Divide

Divide
Kenzie Keluar Club


__ADS_3

Jovan memutuskan untuk bolos ekstrakulikulernya untuk mengantarkan Ella dan juga Abel pulang. Jovan segera berjalan menuju kelas Ella, takutnya jika Jovan kelamaan, Ella sudah tidak ada di kelas. Saat Jovan sudah sampai di kelas, dia hanya melihat Aneska yang sedang berbincang dengan temannya yang lain. Jovan tidak mengenal orang yang berbicara dengan Aneska itu.


Aneska sadar akan kedatangan Jovan saat Keya memberi kode kalau Jovan ada di ambang pintu. Aneska pun langsung berjalan mendekati Jovan. Ini adalah waktu yang bagus untuk Aneska memberitahu Jovan agar menjauhi Ella. Aneska mengumpulkan segala keberaniannya. Dia terpaksa melakukan hal ini agar keluarganya bisa kembali seperti semula.


"Abel sama Ella mana, Nes?" tanya Jovan.


"Abel tadi pergi nemui guru, kalau Ella kayaknya ada ekskul, Bang," jawab Aneska. "Oh, ya, Bang, Abang lagi dekat sama Ella, ya?"


Jovan terdiam. "Bisa dibilang gitu, sih, Nes. Emangnya ada apa?"


Kali ini Aneska terdiam. Sejujurnya dia masih bingung dengan dirinya sendiri. Dia tidak mau membuat keluarganya semakin hancur, tetapi ia juga tidak tega merusak hubungan Ella dengan Jovan.


"Nes?"


"Hah? Ehm, nggak jadi, deh, Bang," jawab Aneska.


Bertepatan dengan itu, Abel datang bersama dengan Grisel. Keberuntungan bagi Aneska, setidaknya pikiran Jovan bisa dialihkan sedikit ke Abel.


"Gue pulang duluan, ya," pamit Abel kepada Grisel dan juga Aneska.


Kemudian Abel dan Jovan pun berjalan menuju parkiran mobil. Aneska hanya menatap kosong kepergian Abel dan Jovan, pikiran Aneska sedang bercabang saat ini, dia tidak tahu harus bagaimana.


Di mobil, Abel memutuskan untuk bertanya bagaimana perasaan Jovan terhadap Ella. Tadi, saat berjalan ke ruang guru, Grisel dan Abel berbicara tentang hubungan Ella dan Jovan, dan itu membuat Abel penasaran.


"Bang, Abang punya perasaan nggak, sih, ke Ella?" tanya Abel.


"Perasaan? Maksud kamu?" tanya Jovan balik, dia berpura-pura tidak tahu kemana arah pembicaraan Abel. Jovan akui dia masih malu untuk mengakui sesuatu mengenai perasaannya, terutama perasaannya kepada Ella.


"Ya ampun, Bang, pantes aja orang bilang kalau Abang itu polos banget," ucap Abel.


"Apaan, sih, kamu? Abang, 'kan, beneran nggak tau apa-apa." Jovan terlihat membela dirinya sendiri.


"Abang suka, 'kan, sama Ella?" tanya Abel langsung to-the-point. Abel tidak mau berbasa-basi. Dia sudah terlanjur sangat penasaran.


"Kamu lihat aja nanti," jawab Jovan yang sangat melenceng dari pertanyaan Abel.


Tetapi melihat ekspresi Jovan yang hampir seperti tersenyum, Abel sudah tahu jawaban itu tanpa diberitahukan oleh Jovan.


"Aku tunggu PJ-nya, ya, Bang," pesan Abel.


*


"Kak Van, aku mau nanya, deh, sama kakak," ucap Ella kepada Vanita saat mereka sedang istirahat sebentar sebelum memulai latihan lagi.


"Nanya apa, El?" tanya Vanita. "Btw, lo nggak usah pake 'aku-kamu', El, geli gue."


"Oh, oke, Kak, gue mau nanya. Lo deket sama Bang Jovan nggak, Kak?" tanya Ella.


"Gimana, ya? Dibilang dekat sih engga, cuma gue tau sedikit fakta tentang dia," jawab Vanita.


"Maksudnya?" tanya Ella.


"Ya, contoh nih, kalau fakta lama tuh, dia belum pernah pacaran. Tapi, kalau fakta yang baru-baru ini, dia lagi dekat sama cewek, tapi gue nggak tau ceweknya siapa," jawab Vanita.


Vanita bisa tahu kalau Jovan sedang dekat sama perempuan karena dia tidak sengaja mendengar curhatan Jovan kepada Ryan saat jam pelajaran. Tetapi sayang sekali, baik Jovan maupun Ryan, mereka sama-sama tidak menyebutkan siapa nama perempuan itu.


Sementara dengan Ella, dia jadi sangat penasaran dengan perempuan yang didekati oleh Jovan. Yang Ella tahu, perempuan yang dekat sama Jovan adalah dirinya, Grisel, dan juga Aneska, Abel tidak dihitung. Tetapi menurut Ella perempuan yang dimaksud pasti bukanlah salah satu di antara mereka. Mungkin perempuan itu adalah teman satu kelas Jovan. Dan semoga tidak, harap Ella.


"Lo tau nggak, El? Gue udah setahun lebih satu kelas sama dia dan gue nggak pernah sekalipun tau nama cewek yang dekat sama dia," tanya Vanita.


"Jadi, Bang Jovan cuma bergaul sama Bang Ryan aja?" tanya Ella balik.


"Ya, bukan gitu, El. Maksud gue, tuh, Jovan sama sekali nggak kelihatan punya kedekatan khusus sama cewek," jawab Vanita. Vanita melihat jam tangan yang ada di tangan kirinya lalu dia berkata kepada Ella kalau mereka harus melupakan soal perempuan yang dekat dengan Jovan dan mulai latihan lagi.

__ADS_1


*


Seseorang mengetuk pintu kamar Aneska. Aneska yang tadinya sedang mengerjakan tugas Bahasa Indonesia pun menghentikannya sebentar lalu berjalan menuju pintu kamarnya.


Alangkah terkejutnya Aneska saat mengetahui orang yang mengetuk pintu itu adalah Daniel.


"Lo ngapain ke sini?" tanya Aneska.


"Gue ke sini mau nanya sama lo," jawab Daniel.


"Kenapa lo repot-repot ke sini? Kenapa nggak tadi atau besok aja?" tanya Aneska.


"Ini juga karena kebetulan gue lewat rumah lo, Nes," jawab Daniel.


"Ya udah, tanya, deh," suruh Aneska.


"Semalam Bang Kenzie pulang malam, nhgak?" tanya Daniel.


Aneska terdiam, dia mencoba mengingat pukul berapa Kenzie sampai di rumah. Yang Aneska ingat, Kenzie pulang dalam keadaan mabuk, tetapi Aneska lupa pukul berapa. Aneska kemudian hanya mengangguk dan berharap Daniel tidak menanyakan pukul berapa.


"Gue semalam lihat Bang Kenzie keluar dari club bareng cewek. Itu pacarnya?" tanya Daniel.


Aneska sudah menduga sejak semalam kalau Kenzie mabuk pasti ada hubungannya dengan Karin, pacarnya. Tetapi Aneska tidak mau ada kesalahpahaman, dia pun bertanya lagi kepada Daniel. "Lo ada fotonya, nggak?"


Daniel menggeleng. "Tapi, kalau nggak salah gue pernah lihat cewek itu di sekolah kita."


Aneska benar-benar kaget. Seingat Aneska, Karin tidak tahu di mana sekolah Aneska, apalagi pernah datang. Aneska benar-benar penasaran, pasti ada perempuan lain selain Karin.


"Kok lo kayak kaget gitu?" tanya Daniel yang menyadari perubahan ekspresi wajah Aneska.


"Lo inget nama club-nya?" tanya Aneska.


Daniel menggeleng. "Tapi, kalau lo mau cari tau, biar gue bantuin. Lo tinggal LINE gue aja kapan lo mau cari tau, gue siap kapan aja."


"Bang Kenzie," jawab Daniel dengan polosnya.


Aneska menepuk dahinya. Bisa-bisanya mereka membicarakan Kenzie sementara orangnya sedang berada di rumah.


"Udah lo tenang aja, dia nggak bakal denger kok," ucap Daniel menenangkan Aneska yang sudah terlihat panik.


"Semoga aja. Oh, iya, LINE lo masih yang lama kan?" tanya Aneska.


Daniel mengangguk. "Kalau gitu gue balik, ya, Nes? Gue mau main."


"Ya udah, hati-hati ya, Dan," pesan Aneska.


Daniel mengiyakan pesan Aneska lalu dia berjalan menjauhi Aneska. Sebelum benar-benar keluar dari rumah Aneska, Daniel menghampiri Kenzie yang sedang bermain basket di halaman samping. Tadi, saat Kenzie membukakan pintu untuk Daniel, dia langsung berpesan sebelum Daniel pulang, Daniel harus menemui dirinya di halaman samping.


Aneska kembali ke dalam kamarnya. Informasi yang baru saja diberitahu oleh Daniel sangat memengaruhi otaknya sehingga Aneska sama sekali tidak berniat untuk mengerjakan tugas Bahasa Indonesianya. Aneska benar-benar penasaran dengan perempuan itu.


Pikiran-pikiran negatif jelas sudah menyelubungi otak Aneska. Sudah dari tadi Aneska ingin membuang pikiran negatif itu, tetapi mengingat bahwa Kenzie mabuk dan terlihat keluar dari club, pikiran negatif itu tetap berada di otak Aneska.


Aneska berdiri di dekat jendela yang mengarah ke halaman samping. Dia melihat Kenzie sedang bermain bola basket sendirian.


"Lo kenapa, sih, Bang?" tanya Aneska. Aneska tahu itu pasti tidak akan dijawab oleh Kenzie.


Aneska tiba-tiba teringat dengan perjanjiannya dengan Gavril. Aneska berniat untuk membatalkan perjanjian gila itu, karena belum pasti kalau Gavril bisa menyuruh Daniel merusak Kenzie. Lagi pula, sudah ada perempuan lain yang merusak Kenzie dan Aneska yakin, Karin tidak mengenal perempuan itu.


Aneska pun menyusun teorinya sendiri. Aneska sudah bertekad untuk membatalkan perjanjian itu, dia tidak mau Ella bersedih jika dirinya memisahkan Ella dengan Jovan. Aneska juga sudah bertekad untuk mengajak Karin ketemuan besok dan Kenzie tidak boleh mengetahui pertemuan itu. Aneska mau semuanya berjalan sesuai dengan rencana yang dia buat. Dan semoga saja berhasil.


Aneska juga sudah memutuskan untuk tidak memberitahu hal ini kepada siapapun termasuk kepada Ella, Grisel, dan Abel. Tetapi jika rencana ini sudah siap mau berhasil atau tidak, Aneska pasti akan menceritakan kepada mereka bertiga.


Aneska memprediksikan yang tahu rencananya ini adalah dirinya, Karin, Daniel, dan juga Yang Maha Kuasa.

__ADS_1


Aneska berjalan ke arah meja belajarnya lalu mengoyakkan secarik kertas dari buku tulis Bahasa Indonesia miliknya kemudian menuliskan bagaimana rencananya. Jika Aneska tidak menuliskan rencana itu, kemungkinan dia akan lupa.


Tiba-tiba ponsel Aneska bergetar tanda ada notifikasi yang masuk. Dia pun mengambil ponsel dari tas sekolahnya, ternyata itu adalah pesan dari mamanya.


Mama: Gimana keadaan rumah?


Aneska Deniza: Baik, Ma. Mama kapan ke rumah?


Mama: Ini mama udah di rumah


Setelah membaca pesan itu, Aneska langsung meletakkan ponselnya di meja belajar lalu dengan buru-buru berjalan menuju pintu rumah. Ibunya pasti belum masuk karena tidak ada yang membukakan pintu.


Aneska pun dengan semangat membuka pintu. Setelah dia melihat mamanya, dia langsung memeluk mamanya itu. Tiga hari tidak bertemu serasa setahun bagi Aneska.


"Mama kenapa nggak bilang mau ke sini? 'Kan, kalau Aneska tau, Aneska bisa masakin Mama," tanya Aneska sembari melepaskan pelukannya dengan mamanya.


"Nggak usah repot-repot, Nes. Oh ya, Bang Kenzie mana? Mama mau ngomong sama kalian berdua," tanya Rena, ibu Aneska dan juga Kenzie.


"'Bentar, Ma, biar Aneska panggil," jawab Aneska lalu dia berjalan menuju halaman samping, tempat di mana Kenzie berada.


Sesampainya di halaman samping, Aneska melihat Kenzie masih asyik bermain bola basket yang seperti dia lihat tadi.


"Bang," panggil Aneska.


Merasa terpanggil, Kenzie memberhentikan permainannya lalu dia berjalan mendekati Aneska.


"Ada apa, Nes?" tanya Kenzie.


"Itu ada Mama, Mama bilang kalau Mama mau ngomong sama kita berdua," jawab Aneska.


"Ngomong apa?" tanya Kenzie.


Aneska menggelengkan kepalanya lalu kembali berjalan ke dalam rumah, kali ini diikuti oleh seseorang, yaitu Kenzie.


"Ada apa, Ma?" tanya Kenzie saat sudah melihat ibunya duduk di sofa ruang tamu. Kenzie pun ikut duduk di hadapan ibunya. Sementara Aneska sudah terlebih dahulu duduk di samping Rena.


"Jadi gini, Mama udah putuskan kalau Mama nggak bakal ngelarang kamu apa-apa lagi. Dan Mama juga nggak akan maksa kamu putus sama pacar kamu," ucap Rena.


Rasa senang jelas sangat mendominasi perasaan Kenzie saat ini. Sudah tidak ada penghalangnya dalam menjalani hubungan dengan perempuan. Sementara dengan Aneska, rasa khawatir lebih mendominasi dirinya, dia khawatir kalau Kenzie akan semakin 'bebas'.


"Jadi, Mama bakal tetap tinggal di sini, 'kan? Nggak balik ke rumah Nenek lagi, 'kan?" tanya Aneska. Sebenarnya Aneska tadinya ingin menyanggah ucapan ibunya itu, tapi dia tidak tega karena melihat wajah Kenzie yang terlihat senang sekali.


"Iya, Mama bakal tetap di sini," jawab Rena.


Kali ini rasa senang menggeser rasa khawatir di perasaan Aneska. Setidaknya, ibu mereka sudah kembali ke rumah.


"Oh ya, kapan-kapan Mama mau kamu bawa pacar kamu ke rumah, Mama mau kenalan sama dia," pesan Rena.


Kenzie pun dengan cepat mengangguk, dia terlihat sangat bersemangat.


Aneska juga senang, karena jika Hani datang ke rumahnya, kemungkinan untuk menjalankan rencananya lebih besar. Tetapi Aneska tiba-tiba memikirkan satu hal, Kenzie akan membawa Karin atau malah perempuan yang dilihat oleh Daniel?


Jika Kenzie membawa perempuan yang dilihat oleh Daniel, berarti Aneska tidak perlu melakukan rencananya. Tetapi, kemungkinan itu tidak akan terjadi, karena Kenzie sudah terlanjur memperkenalkan Karin kepada dirinya.


"Adik kamu udah pernah ketemu sama pacar kamu belum?" tanya Rena.


"Udah, Ma," jawab Kenzie.


Dengan dua kata yang diucapkan oleh Kenzie barusan, sudah jelas yang akan Kenzie bawa adalah Karin. Itu berarti Aneska harus menyiapkan dirinya untuk melakukan rencananya ini.


"Kapan kamu bisa bawa pacar kamu ketemu sama Mama?" tanya Rena.


"Nanti, deh, Ma. Kenzie tanya dulu sama dia, Ma," jawab Kenzie.

__ADS_1


***


__ADS_2