kita pergi ke club itu dulu. Oh, ya, lo udah izin sama Mama lo?" tanya Daniel saat Aneska sudah duduk di belakangnya.
Aneska mengangguk. "Udah."
Daniel pun menghidupkan kembali mesin motornya lalu mengendarainya ke club tempat Daniel melihat Kenzie dengan perempuan yang tidak diketahui identitasnya itu.
Memerlukan waktu sekitar dua puluh lima menit untuk sampai ke club itu. Menurut Aneska jarak dari rumahnya ke club itu cukup jauh. Mungkin Kenzie memilih tempat yang jauh agar tidak ketahuan oleh orang terdekatnya, tetapi sayang, Daniel mengetahuinya.
Daniel memarkirkan motornya di parkiran sebuah minimarket yang lokasinya dekat dengan club itu. Ketika mesin motor Daniel benar-benar mati, Aneska pun turun. Daniel juga melakukan hal yang sama dengan Aneska ketika dia sudah menaruh helm di atas motornya.
"Lo mau kita langsung masuk apa gimana?" tanya Daniel.
__ADS_1
"Mending kita cari motornya Bang Kenzie aja dulu di parkiran sana," jawab Aneska. Aneska tidak mau mereka langsung masuk ke club itu karena menurut Aneska tidak seharusnya dia masuk ke dalam club itu.
Daniel mengangguk lalu ia berjalan terlebih dahulu dan diikuti oleh Aneska.
Untung saja motor yang terparkir di club itu bisa terhitung oleh jari mereka, karena biasanya orang yang datang ke club itu menggunakan mobil.
"Ada, nggak, Nes?" tanya Daniel. Daniel tidak ikut mencari motor Kenzie karena dia tidak tahu bagaimana bentuk motor dan nomor polisi motor Kenzie.
Aneska menggeleng, dia tidak menemukan motor Kenzie. Otak Aneska tiba-tiba teringat akan satu hal, yaitu Kenzie tidak pergi menggunakan motor, tetapi menggunakan mobil. "Oh, ya, gue baru inget. Bang Kenzie pergi naik mobil, bukan motor."
Daniel menggeleng-gelengkan kepalanya, sifat Aneska dari dulu sampai sekarang tetap saja sama, tidak berubah. "Lo inget nomor polisinya, "kan? Biar gue bantu cari."
"Inget, tapi sini hape lo," jawab Aneska.
Daniel mengambil ponsel yang ada di saku celananya kemudian memberikannya kepada Aneska yang sudah menjulurkan tangannya terlebih dahulu. Setelah ponsel Daniel sudah digenggamnya, Aneska langsung mengetikkan nomor polisi mobil Kenzie. Cara seperti ini lebih mudah daripada harus menghafal, menurut Aneska. Dia berpikir seperti itu karena dia adalah seorang yang mudah lupa akan sesuatu.
Aneska mengembalikan ponsel Daniel kepada Daniel setelah dia selesai mengetikkan nomor polisi mobil Kenzie. "Nih."
Daniel mengambil kembali ponselnya lalu membaca nomor polisi yang diketikkan oleh Aneska sebelumnya. "Ya udah, ayo, parkirannya di bawah."
Kemudian Aneska dan Daniel pun berjalan menuju parkiran mobil yang terletak di bawah. Benar saja, jumlah mobil yang terparkir di parkiran beberapa kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan motor yang terparkir tadi.
"Gue cari ke kiri, lo cari ke kanan, nanti kita bakalan ketemu kalau lo ikuti arahan gue karena ini parkiran pola persegi," suruh Daniel.
Aneska mengangguk.
"Nanti kalau lo udah ketemu, lo misscall gue aja, begitu juga gue," pesan Daniel.
Aneska mengangguk, lagi, kemudian saat Daniel sudah berjalan ke kiri, Aneska juga ikut berjalan tetapi ke arah kanan. Aneska melihat mobil-mobil yang terparkir di sisi kanan dan sisi kiri dirinya, tetapi sejauh ini Aneska belum menemukan mobil Kenzie.
Tiba-tiba ponsel Aneska bergetar, ternyata itu panggilan masuk dari Daniel, kemungkinan Daniel menemukan mobil Kenzie. Setelah panggilan dari Daniel berhenti, Aneska langsung mengirimkan pesan kepada Daniel.
Aneska Deniza: Gimana? Lo ketemu sama mobil Bang Kenzie?
Daniel Nicholas: Bukan mobilnya aja, Nes, gue ketemu sama Bang Kenzienya langsung
Aneska sangat kaget dan panik ketika selesai membaca pesan dari Daniel.
Daniel Nicholas: Biar lo gak kenapa-napa, lo jgn nunggu pas di parkirannya, lo masuk aja ke dalam minimarket itu
Daniel Nicholas: Gue bakal balik sekitar sepuluh menit lagi
Aneska Deniza: Oke
Tanpa berpikir lagi, Aneska langsung mengikuti perintah Daniel. Untung saja saat hendak naik ke atas, Aneska tidak bertemu dengan Kenzie. Dan saat sudah sampai di parkiran motor club, Aneska langsung berjalan dengan cepat menuju minimarket karena dia sebenarnya takut untuk jalan sendiri saat malam hari, ditambah lagi, lokasinya sekarang bukanlah lokasi yang ia kenal.
"Selamat datang, selamat berbelanja, kami sedang ada promo yang bisa Mbak lihat di beberapa rak makanan dan minuman kami," ucap pelayan minimarket itu saat Aneska baru saja masuk ke dalam.
Aneska hanya membalas ucapan pelayan itu dengan anggukan dan senyumannya. Aneska berjalan menuju rak minuman karena tidak bisa dipungkiri, angin malam membuat dirinya sedikit mengantuk dan ingin meminum minuman. Untung saja Aneska membawa sedikit uang sehingga dia bisa membeli minuman.
Aneska memutuskan untuk tidak langsung membayar minuman yang sedang ia genggam itu, karena ada dua alasan, yang pertama Aneska takut jika berada di luar sendirian dan yang kedua Aneska bisa menyejukkan badannya di dalam minimarket ini. Istilah lainnya adalah ngadem.
Daniel sudah merasa cukup dengan foto-foto perempuan yang bersama dengan Kenzie tadi, perempuan itu sama dengan yang waktu lalu dia lihat. Daniel pun segera menuju ke minimarket. Jujur, Daniel sedikit khawatir dengan keadaan Aneska.
Daniel tidak melihat keberadaan Aneska di parkiran, itu berarti Aneska mengikuti perintahnya untuk menunggu di dalam minimarket. Daniel masuk ke dalam minimarket dan langsung disambut oleh pelayan yang berjaga di dekat pintu masuk.
"Mbak, tadi ada cewek yang masuk sini, 'kan?" tanya Daniel memastikan kepada si pelayan kalau Aneska benar-benar berada di minimarket ini.
"Ada, Mas, banyak banget lagi," jawab pelayan itu.
"Oh, ya udah, makasih ya, Mbak," ucap Daniel lalu berjalan menjauhi pelayan itu. Daniel sengaja mempersingkat percakapan mereka karena jika Daniel tetap berbicara dengan pelayan itu, Daniel sama saja membuang-buang waktunya.
Akhirnya Daniel menemukan Aneska di rak makanan. Ya, karena merasa bosan berada di rak minuman, Aneska memutuskan untuk berpindah tempat tadi.
Belum sempat Daniel memanggil Aneska, Aneska sudah terlebih dahulu melihat kedatangan Daniel. Aneska pun berjalan mendekat ke tempat Farhan berdiri.
"Gimana, Dan?" tanya Aneska.
"Gue udah dapet fotonya, nanti gue bakalan nunjukin waktu udah sampai rumah," jawab Daniel.
Aneska hanya mengangguk, Aneska tahu ini bukan tempat yang cocok untuk membicarakan hal itu. Mereka berdua keluar dari minimarket itu tetapi sebelumnya Aneska membayar terlebih dahulu minuman yang sedari tadi ia pegang.
__ADS_1
*
Sama seperti saat mereka pergi ke club tadi, butuh waktu sekitar dua puluh lima menit untuk sampai ke rumah Aneska.
"Lo singgah, 'kan, Dan?" tanya Aneska sembari turun dari motor Daniel.
Daniel mengangguk, dia memang harus singgah sebentar di rumah Aneska untuk membicarakan temuannya tadi.
Melihat anggukan Daniel, Aneska membuka pagar rumahnya setelah itu Daniel pun mengendarai motornya agar masuk ke halaman rumah Aneska.
"Kira-kira mama lo udah tidur belum?" tanya Daniel.
"Gue nggak tau, sih, tapi kalau lo mau tempat yang aman, berarti kita harus ke lapangan basket Bang Kenzie," jawab Aneska.
"Ya udah, ayo," ajak Daniel.
Mereka berdua duduk di kursi yang merupakan tempat Kenzie biasa duduk jika dia sedang istirahat saat bermain bola basket.
"Ini fotonya," ucap Daniel sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Aneska.
Tetapi yang Aneska lihat bukanlah sebuah foto tetapi sebuah pemberitahuan bahwa ada panggilan masuk. Daniel tidak menyadari hal itu karena dia mematikan notifikasi ponselnya.
"Ada incoming call," ucap Aneska.
Daniel melihat layar ponselnya. "Bentar, ya." Kemudian Daniel beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan sedikit agar Aneska tidak dapat mendengar pembicaraannya dengan orang yang menghubunginya. Jelas Daniel tidak mau, karena yang menghubunginya adalah pacarnya.
Hampir lima menit kemudian, barulah Daniel kembali duduk di samping Aneska. "Maaf, Nes, tadi itu-"
"Santai, Dan, gue udah tau, kok," kata Aneska memotong ucapan Daniel. Aneska sudah tahu itu karena tadi dia melihat nama orang itu.
Entah kenapa Daniel merasa bersalah kepada Aneska, padahal seharusnya Daniel tidak perlu merasakan perasaan itu.
"Udah, lo nggak usah gitu. Oh ya, mana fotonya?" tanya Aneska mengalihkan pembicaraan mereka ke pembicaraan sebenarnya. Aneska benar-benar tidak mau rencananya kali ini gagal hanya karena sesuatu yang seharusnya sudah tidak penting lagi.
Daniel sedikit lega karena Aneska sudah dapat bertingkah lebih dewasa sekarang. Kemudian Daniel kembali membuka aplikasi galeri lalu menunjukkan layar ponselnya kepada Aneska.
"Bentar, deh, kok kayaknya cewek itu mirip sama seseorang?" tanya Aneska kepada Daniel.
"Nah, 'kan, gue udah bilang sama lo, gue pernah lihat dia di sekolah," jawab Daniel.
"Kalau masih di sekolah mungkin gue bisa cari tau sendiri. Lo kirim deh fotonya ke gue," suruh Aneska.
"Nanti bakalan gue kirim, tenang aja. Oh, ya, gue juga bakal bantu lo kalau gue ketemu sama cewek itu di sekolah," ucap Daniel.
"Makasih, ya, Dan, lo udah mau bantu gue sampai akhirnya gue tau muka cewek gila itu," ucap Aneska berterima kasih kepada Daniel yang sudah mau membantunya sampai malam hari seperti sekarang.
"Iya, sama-sama, kalau gitu gue pulang dulu, ya? Udah malam soalnya," pamit Daniel.
Aneska mengangguk. "Hati-hati ya, Dan. Btw, lo tutup bisa tutup pager sendiri, 'kan?"
"Bisalah, kayak nggak pernah ke sini aja gue lo buat," jawab Daniel lalu berjalan menjauhi Aneska.
Saat Aneska masuk ke rumah, dia mendapati ibunya baru saja keluar dari kamar. Itu berarti ibunya belum tidur. Aneska segera menghampiri ibunya itu.
"Mama, belum tidur?" tanya Aneska.
"Mama kebangun karena ada suara pagar, itu siapa? Kenzie?" tanya Rena.
Aneska menggeleng. "Tadi itu Daniel, Ma. 'Kan Aneska pergi sama dia tadi."
"Oh iya, Mama lupa, tapi Kenzie kemana ya? Kamu tau, nggak?" tanya Rena.
Aneska diam sejenak, dia sedang memikirkan jawaban atas pertanyaan mamanya barusan. Tidak mungkin jika Aneska langsung mengatakan kalau Kenzie sedang mabuk.
"Bang Kenzie nginap di kos temannya, Ma, soalnya ada tugas kelompok gitu katanya," jawab Aneska, jelas berbohong. Aneska tahu Kenzie tidak mungkin pulang makanya dia menjawab seperti itu.
"Oh, ya udah, Mama tidur lagi, ya? Kamu jangan tidur larut malam," pesan Mama lalu kembali ke kamarnya.
"Maafin Anes, Ma," ucap Aneska sambil berjalan menuju kamarnya.
***
__ADS_1