Divide

Divide
Calon Adik Ipar


__ADS_3

Malam harinya, Ella mengunci diri di kamar. Ya, sama seperti yang biasa anak muda lakukan jika sedang putus cinta. Untuk informasi bagi kalian, ini adalah kali pertama Ella seperti itu. Ella baru pertama kali putus cinta, karena hubungannya dengan Gavril adalah pacaran pertamanya. Gavril adalah pacar pertama Ella.


Jelas diputusin oleh seseorang yang merupakan orang pertama merupakan sesuatu yang sangat sakit. Apalagi diputusin dengan alasan seperti yang diberikan oleh Gavril.


Mungkin kalian mengira kalau Ella menangis. Namun sayangnya, kalian salah, Ella sama sekali tidak menangis. Dia sendiri tidak tahu kenapa ia bisa seperti itu. Yang Ella lakukan sekarang adalah menonton video di YouTube. Menurut Ella, lebih baik dia menghabiskan kuota internetnya untuk menonton video YouTube daripada menghabiskan tissue untuk menghapus air matanya.


"Ella!" panggil Sarah dari luar yang bagi Ella terdengar seperti teriak.


Ella menjawab panggilan Sarah dan kemudian bergegas menghampiri ibunda tercintanya itu.


"Ada apa, Ma?" tanya Ella saat sudah menemukan ibunya sedang menonton televisi di ruang keluarga.


Ella melihat jam yang ada di dinding ruang keluarga. Jarum jam itu menunjukkan pukul sembilan malam. Pantas saja ibunya berada di depan televisi. Ya, kalian tahulah bagaimana ibu-ibu rumah tangga kebanyakan. Tak lain dan tak bukan yang dilakukan Sarah adalah menonton sinetron.


"Tadi Tante Hanna hubungi Mama, dia nanyain si Gavril lagi sama kamu apa enggak, terus Mama bilang kalau kamu lagi gak sama Gavril," jawab Sarah.


Hanna adalah nama ibu Gavril. Sebenarnya, Sarah dan juga Hanna tidak terlalu dekat. Hanya saja jika ada sesuatu yang penting, mereka berdua akan saling menghubungi. Contohnya seperti tadi.


"Oh ya, kamu tadi kenapa pulang sama Gavril?" tanya Sarah.


Ella menggeleng. "Udah putus, Ma."


Sama seperti ketiga teman Ella, Sarah juga menunjukkan raut wajah yang kaget. Masalahnya, baru kemarin ia melihat kedekatan anaknya dengan Gavril.


"Kok bisa?" tanya Sarah dengan rasa penasaran yang sangat tinggi.


"Ya gitu deh, Ma. Ella mau balik ke kamar ya," jawab Ella.


Tanpa menunggu jawaban dari ibunya, Ella kembali ke kamarnya. Sarah mendiamkan anak satu-satunya itu, menurutnya, lebih baik dia menonton sinetron dibandingkan menginterogasi Ella.


*


Hari ini Ella memutuskan untuk pulang lebih awal, dia ingin melakukan aktivitas di rumah. Setidaknya, membantu ibunya mengerjakan pekerjaan rumah. Ella berharap itu bisa melampiaskan rasa sedih yang masih menyelimutinya, walau bisa dibilang tinggal sedikit.


"Gue balik duluan ya," pamit Ella kepada tiga temannya itu.


Ketiganya mengangguk. Mereka diam-diam merasa senang karena dengan pulangnya Ella, mereka dapat menjalankan rencana yang sudah mereka buat. Ella pun berjalan keluar kelas, sebenarnya ada rasa curiga yang tiba-tiba menghampiri dirinya, tetapi dengan cepat Ella menghilang rasa aneh itu.


"Lo udah pamit sama Bang Jovan, Bel?" tanya Aneska.


Abel menggeleng dan bertepatan dengan itu, Jovan sudah berada di ambang pintu kelas. "Bentar."


Abel berjalan mendekati Jovan lalu menarik tangan Jovan menjauh dari kelasnya.


"Kenapa, Bel?" tanya Jovan.


"Bang, aku mau ke sekolah lain," jawab Abel.


"Abang harus ikut," ucap Jovan. Maklum Jovan adalah tipe kakak yang bisa dibilang terlalu protektif. Abel juga sudah menduga kakaknya akan seperti itu, maka dari itu Abel tidak memberitahu dari awal. Abel tidak mau Jovan mengadu ke ibu mereka.


"Ih, ngapain Abang ikut coba? Ini tuh urusan cewek," Abel menolak ucapan Jovan. Abel tidak mau banyak orang yang terlibat dalam rencana ini.


Jovan berpikir sejenak, dia mencari cara agar dirinya bisa ikut. "Kalian mau pergi naik apa?"


"Ya, naik mobil Abanglah, mana kuncinya?" tanya Abel.


"Emang kamu bisa nyetir mobil? Kamu, kan, anak mama, mana bisa bawa kendaraan," ledek Jovan.


"Bang, cepetan," Abel memaksa Jovan, tetapi dengan wajah memelas. Abel yakin hati kakaknya itu akan luluh jika melihat wajahnya.


Tepat seperti dugaan Abel, Jovan langsung luluh seketika, dia tidak tega melihat adiknya seperti itu. "Ya udah, ini kuncinya, jangan sampai mobil Abang kenapa-napa." Jovan pun menyerahkan kunci mobilnya kepada Abel.


Abel dengan segera menerimanya. "Bilang ke Mama kalau aku kerja kelompok ya, Bang."


"Iya, iya," balas Jovan dengan nada malas. Jovan pun berjalan menjauhi kelas adiknya itu.


Jovan memutuskan untuk ikut ekstrakulikuler. Awalnya, Jovan berencana tidak ikut ekskul untuk mengantar Abel pulang, tetapi akhirnya, Abel malah jalan entah dengan siapa. Tapi, Jovan yakin Abel pasti jalan dengan Aneska. Seingat Jovan, Aneska bisa mengendarai mobil.


Sementara di kelas X MIPA 7, Grisel, Abel, dan juga Aneska sedang memasang strategi mereka. Menurut mereka rencana mereka terlihat seru dan menyenangkan. Semoga realita yang akan terjadi sesuai dengan ekspektasi mereka saat ini.

__ADS_1


"Kita pergi sekarang," ucap Aneska.


Abel memberikan kunci mobil Jovan kepada Aneska. Lalu mereka pun menjalankan awal dari rencana mereka, yaitu pergi ke sekolah Gavril.


*


Aneska memarkirkan mobil Jovan di parkiran sekolah. Aneska sedikit tahu soal sekolah ini karena dulu Kenzie sempat sekolah di sini, tetapi hanya satu tahun saja.


Sekolah Gavril sudah mulai sepi, pertanda bel pulang sekolah sudah lama berbunyi.  Hal itu menguntungkan untuk Grisel, Abel, dan Aneska, karena itu artinya mereka tidak perlu merasa tidak enak karena memakai seragam yang berbeda. Sebenarnya, seragam mereka sama, putih abu-abu, tetapi lambang mereka berbeda.


"Untung aja sepi," ucap Grisel dengan perasaan lega.


Aneska melihat ke sekeliling, dan tiba-tiba dia teringat dengan sesuatu. Dia belum terlalu mengingat wajah Gavril. "Oh, iya, gue nggak inget muka Gavril. Nanti kalian kasih tau ya."


Grisel dan Abel mengangguk. Sebenarnya, mereka ingin tertawa melihat tingkah Aneska yang sedari tadi bisa dibilang paling bersemangat, tetapi nyatanya dia tidak mengingat wajah target mereka.


Abel melihat seseorang yang mirip dengan Gavril, orang itu sedang menggandeng seorang perempuan. Abel memicingkan matanya agar bisa melihat jelas siapa orang itu. Dan ternyata itu adalah Gavril.


"Nes," panggil Abel dengan suara yang hanya dapat didengar oleh Grisel dan Aneska.


Aneska menoleh ke arah Abel.


"Itu si Gavril." Abel menunjuk ke arah Gavril.


Aneska melihat ke arah yang ditunjuk oleh Abel, begitu pula dengan Grisel. Sekarang mereka bertiga sama-sama memperhatikan Gavril dan perempuan itu. Tampak Gavril membukakan pintu mobil untuk perempuan itu, kemudian sebelum mobil itu melaju, Gavril melambaikan tangannya kepada perempuan itu.


"Gue harus ke sana," ucap Aneska lalu dia langsung berjalan mendekati Gavril.


Sementara Grisel dan Abel tidak mengikuti langkah Aneska. Mereka memang tidak ikut mengambil bagian dalam melabrak Gavril. Jadilah, mereka kembali ke dalam mobil dan melihat dari dalam.


Jarak Aneska dan Gavril sudah dekat. Tetapi Gavril tidak merasakan kedatangan Aneska karena posisinya membelakangi Aneska.


"Heh, lo yang namanya Gavril?" tanya Aneska, tetapi itu tidak tepat jika dikategorikan sebagai sebuah pertanyaan.


Gavril langsung menoleh ke belakang. Gavril merasa orang yang berbicara kepadanya itu ada masalah dengannya. Gavril melihat Aneska dari atas ke bawah, Gavril merasa dirinya mengenal Aneska.


Pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Aneska sanggup membuat Gavril sedikit sadar dan penyesalan yang dirasakannya semakin besar. Namun, Gavril tidak boleh menunjukkan rasa penyesalannya. Dia harus menjalankan misi yang sudah dia rencanakan.


"Mohon maaf sebelumnya, lo nggak diajarin sopan santun sama keluarga, ya?" tanya Gavril. "Pantas aja abang lo kayak gitu."


Aneska terdiam. Pertanyaan serta pernyataan Gavril tidak sesuai dengan ekspektasinya.


Gavril tersenyum melihat Aneska yang terdiam. Hanya dengan beberapa kata, ia berhasil membuat lawannya terdiam. Gavril berpikir, mungkin Ella belum memberitahu kalau dirinya pandai dalam hal berdebat.


"Kok lo diam? Nggak mau nyembur lagi?" tanya Gavril.


"Lo kenal abang gue dari mana?" tanya Aneska.


"Sederhana, abang lo pacar kakak gue, makanya gue tau abang lo," jawab Gavril, "dan gue juga bisa buat abang lo jadi orang yang semakin gak tau sopan santun."


Aneska lagi-lagi terdiam. Seharusnya Abel dan Grisel ada di sampingnya saat ini.


"Gue peringatin ke lo, ya, Aneska Deniza, kalau mau labrak orang itu, tau dulu asal-usulnya, jangan asalnya aja," ucap Gavril.


"Sumpah ya, gue sampai rumah mau doa terus gue bakalan berdoa biar orang kayak lo musnah dari dunia ini," kata Aneska dengan kekesalan yang sudah melebihi batas.


"Lo lucu juga ya, Nes," balas Gavril dengan disertai tawaan meledek.


Aneska mengepalkan tangannya. Muncul rasa dalam diri Aneska untuk menghajar Gavril dengan ilmu bela diri yang sempat ia ikuti ketika SMP.


Gavril melihat tangan Aneska yang terkepal. "Santai, Calon Adik Iparku. Gue bakal kasih lo pilihan."


Rasanya Aneska ingin muntah saat itu juga saat mendengar julukan 'Calon Adik Ipar' yang diberikan oleh Gavril.


"Pilihan apaan?" tanya Aneska. Ia tidak mau jika ia terus melawan Gavril dan menerima perlawanan balik dari Gavril yang membuat dirinya tersudutkan.


"Lo pilih abang lo atau Ella?" tanya Gavril.


"Ya, abang guelah," jawab Aneska. Mau bagaimana pun, Aneska jelas lebih memilih keluarganya daripada temannya.

__ADS_1


"Oke, gue bisa aja bikin abang lo rusak dengan bantuan kakak gue," kata Gavril.


"Gue mohon jangan lakuin itu." Aneska mengucapkan kata-kata itu dengan nada bicara memelas. Nada ketus yang sedari tadi ia pakai tidak lagi ia gunakan jika berbicara tentang keluarganya.


"Kalau lo emang nggak mau abang lo rusak, lo tinggal bantu gue. Tenang aja, gue kalau minta tolong tau diri, kok," kata Gavril.


Sementara itu, Grisel dan Abel yang berada di mobil hanya bisa menonton tanpa ikut melabrak Gavril. Mereka berdua mengakui kalau mereka sama-sama tidak pandai dalam hal itu.


"Kok mereka jadi ngobrol gitu, ya?" tanya Grisel yang melihat Aneska dan Gavril malah mengobrol dengan cara yang berbeda dari yang pertama kali. Tidak terlihat ada kemarahan di antara mereka berdua. Kali ini mereka terlihat serius.


Abel juga menyadari hal itu. "Nanti kita tanya aja deh waktu dia balik."


Bertepatan dengan Abel menyelesaikan kalimatnya itu, Aneska kembali ke mobil dengan wajah yang sedikit panik. Saat Aneska sampai di mobil, Grisel dan Abel langsung menginterogasi Aneska.


"Kok lo lama dan kayaknya serius gitu?" tanya Grisel.


"Ya, 'kan, gue ngelabrak dia, masa nggak serius?" tanya Aneska balik. Dia terpaksa harus berbohong kepada teman-temannya untuk kebaikan Kenzie.


Abel merasa ada sesautu yang disembunyikan oleh Aneska. "Lo yakin nggak ada hal lain?"


Aneska menggeleng. "Mendingan kita nggak usah kasih tau Ella soal ini."


Grisel dan Abel bingung kenapa Aneska berbicara seperti itu. Hal itu jelas melenceng dari rencana mereka. Di dalam rencana, setelah mereka selesai melabrak Gavril, mereka akan menceritakan kepada Ella.


"Kenapa gitu, Nes?" tanya Abel.


"Nanti Ella malah makin sedih karena dia tau kalau Gavril udah punya cewek lain. Emang kalian mau Ella makin sedih?" tanya Aneska.


Grisel dan Abel sama-sama berpikir. Apa yang dikatakan Aneska benar, mereka tidak ingin Ella semakin sedih.


"Iya juga, ya? Ya udah, deh, kita diem-diem aja," ucap Grisel.


Dan akhirnya mereka bertiga sama-sama setuju kalau Ella tidak boleh tahu soal kejadian tadi.


*


Jovan secara tidak sengaja melihat Abel baru memasuki koridor sekolah. Lapangan yang menjadi tempat ekskul Jovan kebetulan berada tepat di depan koridor. Jovan menghampiri Abel. Jovan tidak mengenal salah satu di antara mereka.


"Kok kalian lama?" tanya Jovan.


"Lama apaan, Bang? Cuma satu jam padahal," jawab Aneska.


Mata Jovan tertuju pada Grisel. Untunglah Abel sadar akan hal itu, dia langsung mengenalkan Grisel kepada Jovan. "Bang, ini Grisel."


"Hai, Grisel," sapa Jovan.


Grisel hanya tersenyum. Dia tidak biasa berkenalan dengan orang apalagi itu kakak temannya.


"Sebenarnya kami berempat, Bang, cuma yang satu lagi udah pulang," ucap Abel. Abel tidak tahu kalau sebenarnya Jovan sudah tahu Ella dan bahkan sudah dua kali berbincang dengan Ella.


"Ella, 'kan?" Jovan bertanya untuk memastikan.


"Bang Jo udah kenal?" tanya Aneska.


"Malah abang udah dua kali ngobrol bareng dia di kelas," jawab Jovan.


"Kok abang nggak cerita ke aku?" tanya Abel.


"Yang kayak gitu nggak perlu diceritain, Bel. Oh, ya, kemarin abang lihat dia kayak habis nangis gitu, dia kenapa?" tanya Jovan.


"Habis diputusin, Bang," jawab Aneska.


Jovan hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. Jovan yakin orang yang memutuskan Ella adalah orang yang menitipkan botol minum Ella kepadanya.


"Jovan!" teriak pelatih memanggil Jovan.


Jovan menoleh ke belakang. "Abang balik, ya." Jovan pun kembali ke lapangan untuk melanjutkan kegiatannya.


***

__ADS_1


__ADS_2