Divide

Divide
Namanya Jovan


__ADS_3

"Sekarang kita akan belajar bagaimana cara memperkenalkan diri dalam bahasa Jerman," ucap Frau Dhea. "Sebelum saya memulainya, kira-kira ada yang sudah bisa, tidak?"


Salah satu murid mengangkat tangan tanda dia bisa memperkenalkan dirinya menggunakan bahasa Jerman. Seingat Ella, nama murid itu adalah Violett.


"Guten Morgen! Ich bin Violett Weiss," ucap Violett.


"Gut, Violett," puji Frau Dhea, "ada yang lain?"


Tidak ada pergerakan dari siswa di kelas Ella, yang artinya tidak ada yang ingin memperkenalkan diri mereka. Frau Dhea menatap murid-muridnya, dia ingin memilih salah satu dari mereka. Menurut guru Bahasa Jerman itu, satu murid sudah cukup untuk menjadi contoh bagi murid yang lainnya. Mata Frau Dhea berhenti menerawang ketika ia melihat Ella.


"Oke, coba kamu yang sedang nulis itu," ucap Frau Dhea.


Ella merasa terpanggil karena hanya dialah orang yang sedang menulis. Ella mengutuk dirinya sendiri, awalnya Ella melakukan hal itu agar Frau Dhea tidak memilihnya. Akan tetapi, pada kenyataannya, Frau Dhea malah memilihnya.


"Saya?" tanya Ella sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Iyalah kamu, kan, kamu nulis, itu artinya kamu paham dengan apa yang dikatakan oleh Violett tadi," jawab Frau Dhea.


Bisa ditebak, semua mata para murid tertuju pada Ella yang terlihat seperti orang yang tidak tahu apa-apa. Sebenarnya, Ella memang tidak tahu apa-apa. Sedari tadi yang Ella lakukan hanyalah menulis imajinasi-imajinasi yang ada di kepalanya.


Ella masih terdiam, dia tidak tahu harus berkata apa. Ella seketika lupa dengan kalimat yang diucapkan oleh Violett. Tiba-tiba Ella teringat sesuatu, beberapa hari yang lalu Ella pernah menonton video perkenalan dalam berbagai bahasa dan kebetulan ada juga perkenalan dalam bahasa Jerman.


"Ich heisse Calluella Raveena," ucap Ella.


"Wah, ternyata kamu benar-benar mengerti," puji Frau Dhea.


Ella hanya tersenyum. Tak sia-sia saat itu ia menghabiskan kuota tengah malamnya untuk menonton video di Youtube.


Kemudian Frau Dhea menjelaskan tentang perkenalan dalam bahasa Jerman dan beberapa materi lain yang berhubungan dengan awalan dalam mempelajari bahasa asing tersebut.


*


"Nes, semalam kita udah ketemu sama Gavril lho," Abel memberitahukan kejadian kemarin kepada Aneska. Tujuan Abel hanya satu, dia ingin melihat Aneska kesal karena tidak ada saat mereka bertemu dengan Gavril.


"Hah?! Seriusan? Ih, kok gue nggak tau, sih?" tanya Aneska. Sedikit penyesalan dirasakan oleh Aneska karena sudah pulang terlebih dahulu.


"Lo pulangnya cepet banget, sih, Nes," kata Grisel.


"El, gue nggak mau tau, pokoknya nanti suruh si Gavril temuin gue atau nggak, gue yang temuin dia," pesan Aneska kepada Ella.


"Kok lo pengen banget ketemu Gavril?" tanya Abel.


Aneska terdiam, dia sendiri tidak tahu kenapa ia ingin sekali untuk bertemu dengan Gavril. Akan tetapi, daripada Aneska harus jujur kalau dia sendiri tidak tahu, ia lebih baik mencari jawaban lain. "Lo semua udah ketemu Gavril, masa gue belum? Nggak seru dong."


"Aslinya ganteng banget lho, Nes," ujar Abel masih terus bertujuan untuk membuat Aneska kesal.

__ADS_1


"Ih, kesel gue sama lo," Aneska terlihat kesal, tetapi sebenarnya tidak. Lagi-lagi Aneska tidak tahu mengapa dirinya tidak kesal padahal seharusnya dia kesal.


"Oh ya, Nes, Bang Kenzie sama pacarnya gimana?" tanya Ella mengalihkan pembicaraan. Ella sengaja melakukan hal itu agar Aneska tidak kesal lagi.


"Semalam Bang Kenzie nggak pulang, dan baru balik subuh," jawab Aneska.


Ella, Grisel, dan Abel terkejut mendengar jawaban Aneska. Jelas pemikiran negatif muncul di otak mereka bertiga, bahkan Aneska sebelumnya juga sama seperti mereka.


"Gila, ngapain aja tuh Bang Kenzie?" tanya Grisel.


"Gue yakin Bang Ken pasti barengan sama pacarnya," ucap Abel mengeluarkan pikiran negatifnya. Dan pemikiran Abel itu sama dengan pemikiran yang ada di pikiran Ella, Grisel, dan juga Aneska.


"Gue mikirnya juga gitu, tapi kata Bang Kenzie dia cuma nginap di kos temennya dan dia nggak ngasih tau ngapain," kata Aneska.


"Oh iya, Bel, lo punya abang?" tanya Grisel kepada Abel. Tadi, tiba-tiba Grisel teringat saat Gavril memberitahu kalau kakak laki-laki Abel sudah menunggu dan Gavril sempat mengobrol dengannya.


Abel mengangguk.


"Lah, lo belum tau, Gris?" tanya Aneska. Aneska jelas sudah tahu seluk beluk Abel karena mereka sudah kenal lebih lama sedikit, mereka berkenalan pada saat PLS.


"Gue juga belum tau," Ella menambahi.


"Gila, kok gue nggak ngasih tau soal itu ya? Padahal kita udah dua minggu lebih dekat," ucap Abel, "Abang gue itu namanya Jovan, dia tuh sekolah di sini, kelas sebelas."


"Abang lo nggak ada cerita apa gitu?" tanya Ella. Ella berharap Jovan menceritakan soal perbincangan singkatnya dengan Gavril. Ella sendiri tidak tahu kenapa dia sangat penasaran, mungkin karena hal itu menyangkut Gavril, mungkin.


"Lo berdua belum pernah lihat abangnya Abel?" tanya Aneska.


Ella dan Grisel dengan serempak menggeleng.


"Nanti deh, setiap pulang sekolah abang gue selalu datang ke kelas, kok," ucap Abel.


"Pantes gue nggak pernah ketemu abang lo," ucap Ella. Ella tidak pernah bertemu dengan Jovan karena Ella selalu pulang lebih dahulu dibandingkan dengan Abel.


Sementara Grisel, Grisel pulang lebih cepat daripada Ella. Kakak Grisel selalu menyuruh Grisel untuk langsung keluar dari kelas dan menemuinya, kecuali jika Grisel ada piket.


Bel pertanda istirahat selesai pun berbunyi. Para murid kembali ke kelas mereka masing-masing. Jelas di dalam hati sebagian dari mereka mengutuk bel yang berbunyi itu.


Ella, Grisel, Abel, dan juga Aneska tidak langsung kembali ke kelas. Mereka melakukan 'ritual' terlebih dahulu. Ritual ala mereka adalah pergi ke toilet selama lima menit, kemudian kembali ke kelas dengan alasan yang sudah mereka rancang dalam perjalanan mereka.


*


Mungkin memang nasib seorang Ella, dia selalu ditinggal oleh ketiga temannya itu. Sekarang mereka bertiga sedang dipanggil ke ruang guru untuk mengisi formulir. Ella tidak ikut karena dia sudah mengisi formulir itu dari awal masuk sekolah.


Beberapa menit yang lalu, Ella menerima pesan dari Gavril. Gavril bilang kalau dia akan telat menjemput Ella karena harus melaksanakan rapat OSIS. Ella bisa memaklumi hal itu karena Ella juga seperti Gavril saat dia masih SMP.

__ADS_1


Untuk menghilangkan rasa bosannya, Ella mengambil ponselnya dari dalam tas lalu membuka aplikasi Twitter. Ella berharap ada sesuatu yang menarik yang dapat ia baca di aplikasi itu.


Saat Ella sedang sibuk menggulir layar ponselnya, terdengar suara ketukan pintu, Ella pun meletakkan ponselnya di atas meja. Lalu dia membuka pintu kelas, Ella sengaja menutup pintu karena ingin menikmati AC yang belum dimatikan oleh petugas.


"Abelnya ada?" tanya orang itu langsung.


Ella langsung berasumsi bahwa orang itu adalah kakak laki-laki Abel. Ella melihat name tag yang dipakai oleh orang itu, dan itu benar-benar Jovan.


"Lagi di kantor guru," jawab Ella.


"Kira-kira selesainya berapa lama lagi?" tanya Jovan lagi.


Saat Ella ingin menjawab pertanyaan Jovan, Jovan melihat ke arah ponsel Ella yang layarnya hidup. "Itu kayaknya ada yang nelpon."


Ella mengikuti arah pandang Jovan, kemudian dia mengambil ponselnya. Ella melihat nomor yang tertera, nomor tak dikenal, Ella pun mengangkat panggilan itu. Ternyata yang menghubungi Ella adalah Mama Abel yang juga merupakan Mama Jovan.


"Abelnya ada?"


"Nggak ada, Tante. Tapi di sini ada Bang Jovan."


"Tolong kamu kasih ke Jovan ya."


"Oke, Tante."


Ella berjalan mendekati Jovan yang berdiri di ambang pintu. Ella langsung menyodorkan ponselnya kepada Jovan.


Jovan menerima ponsel Ella. "Ini siapa?"


"Mama Abang," jawab Ella dengan sopan karena ini adalah kali pertamanya Ella berbincang dengan Jovan.


Jovan pun mendekatkan ponsel Ella ke telinganya lalu sedikit menjauh dari Ella. Beberapa detik kemudian, Jovan menjauhkan ponsel Ella dari telinganya. Dan secara tidak sengaja Jovan melihat sebuah pesan baru dari Gavril.


Gavril Dean: Aku udah di depan


Merasa itu bukanlah urusannya, Jovan pun mengembalikan ponsel Ella. "Pacar lo, ya?"


Ella mengambil ponsel lalu melihat layarnya. Ella tahu mengapa Jovan bertanya seperti itu. "Iya, Bang."


"Nggak usah pake 'bang', anggap aja kita seumuran," ucap Jovan.


Ucapan Jovan malah membuat Ella mengingat saat dia berkenalan dengan Gavril. Gavril juga mengucapkan itu, tetapi versinya sedikit berbeda.


"Lo balik sana, entar pacar lo nunggu lama kan gak enak," suruh Jovan.


"Ya udah, gue balik duluan, ya." Ella mengambil tasnya lalu dia keluar dari ruang kelas.

__ADS_1


Sementara Jovan memutuskan untuk menunggu adiknya dengan cara yang dilakukan oleh Ella.


*


__ADS_2