Divide

Divide
Gue Juga Gengsi


__ADS_3

Setelah menghabiskan minumnya, Ella berjalan ke pinggir agar bisa melihat Abel dan Evan. Ella melihat keduanya sangat akrab, mereka terlihat seperti sudah berteman sejak lama. Ella sangat menyayangkan jika Jovan tidak menyetujui Abel dan Evan nantinya berpacaran atau semacamnya.


Setelah merasa cukup untuk melihat Abel dan Evan, Ella pun memutuskan untuk menemui Kevin di ruangan itu. Ella ingin bertanya soal Gavril kepada Kevin, maksud dari keinginan Ella itu adalah agar dia bisa kembali berteman dengan Gavril. Ella tidak mau hanya karena mereka memutuskan untuk berpisah, mereka tidak lagi berteman.


Saat ingin membuka pintu ruangan itu, tiba-tiba saja seorang pelayan mendatangi Ella.


"Mbak, maaf, Mbak tidak boleh masuk ke dalam ruang ini," ucap pelayan itu.


"Tapi saya mau berbicara sebentar dengan Kevin," ucap Ella.


"Mbak kenal dengan Kevin?" tanya pelayan itu.


Ella mengangguk.


Pelayan itu membuka pintu ruangan itu lalu mempersilakan Ella untuk masuk. Saat memasuki ruangan itu, Ella melihat Kevin sedang duduk di kursi bermain gitar, Ella tidak menyangka kalau di ruangan itu ada gitar.


"Kok lo ada di sini? Sendirian?" tanya Kevin sembari meletakkan gitar yang tadi ia mainkan di sampingnya.


"Yang lain udah pada pulang," jawab Ella lalu dia duduk di kursi itu, mengambil gitarnya, dan memainkannya.


Kevin sediki tidak menyangka kalau Ella bisa memainkan gitar. "Lo bisa main? Sejak kapan? Perasaan waktu Gavril ngasih lo buat mainin gitarnya, lo malah nolak."


"Baru-baru ini, sih, diajarin kakak kelas gue," jawab Ella. "Oh, ya, kabar Gavril sekarang gimana? Gue nggak ada dengar kabar dia lagi." Dia masih memainkan gitar Kevin, Ella tidak memainkan sebuah lagu melainkan dia memainkan chord gitar secara acak.


"Lo masih peduli sama dia?" tanya Kevin.


"Bukannya teman memang harus gitu?" tanya Ella balik.


"Iya, deh, iya, si Gavril sekarang lebih pro ke ceweknya di banding sama kita-kita," ucap Kevin.


Ella meletakkan gitar Kevin di samping kursi yang sedang dia duduki. "Maksud lo? Dia menjauh dari kalian semua?"


"Ya, gitu, katanya bakalan susah kalau dia jauh-jauh dari Erlyne," jawab Kevin.


Ella menemukan sesuatu yang aneh dari jawaban Kevin. Gavril akan susah jika dia jauh dari Erlyne, itu berarti ada sesuatu yang tidak sehat di antara hubungan Gavril dengan Erlyne.


"Bentar, deh, mereka kenapa bisa pacaran?" tanya Ella.


"Gue juga nggak tau. Waktu itu tiba-tiba aja dia kenalin Erlyne sebagai pacar dia sebelum dia mutusin lo," jawab Kevin.


Saat Ella hendak membuka mulutnya untuk mengucapkan sesuatu, ponsel Kevin berbunyi. "Eh, handphone lo bunyi."


Kevin mengambil ponselnya lalu mengangkat panggilan itu.


"Apa? Di mana?"


"Oh, oke, gue bakalan ke sana sekarang."


Kevin mematikan layar ponselnya lalu menyimpan di saku celananya. Kemudian dia beranjak dari tempat duduknya.


"Ada apa?" tanya Ella.


"Gavril masuk rumah sakit, kecelakaan," jawab Kevin.


"Gue boleh ikut?" tanya Ella.


"Nanti teman lo gimana?" tanya Kevin.


"Nanti gue LINE Bang Jovan biar dia jemput Abel," jawab Ella.


Kevin mengangguk. Kemudian mereka berdua pun keluar dari kafe itu dan pergi menuju rumah sakit yang diberitahukan oleh teman Kevin tadi. Untungnya jarak dari kafe ke rumah sakit tersebut tidak terlalu jauh.


Saat sampai di rumah sakit, Ella dan Kevin tidak menemukan kerabat Gavril di ruang tunggu Unit Gawat Darurat.


"Beneran masih di UGD apa udah dipindahkan ke ruangan, Vin?" tanya Ella.

__ADS_1


Kevin tidak menjawab pertanyaan Ella, dia malah mengambil ponsel dari saku celananya lalu mengetikkan sebuah pesan kepada Marco, orang yang tadi menghubungi Kevin. Beberapa detik kemudian sudah ada balasan dari Marco yang berisi pemberitahuan kalau Gavril sudah dipindahkan ke ruangan bernomor 235.


"Kamar nomor 235," ucap Kevin menjawab pertanyaan Ella tadi.


Mereka berdua pun segera berjalan menujur kamar tersebut yang terletak di lantai tiga rumah sakit ini. Setelah sampai di depan kamar Gavril, Ella menyuruh Kevin untuk berhenti sebentar. Dia masih tidak yakin untuk masuk dan bertemu dengan Gavril.


"Kenapa?" Kevin memandang Ella dengan raut muka kebingungan. Pasalnya tadi Ella sangat khawatir dengan Gavril, tetapi setibanya di sini Ella malah menyuruh untuk berhenti. Cukup aneh bagi Kevin.


Ella hanya diam sambil melihat bagian dalam kamar Gavril dari kaca kecil yang terdapat di pintu kamar Gavril. Ella hanya dapat melihat sekitar tiga orang di dalam kamar Kevin, semuanya laki-laki. Ella berpikiran kalau itu adalah teman tongkrongan Gavril dan juga Kevin.


"Gue masih nggak berani buat ketemu sama dia," jawab Ella.


"Ada ceweknya nggak di dalam?" tanya Kevin.


Ella menggeleng. Keberuntungan bagi Ella saat ini adalah dia tidak bertemu dengan pacar Gavril.


Tanpa mengucapkan sepatah kata, Kevin membuka pintu kamar inap Kevin lalu memasukinya dengan menarik tangan Ella. Ella hanya bisa diam, tidak bisa dipungkiri, walau takut, Ella masih sangat ingin bertemu dengan Gavril.


Ketiga teman Gavril langsung melihat ke arah pintu saat terdengar suara pintu terbuka. Mereka bertiga sedikit kaget dengan kedatangan Kevin bersama mantan pacar teman mereka itu. Ya, mereka bertiga mengetahui Ella tetapi Ella tidak mengetahui mereka.


"Ada siapa?" tanya Gavril yang sedikit heran karena ketiga temannya melihat ke arah pintu dalam jangka waktu yang tak wajar.


Kevin berjalan duluan ke arah tempat tidur Gavril. "Gimana kabar?"


"Kepala gue masih sakit banget," jawab Gavril.


"Oh, ya, gue bawa seseorang ke sini," ucap Kevin.


"Siapa?" tanya Gavril.


"El, sini lo," suruh Kevin.


Gavril kaget mendengar awalan nama seseorang itu. Sementara Ella, dengan segala keberaniannya dia berjalan mendekati Gavril.


Gavril hanya menjawab sapaan Ella dengan senyum.


"Lukanya sakit banget, ya?" tanya Ella sambil melihat luka di dahi Gavril. Sangat terlihat kepala Gavril terkena stir mobil. Ella yakin Gavril pasti tidak memakai sabuk pengaman.


"Nggak kok," jawab Gavril berbohong. Sudah bisa dipastikan, Gavril ingin terlihat kuat di hadapan Ella.


"Halah, tadi lo bilang sakit banget," sindir Kevin.


Gavril menatap tajam ke arah Kevin.


"Gav, gue sama yang lain balik dulu, ya?" pamit Marco yang merupakan salah satu dari tiga teman Gavril yang sedang berada di kamar Gavril.


"Sini biar gue anterin," tawar Kevin. Kevin sengaja melakukan hal itu agar Ella dan Gavril punya waktu untuk berbicara berdua.


"Pasti sengaja tuh si Kevin," ucap Gavril ketika Kevin dan yang lainnya sudah keluar dari kamar Gavril.


"Eh, tapi beneran kepala lo nggak sakit?" tanya Ella, terlihat sangat khawatir.


Gavril hanya menggelengkan kepalanya pelan.


Ella tahu Gavril sedang berbohong. Tetapi Ella memutuskan untuk diam saja dan mencari topik lain yang pas untuk dibicarakan saat ini.


"Kok lo bisa kecelakaan?" tanya Ella sembari duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur Gavril.


"Tadi, gue sama Erlyne rencananya mau ke mall, gue berhenti karena macet, terus ada mobil dari belakang yang kencang banget, dan seperti yang lo lihat kepala gue luka kena stir," jawab Gavril.


"Erlyne juga masuk sini? Sekarang dia dimana?" tanya Ella.


"ICU," jawab Gavril.


Ella sedikit bingung, Gavril hanya mendapat luka ringan di bagian kepala sedangkan Erlyne sampai masuk ICU. "Kok dia bisa sampai masuk ICU?"

__ADS_1


"Kena serangan jantung," jawab Gavril.


Ella jelas sangat kaget mendengar jawaban Gavril. "Serius?"


Gavril mengangguk. "Lo sama Kevin kenapa bisa ke sini barengan?"


Pertanyaan Ella membuat Gavril teringat akan satu hal. Ella lupa untuk memberitahu Jovan ataupun Abel kalau dirinya pergi ke rumah sakit. Ella juga baru ingat kalau kunci mobil Jovan berada di saku rok seragam sekolahnya. Ella mengambil ponselnya.


Tidak ada notifikasi pesan yang masuk ke ponsel Ella. Ella berpikiran Abel pasti masih di kafe dan Jovan belum kecarian karena jam masih menunjukkan pukul setengah empat. Ella pun menghembuskan napas lega, setidaknya dia masih bisa kembali ke kafe itu.


"El?" tanya Gavril berusaha menyadarkan Ella.


"Lo tadi nanya apa?" tanya Ella, dia lupa akan pertanyaan yang dilontarkan Gavril sebelumnya.


"Gue nanya, kenapa lo sama Kevin bisa barengan ke sini?" tanya Gavril, mengulang pertanyaannya yang tadi.


"Tadi gue lagi di kafenya Kevin, terus dia bilang kalau lo masuk sini, ya udah gue ikut dia aja," jawab Ella.


"Oh, ya, kabar lo sama pacar lo gimana?" tanya Gavril.


Ella bingung mendengar pertanyaan Gavril. Ella tidak tahu siapa yang dimaksud pacar oleh Gavril barusan.


Gavril dapat membaca bagaimana reaksi Ella dari raut wajahnya. Gavril dapat menyimpulkan kalau dirinya salah menyebut Jovan sebagai pacar dari Ella. Ya, yang tadi Gavril maksud adalah Jovan. "Jadi kalian nggak pacaran? Maksud gue, lo sama Jovan nggak pacaran?"


Ella menggeleng.


"Oh, gue kira kalian pacaran," ucap Gavril.


"Kenapa lo bisa mikir gitu?" Ella penasaran dengan landasan yang membuat Gavril bisa berpikiran kalau Jovan adalah pacarnya.


"Ya, karena lo berdua dekat dan kayaknya dia suka sama lo, begitu juga sebaliknya," jawab Gavril.


Ella memikirkan kata-kata yang baru saja dilontarkan oleh Gavril. Ella tidak bisa berbohong, apa yang dikatakan oleh Gavril sangat benar, dirinya menyukai Jovan. Akan tetapi, Ella tidak yakin kalau Jovan juga menyukainya, melihat tidak adanya tanda-tanda pendekatan yang diberikan Jovan kepadanya.


"Ya, 'kan?" tanya Gavril bermaksud menerima persetujuan dari Ella atas apa yang sudah ia ucapkan sebelumnya.


"Gue emang suka sama dia, tapi-" Ella menggantungkan kalimatnya, dia tidak ingin melanjutkan karena itu sedikit membuatnya malu. Entah apa alasannya.


"Biar gue tebak, tapi lo bggak yakin, 'kan, kalau dia suka sama lo?" tebak Gavril yang seratus persen sangat tepat maka dari itu Ella menganggukkan kepalanya.


Gavril menatap Ella, memperlihatkan kalau dirinya sebenarnya masih sangat peduli dengan Ella tetapi dia sadar kalau dirinya sudah tidak pantas memiliki rasa kepada Ella. Yang pantas dia lakukan saat ini hanyalah mendukung Ella dengan orang yang akan menggantikan posisinya.


"El, denger kata-kata gue, dia itu suka sama lo. Cuma dia gengsi buat nyatain ke lo," ucap Gavril.


Ella sedikit tidak percaya dengan ucapan Gavril, karena sudah sering teman-temannya berkata seperti itu kepadanya tetapi pada kenyataannya sama saja. Jovan tidak menyayanginya. "Kalau lo cuma mau ngehibur gue pakai kata-kata lo barusan. Maaf banget, gue udah terlalu sering dengernya."


"Siapa bilang kalau gue cuma mau ngehibur lo? Denger, ya, El, gue kasih tau gitu karena dulu gue juga gengsi buat nyatain perasaan ke lo. Dan pada akhirnya lo tau, 'kan? Gue nyatain ke lo dan akhirnya kita jadian walau sekarang udah putus. Gue yakin, Jovan pasti akan nyatain ke lo secepat mungkin," ucap Gavril.


Ucapan Gavril benar-benar membuat Ella jadi terlalu percaya diri. Tiba-tiba saja dia berpikiran kalau Jovan benar-benar menyukainya, Ella pun dengan segera menghilangkan pemikiran yang sangat aneh itu.


Tanpa mereka sadari, mereka sudah menghabiskan lebih dari setengah jam untuk mengobrol berdua, sampai-sampai Ella lupa kalau dia harus kembali ke kafe itu dan mengantarkan Abel kembali ke sekolah.


Tiba-tiba saja ponsel Gavril berbunyi, ponsel tersebut terletak di meja kecil yang terdapat di samping tempat tidur Gavril. Hal itu jelas menghentikan obrolan Ella dan Gavril.


"Biar gue aja yang ngambil." Ella mengambil ponsel Gavril lalu menyerahkannya kepada Gavril.


Gavril langsung memeriksa notifikasi yang masuk dan ternyata itu adalah pesan dari Kevin dan isi dari pesan itu membuat Gavril turut prihatin.


Ella melihat perubahan raut wajah Gavril, dia pun segera menanyakan apa isi dari notifikasi itu sehingga wajah Gavril bisa sangat berubah sepert itu. "Ada apa, Gav?"


Gavril tidak menjawab, dia menunjukkan layar ponselnya kepada Ella.


Kevin Yohan: Gav, tolong kasih tau ke Ella kalau ada perampokan di depan kafe gue dan gue harus balik sekarang


***

__ADS_1


__ADS_2