Divide

Divide
Nanti Muncul Fitnah


__ADS_3

Karin baru saja berbicara dengan Aneska melalui telepon. Karin membicarakan tentang rencana dirinya mempertemukan Aneska dengan Gavril untuk menyelesaikan masalah mereka berdua. Untungnya, Aneska bisa bertemu dengan Gavril hari ini. Jadi, sekarang Karin hanya perlu menghampiri Gavril lalu menyuruh Gavril untuk bertemu dengan Aneska.


"Gav," panggil Karin sambil mengetuk pintu kamar Gavril yang terkunci.


Beberapa detik kemudian, barulah pintu kamar Gavril terbuka dan memperlihatkan sosok Gavril tampak dengan jelas kalau dia baru saja bangun tidur.


"Kenapa, Kak?" tanya Gavril.


"Hari ini kamu ketemu sama Aneska, ya? Kakak udah bilang ke dia kalau kalian bakalan ketemuan siang ini," jawab Karin.


Sebenarnya Gavril ingin menolak permintaan kakaknya itu, tetapi mengingat dirinya juga ingin memberitahukan sesuatu, dia pun menganggukkan kepalanya. "Kak, nanti kirimin kontak Aneska, ya?"


"Iya, ntar Kakak kirimin. Nanti sekalian buat keputusan jam berapa kalian ketemu, ya?" pesan Karin.


"Siap, Kak," jawab Gavril sambil menutup kembali pintu kamarnya. Saat memeriksa ponselnya, muncul notifikasi kalau Karin mengirimkan sebuah kontak kepadanya. Sangat terlihat kalau Karin menginginkan masalah dirinya dan Aneska cepat selesai.


Gavril Dean: Nes, nanti jam berapa?


Aneska Deniza: Jam tiga gimana? Lo bisa kan? Di kafe tmpt tongkrongan lo


Gavril mengingat sebentar jadwal yang dia buat hari ini. Dan kebetulan hari ini tidak ada kegiatan dengan teman-temannya.


Gavril Dean: Bisa, gue boleh minta tolong gak?


Aneska Deniza: Apa?


Gavril Dean: Lo sekalian nyuruh Jovan buat ikut bareng kita


Gavril Dean: Tapi jgn sampai yg lain tau


Aneska Deniza: Bang Jovan? Ngapain dia ikut?


Gavril Dean: Udh, nnti gue kasih tau ke lo


Gavril Dean: Yg penting, orng yg tau pertemuan kita ini cuma kak Karin, Jovan, sama lo dan gue


Aneska Deniza: Iya deh


Tidak ada balasan lagi dari Gavril. Gavril membuat Aneska benar-benar sangat penasaran. Gavril membuat pertemuan ini seakan-akan adalah sesuatu yang sangat penting dan rahasia. Aneska pun mengirimkan pesan kepada Jovan. Semoga saja Jovan tidak sedang sibuk atau semacamnya agar Jovan bisa ikut dan Aneska bisa tahu apa maksud Gavril menyuruh Jovan untuk ikut bersama mereka.


Aneska Deniza: Bang Jo


Aneska Deniza: Lo nnti bisa ke kafe kitarang gak?


Aneska Deniza: Gue mau bicara sama lo, Bang


Jovan Edsell: Bisa, Nes


Jovan Edsell: Ini gue boleh ngajak yg lain apa gimana?


Aneska Deniza: Maaf bgt nih, Bang


Aneska Deniza: Lo gak bisa ngajak yg lain


Jovan Edsell: Iya iya gpp, nnti jam brp?


Aneska Deniza: Jam tigaan gtu Bang


Jovan Edsell: Oh, okeoke


Aneska merasa sedikit lega karena untungnya Jovan bisa datang. Sekarang yang Aneska tunggu-tunggu adalah saat ketika dia, Gavril, dan Jovan berkumpul di kafe nantinya.

__ADS_1


Sementara Jovan, sama seperti Aneska, dia juga benar-benar penasaran. Baru kali ini teman adiknya itu mengajak dirinya ketemuan dan pertemuan itu terlihat rahasia. Tampak dari Aneska yang melarang dirinya mengajak orang lain.


Lain halnya dengan Gavril, saat ini Gavril sedang mencari kata-kata yang pas untuk dia sampaikan nanti. Perlu kalian ketahui, nanti Gavril akan meminta maaf kepada Aneska dan juga Jovan, serta Gavril akan mengatakan sesuatu kepada Jovan.


*


Saat sampai di kafe tersebut, Aneska belum melihat tanda-tanda keberadaan Gavril ataupun Jovan. Aneska melihat jam yang tertempel di tangan kirinya, masih pukul tiga kurang sepuluh menit, pantas saja kedua laki-laki itu belum sampai di kafe ini.


Sambil menunggu kedatangan Jovan dan Gavril, Aneska memesan satu minuman untuk meredakan rasa bosannya.


Lima menit kemudian, barulah Gavril muncul. Gavril yang menyadari keberadaan Aneska pun langsung menghampiri Aneska yang sedang asyik meminum kopinya.


"Hai, Nes," sapa Gavril, sedikit canggung. Entah kenapa Gavril merasa canggung saat bertemu langsung dengan Aneska, padahal saat berkirim pesan tadi, Gavril merasa biasa saja. Mungkin ini karena saat terakhir mereka bertemu, Gavril mengancam Aneska.


"Udah, Bang, lo lupain aja semua itu," ucap Aneska. Aneska memutuskan untuk menambahkan sebutan 'abang' kepada Gavril karena dirinya sadar kalau Gavril lebih tua darinya dan dia harus sopan kepada Gavril.


Sementara Gavril, Gavril sedikit bingung dengan Aneska yang tiba-tiba saja menyebutkan namanya dengan di awali kata 'bang'.


"Gue minta maaf, Nes," ucap Gavril.


"Udahlah, Bang, 'kan, gue udah bilang, lo lupain aja yang waktu itu," ucap Aneska.


Tepat setelah Aneska menyiapkan kalimatnya, dia melihat kedatangan Jovan di pintu masuk.


"Bang Jo!" panggil Aneska dengan suara yang kuat agar Jovan mendengar suaranya.


Jovan yang mendengar ada seseorang memanggil namanya itu pun menoleh ke asal suara. Ternyata yang memanggil dirinya adalah Aneska, dia pun berjalan ke arah Aneska. Jovan sedikit bingung karena ada seorang laki-laki yang duduk di hadapan Aneska, Jovan masih belum bisa mengetahui siapa laki-laki itu sampai dia bisa melihat dengan jelas laki-laki itu. Dan ternyata dia adalah Gavril, Jovan benar-benar tidak menyangka kalau Gavril juga ada di sini.


Jovan memutuskan untuk duduk di samping Aneska. "Lo berdua kok bisa kenal?"


"Jadi, gue tau Bang Gavril karena dia itu mantannya Ella, tapi lebih tepatnya gue bisa kenal karena kakak Bang Gavril itu pacarnya Bang Kenzie," jawab Aneska.


Jovan terlihat kaget mendengar jawaban dari Aneska. "Abel sama yang lain udah tau?"


"Lo udah siap ngomong, Nes?" tanya Gavril.


Aneska mengangguk.


"Biar gak ada kesalahpahaman, gue bakal cerita semuanya ke lo, Jo. Jadi, waktu itu Aneska ngelabrak gue, dan gue malah nyuruh dia pakai ancaman. Gue suruh dia buat ngejagain Ella supaya Ella gak dekat sama cowok lain dan lo tau lah maksud gue itu siapa, dan gue ngancam bakalan nyuruh kakak gue buat ngehancurin Bang Kenzie-" Gavril menghentikan kalimatnya sebentar, bermaksud untuk melihat bagaimana reaksi Jovan ketika mengetahui hal itu.


Jovan terdiam. Pantas saja beberapa kali Aneska terlihat menjauhkan dirinya dengan Ella.


Melihat Jovan masih terdiam, Gavril pun memutuskan untuk melanjutkan kalimatnya tadi, "Tapi, lo tenang aja, semua itu udah gak berlaku lagi karena gue udah sadar kalau gue gak berhak lagi ngawasi Ella. Jujur, gue masih sayang sama Ella makanya semalam gue nyanyiin lagu buat dia dan gue yakin Ella nyeritain itu ke lo. Dan intinya sekarang, gue minta maaf sama lo, dan gue harap lo mau jagain Ella."


Aneska merasa kalau yang diucapkan oleh Gavril barusan adalah sesuatu yang dimaksud oleh Gavril semalam. Akhirnya rasa penasaran Ella terjawab sudah.


"Tanpa lo suruh, gue pasti bakal jagain Ella," ucap Jovan.


Entah kenapa saat ini Aneska merasa iri kepada Ella karena Ella disayang oleh dua orang laki-laki, sementara dirinya, mendapat rasa sayang dari orang yang dia sayang saja tidak. Malah orang itu menganggap kalau rasa sayang kepadanya itu tidak penting. Tapi, Aneska sadar kalau dia tidak boleh merasa iri, apalagi kepada Ella yang merupakan teman dekatnya.


"Bagus, deh, gue harap lo bisa lebih daripada gue," ucap Gavril.


"Siap, Gav, siap. Lo tenang aja," balas Jovan.


Tiba-tiba saja suasana di antara mereka tidak setegang tadi, sekarang mereka sudah terlihat lebih santai dan akrab. Hal itu jelas membuat ketiganya merasa puas dan senang. Aneska dan Gavril puas karena mereka sudah mengungkapkan semuanya kepada Jovan, dan Jovan senang karena dengan itu berarti kesempatan untuk mendapatkan Ella semakin besar.


Selama beberapa menit mereka saling bercerita tentang hal-hal lainnya. Mereka terlihat layaknya teman akrab yang sudah lama tidak bertemu dan tiba-tiba saja bertemu di kafe ini.


Ponsel Gavril bergetar tanda ada notifikasi yang masuk. Setelah Gavril periksa ternyata itu adalah pesan dari Erlyne. Gavril baru sadar, sejak tadi dirinya tidak ada memberi kabar kepada Erlyne.


Erlyne Yora: Kamu dimana?

__ADS_1


Gavril Dean: Lagi ngumpul bareng teman, maaf ya aku gak sempat ngabarin kamu


Erlyne Yora: Iya gpp, sering" y:)


Gavril menghembuskan nafasnya saat membaca balasan dari Erlyne itu. Gavril tahu jika Erlyne seperti itu pasti dia sedang marah. Gavril pun memutuskan untuk langsung menghampiri rumah Erlyne.


"Kenapa lo, Gav?" tanya Jovan.


"Ini Erlyne nge-LINE gue, kayaknya dia marah karena nggak gue kabarin," jawab Gavril.


"Ya udah, Bang, lo datengi aja dia," suruh Aneska.


"Iya ini mau gue samperin, kalau gitu gue cabut ya?" pamit Gavril sambil beranjak dari tempat duduknya


Aneska dan Jovan mengangguk.


"Hati-hati lo, bro," pesan Jovan.


Gavril mengangguk sambil mengancungkan ibu jarinya lalu berjalan keluar dari kafe itu.


"Gitu, Bang, kalau lo udah jadian sama Ella, lo harus bisa ngehibur dia. Kalau dia marah, lo datengi ke rumah. Tapi jangan sering-sering, Bang, nanti muncul fitnah," ucap Aneska kepada Jovan.


"Lo kayak udah pernah digituin aja, Nes," ledek Jovan.


"Abang nggak tau apa kalau gue pernah digituin? Sering lagi, tapi sayang, kita cuma sahabatan," ucap Aneska lebih ke mencurahkan isi hatinya kepada Jovan.


"Daniel?" tebak Jovan.


Aneska sedikit kaget karena Jovan mengetahui hal itu. "Kok lo tau?"


"Emang lo kira Abel nggak pernah cerita? Daniel yang satu ekskul sama gue, 'kan?" tanya Jovan.


" Ya ampun, Bang, astaga, nggak usah diperjelas kayak gitu juga kali," ucap Aneska yang tiba-tiba saja merasa malu.


Jovan tertawa. "Dia udah punya pacar lho, cantik lagi."


"Tau gue tau, cantiknya nggak usah dibilang kek, emang gue gak cantik apa?" tanya Aneska.


"Cantik, sih, tapi lebih cantikan gebetan gue," jawab Jovan.


"Hmm, tau, deh, gue yang lagi suka sama orang, pasti dia dibilang cantik," kali ini giliran Aneska yang meledek Jovan.


"Emang dia cantik, lo mah nggak cantik. Voba lo cantik, pasti Daniel sukanya sama lo," Jovan meledek Aneska balik dan itu membuat Aneska terdiam.


"Kalau nih gelas gue lempar, kepala lo bisa bolong lho, Bang," ucap Aneska sambil memegang gelas minumannya.


"Galak banget lo, Nes," ujar Jovan. "Oh ya, Nes, lo pulang bareng siapa?"


Saat Aneska ingin menjawab tiba-tiba saja ponsel miliknya bergetar. Aneska pun meletakkan gelas yang dia pegang tadi.


"Bentar, Bang," ucap Aneska sambil memeriksa ponselnya.


Daniel Nicholas: Lo ke kafe Kitarang skrng


Aneska Deniza: Gue udh di sini


Daniel Nicholas: Lha? Serius? Ya udah sini samperin gue di parkiran motor


"Bang, gue balik duluan, ya? Soalnya ada temen yang ngajak ketemuan," pamit Aneska.


"Ya udah, kita keluar bareng aja," ucap Jovan sambil beranjak dari tempat duduknya.

__ADS_1


Aneska pun mengangguk lalu mengikuti Jovan yang sudah berdiri. Kemudian mereka berdua bersama-sama jalan keluar. Mereka terpisah karena Jovan ke parkiran mobil sementara Aneska ke parkiran motor. Untung saja kedua tempat parkir itu berbeda, kalau sama mungkin Jovan akan sedikit curiga dengan Aneska.


***


__ADS_2