Divide

Divide
Ada Orang Lain


__ADS_3

Waktu yang paling ditunggu-tunggu oleh para murid X MIPA 7 adalah ketika guru Kimia mereka tidak masuk. Rata-rata mereka tidak menyukai guru Kimia mereka karena cara mengajarnya yang terkesan berputar-putar dan tidak menemukan kesimpulannya. Hal itu membuat sebagian nilai murid-murid X MIPA 7 rendah, sebagian lagi mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah sehingga nilai mereka terbilang bagus.


"Alhamdulillah, ya, Ibu itu nggak masuk," ucap Keya dengan menirukan gaya salah satu artis Tanah Air yang sangat fenomenal. Keya berjalan menuju depan kelas bermaksud untuk menghibur teman-temannya yang bosan.


So don't call me baby


Unless you meant it


Don't tell me you need me


If you don't believe it


So let me know the truth


Before i dive right into you


Before i dive right into you


Sebagian murid memperhatikan wajah Keya yang terlihat sedih seperti makna lagu yang baru saja dia nyanyikan. Mereka semua tahu apa yang membuat Keya bisa terlihat sedih seperti itu. Karel, itulah penyebabnya.


"Jangan lagu galau dong," sahut seorang murid.


"Demi celana kotak spons kuning, lo bisa diam nggak, sih?!" teriak Keya dari depan agar Reno mendengar ucapannya.


"Itu si Keya kenapa tiba-tiba galau gitu, ya?" tanya Grisel kepada Ella, Abel, dan Aneska.


Seperti biasa, kalau sedang tidak ada guru atau free class, mereka pasti akan membuat sebuah formasi agar mereka lebih mudah untuk mengobrol.


"Mungkin dia nggak di-notice sama Bang Karel," jawab Abel.


"Coba bentar deh," ucap Aneska. Dia kemudian memanggil Keya. "Keya!"


Keya yang merasa terpanggil langsung berjalan menuju kumpulan Ella dan yang lainnya.


"Ada apa, guys?" tanya Keya.


"Lo kenapa galau, Key? Karena Bang Karel, ya?" tanya Aneska balik.


"Ya, gitu, deh," jawab Keya sambil menarik salah satu kursi yang dekat dengannya. "Gue udah coba nunjukin diri gue yang sebenarnya sama dia, tapi dia sama sekali nggak ada pedulinya sama gue."


"Maksud lo?" tanya Ella.


"Gini, El, gue nggak mau jaga image lagi pas ketemu dia, dan gue udah lakuin itu. Dan awalnya gue kira dia bakalan nanyain gue kenapa gue beda, tapi nyatanya nggak sama sekali," jawab Keya.


"Sebelumnya lo udah pernah pc-an sama dia, nggak?" tanya Abel.


Keya menggeleng.


"Ya panteslah, zaman sekarang yang gengsi tuh bukan cuma cewek, cowok juga," ucap Abel.


"Jadi, maksud lo, Bang Karel itu gengsi untuk nanyain hal itu ke gue?" tanya Keya yang mengerti ucapan Abel barusan.


Abel mengangguk. "Ya, kemungkinan besar gitu, Key."


"Gimana caranya biar dia nggak gengsi lagi?" tanya Keya.


"Dengan terpaksa lo harus mulai duluan," jawab Abel.


Keya terdiam. Dia tidak mau melakukan hal itu atas alasan, gengsi. Ya, jelas dia gengsi karena dia adalah perempuan.


"Lo gengsi, dia juga gengsi, gimana caranya kalian bisa dekat coba?" tanya Ella.


Lo gak sadar diri, El. Lo sama Bang Jovan juga sama-sama gengsi kali, tapi lo tenang aja, biar gue yang nyatuin kalian, batin Abel.


"Nggak ada cara lain apa?" tanya Keya.


"Cara lain? Kalau lo mau cara lain ya lo harus sabar. Sabar adalah segalanya, Key," jawab Aneska.


*

__ADS_1


Hari ini rencananya Kenzie akan membawa Hani ke rumahnya. Aneska belum tahu tentang rencana itu, tapi untung saja saat Aneska datang dia hanya melihat ibunya yang sedang menyiapkan makanan di dapur. Itu berarti Karin belum datang.


"Kak Karin kapan datangnya, Ma?" tanya Aneska sambil membantu mamanya berkutat di dapur untuk mempersiapkan makan mereka nanti.


"Katanya, sih, jam setengah tujuh, Nes," jawab Rena.


Aneska hanya mengangguk sambil terus membantu ibunya. Setelah selesai Aneska menuju ke kamarnya untuk mandi.


"Aneska," panggil seseorang sambil mengetuk pintu kamar Aneska.


Untungnya Aneska sudah selesai mandi, jadi orang itu tidak harus menunggu lebih lama. "Iya." Aneska membuka pintu kamarnya.


"Lo turun sana, di ruang tamu ada Karin," suruh Kenzie.


Aneska pun mengangguk lalu berjalan menuju ruang tamu untuk menemui Karin. Aneska sangat bersemangat untuk menemui Karin karena rencananya itu. Semoga saja hari ini Aneska dapat memberitahu Karin soal rencana yang ia buat.


"Hai, Nes," sapa Karin saat melihat Aneska berjalan ke arahnya.


"Hai, Kak," balas Aneska dengan tersenyum lalu dia duduk di sebelah Karin.


Sementara itu, Rena memperhatikan bagaimana perilaku Karin di depan mereka. Sejauh ini, yang Rena lihat adalah Karin merupakan seseorang yang ramah dan tidak ada tanda-tanda kalau Karin adalah orang yang jahat atau semacamnya. Rena berharap kalau Karin memang baik seperti saat ini dan Karin bisa mengembalikan jalan Kenzie.


"Kalian ngobrol aja, ya, bertiga. Mama mau ke kamar dulu, nanti kalau kalian mau makan, makanannya udah ada di meja makan ya," ucap Rena. Beliau memutuskan untuk balik ke kamar terlebih dahulu karena dia sudah mempunyai penilaian terhadap Karin.


"Iya, Tante," balas Karin.


Rena pun berjalan menuju ke kamarnya. Omong-omong tentang ayah Aneska, beliau sedang ada tugas di luar kota sehingga beberapa hari sebelumnya beliau tidak terlihat di rumah keluarga Aneska.


"Kakak tadi udah lama bicara sama Mama?" tanya Aneska. Aneska berusaha semakin mendekatkan dirinya kepada Karin agar dia lebih mudah memberitahu Karin tentang rencananya. Ya, semua yang akan Aneska lakukan sangat berkaitan dengan rencana itu.


"Lumayan, Nes, kamu udah makan malam belum?" tanya Karin.


Aneska menggeleng, tiba-tiba dia teringat dengan makanan yang dia masak bersama mamanya tadi. "Kak, kita makan bareng, yuk, tadi aku sama Mama udah masak."


"Boleh, Nes, kamu ikut makan juga, 'kan, Ken?" tanya Karin.


"Iya, aku ikut," jawab Kenzie.


"Kalian duduk aja, ya? Biar aku aja yang nyiapin makanan buat kalian," ucap Karin.


Aneska sedikit kaget dengan sikap Karin yang terlihat sangat dewasa. Sangat berbeda dengan apa yang Aneska dan temannya yang lain duga. Mereka menduga kalau Karin adalah tipe perempuan yang manja, tetapi nyatanya tidak.


Setelah Karin selesai menyiapkan makan untuk mereka bertiga. Mereka pun langsung menyantap makan malam mereka. Ada yang berbeda dari mereka bertiga, yaitu Kenzie, Kenzie terlihat makan dengan terburu-buru.


"Ken, kok kamu makannya cepat-cepat?" tanya Karin yang menyadari cara makan Kenzie.


"Iya, habis ini aku mau ngerjai tugas bareng teman," jawab Kenzie.


Entah kenapa, Aneska merasa kalau Kenzie berbohong. Tidak biasanya Kenzie melakukan kegiatan kuliah pada malam hari. Aneska yakin kalau Kenzie akan bertemu dengan perempuan itu. Untuk saat ini, Aneska lebih memilih untuk diam karena jika Aneska bersuara sekarang, itu akan menghancurkan segalanya.


"Kamu mau sekalian aku anter pulang apa gimana?" tanya Kenzie kepada Karin setelah dirinya selesai menyantap makan malamnya.


Karin terdiam sebentar, dia tidak mau langsung pulang karena dia harus bertanya sesuatu kepada Aneska. "Aku nanti pulang sendiri aja. Mending kamu pergi sekarang, ntar takutnya teman-teman kamu nunggu, 'kan, nggak enak."


"Oh ya udah, aku pergi duluan ya," pamit Kenzie lalu dia berjalan menuju ke luar rumah.


"Kak, habis makan ini kita ke kamar aku, ya? Aku mau ngasih tau Kakak sesuatu," ajak Aneska.


Karin mengangguk mendengar ajakan Aneska. Karin sangat penasaran dengan apa yang akan diberitahu oleh Aneska dan Karin juga ingin bertanya soal Kenzie kepada Aneska.


Sekitar sepuluh menit kemudian, Aneska dan Karin sudah berada di kamar Aneska. Mereka berdua sama-sama diam, masih memikirkan kata apa yang cocok untuk memulai pembicaraan.


"Kak, aku mau ngasih tau Kakak sesuatu, tapi aku mau nanya satu hal dulu," ucap Aneska.


"Tanya aja, Nes," suruh Karin.


"Bang Kenzie kalau malam susah dihubungi apa nggak?" tanya Aneska.


Karin mengangguk. Menurut Karin, jika Aneska sudah bertanya seperti itu, kemungkinan Aneska tahu apa penyebabnya.

__ADS_1


"Berarti bener," ucap Aneska.


"Maksud kamu?" tanya Karin yang tidak mengerti dengan ucapan Aneska.


"Nanti aku bakal jelasin ke Kakak. Sekarang aku mau ceritain semuanya ke Kakak dan aku harap Kakak jangan sakit hati dulu," jawab Aneska.


Karin dengan cepat mengangguk, dia benar-benar penasaran.


"Jadi, gini, Kak, selama Bang Kenzie jadian sama Kakak, Bang Kenzie jadi berubah, dia jadi merokok, terus dia juga beberapa kali mabuk bahkan dia pernah gak pulang ke rumah semalaman. Dan jujur aja, Kak, awalnya aku kira itu Kakak. Tapi ternyata yang buat Bang Kenzie berubah itu bukan Kakak, tapi ada orang lain. Kemarin temen aku gak sengaja lihat Bang Kenzie sama perempuan yang lain.


"Awalnya aku kira itu Kakak, tapi kata teman aku, wajah orang itu pernah dia lihat di sekolah aku. Dan itu gak mungkin Kakak, 'kan? Kakak aja gak tau sekolah aku di mana. Habis itu teman aku bilang kalau dia mau bantuin aku cari tau siapa cewek itu. Dan aku harap Kakak jangan cerita hal ini sama Bang Kenzie dulu, aku mau kita cari tau dulu siapa cewek itu."


Aneska sudah menceritakan sebagian kepada Karin, tapi Aneska belum memberitahu soal rencana dia dengan Gavril. Aneska akan menceritakan hal itu di akhir.


"Jadi, intinya Kenzie sering pergi sama cewek lain?" tanya Karin. Ekspresi Karin benar-benar menunjukkan kalau dia benar-benar merasa sakit.


Aneska dengan sigap memeluk Karin, Aneska paling tidak tahan jika melihat seseorang menangis di depannya. "Kak, Kakak jangan sedih dulu. Semua yang aku bilang itu masih dugaan, Kak, itu belum tentu. Aku bakalan cari tahu semuanya asal Kakak janji ngggak bakal kasih tau ini ke siapa-siapa, Gavril sekalipun."


Mereka melepas pelukan mereka. Setidaknya Karin sedikit merasa terhibur dengan pelukan yang diberikan oleh Aneska.


"Iya, Kakak nggak bakalan kasih tau ke Gavril, eh-" Tiba-tiba Karin teringat akan sesuatu, dia sama sekali tidak memberitahu kepada siapapun kalau dia adalah kakak Gavril, bahkan Kenzie saja tidak tahu. "Kok kamu bisa kenal Gavril?"


"Oh, iya, aku lupa soal itu. Jadi, Gavril itu mantannya teman aku. Nah, Gavril mutusin dia tanpa alasan. Terus, besoknya aku ngelabrak Gavril, terus pas aku labrak, Gavril kasih tau kalau dia itu adiknya Kakak. Dan dia nyuruh aku buat jagain teman aku biar dia gak pacaran karena Gavril masih sayang sama dia. Dia ngancam aku, kalau aku gak jagain teman aku, dia bakalan nyuruh Kakak buat ngerusak Bang Kenzie," jawab Aneska dengan panjang lebar.


"Wait, jangan bilang teman kamu yang kamu maksud itu Ella?" tanya Karin.


Aneska mengangguk.


"Kenapa Gavril gak pernah bilang ya, kalau dia udah putus sama Ella?" tanya Karin lagi entah ditujukan untuk siapa.


"Lha, jadi Kakak nggak tau kalau Gavril putus sama Ella?" tanya Aneska.


"Kakak benar-benar nggak tau, tapi beneran Gavril nyuruh kamu kayak gitu?" tanya Karin.


"Iya, Kak, tapi untung banget aku gak jadi ngelakuin hal itu," jawab Aneska. "Oh ya, Kakak kenal Erlyne gak?"


"Erlyne siapa?" tanya Karin balik. Kali ini pikiran Karin tidak lagi tertuju kepada Kenzie, melainkan tertuju kepada adiknya, Gavril. Karin sama sekali tidak menyangka kalau adiknya akan menggunakan dirinya untuk mengancam seseorang.


"Pacar baru Gavril. Jata Gavril, dia terikat dengan Erlyne makanya dia putusin Ella," jawab Aneska.


"Ini gila, Nes, Kakak nggak nyangka kalau Gavril ternyata kayak gitu. Kakak sengaja nutupin identitas dia sebagai adik kakak dan dia juga sebaliknya, tapi kenapa dia malah mempergunakan itu? Kakak harus bicara sama dia," ucap Karin.


"Bentar, deh, kalau Kakak sama Gavril saling tutup identitas, itu berarti Kakak belum pernah ketemu sama Ella?" tebak Aneska.


Karin menggeleng, dia hanya tahu Ella dari cerita Gavril, Karin sama sekali belum pernah bertemu Ella secara langsung.


"Pantes aja Ella nggak ngeh waktu aku tunjukin foto Kakak," ucap Aneska.


"Terus sekarang, Ella dekat sama siapa?" tanya Karin.


"Dekat sama kakak kelas aku, Kak, dia juga abangnya teman aku," jawab Aneska.


"Untunglah, Nes, kamu nggak ngikuti apa kata Gavril. Kalau kamu ikuti, kasihan Ella dan kakak kelas kamu itu," ucap Karin.


Aneska mengangguk. Aneska sedikit menyesal karena hampir mengikuti perkataan Gavril.


"Oh ya, Kak, aku minta Kakak bersikap kayak biasa ke Bang Kenzie biar nggak ketahuan," pesan Aneska.


Karin mengangguk, sebelum Aneska berpesan, Karin sudah tahu kalau dia memang harus melakukan hal itu sampai Aneska mengetahui siapa perempuan itu dan memberitahu dirinya.


Karin juga harus segera menginterogasi Gavril mengenai perjanjiannya dengan Aneska dan juga mengenai Erlyne.


"Kakak mau aku anter pulang apa naik taksi?" tanya Aneska karena ini sudah malam dan urusannya dengan Karin untuk hari ini sudah selesai.


"Nggak usah, Nes, biar Kakak pulang naik taksi aja," jawab Karin.


"Oh, ya udah, kalau gitu Kakak pesan sekarang aja, biar nanti nunggunya nggak lama," ucap Aneska.


Kemudian Karin mengambil ponsel dari dalam tas yang dia bawa tadi, lalu memesan taksi.

__ADS_1


***


__ADS_2